Brandon hanya tidak mau Aini berada di posisi makin sulit. Pemuda itu benar-benar ingin melindungi Aini. Karena meski orang tuanya mungkin akan mengerti keadaannya, orang tuanya paham yang ia butuhkan hanya Aini, ada Lentera dan keluarganya yang bisa membuat Aini tidak baik-baik saja.
Bagi Brandon, posisi Aini sangat serba salah. Bukan hanya karena Aini sangat Brandon cintai dan kini Brandon pilih. Melainkan status sosial Aini yang bahkan masih berstatus sebagai ART mereka, sementara dalam waktu dekat, dalam hitungan hari, Brandon harus menikahi Lentera.
Kini bukan perkara jantan atau pun gentleman. Juga kejujuran dan kebaikan bersama. Sebab kini, yang Brandon upayakan hanyalah bagaimana agar Aini baik-baik saja. Karena bagi Brandon dan juga bagi yang mengetahui kisah mereka, Aini yang sangat ia cintai sudah teramat menderita hanya karenanya.
“Pasien atas nama Brandon!” panggil wanita yang berada di ruang informasi untuk ke tiga kalinya.
“Kali ini saja. Aku janji, nanti, saat semuanya sudah memungkinkan, ... aku akan meluruskan semuanya!” bisik Brandon sampai menempelkan bibirnya yang masih tertutup masker, ke telinga kanan Aini. Sampai detik ini, air matanya sangat berlinang. Sebab keputusannya mengorbankan semua yang ada, juga sangat melukainya. Tentunya, alasannya terluka karena ia harus melukai orang tuanya, keluarganya, dan juga Lentera sekeluarga.
Mendengar itu, Aini hanya bisa menangis meski tangisnya tanpa disertai suara. Brandon benar-benar akan tetap bersamanya. Pemuda itu akan melakukan segala cara untuk membahagiakannya, termasuk itu meninggalkan semua yang dimiliki, bahkan itu ... orang tua.
“Ya Allah ... semoga secepatnya kami bisa bersama-sama, dalam kedamaian sekaligus bahagia,” batin Aini hanya mampu melangitkan doa terbaik untuk mereka.
“Pah, coba dilihat, Pah. Jangan-jangan itu Brandon anak kita,” ucap ibu Chole sengaja membawa sang suami untuk mendekati tempat informasi. Ia berniat memastikan, terlebih sejauh ini, instingnya sebagai seorang mamah, nyaris tidak pernah salah.
“Brandon kita sedang menemani Lentera, Mah. Mereka ada di ruang rawat Lentera. Ayo, ayo ... duh, Mamah jangan mikir yang aneh-aneh deh. Andai pun ada apa-apa, kan ada Syam dan mafia lainnya yang bakalan jaga. Mereka akan selalu kasih kita semua kabar terbaru. Jangankan yang penting, yang sepele saja juga sampai mereka laporkan,” ucap pak Helios penuh sayang sambil mengelus punggung sang istri yang sampai ia rangkul.
“Iya, Brandon memang di ruang rawat Lentera, tapi kenapa rasanya ada yang aneh? Dan memang enggak biasanya begini. Rasanya seaneh ini,” batin ibu Chole sembari mengawasi sekitar. Ia juga sengaja melongok keberadaan punggung Brandon, tapi kali ini di sana sudah tidak ada apa-apa. Brandon dan Aini sudah pergi.
Sampai ketika ibu Chole bertemu Boy yang menyamar jadi Brandon, sikap Boy yang tak segan tersenyum lepas dan itu tentu ciri khas Boy, sudah langsung membuat ibu Chole gelisah. Ibu Chole refleks menoleh ke belakang bahkan balik badan. Ia menepis tatapan bertabur senyuman dari Boy. Ia lebih memilih menatap pintu ruang rawat Lentera, seolah ia bisa melihat keberadaan Brandon di luar sana.
Bersamaan dengan itu, hati ibu Chole seolah teriris pedih. Wanita becadar biru gelap itu sampai meringis, menahan kesakitan berarti dari dalam dadanya yang juga refleks ia tahan.
Boy benar-benar terbiasa dengan sifat hangat sekaligus kebiasannya. Ia lupa jika kini, dirinya sedang menjadi Brandon.
“Kamu kenapa?” tanya pak Helios sambil mengelus ragu kepala Boy. Ia menatap heran Boy yang menyalaminya dengan takzim dan sampai saat ini, masih menyalami tangan kanannya menggunakan kedua tangan.
Mendapat teguran tersebut, Boy yang masih bergaya seolah dirinya benar-benar terkena cacar jadi bingung.
“Memangnya, cacar bisa bikin yang mengalaminya, mengalami perubahan sikap drastis, ya?” pikir pak Helios.
