"Baiklah mas tapi saya nggak bisa lama." Setelah berfikir beberapa saat akhirnya Jihan memutuskan menerima ajakan Sami untuk bertemu. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa iba. Pria itu seperti berharap sekali untuk bertemu dengannya. Kalau untuk sebentar saja Jihan merasa itu tak jadi masalah.
"Ketemu dimana mas?"
"Kamu dimana? Mau saya jemput?" Tawar Sami dengan nada penuh harap. Rasanya lebih baik kalau ia jemput saja gadis itu daripada harus menunggu.
"Saya lagi di kos-kosan mas."
"Dimana? Mau saya jemput langsung kesana?" Sami sudah tak sabar. Ia sudah mulai gila. Apa yang tengah terjadi padanya saat ini? Begitu tidak sabarnya ia ingin bertemu gadis manis itu. Sami menunggu jawaban Jihan dengan harap-harap cemas.
Gadis itu terdengar seperti menggumam. Berfikir lagi mana yang lebih untung baginya.
"Jemput saya kesini aja mas. alamatnya saya share lock nanti. Saya mau siap-siap dulu." Jihan akhirnya memberi jawaban pasti. Lega rasanya hati Sami. Akhirnya gadis itu bersedia menemuinya.
Ting...
Bunyi notifikasi masuk terdengar dari ponsel Sami. Wajah Sami langsung sumringah. Kini ia sudah tahu kemana harus menjemput gadis ayu itu. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sami langsung melesat membelah jalanan ibu kota. Tak butuh waktu lama bagi Sami untuk menemui Jihan di tempat kosnya.
*****
Sami memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah gedung yang tidak begitu besar. Ia menurunkan sedikit kaca mobilnya. Ingin melihat lebih detail tempat gadis itu tinggal sebagai anak kos. Sami mendesah pelan. Tempatnya sangat biasa. Malah terkesan sedikit kumuh. Warna gedungnya juga sudah mulai usang dan mengelupas namun penghuninya cukup ramai. Terbukti dari banyaknya jemuran kain yang terpampang dimana-mana. Mungkin karena sewanya lebih murah makanya banyak juga yang memutuskan betah untuk tinggal di sini. Cukup memprihatinkan bagi Sami.
Tak lama terdengar ketukan beberapa kali di kaca jendela mobil. Sami tersentak. Ia sontak menoleh. Senyumnya langsung merekah begitu melihat siapa yang berdiri di balik kaca jendela.
Dia sudah datang. Sami membatin.
"Masuklah." Ujar sami begitu ia menurunkan kaca jendela mobil. Tampak jelas sudah wajah manis Jihan. Gadis itu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil tanpa ragu.
"Maaf mas jadi menunggu lama." Suara lembutnya menyapu gendang telinga Sami. Baru beberapa hari tidak bertemu Jihan, Sami merasa gadis itu kini semain manis. Jantungnya langsung terasa berdetak kencang. Ah ada apa dengannya? Apa ia mulai mabuk kepayang dengan Jihan??
"Nggak lama kok. Mas juga baru nyampe." Ujar Sami.
Mas?? Baru saja Sami menyebut dirinya mas dihadapan gadis itu?? Ada apa dengan dirinya kini?? Sami juga tida tahu kenapa kalimat itu meluncur dengan mulusnya dari mulut. Apa ia sudah senyaman itu dengan Jihan?
Jihan yang baru saja mendengar jawaban Sami juga ikut termangu beberapa saat. Ia tercenung. Apa ia juga tak salah dengar? Pria itu baru saja memanggil dirinya dengan sebutan mas. Seolah-olah mereka sudah sangat dekat. Seperti sudah memiliki hubungan istimewa.
"Kita mau kemana mas, Sami?" Tanya Jihan berusaha mengabaikan apa yang baru saja ia dengar dari mulut pria itu. Anggap saja kalimat yang baru terucap itu sebuah kesalahan. Bisa saja kan lelaki ini salah berucap? Siapa tahu ia hanya salah khilaf. Tanpa sadar telah mengatakan hal itu.
"Kamu udah lama tinggal disini?" Sami malah melempar tanya tanpa menjawab pertanyaan Jihan. Gadis itu langsung menatap Sami dengan wajah heran.
"Kenapa memangnya mas?"
"Hmm apa kamu nyaman tinggal di tempat seperti ini?" Sami menatap balik Jihan dengan rasa penasaran. Entah kenapa ia prihatin melihat gadis itu tinggal di tempat seperti ini. Sungguh jauh dari kata layak bagi seorang Sami.
Tanpa disangka Jihan langsung tersenyum mendengar apa yang baru saja Sami katakan.
"Nyaman kok mas. Saya udah lumayan lama tinggal disini."
"Apa kamu tinggal sendiri? Orang tua kamu?" Sami makin penasaran. Jihan tertunduk sesaat begitu mendengar sami menyinggung soal orang tuanya. Hatinya langsung merasa sedikit gundah. Sudah lama tak ada orang yang menanyakan keberadaan orang tuanya. Jihan merasa sami mulai begitu peduli terhadapnya. Pria itu menatapnya begitu lekat. Seolah penasaran sekali dengan cerita hidupnya. Kenapa ia jadi begitu peduli dengan Jihan?
"Ceritanya panjang mas. Kenapa mas begitu peduli padaku?" Jihan menjawab dengan sedikit kekehan. Seolah mengabaikan rasa penasaran Sami.
"Aku memang peduli sama kamu." Lugas Sami.
Jihan mendongak. Menatap kembali pria tampan yang punya wajah dingin ini. "Kenapa mas harus peduli?'
"Karena saya suka sama kamu."
Deg. Jawaban itu. Seketika langsung membuat Darah Jihan terasa berdesir. Menatap mata elang milik pria itu. Tak ada aroma kepura-puraan dari wajahnya. Ekspresinya memang selalu datar dan dingin namun Jihan masih bisa melihat pria itu serius dengan ucapannya. Ia tidak dalam mode bercanda. Lelaki itu sangat serius.
"Terima kasih mas perhatiannya. Saya hargai itu." Jawab Jihan sembari berusaha tidak terpengaruh suasana. Ia tidak mungkin terlena dengan ucapan lelaki yang punya kuasa ini. Pria yang nyaris sempurna. Ia punya segalanya. Harta, tahta dan wanita. Tak mungkin pria sekelas Sami menyukai gadis biasa seperti dirinya. Sungguh konyol jika Jihan percaya begitu saja.
"Aku nggak becanda Jihan. Aku suka sama kamu. Kamu membuatku gila beberapa hari ini. Makanya aku nekat mencari kamu."
"KIta mau kemana mas sebenarnya? Apa yang kita mau bicarakan?" Tanya Jihan akhirnya. Sungguh ia tidak mengira pria ini bertingkah semakin tidak masuk akal. Dia bilang Jihan membuatnya gila??
"Aku mau minta maaf sama kamu soal kejadian yang waktu itu. Maaf aku sudah berani mencium kamu tanpa izin. Aku.."
"Aku udah bilang lupain aja mas. Nggak usah kita bahas lagi, bisa?" Jihan meminta Sami untuk tidak membahas soal ciuman itu. Ia sudah bersusah payah untuk melupakan hal itu tapi pria itu membahasnya kembali. Entah kenapa Jihan mendadak menjadi berdebar tak menentu. Ditambah lagi dengan tatapan sami yang menatapnya dengan penuh damba. Jihan jadi semakin hanyut dalam pesona lelaki itu. Buru-buru Jihan mengalihkan pandangannya. Ia langsung menyadarkan diri. Tidak ingin ikut terjatuh lebih dalam pada pesona seorang Sami.
"Tapi aku nggak bisa lupa Jihan. Ciuman itu selalu terbayang. Kamu sudah membuat gila seperti ini. Kamu nggak bisa lari lagi. Aku sudah menemukan kamu."
"Apa?" Jihan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku menyukai kamu. Jadilah milikku. Jangan tinggal lagi di tempat seperti ini. Aku akan membuat kamu tinggal di tempat yang lebih baik." Ujar sami dengan tanpa ragu.
"Anda sudah gila."
"Memang. Kamu yang membuatku gila. Sekarang kau bisa lihat bagaimana gilanya aku padamu."
Tanpa tedeng aling-aling Sami langsung mendekat ke arah Jihan. Menarik paksa tengkuk gadis itu dan menciumnya kembali. Kali ini bukan karena terbawa suasana tapi Sami benar-benar dalam keadaan sadar. Ia telah terpesona pada gadis manis itu.
Apa yang terjadi pada dua manusia itu????
**********"TBC**********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments