"Mas udah pulang?" Tanya Naya begitu ia keluar dari kamar mandi dengan memakai baju handuk. Tangannya sibuk melilitkan handuk kecil untuk membungkus rambutnya yang basah. Dilihatnya Sami tengah bersandar di tepian ranjang dengan menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu membuat Naya menyunggingkan senyum. Sudah beberapa hari ia tak melihat wajah suaminya.
"Tumben mas jam segini udah pulang. Mas dari kantor?" Tanya Naya.
Pertanyaan itu membuat Sami akhirnya bersuara. "Kenapa? Kamu kurang senang kalau aku ada di rumah? Kamu nggak suka kalau aku pulang?"
"Mas ngomong apa sih? Tiba-tiba jadi kok jadi jutek?" Naya mengernyit heran mendengar jawaban sang suami. Kenapa mas Sami tiba-tiba menjadi dingin seperti ini? Biasanya ia tak pernah sejutek itu? Naya membatin.
"Kiara mana? Aku nggak melihatnya sama sekali." Sami bertanya balik sambil melipat tangan di dada. Ia sudah cukup bersemangat untuk pulang ke rumah agar bisa melihat bidadari kecilnya itu namun yang ada Sami tak melihat gadis kecilnya itu ada. Mood Sami langsung menurun drastis. Ditambah lagi dengan panggilan telepon dari seorang pria tak dikenal yang baru saja menghubungi istrinya. Hal itu cukup mengusik pikirannya saat ini. Timbul tanda tanya besar di dalam benak pria itu. Ada hubungan apa Naya dengan lelaki asing itu??
"Naya lagi pergi les piano mas sama si mbak. Habis itu mereka mungkin pergi main sebentar di playground." Naya menjawab dengan kalem sembari membuka baju handuknya. Ia mengganti pakaiannya dengan dress tipis tanpa lengan setelah mengoleskan hand body lotion ke seluruh tubuh. Wangi orchid dari lotion yang ia pakai langsung menguar masuk ke dalam indra penciuman. Membuat Sami menatap sang istri dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa bukan kamu yang menemaninya Nay? Kamu kan ibunya. Kenapa kamu membiarkannya pergi bersama baby sitter? Ngapain aja kamu dirumah? Kamu kan nggak ada kegiatan?" Sami melempar pertanyaan inti pada sang istri. Sudah lama ia ingin mempertanyakan hal itu namun selalu urung. Selama ini ia terlalu fokus mengurusi hal-hal yang tidak penting. Ia juga terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ingin rasanya ia meluangkan waktu lebih untuk putrinya namun apa daya, ia juga tak berdaya.
Sekarang waktu yang tepat untuknya membicarakan masalah rumah tangganya yang mulai rumit. Dimulai dari urusan Kiara. Gadis kecil yang membuat hari-hari Sami lebih menyenangkan saat anak itu lahir namun disisi lain justru membuat dunianya berubah menjadi kelabu bersama Naya disaat yang bersamaan. Entah apa yang terjadi sebenarnya Sami juga masih tidak mengerti.
"Mas.." Naya mendesah pelan.
"Kamu sibuk apa sih? Apa kamu nggak merasa Kiara juga butuh kamu sebagai ibunya. Kamu malah membiarkannya seharian bersama dengan pengasuh." Ujar Sami dengan mimik wajah yang sudah mulai datar. Membuat Naya mencelos.
"Aku juga ada kegiatan di luar mas sama temen-temen aku. Lagian apa salahnya sih dia pergi sama si mbak? Toh kamu juga yang memperkerjakan baby sitter itu sendiri untuk membantu aku mengurusi Kiara dari bayi. Lagian dia juga lebih suka main bersama si mbak." Naya memberi sanggahan. Ia juga tidak mau begitu saja disalahkan oleh Sami. Bagaimana mungkin ia mengasuh anak itu seharian? Ia juga juga punya kegiatan lain yang lebih menyenangkan untuk ia nikmati. Apa gunanya baby sitter kalau begitu??
"Jadi maksud kamu, Kiara lebih senang menghabiskan waktu bersama pengasuh itu daripada sama kamu sebagai ibunya, gitu maksud kamu Nay?" Sami memperjelas maksud dari kalimat Naya. Itu kesimpulan yang bisa ia tangkap dari pernyataan wanita yang telah menjadi istrinya kurang lebih hampir satu dasawarsa itu. Kenapa bisa Naya berfikiran sepicik itu? Dengan santainya ia membiarkan Kiara lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh daripada bersama dengannya sebagai wanita yang telah melahirkan anak itu.
"Mas jangan berlebihan kayak gitu dong. Kan Kiara udah terbiasa juga bersama sama si mbak. Kenapa sih jadi sentimen kayak gini? Aneh deh." Ujar Naya dengan sedikit terbahak sembari mengoleskan sedikit lip balm pada bibirnya yang seksi. Menyemprotkan sedikit biang parfum pada pergelangan siku dan kulit di bagian belakang telinga. Rambutnya yang setengah basah ia sisir dengan jari tangan.
"Mulai sekarang kamu kurangi aktivitas yang nggak penting kamu itu bisa nggak? Lebih baik kamu urusin Kiara daripada hanya hura-hura nggak jelas di luar." Tukas Sami. Kalimat yang baru saja terlontar itu sontak membuat Naya menoleh langsung pada sang suami.
"Apa maksud mas? Apa sekarang mas mulai membatasi kegiatanku?"
"Kenapa tidak? Selama ini aku sudah terlalu lama membiarkanmu bebas melakukan apa saja. Apa lagi aku juga jarang ada di rumah. Kamu udah kelewat bebas Naya. Saatnya kamu kembali menjadi ibu untuk anak kita. Kiara lebih penting dari semua urusan kamu di luar." Tukas Sami panjang lebar. Kalimat itu akhirnya ia lontarkan dengan nada yang terdengar tidak main-main. Dinginnya wajah Sami saat mengatakan hal itu membuat Naya jadi urung untuk kembali melayangkan bantahan. Ingin rasanya ia menyampaikan protes tapi bibirnya terasa kelu. Wajah pria itu kini begitu sangat dingin dan datar. Mata elang itu bahkan menatap Naya tanpa berkedip. Naya tak mampu menyelami dasar pikiran Sami saat ini.
"Mas.."
"Jangan buat aku mengatakan hal sama dua kali." Ujar Sami. Ia kemudian beranjak dari tepian ranjang. Berlalu dari hadapan hadapan sang istri.
"Mas mau kemana?" Naya mencoba mencegat langkah Sami. Ia sempat meraih lengan suaminya saat mencoba keluar dari pintu kamar.
"Tadinya aku pulang ingin melihatmu bersama Kiara tapi yang ada anak kita nggak ada bersama kamu. Jadi buat apa lagi aku ada disini?" Tukas Sami. Ia mencoba melepas cekalan tangan sang istri dari lengannya.
"Mas...kamu kan baru aja pulang. Tunggulah Kiara. Bentar lagi dia juga sudah balik dari les pianonya."
"Besok aja. Ada urusan lain yang harus aku kerjain malam ini." Sami melepaskan tangan lembut sang istri dari lengannya. Ia berlalu dari hadapan Naya yang kini menatap punggung tegapnya dengan pandangan nanar. Tak menyangka Sami akan mengacuhkan malam ini. Padahal ia sudah berniat untuk memberikan pelukan hangat untuk pria itu. Entah apa yang terjadi sehingga membuat lelaki itu berubah dingin hari ini.
Sami menutup pintu mobil dengan perasaan campur aduk. Hatinya mendadak terasa begitu gundah mengingat kembali telepon masuk yang ia dapatkan dari gawai sang istri. Ucapan lelaki asing itu terus terus terngiang-ngiang di telinga. Nada bicara orang itu terus mengusik Sami. Siapa lelaki itu? Ada hubungan apa ia dengan istrinya? Sami sungguh penasaran. Ia lantas mengeluarkan ponselnya dari balik vest biru muda yang ia pakai. Mengusap layar pipih benda tipis itu. Memencet sebuah nomor yang biasa ia panggil untuk urusan darurat dan mendesak.
"Ya bos."
"Tolong cari tahu siapa pemilik nomor itu untukku secepatnya, Ki. Aku udah screenshoot ke nomor kamu barusan."
"Apa ini sangat urgent bos?"
"Iya. Detailnya akan aku jelaskan besok di kantor." Tukas Sami pada sang asisten.
"Oke bos."
Panggilan itu kemudian berakhir. Sami menghembuskan nafas kasar menatap kembali nomor ponsel lelaki asing yang sudah ia genggam. Sebentar lagi ia akan mengetahui siapa lelaki itu. Ia akan tahu ada hubungan apa pria itu dengan istrinya, Naya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya. Fakta apa yang akan di dapat oleh Sami??
*********TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments