“Membangun bahagia di atas luka-luka mereka yang begitu baik kepadaku, sementara aku tahu, calon istrimu begitu mencintaimu?” lirih Aini sembari menatap sedih kedua mata Brandon. Sesekali, air matanya jatuh membasahi pipi.
Tatapan Brandon kepada Aini berubah menjadi berat layaknya dadanya yang terasa sangat sesak. “Demi aku, kamu kehilangan semuanya. Jadi, biarkan aku juga kehilangan semuanya asal aku masih bisa bersamamu, ... agar aku bisa membahagiakan kamu!”
Air mata Aini kembali deras karenanya. Karena dengan kata lain, Brandon akan meninggalkan semua kemewahan yang pemuda itu miliki, termasuk juga dengan keluarganya, hanya untuk Aini.
“Ayo kita minta restu kepada orang tuamu!” mohon Aini tersedu-sedu.
Kedua tangan Brandon berangsur membingkai wajah Aini seiring ia yang menggeleng tegas.
“Aku mohon ... orang tuamu melahirkan kamu, membesarkan kamu ... semua itu benar-benar mereka lakukan penuh cinta. Orang tua kamu sangat baik, begitu juga dengan orang tua Lentera. Jadi ....” Aini tak mampu berbicara lagi. Sebab pelukan erat yang kembali Brandon lakukan, menegaskan bahwa pemuda itu tetap dengan keputusannya.
“Cukup kita dan adikmu, ... kita benar-benar tak butuh yang lain. Mereka semua pasti baik-baik saja,” yakin Brandon yang masih berlinang air mata.
“Orang tuamu bukan orang tua kejam, Mas ....” Aini makin tersedu-sedu.
“Aku mau menikah dengan Mas, asal dengan restu mereka. Selebihnya, Mas mau bawa aku ke mana, beneran enggak masalah.” Aini benar-benar memohon, tapi Brandon menggeleng tegas, terus begitu.
“Pikirkan orang tua Mas. Pikirkan semua yang ada sebelum aku kembali hadir dalam hidup Mas. Setidaknya, jika mereka diberi kejelasan sekaligus kepastian, mereka pasti paham.”
Menyimak itu, Brandon berkata, “Aku akan mengabari mereka!” tegasnya.
Setelah acara pemakaman mamahnya Aini yang masih diurus oleh paman Syam maupun pihak pesantren usai, paman Syam mendadak kehilangan jejak Brandon maupun Aini.
“Mereka ke mana?” pikir paman Syam yang segera mengeluarkan ponselnya. Firasat paman Syam sudah langsung tidak baik-baik saja. Terlebih jika ia ingat status Brandon dan Lentera, maupun Aini di dalam hubungan keduanya. Selain itu, meski baru pertama kali melihat interaksi Brandon kepada Aini, paman Syam sudah bisa merasakan, bahwa anak dari sahabatnya yang juga sudah ia anggap seperti anak sendiri itu sangat menyayangi Ani.
Seperti yang paman Syam duga, meski ia tak menemukan jejak Brandon di kamar pemuda itu yang ada di rumah sebelah pondok pesantren, Brandon mengabarinya melalui pesan WA.
Brandon : Jangan mencariku. Suatu saat aku pasti kembali bersama keluarga kecilku. Aku pastikan, aku akan selalu bahagia. Aku akan selalu baik-baik saja karena itu juga yang aku harapkan terjadi pada kalian semua.
Detik itu juga dada paman Syam menjadi bergemuruh. Paman Syam tidak baik-baik saja. Pria itu langsung bermaksud mengejar, tapi jika kembali membaca pesan Brandon, yang Brandon butuhkan kali ini memang kebebasan. Brandon ingin menemukan jati dirinya yang sebenarnya, selain pemuda itu yang ingin membangun kebahagiaan bersama Aini, bukan Lentera lagi.
“Haruskah aku mengabarkan semua ini kepada mas Helios dan mbak Chole? Atau, selamanya ini akan menjadi rahasia antara aku dan mereka? Masalahnya jika Brandon tidak ada, siapa yang akan menikah dengan Lentera?” pikir paman Syam mendadak gamang.
***
“Papah mamahmu kapan kembali dari Jepang, Brand?” tanya pak Rayyan yang tak lain papah Lentera.
Di ruang rawat VIP kebersamaan mereka karena mereka tengah sama-sama menjaga Lentera, Boy masih menyamar menjadi Brandon. Alasan tersebut pula yang membuat pak Rayyan sangat menjaga jarak dari Boy. Terlebih semuanya tahu, pak Rayyan tipikal yang sangat pilih-pilih sekaligus menjaga penampilan.
Jadi, demi kebaikan bersama, papahnya Lentera itu membuat peraturan, Brandon yang tengah sakit cacar boleh ikut menjaga Lentera, asal pemuda itu hanya sebatas duduk di sebelah pintu masuk. Namun jika pak Rayyan maupun ibu Elena akan lewat, Brandon yang diwajibkan menjaga jarak, wajib sadar diri alias minggir dulu.
“Sepertinya lusa, Pah!” balas Boy yang meski bersikap dingin, tetap saja manis karena ia memang mewarisi sikap manis itu dari mamahnya.
Tak pernah mendengar Brandon berucap manis dan sampai memanggil pak Rayyan “Pah” karena biasanya Brandon memanggil pak Rayyan “Om”, kenyataan tersebut langsung membuat pak Rayyan maupun sang istri yang duduk di sebelahnya, bengong. Keduanya kompak saling tatap.
“Beb, yang terancam amnesia itu Tera anak kita. Ngapain anaknya Helios mirip kesu*rupan, manggil aku “Pah”? Itu tadi, aku enggak salah dengar, kan?” bisik pak Rayyan yang langsung meluapkan unek-uneknya.
Ibu Elena refleks menghela napas pelan sekaligus dalam, kemudian istighfar. Dendam pribadi akibat di masa lalu cintanya dan ibu Chole kandas lantaran ibu Chole memilih menikah dengan pak Helios, memang membuat pak Rayyan sulit akur dengan pak Helios. Begitu juga sebaliknya. Pak Helios juga sangat sulit menerima kenyataan, bahwa mantan pacar ibu Chole justru akan menjadi besannya.
“Beb, kok malah istighfar?” lirih Rayyan.
“Ya maksudnya, Pah. Harusnya kita bersyukur kalau Brandon mulai belajar jadi lebih baik, jadi lebih manis. Ibaratnya, ini bagian dari hikmah kecelakaan Tera,” lembut ibu Elena berusaha memberi sang suami pengertian. Sebab meski usia sang suami beberapa tahun jauh lebih dewasa darinya, jika sudah membahas semua yang berkaitan dengan pak Helios termasuk itu Brandon calon menantu mereka, pak Rayyan memang jadi lebih sensit*f dari ibu hamil yang sedang kontraksi.
Termasuk itu, alasan pak Rayyan mau merestui hubungan Lentera dan Brandon pun karena Lentera yang terus memaksa. Lentera telanjur bucin akut kepada Brandon, dan mengancam tidak akan pernah menikah selain dengan Brandon. Jadi, pak Rayyan yang sangat menyayangi Lentera, tak bisa berbuat banyak.
“Apakah mereka, khususnya Om Rayyan, curiga ke aku? Mas Brand biasanya panggil Pah, juga, kan? Wajarnya memang gitu, kan, ya? Harusnya aku enggak salah, kan? Soalnya sejauh mengawasi, mas Brandon memang nyaris enggak pernah bicara dengan siapa pun termasuk calon mertuanya. Kalau enggak mengangguk, menggeleng, paling banter mengedipkan mata atau malah diam flat,” pikir Boy tetap pusing lantaran meski mereka kembar, ia dan Brandon tetap orang yang beda, orang lain. Namun di tengah keseriusannya itu, ia terusik oleh dering telepon masuk di ponselnya.
“Paman Syam?” batin Boy yang yakin, pasti ada masalah atau setidaknya ada hal yang serius, jika paman Syam sampai menghubunginya.
“Mah, ... Pah. Aku ke luar dulu. Paman Syam telepon, biasanya memang ada yang darurat kalau beliau sampai telepon,” pamit Boy yang meski tetap berusaha bersikap dingin layaknya Brandon, caranya itu tetap membuat orang tua Lentera apalagi pak Rayyan, terbengong-bengong lantaran keduanya memang tidak terbiasa.
“Tuh, ... lagi!” bisik pak Rayyan makin heran.
Ibu Elena kembali menghela napas. “Berarti dia memang sengaja belajar jadi lebih baik. Ini bagus, Pah! Jangan diungkit-ungkit lagi. Sekarang, yang perlu kita lakukan hanyalah fokus ke kesembuhan Tera. Enggak sampai dua minggu lagi, Tera menikah. Sementara benturan sekaligus operasi di dekat otaknya, bikin dia bisa mengalami amnesia sementara!” yakinnya sengaja memberi sang suami peringatan keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
oalh jangan2 tera amnesia dan menerima boy
2024-07-10
0
Nengnong5 ²²¹º
oohh Tera anak nya juragan bedak toh🤭😅
2024-03-20
1
Eliyah
si Rayyan pabrik bedak kata Heri ( Hollios ) eeh... mau jd besanan...
2024-01-27
2