“Aku beneran gejala cacar, jadi jaga jarak dan jangan dekat-dekat,” lirih Brandon sambil susah payah mencoba bangun.
Padahal tanpa Brandon minta, Aini memang akan selalu menjaga jarak. Akan tetapi, alasan Aini begitu bukan karena cacar Brandon, melainkan status mereka. Hanya saja, melihat Brandon yang tampak lemas dan sekadar membuka mata saja tampak tak berdaya. Juga Brandon yang perlahan merosot meski sudah bersandar pada sandaran tempat tidur, Aini yang awalnya bertahan di balik pintu, buru-buru maju.
Aini terlalu bingung harus bagaimana, tapi kedua tangannya dengan refleks menahan kedua lengan Brandon. Ia menidurkan pemuda itu dengan sangat hati-hati. Karena suhu tubuh Brandon yang masih tinggi, ia buru-buru mengompresnya.
“Cacar, enggak boleh kena air, ya?” pikir Aini yang akhirnya juga perkata, “Tuan sedang demam. Jadi, jangan pakai pakaian setebal ini.”
“Lama-lama, aku beneran bant*ing kamu kalau kamu masih panggil aku tuan–tuan,” ucap Brandon benar-benar marah meski untuk sekadar bicara bahkan membuka mata saja, ia sudah tidak berdaya.
Meski sempat tercengang pada tanggapan Brandon, Aini segera meminta izin untuk melepas jaket yang Brandon pakai.
Jaket Brandon saja sampai basah oleh keringat dingin.
“Mamah kasih obat warnanya agak oren, kan? Biarkan aku minum itu dulu,” lirih Brandon tanpa sedikit pun membuka matanya.
Aini yang masih melepas jaket Brandon dengan hati-hati, berkata, “Makan nasi dan sup dulu meski sedikit, ya? Yang oren itu, obat demam dan bukan obat lambung yang harus diminum sebelum makan, kan?”
“Tenggorokanku sakit, Ni. Aku enggak yakin bisa menelan nasi,” balas Brandon lagi.
“Kalau begitu bentar, aku ulek dulu nasinya karena mendadak bikin bubur enggak bisa langsung mateng,” sergah Aini buru-buru melakukannya apalagi, ia sudah berhasil melepas jaket Brandon.
“Terserah, yang penting kamu tetap di sini,” rengek Brandon seiring sebelah tangannya yang mencari-cari ke arah Aini. Ia butuh wanita itu. Ia ingin bermanja kepada Aini.
Aini yang sempat tercengang karena rengekan Brandon, sengaja maju dan lagi-lagi menghindari Brandon. Niatnya ke sana murni untuk menjaga sekaligus mengobati Brandon. Andai pun takdir berusaha mengikat mereka, Aini akan berusaha memberontak.
“Ni, kepalaku pusing banget ...,” rengek Brandon lagi. Karena pada kenyataannya, kebersamaan kali ini sengaja ia manfaatkan untuk melepas kerinduannya kepada wanita itu.
Aini yang sudah beres mengulek sebagian nasi, bersiap menyuapi Brandon. Namun, Brandon berhasil meraih sebelah tangannya, memaksanya untuk duduk di pinggir tempat tidur. Brandon memperlakukan pangkuan Aini layaknya bantal yang sudah langsung membuat pemuda itu merasa sangat nyaman.
“Makan dulu biar bisa minum obat,” lirih Aini.
“Iya, ayo.” Brandon tetap memejamkan kedua matanya.
“Gimana ceritanya kalau Mas saja di pangkuanku? Ini tangan diputer-puter?” lirih Aini lagi.
“Diatur saja, Ni. Kepalaku beneran pusing. Sudah kamu enggak usah mikir macam-macam. Kamu beneran aku ingin sembuh, atau malah lebih memilih aku kesakitan terus mati, sih?” keluh Brandon.
Aini yang ditodong dengan pertanyaan barusan langsung nelangsa sekaligus berkaca-kaca. Tanpa kembali berbicara, ia berangsur berusaha menyuapi Brandon. Aini benar-benar mengurus Brandon yang tetap memilih pangkuannya, meski di sana ada bantal yang jauh lebih nyaman.
Aini merawat Brandon dari langit yang awalnya cerah, terik, dan perlahan gelap, hingga turun lah hujan. Aini hendak menutup jendela maupun pintunya, tapi Brandon tak mengizinkannya pergi.
“Hujan angin loh Mas,” tegur Aini kepada Brandon yang ternyata tak sepenuhnya tidur. Barulah setelah apa yang ia kabarkan, Brandon berangsur menarik kepalnya dari pangkuan Aini.
“Aduh ....”
Suara rintikan dari Aini setelah terdengar suara jatuh, membuat Brandon membuka kedua matanya. Brandon langsung mengawasi sekitar, tapi ia tak menemukan Aini, sebelum akhirnya ia melongok ke lantai sebelah. Yang di cari benar-benar di sana. Aini yang awalnya meringkuk, tampak susah payah meluruskan kedua kakinya.
Brandon berpikir, terlalu lama memangkunya dan itu memang berjam-jam, membuat kaki Aini kesemutan bahkan mati rasa.
Alih-alih menutup jendela maupun pintu agar hujan lebat beserta angin yang berlangsung, tak membuat sekitar kamar banjir, yang Brandon lakukan lebih dulu justru membopong Aini dengan sangat hati-hati. Brandon menaruh Aini yang tetap selonjor karena kedua kaki wanita itu bermasalah, ke tempat tidurnya. Barulah setelah itu, meski masih sempoyongan, Brandon berangsur menutup satu persatu jendela yang ada di sana, termasuk pintunya.
“Sudah, kamu juga istirahat. Pokoknya mau ngapain saja boleh, yang penting jangan pergi saja,” sergah Brandon yang berangsur tidur lagi.
Brandon memang tak lagi tidur di pangkuan Aini, tapi ia tak bisa jah-jauh dari Aini.
Aini berangsur meraih tisu kering dari meja untuk mengeringkan kedua tangan Brandon yang basah. Karena tadi, kedua tangan Brandon memang terkena hujan angin. Namun, pemuda itu menarik tangannya dengan dalih, cacarnya sudah keluar dengan sempurna. Brandon tak mau menulari Aini.
“Kalau enggak mau, berarti aku tinggal saja, ya?” lirih Aini.
“Sini tisunya, aku lap sendiri,” balas Brandon yang menyodorkan telak tangan kanannya.
Aini memang memberikan beberapa tisu kepada Brandon, tapi ia tetap mengeringkan Brandon juga. Tak lupa, ia membuka termos berisi sup buah pir yang bagus untuk tenggorokan.
“Aku tahu, kamu juga masih sayang banget ke aku,” lirih Brandon masih tiduran sambil mengawasi Aini yang lagi-lagi tak sedikit pun meliriknya. Aini tetap menjaga jarak.
“Ni, ngomong ...,” lirih Brandon lagi masih setia mengawasi wajah Aini yang terus menunduk meski wanita itu tetap telaten menyuapinya.
Demam Brandon memang agak reda, tapi pemuda itu tetap tidak baik-baik saja. Karena efek radang tenggorokan, bapil, dan juga cacar, tetap membuat Brandon meriang, tak karuan.
“Perut Mas aman?” tanya Aini sambil menyuapi Brandon lagi.
“Semuanya memang enggak aman, apalagi hati dan mentalku. Namun, nanti malam aku bakalan bilang ke orang tuaku.” Sebenarnya Brandon belum selesai bicara, tapi Aini sengaja mengalihkannya dengan membahas cacar Brandon.
“Biasanya orang yang terkena cacar juga disertai keluhan perut yang jadi kaku. Apalagi kalau cacarnya enggak keluar serempak. Jadi, habis ini aku bikinkan wedang asam jawa biar cacar Mas keluar serempak,” ucap Aini.
“Aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita. Kamu cukup terima beres saja. Orang tuaku beneran berbeda. Lebih baik enggak jadi dari awal, daripada dilanjut tapi saling menyakiti—”
“Mas ... tolong, dia sangat mencintaimu. Kalian pasti akan jauh lebih bahagia. Aku memang enggak berhak bicara seperti ini, tapi aku ingin Mas tahu pendapatku. Ini beneran dari hati yang paling dalam, Mas!” yakin Aini.
“Tapi aku maunya sama kamu, Ni!” tegas Brandon kali ini memaksa. “Ini beneran lebih baik daripada tetap memaksa mencoba, tapi yang aku mau dan selalu menguasai aku tetap kamu. Aku jatuh sakit pun karena aku terlalu stres. Aku beneran hanya butuh dukungan kamu!” yakin Brandon. Ia mencoba duduk, tapi ia hanya bisa melakukannya sambil bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Tanpa harus merenung, sebenarnya Aini juga membenarkan anggapan Brandon. Hanya saja, Aini terlalu takut. Ia yang bukan siapa-siapa, harus menghadapi keluarga Brandon maupun calonnya. Terlebih dalam kasus ini, Aini juga yang akan disalahkan. Aini yang akan menyakiti.
“Tolong, lebih baik sakit sekali lagi tapi setelah itu kita sama-sama bahagia dan Lentera bisa bersama laki-laki yang mencintainya. Daripada tetap maju hanya karena malu sekaligus telanjur sudah mempersiapkan semua ini,” ucap Brandon lagi.
Ucapan yang malah membuat Aini makin serba salah. “Aku takut, Mas.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
lagi² Aini berada di posisi yg buat dia jd serbah salah.. warar kalau dia jd khawatir krn dia bakal jd pihak yg di persalahkan jika Brandon nekat dgn niatnya
2024-07-31
0
Firli Putrawan
aduh bingung deh kl jd aini maju ada yg kecewa dan sakit hati walau ada yg bahagia tp kl mundur ada hati yg msh gantung gmn dong 🤔🤔🤔🤔
2023-11-23
8
yenni
nyimak dulu.
2023-10-13
1