“Eh, calon mertua durhakem ... ini calon mantu lagi sakit, kok malah mengheningkan cipta?” tegur pak Rayyan masih jaga jarak dari Boy, dan memilih duduk di sofa sebelah.
“Ada suara, tapi tidak ada penampakan. Sayang, kamu dengar juga, enggak? Apa perlu, kita adakan rukiyah masal biar hidup kita kembali tenang?” balas pak Helios sudah langsung merangkul punggung ibu Chole menggunakan tangan kirinya, berhubung tangan kanannya baru saja dilepaskan oleh Boy.
“Aduh, ... udah deh, jangan pada berantem. Sudah mau jadi besan, please move on. Malu sama cucu nanti,” rengek Lentera yang memang sudah jauh lebih sehat dari kemarin. Terlebih semalaman ditunggui Boy, sudah cukup membuatnya merasa tenang.
Ditegur begitu oleh Lentera, pak Helios dan pak Rayyan langsung celingukan sekaligus bungkam. Namun kemudian, para istri juga kompak memberi peringatan sambil berbisik-bisik.
“Namun omong-omong rukiyah, Pah Helios ... coba deh, lakukan itu ke Mas Brandon. Takutnya kayak pas masih SMA, ada yang sengaja gun*a-gun*a Mas Brand, hanya karena dia iri dan ternyata masih sahabat kami,” ucap Lentera.
Menyimak itu, tidak ada yang tidak cemas termasuk Boy. Ibu Chole dan juga ibu Elena refleks melangkah mendekati Boy. Hanya saja, pak Rayyan yang sangat posesif kepada istri, tak mengizinkannya. Takut ibu Elena tertular cacar. Meski karena ulahnya itu juga, pak Rayyan jadi mendapat siraman rohani dadakan dari sang istri.
“Untung kamu ingetin Papah kalau di masa lalu, memang pernah kejadian hal semacam itu, Ter!” ucap pak Helios yang mana saat SMA, Brandon memang sempat nyaris diguna*a-gun*a, dan saat itu ditolong oleh Ryuna yang memang sempat paham hal seperti itu, hanya karena Ryua sedang hamil Aqwa yang memang istimewa—baca novel : Saling Cinta Setelah Menikah.
“Nanti Papah rukiyah Brandon, terus Papah pindahin ke papah kamu biar dia nyaho, tahu rasa gimana tersiks*anya merasakan cacar!” balas pak Helios sambil melirik tajam pak Rayyan.
“Heh, besan durhakem. Hati-hati yah, kalau ngomong!” sergah pak Rayyan.
“Kenapa ...? Bukannya kamu punya banyak stok bedak buat nutupin segala bopengmu?” balas pak Helios santai tapi menusuk. Meski karenanya, kebersamaan di sana jadi makin kacau dan itu gara-gara denda*m masa lalu yang belum kelar—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.
Kini, ibu Chole memang sengaja memeluk Boy. Tak peduli meski putranya itu sedang cacar. Ia melakukannya penuh sayang di hadapan semuanya. Hanya saja, hati dan pikirannya justru berkelana, mencoba mengejar apa yang ada di luar sana dan masih berkaitan dengan Brandon. Bukan semata perihal nama pasien di ruang informasi, tapi juga perubahan sikap sosok Brandon dalam dekapannya yang jadi manis. Padahal sejauh ini, Brandon sangat anti dipeluk apalagi selama sekarang.
Sementara itu di luar, akhirnya Brandon selesai mengurus pengobatannya. Menjalani infus semalaman membuat pemuda itu merasa jauh lebih baik. Brandon memutuskan untuk menjalani berobat jalan, agar ia bisa menjalani misinya dan Boy.
Kembali, Aini dan Anjar diboyong menggunakan mobil. Sampai detik ini Brandon yang menyetir. Dan kali ini, mereka benar-benar sampai pelabuhan. Mereka siap menyeberang. Anjar sudah langsung terpukau memandangi pemandangan yang disuguhkan tak lama setelah mereka keluar dari mobil.
Brandon yang awalnya hanya menggandeng Aini dan Anjar berangsur mendekap keduanya secara bersamaan. Kemudian, pemuda itu juga mengec*up dalam ubun-ubun keduanya, silih berganti. Di antara sepoi angin sambil memandangi birunya air laut yang dihiasi ombak tenang, Brandon optimis bisa membahagiakan kedua orang dalam dekapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
dilema niii
2024-07-26
0
Ida Ulfiana
aduh brandon minggat kmna se
2024-07-10
0
nhenhe
uh.. Mas brand hebat euy calon suami yg baik dan calon kk ipar yg bertanggung jawab /Heart/
2023-12-07
4