Sami mengendarai mobil dalam kecepatan sedang. Hatinya sangat kecewa. Naya hampir saja membuatnya lepas kendali. Sudah sekian lama mereka menjadi suami istri namun pada akhirnya Sami seolah tak bisa lagi mengenali siapa Naya. Kemana kehangatan yang dulu begitu manis. Mereka adalah duo sejoli yang dulu saling mendamba. Saling jatuh cinta. Rasa cinta yang begitu besar akhirnya membuat mereka memutuskan untuk menikah muda. Tanpa mau berfikir panjang Sami dan Naya akhirnya memilih mengakhiri masa lajang mereka setahun setelah lepas dari seragam abu-abu. Kedua keluarga besarpun tak keberatan untuk merestui.
Sami menghentikan kendaraanya tepat di depan gedung kos milik Jihan. Tanpa sadar ia telah berada disana. Entah apa yang ada dalam pikiran Sami saat ini. Tujuannya keluar dari rumah hanya untuk menghindari pertengkaran dengan sang istri tapi entah mengapa ia jadi berbelok arah ke tempat Jihan. Gadis manis yang beberapa hari ini menguasai hati dan pikirannya.Tentu saja ia masih begitu mencintai Nayla tapi ia juga tidak menyangkal telah jatuh hati pada Jihan. Sami termenung sejenak setelah mematikan mesin mobil. Ia tak tahu harus melakukan apa. Memangnya apa yang akan ia lakukan di tempat ini? Belum tentu juga gadis itu berada dirumah saat ini.
Saat baru saja hendak menghidupkan kembali mesin mobil, Sami tak sengaja melihat sosok manis itu keluar dari gedung kosnya sembari menenteng kantong sampah. Ia melangkah santai tanpa merasa ada yang mengawasi pergerakannya dari jauh. Senyum manis langsung melengkung dari bibir Sami. Tak menyangka ia bisa melihat lagi gadis ayu itu.
Tanpa pikir panjang Sami langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Jihan.
"Jihan."
"Ya??" Jihan sontak menoleh begitu mendengar ada yang memanggil namanya. Matanya membulat.
"Mas Sami?"
"Kamu apa kabar?" Sami tersenyum hangat melihat wajah ayu itu dari dekat.
"Kenapa mas ada disini?" Jihan mengabaikan tanya dari mulut Sami. Ia seolah kurang suka melihat kehadiran lelaki yang berwajah dingin itu. Untung saja wajah datarnya enak dilihat. Kantong sampah yang ia bawa dilempar begitu saja. Jihan sama sekali tidak merasa terusik dengan kehadiran Sami. Hal itu justru membuat Sami makin tertarik padanya. Tidak banyak wanita yang mengacuhkan seorang Sami selama ini.
"Apa ada larangan mas datang ke tempat ini?" Sami bertanya balik.
"Memang nggak ada sih tapi aneh aja rasanya mas mau datang ke tempat kumuh seperti ini. Emangnya ada urusan apa mas sampai jauh-jauh rela dateng kemari?" Tanya Jihan dengan mimik datar. Ia terus melangkah tanpa menghiraukan Sami yang mengekori.
"Mau ketemu kamu. BIsa kita ngobrol sebentar? Kamu nggak sibuk kan?" Tanya Sami sambil menarik lengan Jihan yang terus saja mengacuhkannya. Gadis itu sedikit tersentak.
"Mas, lepaskan."
"Please. Ada yang mau mas omongin sama kamu." Sami menatap Jihan dengan tatapan penuh harap. Tangannya kini menggenggam erat telapak tangan gadis itu. Membuat Jihan berdesir saat mendapat sentuhan hangat dari telapak tangan milik Sami. Wajah penuh harap itu memicu detak jantung Jihan berpacu lebih cepat. Rasa apa ini? Kenapa ia jadi berdebar seperti ini?
"Please Jihan." Sami memohon sekali lagi.
Jihan menghela nafas panjang. Akhirnya ia menyerah. Mengizinkan Sami masuk ke dalam kamar tanpa berfikir ulang. Wajah dingin yang memelas itu akhirnya mampu membuatnya luluh.
"Mas mau minum apa?" Tanya Jihan begitu menapakkan kaki di dalam kamar kos. Ruangan tiga kali empat itu cukup rapi dan bersih. Sami melihat ke sekeliling dengan tatapan takjub. Baru sekali ini ia masuk ke dalam kamar seorang gadis. Meskipun tidak mewah tapi bisa membuat betah. Setumpuk buku bacaan dan novel tersusun rapi disudut kamar. Menyiratkan kalau Jihan merupakan sosok pecinta dunia literasi. Sami mengukir senyum saat melihat sepasang pakaian dalam tergeletak pasrah di atas ranjang. Terselip manis dibawah bantal.
"Mas mau minum?" Jihan mengulang tanya. Heran menatap Sami yang tak kunjung memberi jawaban.
"Apa aja boleh."
"Aku kasih air comberan mau?" Sahut Jihan dengan entengnya.
"Boleh asal dikasih langsung dari mulut kamu." Jawab Sami tanpa ragu. Jihan memutar bola matanya. Ia tak menyangka pria dingin seperti Sami ternyata bisa humoris juga.
"Cuman ada ini mas. Aku belum sempat belanja. Lagi bokek." Jihan menyodorkan segelas coffee latte. Stok minuman kemasan terakhir yang tersisa. Untung saja ia tak jadi meminum itu tadi pagi.
"Makasih." Sami menerima dengan senang.
"Kamu suka baca?"
"Iya. Suka banget. Mas tahu darimana?" Tanya Jihan sembari duduk di sebelah Sami. Mereka duduk ditepian ranjang bersisian.
"Itu." Sami menunjuk dengan dagunya ke arah pojok kamar.
"Kamu nggak ke kampus hari ini?" Sami membuka topik lain untuk bisa terus bicara dengan Jihan. Ia menghirup aroma kopi dari kepulan asap minuman yang diberikan tadi oleh Jihan. Gelas minuman itu masih terasa hangat.
"Hari ini aku nggak ada jadwal mas. Kenapa memangnya?" Jihan menatap balik Sami yang tersenyum manis setelah meneguk beberapa kali coffee latte.
"Hmmm manis."
"Apanya?" Jihan mengerutkan keningnya.
"Minumannya." Tukas Sami. Meralat ucapannya dengan cepat. Jihan hampir saja tergelak. Ia merasa Sami cukup hangat juga sebagai seorang pria. Entah mengapa setelah mengenal pria itu lebih dekat seperti ini menimbulkan rasa yang berbeda di hati Jihan. Ia merasa nyaman dan aman. Kemudian mereka hening beberapa saat. Tak ada lagi yang bicara. Sami memandangi wajah ayu Jihan yang terdiam menatapnya. Menunggu topik obrolan lain apalagi yang akan mereka bicarakan.
"Kenapa mas?" Tanya Jihan dengan tatapan heran saat melihat Sami memandanginya dengan tatapan yang berbeda.
"Kamu cantik." Sami seperti menggumam.
"Hmmm?" Jihan menatap bingung. Tangan Sami kemudian terulur menyentuh pipi mulus gadis itu. Membelainya dengan lembut. Dengan penuh perasaan. Jihan termangu saat mendapat sentuhan lembut yang tiba-tiba itu. Hatinya berdebar. Ia menatap wajah Sami kini mulai mendekat. Semakin merapat dan kemudian ia tak bisa mengelak lagi saat lelaki itu mulai menyapu lembut bibirnya. Menciumnya dengan manis. Jihan terbuai dengan sentuhan yang diberikan oleh Sami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua saat ini. Tidak tahu siapa yang memulai dan mengakhiri, akhirnya mereka sama-sama terhanyut. Duo sejoli itu terbawa suasana. Mereka tenggelam dalam gairah asmara. Luapan gejolak birahi itu sudah tak tertahankan lagi. Hasrat panas itu sudah terlanjur berkobar. Membakar jiwa. Hubungan terlarang itu akhirnya terjadi juga. Sami dan Jihan terlena. Terbuai dalam kenikmatan surgawi. Sami yang sudah lama menginginkan kepuasan itupun hilang kendali. Ia lepas kontrol. Hasratnya begitu memuncak tatkala melihat Jihan begitu pasrah dalam kungkungannya. Gadis itu terbuai dan menikmati semua sentuhan yang ia berikan. Mereka melakukan tanpa sadar karena telah hanyut dalam gairah yang melenakan jiwa.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana hubungan mereka setelah tanpa sadar melakukan pergulatan terlarang itu??
*******TBC*********
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments