"Anda mau pulang sekarang bos?" Tanya Riky saat menghampiri sang atasan yang masih sibuk berkutat dengan beberapa file di layar laptop. Jam kerja sebenarnya sudah selesai namun bos Sami sepertinya belum mau beranjak dari meja kerja. Pandangan matanya masih fokus pada layar pipih itu. Sami bahkan tidak menggubris apa ayang baru saja ditanyakan oleh asistennya.
'Bos.."
"Ah ya?" Sami menyahut sebentar kemudian kembali menatap layar.
"Kenapa Ki?"
"Anda nggak pulang bos? Ini udah sore." Riky kembali mengulang tanya. Ia menunggu jawaban bosnya. Meskipun sudah jam pulang kantor namun Riky masih enggan meninggalkan kantor lebih dulu sebelum pimpinannya pulang. Sudah jadi kebiasaan Riky pulang lebih lambat dari bos Sami.
"Sebentar lagi Ki. Kamu duluan aja nggak apa-apa kok." Ujar Sami seraya tersenyum. Ia melirik sekilas arloji di pergelangan tangan kiri.
"Anda masih mau disini? Apa ada yang bisa saya bantu bos?" Tawar Riky. Ia merasa tidak tega membiarkan bosnya tinggal sendirian sementara semua karyawan sudah pada pulang. Hanya tinggal beberapa petugas cleaning service yang sibuk membersihkan ruangan kantor.
"Iya saya masih mau disini sebentar lagi. Nggak ada yang penting kok Ki. Kamu pulang aja duluan."
"Anda yakin bos?" Riky mengulang tanya. Ia masih kurang yakin dengan jawaban bos Sami. wajah pimpinannya itu tampak menyiratkan guratan resah. Seperti tengah menanggung banyak keresahan yang tidak kunjung usai.
"Hmm." Sami menjawab tanpa kata.
"Gimana dengan gadis itu bos? Apa semua aman?"
Mendengar pertanyaan sang asisten membuat fokus Sami kini teralihkan. Ia mendongak pada Riky.
"Kamu mencemaskan aku?"
"Tentu bos. Anda adalah pimpinan saya. Mana mungkin saya nggak peduli." Riky menjawab dengan senyuman geli. Tidak biasanya bos Sami meragukan perhatiannya.
"Kalau seandainya nanti saya butuh bantuan kamu di luar job desk, apa kamu mau membantu saya , Ki?" Tanya Sami tiba-tiba.
"Maksud anda bos?" Riky sedikit agak heran mendengar tanya Sami yang tiba-tiba terasa agak janggal. Seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Pertanyaan itu seperti merajuk pada suatu hal yang lain. Hal yang tidak 'biasa'. Namun Riky belum bisa menebak.
"Nanti kalau sudah yakin saya akan kasih tahu. Saya harap kamu mau membantu saya."
"Oh oke bos. Nggak masalah. Saya siap membantu bos kapan aja." Riky mengangguk paham. Sudah jadi kewajibannya untuk membantu semua hal yang diminta oleh bos Sami. Apalagi itu menyangkut hal yang penting tentu semua akan Riky lakukan dengan senang hati.
"Makasih banyak ya Ki." Sami tersenyum lega. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat terjeda karena pembicaraan obrolan yang menginterupsi.
"Saya balik dulu ya bos." Pamit Riky. Kemudian berlalu meninggalkan sang atasan yang masih sibuk berkutat di depan meja kerja. Riky menghilang dari balik pintu.
Sami menghembuskan nafas kasar. pikirannya kembali melayang pada Jihan dan Naya. Dua perempuan yang kini telah berhasil membuat dunianya jungkir balik. Sang istri membuat hampir gila karena tingkahnya yang dingin sementara Jihan berhasil membuatnya hilang akal karena kehangatan yang ia berikan. Apa yang harus Sami lakukan sekarang?
Bagaimana ia akan menghadapi Naya? Bagaimana caranya ia akan memberitahu istrinya itu perihal Jihan yang telah terlanjur hamil dari benihnya? Meskipun berat Sami tetap harus segera memberitahu sang istri kalau ia telah menghamili perempuan lain secara tak sengaja. Malam itu mereka terbawa suasana. Apa boleh buat. Sami tetap harus mencari jalan keluarnya. Setuju ataupun tidak Sami tetap harus menikahi Jihan. Ia harus bertanggung jawab karena ada benih sami yang mulai tumbuh dalam rahim perempuan itu.
Tanpa pikir panjang Sami langsung membereskan semua bekas-berkas yang tadi telah ia periksa. Ia harus kembali pulang malam ini. Ia harus bertemu Naya untuk membicarakan masalah rumit yang saat ini mereka hadapi. Masalahnya dengan sang istri belum selesai kini ditambah lagi dengan masalah baru bersama Jihan. Semua harus ia tuntaskan malam ini. Sami meraih kunci mobil. Ia langsung melesat meninggalkan area kantor. Melajukan mobilnya menuju rumah untuk bertemu Naya.
*********
Sami baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Melangkah gontai memasuki teras. Dilihatnya suasana rumah cukup tenang sore ini. Tak ada terdengar suara Kiara. Gadis kecilnya itu biasanya selalu terdengar ribut dari ruang santai. Biasanya ia asik bermain sendiri di depan televisi sambil menunggu jam makan makan. Sami tak melihat keberadaan buah hatinya. Baby sitter yang biasa menemani Kiara juga tak nampak batang hidungnya apa Naya Namun Sami tadi sempat melihat mobil Naya terparkir di halaman rumah. Itu menandakan Naya juga ada di rumah. Tak istrinya itu berkeliaran tanpa kendaraan. Lalu kenapa rumah terasa sepi? Kemana para penghuni rumah? Kemana mereka semua?
Sami melangkah menuju kamar utama. Pintu kamar ternyata tidak dikunci dari dalam. Sami masuk tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya kamar dalam keadaan kosong. Tempat tidur juga masih dalam keadaan rapi. Tanda belum ada aktivitas ranjang yang dilakukan Naya seharian ini. Kemana wanita itu?
Sami lalu mencoba mengintip kamar mandi. terdengar bunyi percikan air dari dalam sana. Ternyata Naya sedang membersihkan diri. Ia tengah melakukan ritual mandi. Sami menghela nafas lega. Ia lalu duduk di tepian ranjang sambil menunggu Naya selesai. Rencana ia akan bicara langsung dengan istrinya itu. Sami melirik jam di pergelangan tangan. Hatinya kini sedikit berdebar menunggui Naya selesai berbenah.
Baru saja Sami merebahkan diri di atas pembaringan, bunyi getar ponsel menyentakkan Sami. Memaksa pria itu untuk kembali membuka mata. Sami kemudian duduk kembali dari posisi tidurnya. Ponsel milik sang istri itu terus saja bergetar. Membuat Sami penasaran siapa yang tengah memanggil istrinya lewat benda pipih itu. Tak ada pemanggilnya. Unknown number. Tanpa pikir panjang Sami memutuskan menjawab panggilan itu namun baru saja ia hendak bersuara sebuah suara bariton seorang pria langsung menyahut dari seberang sana.
"Kamu ngapain aja sih sayang? Aku udah ngubungin kamu dari tadi? Kita main di tempat biasa ya. Aku tunggu."
Kening Sami langsung berkerut. Matanya membulat. Ia tak mengerti apa yang baru saja dibicarakan lelaki itu pada istrinya. Siapa lelaki ini? Ada hubungan apa ia dengan Naya? Main di tempat biasa? Apa maksud dari kalimat pria itu? Main?
Sami langsung mematikan panggilan itu.Ia berfikir sejenak kemudian melirik sebentar ke arah kamar mandi. Dengan sigap tangannya memencet layar ponsel. Ia mengirim nomor lelaki itu pada nomor ponselnya. Lalu sedetik kemudian chat itu ia bersihkan kembali untuk menghilangkan jejak. Berikutnya Sami langsung mengirimkan pesan singkat pada lelaki itu dari ponsel sang istri. Meminta pria itu untuk mengirimkan alamatnya seolah itu pesan dari Naya. Sami ingin mencari tahu dimana pria itu janjian dengan sang istri.
Drrrrt...dddrrttt..
Pesan balasan pun masuk tanpa Sami menunggu lama. Sami lalu membuka pesan baru itu. Beberapa detik kemudian raut wajah Sami langsung berubah. Tempat itu tenyata...
Tangan sami pun terkepal.
Apa yang terjadi? Bagaimana Kelanjutan rahasia Naya setelah Sami membaca pesan singkat dari lelaki asing itu???
*******TBC*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments