"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Sami saat dokter itu baru saja memeriksa keadaan Jihan. Gadis itu masih tergolek lemah di ranjang pasien. Setelah tadi ia tiba-tiba tak sadarkan diri, Sami langsung melarikannya ke rumah sakit. Panik bukan kepalang. Itulah yang dirasakan Sami begitu melihat Jihan pingan saat mereka adu mulut di depan kafe. Untung ia sempat meraih tubuh ramping itu. Hampir saja, Jihan rubuh ke lantai jika saja Sami tak sigap memeluknya.
"Pasien sepertinya kelelahan pak. Banyak kekurangan nutrisi."
"Kelelahan?" Sami mengulang tanya. Ia menatap dokter muda itu dengan sedikit heran. Bagaimana mungkin Jihan kelelahan? Setahunya gadis itu tak punya pekerjaan lagi. Pun ia sekarang sibuk melarikan diri darinya. Bagaimana mungkin ia bisa kelelahan? Apa mungkin dokter salah diagnosa?
"Iya pak. Kelelahan. Pasien juga mengalami dehidrasi parah. Saya sudah pasangkan infus untuk melengkapi kadar glukosanya. Kita biarkan dulu ia istirahat sampai cairan infusnya habis." Jelas dokter lebih lanjut. Seolah mengerti Sami menginginkan penjelasan yang lebih mendetail.
"Apa ada kemungkinan lain dokter? Saya khawatir ia tiba-tiba saja pingsan tak sadarkan diri. Apa nggak ada masalah lain yang lebih serius dengan kesehatannya?" Ujar Sami dengan nada cemas.
"Untuk lebih pastinya kita cek darah saja gimana pak? Saya tadi udah periksa tekanan darahnya. Memang cukup rendah. Pasien mengalami hipotensi. Tekanan darahnya sembilan puluh per enam puluh. Itu memang nggak norma. Kalau bapak kasih ijin, kita lakukan tes darah saja agar lebih akurat." Dokter memberikan tawaran. Sami langsung mengangguk setuju.
"Nggak apa-apa dok. Tes darah saja."
"Oke. Kita ambil dulu sampel darah pasien ya. Hasilnya juga nggak lama kok. Bapak bisa menunggu sekitar sepuluh menit. Nanti kita kabari hasil labornya." Dokter jaga itu dengan sigap langsung bergerak mencari beberapa peralatan medis untuk mengambil sampel darah Jihan. Gadis itu masih belum sadarkan diri karena lemah. Ia bahkan tak sadar jika dokter sudah berhasil mengambil beberapa mili cairan kental berwarna merah dari nadinya.
Sami menghela nafas panjang. Ia mendekati ranjang tempat Jihan berbaring. Terlihat gadis manis itu seperti sedang terlelap dengan hembusan nafas teratur. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir yang mengering. Badannya yang biasanya sintal sekarang sudah jauh lebih kurus. Ada apa dengan Jihan? Kenapa kondisinya bisa seperti ini?
"Pak..." Suara dokter tiba-tiba mengejutkan Sami yang tengah menatap Jihan.
"Ya dok?"
"Hasil labor udah keluar pak. Istri anda positif hamil. Selamat ya pak." Ujar dokter itu sambil tersenyum senang saat menyerahkan selembar kertas sebagai hasil laporan medis. Membuat Sami langsung mendongak tak percaya.
"Hamil?" Suara Sami seperti tertahan. Antara tidak percaya dan senang. Matanya membulat.
"Iya pak. Positif hamil. Pantas saja istri anda tiba-tiba pingsan. Nggak apa-apa kok pak. Itu gejala umum pada saat hamil muda. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Istri saya hamil?" Sami mengulang tanya. Seolah tak percaya saat dokter mengatakan kalau Jihan adalah istrinya yang tengah mengandung buah hati mereka. Sami tersenyum dengan perasaan campur aduk. Antara nyata dan halusinasi. Ini sungguh luar biasa. Jihan ternyata positif mengandung benihnya. Keyakinan Sami tidak meleset. Penyatuan mereka malam itu tenyata membuahkan hasil. Itulah yang selama ini dikawatirkan Sami. Ia yakin benihnya pasti berhasil melekat dalam rahim Jihan meskipun mereka hanya melakukannya satu kali. Apa jadinya jika ia tak menemukan gadis itu hari ini?
"Selamat ya pak."
"Terima kasih dokter. Sekarang gimana dok? Apa istri saya perlu rawat inap?" Sami sengaja menekankan kata istri pada sang dokter. Sudah terlanjur dokter itu menyatakan kalau mereka adalah sepasang suami istri karena melihat betapa paniknya Sami saat membawa Jihan ke ruang gawat darurat.
"Nggak perlu pak. Ibu hanya perlu istirahat aja. Jangan sampai kelelahan lagi. Dibantu sama nutrisi dan vitamin yang cukup untuk janinnya. Kalau beliau sudah sadar dan dirasa sanggup untuk berjalan, udah bisa pulang kok." Dokter memberikan penjelasan dengan tersenyum hangat.
Betapa lega rasa hati Sami. Ia kemudian tersenyum hangat menatap Jihan yang masih terlelap. Sebentar lagi ia akan menjadi ibu dari anaknya Sami. Ia mengandung benih Sami? Luar biasa. Setelah berhasil mendapatkan kesucian Jihan malam itu secara tak sengaja kini Sami dikejutkan lagi dengan berita kehamilan Jihan. Pantas saja wajah manisnya begitu pucat tak bertenaga. Ternyata ia tengah berbadan dua. Bagaimana reaksinya nanti jika ia tahu kalau ia tengah mengandung benih Sami? Pria pertama yang telah berhasil menidurinya di dalam kamar kos beberapa minggu yang lalu.
"Jihan.." Ujar Sami begitu melihat gadis itu bergerak membuka mata. Ia mengusap keningnya yang terasa sedikit berkunang.
"Mas.."
"Iya. Apa yang kamu rasain? Ada yang terasa sakit? Kamu nggak apa-apa?" Paniknya Sami begitu melihat Jihan mengernyit seperti menahan rasa nyeri.
"Dimana ini mas?" Tanya Jihan. Saat ia bergerak hendak turun dari ranjang baru ia tersadar ada selang infus yang sudah terpasang di tangan kiri.
"Aku kenapa mas? Kenapa aku dipasangin infus? Apa ini rumah sakit? Kenapa mas membawaku kemari?" Jihan menatap Sami dengan tatapan penuh tanya. Ia tidak mengerti kenapa harus dipasangi cairan glukosa itu. Apa yang terjadi pada tubuhnya? Kenapa ia bisa berakhir di rumah sakit. Sekelebat bayangan reka adegan ia adu mulut dengan Sami beberapa saat yang lalu kini terbayang kembali dibenaknya. Ia ingat Sami memaksanya untuk kembali namun ia berakhir dengan tak sadarkan diri.
"Mas.. aku kenap..?" Jihan langsung memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berputar. Mendadak ia kembali merasa pusing. Sami yang melihatnya mulai sempoyongan saat berdiri langsung dengan sigap menahan tubuh langsing itu.
"Kamu mau kemana? Jangan bergerak dulu. Istirahat aja sebentar. Apa kamu mau minum? Kamu lapar?" Sami menggempur Jihan dengan seribu satu pertanyaan. Saking khawatirnya melihat gadis itu lemah seperti ini. Jihan kemudian terduduk kembali. Sami memapahnya bersandar pada kepala ranjang.
"Aku kenapa mas? Kenapa aku jadi lemas begini? Ada apa denganku sebenarnya?" Jihan bertanya dengan suara lemah. Rasanya ada yang aneh dengan tubuhnya belakangan ini namun ia tak menyangka akan seburuk ini. Kenapa ia tiba-tiba saja bisa kehilangan kesadaran di depan umum? Ada apa dengannya? Begitu banyak tanya kini yang hadir dalam benak Jihan. Ia kemudian menatap ke arah Sami. Pria itu memandangnya dengan tatapan yang sulit ditebak. Entah apa yang sedang pria itu kini pikirkan. Entah apa yang ada dalam benaknya. Kenapa ia memandangi Jihan dengan manik mata penuh haru? Apa ada sesuatu yang membuat pria itu menjadi melankolis seperti ini? Wajah tampan yang biasanya dingin kenapa kini mendadak berubah menjadi lebih hangat dan sendu. Apa yang membuat Sami berubah ekspresi?
"Jawab mas. Aku kenapa? Jangan diam aja. Tolong jelaskan padaku." Jihan meminta penjelasan dengan menahan kesal.
"Kamu hamil."
"Apa??!!!!"
Bagaimana reaksi Jihan begitu ia mendengar kabar mengejutkan itu???
*********TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments