Sami baru saja memarkirkan Pajero Sportnya di halaman parkir Star Kafe. Sudah beberapa hari ini ia selalu terbayang wajah Jihan. Teringat ciuman panas yang telah ia lakukan pada gadis lugu itu tempo hari. Perasaan bersalah mendadak hadir dalam hatinya. Entah dirasuki setan apa ia sampai nekat mencumbu paksa gadis manis itu. Wajah pucat Jihan masih terekam jelas di benak Sami sampai detik ini. Ia jadi sulit memejamkan mata. Hari ini ia ingin bertemu kembali dengan Jihan. Ia ingin meminta maaf sekaligus menjelaskan apa yang tengah terjadi kemarin. Tidak seharusnya Sami bertingkah konyol tapi jujur Sami sedikit tertarik dengan gadis itu. Ada sesuatu dari Jihan yang membuat Sami menjadi berdebar saat ia mencium rakus bibir kenyal itu tempo hari.
Sami sudah menunggu beberapa menit di ruang VIP tempat ia biasa menghabiskan waktu. Rasa hati sudah tak sabar ingin bertemu lagi dengan Jihan. Sudah hampir sepuluh menit Sami menunggu tapi seseorang yang ditunggu belum juga datang. Sami melirik arloji yang ada di tangan kiri. Rasanya ini sudah terlalu lama. Sami membuang nafas kasar.
Tak lama pintu terbuka dari luar. Sami mendongak. Berharap bisa melihat kembali wajah ayu milik Jihan. Hampir saja senyum Sami mengembang namun raut wajah senang itu langsung berubah kecewa. Itu bukan Jihan.
"Kamu siapa?" Tanya Sami tanpa basa-basi. Ia langsung menelan pil pahit. Ekspektasinya terlalu tinggi. Bukan Jihan yang datang tapi gadis lain lagi. Sami mendengus kasar.
"Saya yang bertugas hari ini mas. Saya diminta menemani mas di ruangan ini."
"Nggak perlu. Panggil manager kamu sekarang." Sami naik darah. Suaranya berubah dingin. Tanpa intonasi tinggi tapi mampu menghempaskan rasa percaya diri gadis yang ada dihadapannya. Rasa percaya diri yang tadinya setinggi puncak Himalaya langsung terhempas merata dengan tanah. Gadis yang tidak kalah cantik dari Jihan itu sontak berubah pucat. Tanpa menunggu lama ia langsung meninggalkan Sami dari ruangan remang-remang itu.
Sami meraih gawai yang ada di atas meja. Mengusap layar benda pipih itu dalam hitungan detik. Rasa kesalnya sudah di ubun-ubun. Ia harus mendapatkan penjelasan detail dari si manager kafe. Siapa lagi kalau bukan Kemal.
"Kesini lu sekarang." Hanya satu kalimat itu yang keluar dari bibir Sami. Lalu memencet tombol merah pada layar ponsel. Ia menunggu Kemal sambil bersedekap dada. Pikirannya sudah kacau . Kesal sudah pasti. Semua sungguh di luar ekspektasinya hari ini. Kemana Jihan?? Kenapa bukan gadis itu yang bertugas menemaninya?? Padahal ia sudah membooking gadis itu pada Kemal sebelumnya.
"Hei Sam." Sapa Kemal begitu ia masuk ke dalam ruangan Sami.
"Kenapa sih lu marah-marah?? Bikin LC gue takut aja."
"Mana gadis itu?" Sami bertanya dingin. Kemal yang tadinya tersenyum lebar seketika menciut.
"Siapa maksud lu?"
"Siapa lagi?" Sahut Sami dengan wajah datarnya. Pertanda ia mulai kesal.
"Jihan?"
"Jangan bertele-tele, Mal."
"Sorry Sam. Gue lupa bilang. Hari ini dia nggak masuk lagi." Jelas Kemal dengan nada sendu.
"Apa maksud lu?" Kening Sami mengkerut.
"Ini udah tiga hari. Gue pikir dia bakalan kerja sore ini tapi dia mangkir lagi. Sori bro gue bikin lu kecewa." Terang Kemal dengan perasaan bersalah sambil menepuk pundak Sami beberapa kali.
"Udah tiga hari?"
"Iya. Sejak habis nemenin lu dari kemarin itu dia minta izin untuk nggak masuk. Katanya ada perlu. Jadi gue kasih ijin." Ujar Kemal lebih lanjut. Dilihatnya raut wajah Sami sudah berubah sedikit pucat.
"Lagian kenapa lu penasaran banget sama tu anak? Ada apa sih, Sam? Jadi curiga gue." Tiba-tiba Kemal menembak Sami dengan pertanyaan inti. Sejak kemaren sore ia sudah mulai curiga. Mendadak saja gadis itu meminta izin untuk libur padahal kerja baru beberapa hari. Kalau bukan karena paras ayunya yang mengundang simpati, Kemal tak akan pernah mau memberi izin untuk anak baru libur seenaknya.
"Lu punya nomor ponselnya?" Tanya Sami dengan rasa tak sabar.
"Ada tapi untuk apa?" Kemal bertanya heran. Tidak biasanya Sami meminta nomor ponsel seseorang seperti ini. Apalagi itu hanya seorang gadis penghibur. Ini makin mencurigakan.
"Kasih ke gue."
"Iya tapi..."
"Sekalian sama alamatnya." Todong Sami.
"Oh oke." Kemal tak ingin bertanya lagi. Ia sangat paham karakter sahabat lamanya itu. Kalau wajah tampan itu sudah berubah sudah datar, Sami tak akan bisa ditawar lagi. Ia akan mendapatkan apapun yang ia mau. Itu sangat mudah baginya. Hanya tinggal menunggu waktu gadis itu pasti akan ia temukan dalam waktu yang tidak lama.
******
Jihan menghempaskan badan langsingnya ke atas ranjang. Tas selempang itu ia lempar begitu saja. Kepalanya terasa sakit sekali sejak tadi siang. Pusing memikirkan uang semester yang harus segera ia bayar beberapa bulan lagi. Sementara tabungan sudah menipis. Uang kos juga sudah menunggak dua bulan. Jihan kembali membuka dompet. Mengeluarkan kwitansi pembayaran yang harus segera ia bayar. Pekerjaan apalagi yang harus ia lakukan untuk segera mendapatkan uang dalam waktu singkat??
Meminta pada tante juga sudah tidak mungkin lagi. Ia tidak mau lagi menyusahkan adik almarhum papanya itu. Sudah hampir dua tahun Jihan bertahan sendirian di ibu kota. Dengan berbekal bekerja paruh waktu ia nekat keluar dari rumah tantenya untuk kuliah sendiri. Sejak di tinggal mati oleh sang mama, Jihan terpaksa harus kuat bertahan seorang diri. Kalau bukan karena desakan kebutuhan ekonomi seperti ini ia tidak akan mau ikut bersama temannya untuk bekerja di Star kafe itu sebagai lady companion. Katanya hanya menemani pelanggan bernyanyi. Tapi ternyata??? Sudahlah semua sudah terjadi.
Jihan menghela nafas panjang. Bayangan ciuman yang tiba-tiba ia dapatkan dari pria tampan berwajah dingin itu kembali terbayang di pelupuk mata. Itu ciuman pertamanya. Pria itu telah merampas ciuman itu dari bibirnya. Jihan tidak menyangka ia akan diperlakukan seperti itu. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu sehingga nekat menciumnya??
Jihan merasa sangat terkejut. Darahnya berdesir hebat saat mendapat sentuhan nyata dari cumbuan lelaki itu. Ia tidak menyangka lelaki itu akan mencium bibirnya dengan rakus. Bahkan masih terasa dengan sangat jelas jejak bibirnya di mulut Jihan. Ia merasa malu luar biasa karena itulah kemarin Jihan langsung meninggalkan pria itu tanpa permisi. Sampai kini rasanya ia sudah tak ingin lagi kembali ke sana. Tapi bagaimana? Ia juga butuh uang. Apa yang akan ia lakukan sekarang??
Jihan beranjak dari ranjang. Ingin ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Berendam sebentar untuk menghilangkan lelah namun saat hendak melangkah ke kamar mandi ponselnya berdering nyaring. Langkah Jihan terhenti. Ia terpaksa meraih ponsel. Siapa tahu ada panggilan pekerjaan baru untuknya.
Nomor tak di kenal. Tanpa curiga Jihan menekan layar hijau.
"Halo."
"Dengan Jihan?"
"Iya, saya Jihan."
"Kamu dimana?" Suara itu...
Dia?????
********TBC********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments