"Kamu bilang bisa nyanyi kan? Ayo kita duet?" Ajak Sami tanpa basa-basi. Jihan langsung termangu. Seperti berfikir sejenak. Seolah meragu. Lalu ia tersenyum.
"Bukannya nggak mau mas tapi kita belum ada chemistry." Jihan menolak dengan halus. Apa kata gadis ini barusan? Belum ada Chemistry?? Membuat Sami langsung terbahak. Jihan agak mengernyit heran.
"Chemistry kamu bilang?"
"Ya mas??" Jihan menatap dengan pandangan heran bercampur geli saat memandangi wajah tampan Sami yang kini tertawa lebar. Tak menyangka wajah dingin itu akhirnya bisa tertawa juga. Kemana wajah kaku yang beberapa menit lalu menatap Jihan dengan mata elang itu??
"Jadi nggak cuman pacaran aja ya? Duet juga harus pake chemistry? Gitu?" Sami masih terpingkal. Lucunya gadis ini.
"Kenapa mas jadi terbahak?"
"Kamu lucu." Sami mulai menghentikan tawa. Menatap serius pada Jihan. " Saya suka gaya kamu?"
"Mas bisa aja." Jihan tersipu namun tidak seperti gadis-gadis malam yang lain. Ia seperti resepsionis hotel yang selalu menjaga jarak pada Sami. Sudah sedari tadi ia perhatikan, tak sekalipun bahasa tubuhnya yang menunjukkan jika ia ingin melayani tamu dengan full service. Ada apa dengan gadis manis ini?? Kenapa dia kaku sekali?? Apa ia tak membutuhkan tips lebih?? Beribu pertanyaan terus muncul dalam benak Sami. Ia sungguh penasaran dengan Jihan. Bahasa tubuh gadis itu berbeda sama sekali.
"Kamu bisa jelasin apa itu chemistry?"
"Hmmm." Jihan mendadak bingung. Tak tahu harus bilang apa. Ia sudah ingin menjelaskan namun belum menemukan kalimat yang tepat.
"Bingung kamu ya?"
"Nggak kok mas."
"Kalo gitu apa?" Sami mulai mendesak Jihan. Ia penasaran gadis itu bisa menjelaskan dengan benar atau tidak.
"Chemistry itu tingkat kecocokan atau keserasian mas."
"Oke. Not bad." Sahut Sami dengan beringsut mundur dari posisi awal duduk. Ia menggeser sedikit tubuhnya ke samping. Sebelah tangannya ia rentangkan dengan lebar ke arah kanan. Sami menepuk bagian kosong kursi yang ada di sebelah sana.
"Ayuk duduk sini. Tolong ajari aku apa itu Chemistry seperti yang kamu bilang."
Jihan mematung. Ia seperti enggan beranjak dari posisinya berdiri. Apa yang baru saja ia dengar dari pria ini? Lelaki tampan itu memintanya untuk duduk di dekatnya?? Jantung Jihan tiba-tiba berdegup kencang. Inilah yang ia takutkan sedari tadi. Ia memang setuju untuk bekerja di tempat hiburan seperti ini tapi bukan untuk melayani lebih. Ia hanya ingin memandu untuk bernyanyi saja. Bukan untuk melayani nafsu pria hidung belang. Apalagi untuk... ???
"Ayo.." Sami meminta sekali lagi.
Sedetik...tiga detik...sepuluh detik waktu berlalu.
Dengan ragu akhirnya Jihan berjalan mendekati Sami. Dengan agak takut dan kikuk.Wajahnya kini berubah pucat. Apa yang akan terjadi padanya kini? Jihan menelan ludah. Entah kenapa tiba-tiba terasa sulit untuk ditelan. kerongkongannya mendadak kering kerontang.
"Jadi gimana caranya agar kita bisa punya chemistry??" Sami mulai beringsut mendekati tubuh Jihan. Sengaja ia lakukan. Ingin melihat seberapa kikuknya gadis itu. Ia sengaja kikuk atau hanya berpura-pura canggung? Sami akan segera membuktikan.
"Mas mau nyanyi lagu apa? Jawabnya seraya beringsut agak menjauh sedikit saat meraih remote televisi. Ia pikir mungkin Sami tidak akan menyadari ia berusaha menjauhi tubuhnya dari dekapan lelaki. Berpura-pura menawari lagu tapi tetap berusaha menjauh. Sami mendengus menahan senyum. Luar biasa gadis ini. Apa ia enggan untuk disentuh? Tidak mau melayani?? Sami tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari itu.
"Aku mau lagu yang slow. Kamu pilih aja mana yang kamu bisa." Sami lalu menyandarkan punggung pada kursi panjang yang terasa dingin. Ruangan di dalam memang cukup membuat badan menggigil. Mampu membuat kulit kering. Bahkan lebih dari itu. Mampu membangkitkan hasrat seksual seseorang saat berduaan dengan lawan jenis seperti ini.
Seperti yang sekarang ia alami. Sami tengah berduaan dengan gadis manis ini. Wajah ayu dengan mata bulatnya. Hidung kecilnya yang bangir. Badannya yang langsing yang sama sekali tak memiliki tonjolan lemak jahat yang akan mengurangi nilai plus di mata lelaki. Yang terpenting adalah bibir lembutnya yang tampak lembut dan berkilau di mata Sami. Membuat hati Sami tiba-tiba bergetar saat memandangi gadis itu tengah melantunkan lagu biar menjadi kenangan milik Reza Artamevia. Entah mengapa Sami merasakan hal yang berbeda dari gadis itu. Sami menyukainya. Ia tidak begitu cantik tapi menarik hati. Jujur Sami terpesona.
"Suara kamu lumayan. Kamu udah biasa nyanyi?" Tanya Sami dengan tatapan kagum. Tidak menyangka Jihan mampu membawakan lagu itu dengan gayanya. Sami cukup terhibur.
"Biasa nyanyi di kamar mas." Jawabnya dengan lugu. Sami terkekeh. Gadis manis ini ternyata cukup berbakat membuat Sami tertawa lepas. Ia seolah lupa bagaimana suntuknya diri tadi siang. Kemana si suntuk itu sekarang? Entahlah. Telah lenyap dimakan binar ceria mata bulat Jihan saat Sami memandanginya bernyanyi. Hati sami tergetar. Apa itu artinya ia mulai tertarik dengan wanita LC ini?? Secepat itu??
Entahlah. Sami juga tidak mengerti. Biasanya ia hanya menghabiskan waktu untuk menikmati para wanita LC itu berkaraoke ria. Menghabiskan harinya dengan mendengarkan suara merdu mereka tanpa melakukan hal yang lebih. Ia bukan tipe pria penjahat kelamin atau semacamnya. Hanya minum dan ngemil sembari tertawa lepas bersama wanita-wanita penghibur itu.
Tak ada satupun selama ini yang mampu menarik hatinya. Meskipun Nayla sudah lama tak memberikan kepuasan ranjang tapi Sami tetap tidak pernah jajan di luar. Ia masih bisa menahan diri. Menahan gairah. Menahan hasrat kelelakiannya yang terkadang sering meronta minta dipuaskan lebih. Namun untungnya sami masih bisa bertahan sejauh ini. Ia juga masih bisa berfikir jernih. Tidak mau ambil resiko. Aids masih menjadi momok yang menakutkan baginya hingga kini. itu terlalu beresiko.
"Nyanyi di kamar?" Sami mengulang kalimat terakhir Jihan.
"Iya mas. Di kamar aja."
"Ayo." Sami menyahut dengan cepat.
"Eh ya?" Jihan terkaget saat Sami mengatakan kata ayo. Tubuhnya meremang. Ia tidak salah dengar kan?
"Ayo kita duet sekarang." Sami melanjutkan kalimatnya. Membuat wajah Jihan seketika menjadi lebih lega. Hal itu justru membuat Sami mengulum senyum geli. Ingin rasanya ia terbahak kembali meluapkan rasa girangnya melihat ekpresi lugu wajah gadis itu. Ia memucat begitu Sami mengatakan kata 'ayo'. Apa yang dipikirkan gadis itu tentangnya?? Apa ia pikir Sami akan menerkamnya bulat-bulat??
"Lagu apa mas?" Jihan bertanya lugu.
"Yang tadi kamu nyanyiin barusan aja." Tukas Sami. Entah kenapa Sami juga ingin menyanyikan lagu itu berdua dengan Jihan. Rasanya akan lebih mengasyikan.
"Lagi mas?"
"Hmm."
"Mas suka lagu itu ya?"
"Mas suka dengerin kamu nyanyi. Yuk kita coba duet. Kamu mau kan?" Ajak Sami dengan mata berbinar. Penasaran juga dengan kelihaian gadis itu. Suaranya cocok untuk duet dengan Sami. Serak-serak basah. Menimbulkan sensasi yang berbeda di telinga Sami.
"Oke mas." Jihan memilih kembali lagu yang sebelumnya ia nyanyikan. Sesuai dengan permintaan pelanggan. Hanya melayani dengan bernyanyi Jihan akan menuruti dengan sepenuh hati. Musik kemudian mengalun merdu. Jihan memulai vocal lebih dulu. Beberapa bait sesuai dengan jatah syair. Kemudian Sami menyusul bersuara setelah Jihan menyelesaikan syair lagunya. Jihan tertegun beberapa saat. Tidak menyangka suara lelaki tegap itu begitu merdu. Mengalun indah. Sangat enak didengar. Jihan seperti menikmati suara Virza.
Mereka lantas bernyanyi bersama. Bergantian. Seolah telah mendapat chemistry. Jihan mampu mengiringi suara khas Sami pada lagu yang cukup sendu. Membuat Sami diam-diam menatap dalam pada gadis itu. Menikmati wajah ayunya yang sederhana di bawah temaram lampu ruangan Karaoke kelas VIP itu. Entah kenapa wajah lembutnya mampu memancing hasrat Sami. Membakar hasrat kelelakiannya yang sudah lama tertidur. Entah dirasuki makhluk apa tanpa pikir panjang Sami mendekat dan meraih tengkuk gadis itu. ******* bibir kenyal Jihan yang sudah sedari tadi menarik perhatiannya.
Jihan yang tidak siap dengan serangan mendadak itu langsung meronta. Ciuman panas mendadak itu terlepas. Dalam hitungan detik Jihan langsung memutar badan. Berbalik arah. Berlari secepat kilat keluar dari ruangan karaoke. Meninggalkan Sami yang termenung seorang diri. Mencerna apa yang yang baru saja terjadi.
Apa yang baru saja ia lakukan??? Kenapa ia nekat mencium Jihan?? Bagaimana ia bisa segila itu??
*********TBC***********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments