Jihan tersentak kaget saat alarm ponselnya berdering nyaring. Ia merasa sesuatu yang berat tengah menghimpit tubuhnya. Masih dalam setengah sadar ia mencoba mencerna apa yang sudah terjadi. Sekelebat reka adegan pergulatan panas yang telah mereka lakukan semalam langsung berputar di benak Jihan. Sontak ia baru tersadar sudah dalam keadaan tidak berbusana. Ya tuhan...Apa yang sudah ia lakukan?? Jihan menatap kembali tubuhnya dari dalam selimut. Kemudian ia beralih menatap sosok laki-laki yang masih terlelap di sampingnya. Pria tampan dengan tampang dingin itu seakan belum terusik dengan isakan Jihan.
Jihan menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Ia sudah tak sanggup lagi membendung air mata saat menyadari kesalahan besar yang telah ia lakukan bersama Sami semalam. Mereka telah melakukan hubungan terlarang itu. Kini ia sudah tak suci lagi. Sesuatu yang sangat ia jaga selama ini sudah terenggut oleh kenikmatan sesaat. Semua karena kebodohannya. Karena ia begitu mudah terbuai suasana. Apa yang harus ia lakukan kini?? Apakah ini hanya mimpi? Bisakah ia memutar waktu kembali?? Jihan berusaha menahan tangis. Ia sudah melakukan kesalahan besar. Menangis darah pun kini tetap akan percuma. Keperawanannya telah hilang bersama lenguhan dan erangan nikmat yang telah ia rasakan bersama Sami semalam.
"Jihan?" Sebuah sentuhan lembut terasa di pundak Jihan. Gadis itu tersentak. Ia menatap Sami yang kini memandanginya dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku."
"Apa yang sudah kita lakukan mas? aku harus bagaimana sekarang? Aku sudah tak berharga lagi. Aku udah..." Jihan terisak sembari menutup wajah dengan kedua tangan. Ia menangis tersedu meratapi semua yang telah terjadi. Pergumulan semalam kini hanya menyisakan pedih di hati Jihan. Kehormatannya sebagai seorang wanita telah hilang. Ia merasa sudah tak berharga lagi. Sami kemudian meraih tubuh mungil itu. Mendekapnya dengan lembut.
"Aku akan bertanggung jawab. Kita sudah terlanjur. Aku tidak akan melepaskan kamu."
"Nggak mas. Aku yang bodoh. Aku yang salah. Semua karena kebodohanku karena telah mengizinkan kamu masuk ke sini. Kalau bukan karena itu kamu nggak akan ada di sini." Jihan melepaskan diri dari pelukan Sami. Ia kemudian beranjak dari ranjang dengan tubuh berbalut selimut. Saat ia berdiri, Sami melihat ada bekas noda darah yang telah mengering pada kain sprei. Ternyata memang benar Jihan masih suci. Pantas saja pergumulan mereka semalam tidak semulus seperti yang biasa Sami lakukan pada Naya. Jihan seperti sulit ditembus. Sami bahkan harus bekerja lebih ekstra saat penyatuan mereka semalam. Terasa sangat sempit dan hangat. Mereka melakukannya dengan penuh nikmat.
"Pergilah mas. Jangan menemui aku lagi." Jihan beringsut menjauhi Sami. Hanya penyesalan kini yang ia rasakan setelah semalam mereka mereguk kenikmatan surgawi bersama. Entah kenapa rasa jijik dengan semua yang terjadi hadir menyelimuti hati dan benak Jihan. Ia benci dengan kebodohannya. Ia jijik dengan dirinya yang begitu mudah terbuai dengan sentuhan lembut Sami.
"Kamu jangan mengelak lagi, Jihan.Kita melakukannya berdua dengan penuh kesadaran. Kamu menikmatinya. Aku juga. Tidak ada yang salah di antara kita berdua. Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan." Sami memutar tubuh Jihan yang sedari tadi memunggunginya. Dilihatnya wajah ayu itu sudah berlinang dengan air mata.
"Tetap saja semua ini salah mas. Harusnya ini nggak terjadi. Harusnya aku menolakmu. Harusnya kamu nggak datang menemui aku disini. Harusnya kamu nggak mendekatiku. Harusnya aku nggak membiarkan kamu masuk. Harusnya kita tidak sampai melakukan itu. Harusnya.." Jihan sudah tak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Ia sudah tenggelam dalam pelukan Sami. Pria yang semalam telah menyentuhnya untuk pertama kali. Laki-laki yang telah menyentuh setiap inchi tubuhnya dengan penuh gairah dan hasrat yang menggebu. Bodohnya Jihan tak mampu menolak sentuhan yang melenakan itu. Sami berhasil membuatnya hanyut dalam nikmat bercinta untuk pertama kali dalam hidupnya.
Jihan menangis dalam pelukan Sami. Pria itu kini memeluknya dengan sangat erat. Seolah enggan untuk melepaskan Jihan. Seolah takut gadis itu akan lepas darinya. Tangannya yang hangat menyentuh lembut kepala gadis itu. Mencoba untuk memberikannya rasa nyaman dan tenang. Mencoba membantu meredakan emosi yang tengah merundung gadis manis itu. Sami sangat paham jika saat ini Jihan tengah terpukul harus menerima kenyataan bahwa ia sudah tak suci lagi. Bahwa ia sudah tak perawan lagi. Bahwa ia kini sudah tak lagi sama seperti sebelumnya. Itu bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan untuk menerima kenyataan bahwa kegadisannya telah terenggut pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya. Sami membiarkan Jihan melepaskan semua rasa sesal yang terasa. Berharap setelah itu Jihan akan lebih tenang. Ia bisa kembali membicarakan semuanya dengan kepala dingin.
"Kamu udah lebih baik?" Tanya Sami setelah beberapa saat dilihatnya Jihan sudah lebih tenang. Tangis gadis itu sudah reda.
"Pergilah mas. Aku ingin sendiri." Tukas Jihan seraya menghapus jejak air mata. Ia kemudian kembali memunggungi Sami. Rasanya ia sudah tak punya harga diri lagi setelah melakukan pergumulan itu.
"Apa maksud kamu?" Tanya Sami.
"Tinggalkan aku sendiri mas."
"Kamu ingin aku pergi setelah semua yang telah kita lakukan semalam?" Sami mengulang tanya. Lucu sekali gadis ini. Kenapa ia begitu keras menolak. Apa yang ada dalam benak gadis itu. Setelah kesuciannya hilang lalu ia ingin Sami meninggalkannya begitu saja??
"Kamu menolakku?"
"Iya. Aku menolakmu. Pria seperti kamu nggak akan pernah mau menjalani hubungan serius dengan gadis sepertiku, mas Sami. Itu nggak mungkin. Aku hanya gadis rendahan yang bekerja serabutan. Aku cuman gadis penghibur yang biasa melayani lelaki di club malam. Apa aku harus percaya jika kamu bilang kamu akan bertanggung jawab? Apa semudah itu bagi kamu untuk mengelabui aku?" Ujar Jihan dengan suara bergetar yang ia sembunyikan sembari memunggungi Sami. Ia harus mau membuka mata jika tak akan semudah itu bagi seorang lelaki sekelas Sami mau serius memungutnya. Mau bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Rasanya sangat menyesal ia telah menyetujui untuk ikut bekerja di tempat hiburan itu. Meskipun ia tidak punya niat untuk menjual diri tapi tetap saja stigma negatif gadis penghibur telah melekat dalam dirinya. Cap negatif gadis malam telah ia dapatkan. Walaupun ia berusaha untuk tidak mengindahkan penilaian orang tentang pekerjaan yang ia tekuni tapi tetap saja harga dirinya kini telah terluka. Bahkan sekarang telah hilang. Pria itu pasti kini akan menganggapnya wanita murahan. Perempuan yang mudah untuk dibawa tidur.
"Siapa bilang aku membohongi kamu? Sami kemudian memutar tubuh langsing gadis itu. Jihan sedikit tersentak saat Sami kini menatapnya dengan mata elangnya. Kedua tangan pria itu kini merangkul pundaknya dengan erat.
"Dengar baik-baik, Jihan. Kita sudah terlanjur. Aku nggak main-main. Aku serius sama kamu. Kita tidak bisa lagi untuk membalikkan keadaan seperti sebelumnya. Aku akan bertanggung jawab atas semua sudah kita lakukan. Apapun yang terjadi percaya sama aku." Tukas Sami dengan sangat serius. Wajah tampannya tampak begitu dingin. Tak ada nada tinggi sedikitpun dari suaranya namun kalimat yang terlontar dari mulut lelaki itu terdengar tidak main-main. Jihan menatap manik mata elang itu. Mencari kesungguhan di dalam sana. Jihan mencoba untuk percaya jika apa yang terucap dari mulut pria itu benar adanya. Semoga saja itu memang benar seperti yang ia katakan.
Benarkah Sami akan menepati semua ucapannya? Apakah JIhan akan percaya? Bagaimana hubungan mereka setelah apa yang sudah terjadi???
********TBC********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments