8 : Masih Menjaga Jarak

“Aku beneran gejala cacar, jadi jaga jarak dan jangan dekat-dekat,” lirih Brandon sambil susah payah mencoba bangun.

Padahal tanpa Brandon minta, Aini memang akan selalu menjaga jarak. Akan tetapi, alasan Aini begitu bukan karena cacar Brandon, melainkan status mereka. Hanya saja, melihat Brandon yang tampak lemas dan sekadar membuka mata saja tampak tak berdaya. Juga Brandon yang perlahan merosot meski sudah bersandar pada sandaran tempat tidur, Aini yang awalnya bertahan di balik pintu, buru-buru maju.

Aini terlalu bingung harus bagaimana, tapi kedua tangannya dengan refleks menahan kedua lengan Brandon. Ia menidurkan pemuda itu dengan sangat hati-hati. Karena suhu tubuh Brandon yang masih tinggi, ia buru-buru mengompresnya.

“Cacar, enggak boleh kena air, ya?” pikir Aini yang akhirnya juga perkata, “Tuan sedang demam. Jadi, jangan pakai pakaian setebal ini.”

“Lama-lama, aku beneran bant*ing kamu kalau kamu masih panggil aku tuan–tuan,” ucap Brandon benar-benar marah meski untuk sekadar bicara bahkan membuka mata saja, ia sudah tidak berdaya.

Meski sempat tercengang pada tanggapan Brandon, Aini segera meminta izin untuk melepas jaket yang Brandon pakai.

Jaket Brandon saja sampai basah oleh keringat dingin.

“Mamah kasih obat warnanya agak oren, kan? Biarkan aku minum itu dulu,” lirih Brandon tanpa sedikit pun membuka matanya.

Aini yang masih melepas jaket Brandon dengan hati-hati, berkata, “Makan nasi dan sup dulu meski sedikit, ya? Yang oren itu, obat demam dan bukan obat lambung yang harus diminum sebelum makan, kan?”

“Tenggorokanku sakit, Ni. Aku enggak yakin bisa menelan nasi,” balas Brandon lagi.

“Kalau begitu bentar, aku ulek dulu nasinya karena mendadak bikin bubur enggak bisa langsung mateng,” sergah Aini buru-buru melakukannya apalagi, ia sudah berhasil melepas jaket Brandon.

“Terserah, yang penting kamu tetap di sini,” rengek Brandon seiring sebelah tangannya yang mencari-cari ke arah Aini. Ia butuh wanita itu. Ia ingin bermanja kepada Aini.

Aini yang sempat tercengang karena rengekan Brandon, sengaja maju dan lagi-lagi menghindari Brandon. Niatnya ke sana murni untuk menjaga sekaligus mengobati Brandon. Andai pun takdir berusaha mengikat mereka, Aini akan berusaha memberontak.

“Ni, kepalaku pusing banget ...,” rengek Brandon lagi. Karena pada kenyataannya, kebersamaan kali ini sengaja ia manfaatkan untuk melepas kerinduannya kepada wanita itu.

Aini yang sudah beres mengulek sebagian nasi, bersiap menyuapi Brandon. Namun, Brandon berhasil meraih sebelah tangannya, memaksanya untuk duduk di pinggir tempat tidur. Brandon memperlakukan pangkuan Aini layaknya bantal yang sudah langsung membuat pemuda itu merasa sangat nyaman.

“Makan dulu biar bisa minum obat,” lirih Aini.

“Iya, ayo.” Brandon tetap memejamkan kedua matanya.

“Gimana ceritanya kalau Mas saja di pangkuanku? Ini tangan diputer-puter?” lirih Aini lagi.

“Diatur saja, Ni. Kepalaku beneran pusing. Sudah kamu enggak usah mikir macam-macam. Kamu beneran aku ingin sembuh, atau malah lebih memilih aku kesakitan terus mati, sih?” keluh Brandon.

Aini yang ditodong dengan pertanyaan barusan langsung nelangsa sekaligus berkaca-kaca. Tanpa kembali berbicara, ia berangsur berusaha menyuapi Brandon. Aini benar-benar mengurus Brandon yang tetap memilih pangkuannya, meski di sana ada bantal yang jauh lebih nyaman.

Aini merawat Brandon dari langit yang awalnya cerah, terik, dan perlahan gelap, hingga turun lah hujan. Aini hendak menutup jendela maupun pintunya, tapi Brandon tak mengizinkannya pergi.

“Hujan angin loh Mas,” tegur Aini kepada Brandon yang ternyata tak sepenuhnya tidur. Barulah setelah apa yang ia kabarkan, Brandon berangsur menarik kepalnya dari pangkuan Aini.

“Aduh ....”

Suara rintikan dari Aini setelah terdengar suara jatuh, membuat Brandon membuka kedua matanya. Brandon langsung mengawasi sekitar, tapi ia tak menemukan Aini, sebelum akhirnya ia melongok ke lantai sebelah. Yang di cari benar-benar di sana. Aini yang awalnya meringkuk, tampak susah payah meluruskan kedua kakinya.

Brandon berpikir, terlalu lama memangkunya dan itu memang berjam-jam, membuat kaki Aini kesemutan bahkan mati rasa.

Alih-alih menutup jendela maupun pintu agar hujan lebat beserta angin yang berlangsung, tak membuat sekitar kamar banjir, yang Brandon lakukan lebih dulu justru membopong Aini dengan sangat hati-hati. Brandon menaruh Aini yang tetap selonjor karena kedua kaki wanita itu bermasalah, ke tempat tidurnya. Barulah setelah itu, meski masih sempoyongan, Brandon berangsur menutup satu persatu jendela yang ada di sana, termasuk pintunya.

“Sudah, kamu juga istirahat. Pokoknya mau ngapain saja boleh, yang penting jangan pergi saja,” sergah Brandon yang berangsur tidur lagi.

Brandon memang tak lagi tidur di pangkuan Aini, tapi ia tak bisa jah-jauh dari Aini.

Aini berangsur meraih tisu kering dari meja untuk mengeringkan kedua tangan Brandon yang basah. Karena tadi, kedua tangan Brandon memang terkena hujan angin. Namun, pemuda itu menarik tangannya dengan dalih, cacarnya sudah keluar dengan sempurna. Brandon tak mau menulari Aini.

“Kalau enggak mau, berarti aku tinggal saja, ya?” lirih Aini.

“Sini tisunya, aku lap sendiri,” balas Brandon yang menyodorkan telak tangan kanannya.

Aini memang memberikan beberapa tisu kepada Brandon, tapi ia tetap mengeringkan Brandon juga. Tak lupa, ia membuka termos berisi sup buah pir yang bagus untuk tenggorokan.

“Aku tahu, kamu juga masih sayang banget ke aku,” lirih Brandon masih tiduran sambil mengawasi Aini yang lagi-lagi tak sedikit pun meliriknya. Aini tetap menjaga jarak.

“Ni, ngomong ...,” lirih Brandon lagi masih setia mengawasi wajah Aini yang terus menunduk meski wanita itu tetap telaten menyuapinya.

Demam Brandon memang agak reda, tapi pemuda itu tetap tidak baik-baik saja. Karena efek radang tenggorokan, bapil, dan juga cacar, tetap membuat Brandon meriang, tak karuan.

“Perut Mas aman?” tanya Aini sambil menyuapi Brandon lagi.

“Semuanya memang enggak aman, apalagi hati dan mentalku. Namun, nanti malam aku bakalan bilang ke orang tuaku.” Sebenarnya Brandon belum selesai bicara, tapi Aini sengaja mengalihkannya dengan membahas cacar Brandon.

“Biasanya orang yang terkena cacar juga disertai keluhan perut yang jadi kaku. Apalagi kalau cacarnya enggak keluar serempak. Jadi, habis ini aku bikinkan wedang asam jawa biar cacar Mas keluar serempak,” ucap Aini.

“Aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita. Kamu cukup terima beres saja. Orang tuaku beneran berbeda. Lebih baik enggak jadi dari awal, daripada dilanjut tapi saling menyakiti—”

“Mas ... tolong, dia sangat mencintaimu. Kalian pasti akan jauh lebih bahagia. Aku memang enggak berhak bicara seperti ini, tapi aku ingin Mas tahu pendapatku. Ini beneran dari hati yang paling dalam, Mas!” yakin Aini.

“Tapi aku maunya sama kamu, Ni!” tegas Brandon kali ini memaksa. “Ini beneran lebih baik daripada tetap memaksa mencoba, tapi yang aku mau dan selalu menguasai aku tetap kamu. Aku jatuh sakit pun karena aku terlalu stres. Aku beneran hanya butuh dukungan kamu!” yakin Brandon. Ia mencoba duduk, tapi ia hanya bisa melakukannya sambil bersandar pada sandaran tempat tidurnya.

Tanpa harus merenung, sebenarnya Aini juga membenarkan anggapan Brandon. Hanya saja, Aini terlalu takut. Ia yang bukan siapa-siapa, harus menghadapi keluarga Brandon maupun calonnya. Terlebih dalam kasus ini, Aini juga yang akan disalahkan. Aini yang akan menyakiti.

“Tolong, lebih baik sakit sekali lagi tapi setelah itu kita sama-sama bahagia dan Lentera bisa bersama laki-laki yang mencintainya. Daripada tetap maju hanya karena malu sekaligus telanjur sudah mempersiapkan semua ini,” ucap Brandon lagi.

Ucapan yang malah membuat Aini makin serba salah. “Aku takut, Mas.”

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

lagi² Aini berada di posisi yg buat dia jd serbah salah.. warar kalau dia jd khawatir krn dia bakal jd pihak yg di persalahkan jika Brandon nekat dgn niatnya

2024-07-31

0

Firli Putrawan

Firli Putrawan

aduh bingung deh kl jd aini maju ada yg kecewa dan sakit hati walau ada yg bahagia tp kl mundur ada hati yg msh gantung gmn dong 🤔🤔🤔🤔

2023-11-23

8

yenni

yenni

nyimak dulu.

2023-10-13

1

lihat semua
Episodes
1 1 : Dulu Pacar, Tapi Sekarang Pembantu
2 2 : Sama, Tapi Berbeda
3 3 : Orang Benar-Benar Kaya dan Orang Mis—kin yang Terlilit Hutang
4 4 : Kekejaman Brandon Kepada Aini
5 5 : Mulai Berusaha Mencari Tahu
6 6 : Hati yang Menangis
7 7 : Brandon Jatuh Sakit
8 8 : Masih Menjaga Jarak
9 9 : Ancaman Dari Lentera
10 10 : Musuh Terbesar
11 11 : Emosi Brandon
12 12 : Memilih Ma—ti
13 13 : Kabar Kematian
14 14 : Waktu yang Jadi Berputar Lebih Cepat
15 15 : Tanggung Jawab
16 16 : Jangan Mencariku
17 17 : Menjadi Brandon
18 18 : Boy yang Mencintai Lentera
19 19 : Hampir Bertemu
20 20 : Hati yang Gelisah
21 21 : Kalimantan Barat
22 22 : Tiga Hari Berlalu
23 23 : Brandon Dan Boy
24 24 : Kebohongan yang Terungkap
25 25 : Desakan Dan Penyelidikan Ibu Chole
26 26 : Menolak Berpisah
27 27 : Sesakit Ini
28 28 : Permohonan Aini
29 29 : Kisah yang Terulang
30 30 : Keadaan yang Belum Baik-Baik Saja
31 31 : Kasih Sayang Tiada Batas
32 32 : Perpisahan yang Menyakitkan
33 33 : Hanya Karena Senyum
34 34 : Lentera : Aini Itu Siapa?
35 35 : Kehilangan Dan Memulai Lembaran Baru
36 36 : Mengharapkan Malam Pertama
37 37 : Kejujuran Boy
38 38 : Sampai Di Sini
39 39 : Kisah Kita Belum Usai.....
40 40 : Lebih Setia Dari Matahari Ke Bumi
41 41 : Merasa Sangat Bersalah
42 42 : Ayo Menikah Lagi!
43 43 : Deg-Degan
44 44 : Pesan WA
45 45 : Memohon Restu
46 46 : Berharap Ijab Kabul
47 47 : Malu, Gugup, Takut!
48 48 : Pernikahan Dan Restu
49 49 : Akhirnya!
50 50 : Merasa Sangat Bahagia!
51 51 : Istri Pemalu
52 52 : Manis Banget
53 53 : Mengabdi Kepada Suami
54 54 : Bapak Lebih Butuh Anak Bapak!
55 55 : Kakek Prasongko
56 56 : Bahagia Dan Merasa Sempurna
57 57 : Mirip Papah
58 58 : Rindu Papah
59 59 : Aini Hamil?
60 60 : Test Pack
61 61 : Memang Hamil
62 62 : Kedatangan Istrinya Kakek Prasongko
63 63 : Teguran?
64 64 : Mangga Muda
65 65 : Seperti Keluarga Bahagia
66 66 : Seperti Mimpi
67 67 : Ngidam dan Hamil?
68 68 : Beneran Hamil
69 69 : Sama-Sama Bahagia
70 70 : Waifi
71 71 : Menuju Sukses
72 72 : Benar-Benar Bangga!
73 73 : Dulu Pembantu, Sekarang Menantu
74 74 : Di Rumah Mertua
75 75 : Buah Bu-suk
76 76 : Jaka
77 77 : Nostalgia
78 78 : Karena Viral
79 79 : Karma
80 80 : Perasaan Canggung Yang Perlahan Cair
81 81 : Tak Akan Terlupakan
82 82 : Menjadi Orang Tua Baru
83 Tamat
84 Novel : Kembar Genius Kesayangan Bos Mafia Kejam
85 Novel Wanita Kuat : Serangan Balik Dokter Terhebat
86 Novelnya Rain : Pembalasan Tuan Muda yang Dianggap Samp-ah
87 Novel : Rujuk Bersyarat Turun Ranjang
88 Promo Novel : Dituduh Mandul Dan Dicerai, Tapi Hamil Anak Bos
89 Novel Hyera : Menikahi Wanita Taruhan
90 Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
91 Promo Novel : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
92 Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa
Episodes

Updated 92 Episodes

1
1 : Dulu Pacar, Tapi Sekarang Pembantu
2
2 : Sama, Tapi Berbeda
3
3 : Orang Benar-Benar Kaya dan Orang Mis—kin yang Terlilit Hutang
4
4 : Kekejaman Brandon Kepada Aini
5
5 : Mulai Berusaha Mencari Tahu
6
6 : Hati yang Menangis
7
7 : Brandon Jatuh Sakit
8
8 : Masih Menjaga Jarak
9
9 : Ancaman Dari Lentera
10
10 : Musuh Terbesar
11
11 : Emosi Brandon
12
12 : Memilih Ma—ti
13
13 : Kabar Kematian
14
14 : Waktu yang Jadi Berputar Lebih Cepat
15
15 : Tanggung Jawab
16
16 : Jangan Mencariku
17
17 : Menjadi Brandon
18
18 : Boy yang Mencintai Lentera
19
19 : Hampir Bertemu
20
20 : Hati yang Gelisah
21
21 : Kalimantan Barat
22
22 : Tiga Hari Berlalu
23
23 : Brandon Dan Boy
24
24 : Kebohongan yang Terungkap
25
25 : Desakan Dan Penyelidikan Ibu Chole
26
26 : Menolak Berpisah
27
27 : Sesakit Ini
28
28 : Permohonan Aini
29
29 : Kisah yang Terulang
30
30 : Keadaan yang Belum Baik-Baik Saja
31
31 : Kasih Sayang Tiada Batas
32
32 : Perpisahan yang Menyakitkan
33
33 : Hanya Karena Senyum
34
34 : Lentera : Aini Itu Siapa?
35
35 : Kehilangan Dan Memulai Lembaran Baru
36
36 : Mengharapkan Malam Pertama
37
37 : Kejujuran Boy
38
38 : Sampai Di Sini
39
39 : Kisah Kita Belum Usai.....
40
40 : Lebih Setia Dari Matahari Ke Bumi
41
41 : Merasa Sangat Bersalah
42
42 : Ayo Menikah Lagi!
43
43 : Deg-Degan
44
44 : Pesan WA
45
45 : Memohon Restu
46
46 : Berharap Ijab Kabul
47
47 : Malu, Gugup, Takut!
48
48 : Pernikahan Dan Restu
49
49 : Akhirnya!
50
50 : Merasa Sangat Bahagia!
51
51 : Istri Pemalu
52
52 : Manis Banget
53
53 : Mengabdi Kepada Suami
54
54 : Bapak Lebih Butuh Anak Bapak!
55
55 : Kakek Prasongko
56
56 : Bahagia Dan Merasa Sempurna
57
57 : Mirip Papah
58
58 : Rindu Papah
59
59 : Aini Hamil?
60
60 : Test Pack
61
61 : Memang Hamil
62
62 : Kedatangan Istrinya Kakek Prasongko
63
63 : Teguran?
64
64 : Mangga Muda
65
65 : Seperti Keluarga Bahagia
66
66 : Seperti Mimpi
67
67 : Ngidam dan Hamil?
68
68 : Beneran Hamil
69
69 : Sama-Sama Bahagia
70
70 : Waifi
71
71 : Menuju Sukses
72
72 : Benar-Benar Bangga!
73
73 : Dulu Pembantu, Sekarang Menantu
74
74 : Di Rumah Mertua
75
75 : Buah Bu-suk
76
76 : Jaka
77
77 : Nostalgia
78
78 : Karena Viral
79
79 : Karma
80
80 : Perasaan Canggung Yang Perlahan Cair
81
81 : Tak Akan Terlupakan
82
82 : Menjadi Orang Tua Baru
83
Tamat
84
Novel : Kembar Genius Kesayangan Bos Mafia Kejam
85
Novel Wanita Kuat : Serangan Balik Dokter Terhebat
86
Novelnya Rain : Pembalasan Tuan Muda yang Dianggap Samp-ah
87
Novel : Rujuk Bersyarat Turun Ranjang
88
Promo Novel : Dituduh Mandul Dan Dicerai, Tapi Hamil Anak Bos
89
Novel Hyera : Menikahi Wanita Taruhan
90
Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
91
Promo Novel : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
92
Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!