Sebuah kertas khas hasil fotokopi yang dihiasi beberapa garis karena terlipat, lolos dari tangan kanan Brandon.
Tatapan Brandon menjadi kosong, basah, seiring butiran bening yang silih berganti berjatuhan dari sana. Pria berahang tegas itu kebas tanpa bisa menggambarkan kehancuran sekaligus penyesalannya, setelah mengetahui kebenaran yang selama delapan tahun terakhir menjadi alasannya kecewa kepada Aini. Kebenaran mengenai status Aini, yang belum menikah, selain nama pak Safar yang tak lagi menjadi bagian dari kartu keluarga. Besar kemungkinan, jika keadaan sudah begitu, Brandon yakin pak Safar sudah meninggal. Selain banyak kebenaran lain yang sepertinya telah Brandon lewatkan.
“Ni ... sesulit ini cintaku ke kamu!” Dalam hatinya, Brandon menyesali keadaan. Pemuda itu sangat menyesal, terlebih ketika Brandon yang akan beranjak dari sana, tak sengaja mendapati sebuah bingkai besar berisi foto pertunangannya dengan Lentera, menghiasi meja dan bersandar pada dinding.
Detik itu juga dada Brandon kebas. Brandon berakhir terduduk di tengah tatapannya yang menjadi nanar. “Dua minggu lagi kami akan menikah. Lalu, bagaimana dengan Aini? Hati dan hidupku masih sepenuhnya miliknya.” Hati Brandon terus menjerit.
Brandon merasa, kisahnya dan Aini mendadak belum berakhir. “Iya, kisah kita memang belum berakhir, Ni. Namun, fatalnya aku telah membawa pihak lain yang juga boleh menyebutku cinta, dalam kisah kita ....”
Hingga malam nyaris usai, di sepertiga malam, keputusan Brandon mendatangi area kamar ART, membuatnya bertemu dengan Aini.
Aini baru keluar dari area kamar mandi dengan wajah, lengan, dan juga kedua kaki basah. Namun setelah memergoki sosok Brandon ada di anak tangga menuju lantai keberadaan kamar maupun kamar mandi para ART, Aini sengaja menurunkan lengan panjang yang tersingsing hingga siku.
Masih dengan buru-buru, Aini juga masuk ke kamar paling ujung dan memang paling dekat kamar mandi. Itu menjadi kamarnya dan Santy.
“Boleh ...?” ucap Brandon berat bertepatan dengan Aini yang sudah memegang sekaligus nyaris menekan gagang pintu kamar.
Mendengar itu, Aini langsung terdiam bahkan membeku. Namun, alasan kini ia begitu bukan lagi karena ia takut kepada Brandon. Melainkan, suara Brandon yang terdengar berat sangat sedih, ia yakini karena Brandon juga menangis dan itu masih berkaitan dengan hubungan mereka.
Benar saja, ketika Aini memberanikan diri untuk menoleh kepada Brandon, pemuda itu sudah berlinang air mata. Brandon menatapnya penuh kesedihan bahkan, ... penyesalan.
“Boleh, aku ... menjadi bagian dari doamu?” ucap Brandon di tengah tatapannya yang fokus kepada Aini. Tak beda dengannya, meski Aini masih diam, wanita itu juga jadi berlinang air mata.
Yang lebih membuat Brandon lega, tak lain karena Aini berangsur mengangguk-angguk, meski wanita itu masih belum berani menatapnya dalam waktu lama. Aini hanya berani meliriknya, itu saja sangat sebentar.
“Tentu saja. Tentu aku akan selalu mendoakan Tuan, agar Tuan selalu bahagia. Agar Tuan juga bahagia dengan pernikahan ... Tuan!” ucap Aini lembut sekaligus berat. Di tengah air matanya yang berlinang, ia juga memberi Brandon senyuman. Walau karena ulahnya, Brandon malah menangis sesenggukan.
“Aku beneran enggak tahu. Yang aku tahu, kamu sudah menikah karena orang di kampungmu kompak bilang begitu. Para tetangga, semuanya beneran bilang begitu. Yang aku tahu, kamu mengkhianati janji kita. Apalagi di setiap aku akan mendekat, kamu selalu sedang dengan Jaka ....” Brandon berucap lirih, dan memang masih tersedu-sedu.
Aini menyeka air matanya menggunakan ujung jilbabnya sambil tetap mempertahankan senyumnya. Kini memberanikan diri untuk menatap Brandon penuh keseriusan. “Enggak apa-apa. Yang penting sekarang Tuan sudah bahagia. Dan karena akhirnya kita bertemu, saya juga sangat ingin meminta maaf. Maaf untuk semua yang terjadi di masa lalu. Termasuk sikap keras alm. bapak yang sudah sangat keterlaluan kepada Tuan. Maaf juga jika kehadiranku sekarang, kembali menganggu bahkan melukai Tuan.”
“Berhenti dan jangan panggil aku begitu lagi!” kesal Brandon yang sudah langsung emosi.
Aini langsung diam kemudian menunduk tanpa kembali menatap atau setidaknya melirik Brandon.
“Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. JANGAN PERNAH MELARANGKU LAGI APALAGI DARI DULU, KAMU TIDAK PERNAH MEMBEIRKU KESEMPATAN BUAT MEMPERJUANGKAN HUBUNGAN KITA!” tegas Brandon meledak-ledak meski ia masih berucap sangat lirih dan memang sengaja agar tidak mengusik orang lain di sana.
Aini menghadap Brandon, menatapnya dengan tatapan putus asa. “Aku bisa apa? Pada kenyataannya, kita memang berbeda bahkan kamu sudah akan menikah! Tujuanku ke sini murni untuk bekerja karena sebelumnya, aku benar-benar tidak tahu jika ini rumah orang tua kamu!” balasnya tak kalah emosional.
“Karena andai aku tahu majikanku justru orang tua kamu, dan bahkan aku disiapkan khusus untuk menjadi pembantumu setelah kamu menikahi calonmu, ... aku tidak mungkin di sini.”
“Masalahnya, aku terikat dengan yayasanku, dan kamu tahu itu. SEPERTI KATAMU, SAMPAI DETIK INI, AKU JUGA TIDAK INGIN KAMU MEMPERJUANGKAN HUBUNGAN KITA. Terlebih sekarang, KITA HANYA MASA LALU SEMENTARA KAMU SUDAH AKAN MENIKAH. DUA MINGGU LAGI KAMU AKAN MENIKAH!” Aini berakhir menangis tersedu-sedu. Hingga ia memilih kembali masuk kamar mandi.
Aini mengunci diri di kamar mandi. Wanita itu sengaja menyalakan kran air hingga air mengalir penuh dan menghasilkan suara terbilang berisik. Suara berisik yang juga berhasil meredam tangisnya.
Keadaan kini membuat Aini tak hanya sedih. Karena wanita itu juga takut Brandon nekat membatalkan pernikahan hanya untuk hubungan mereka. Atau, Brandon yang dengan sengaja menarik Aini ke dalam hubungan pemuda itu dan Lentera.
Aini paham sifat Brandon, terlebih kini pria itu sampai merasa terzali*mi oleh keputusan Aini yang tak pernah mengizinkan Brandon memperjuangkan hubungan mereka.
Sekitar satu jam berlalu, dan Aini juga merasa jauh lebih lega karena telah meluapkan kesedihan sekaligus ketakutannya melalui tangis, Aini kembali berwudu. Akan tetapi ketika Aini keluar dari area kamar mandi, ia masih mendapati Brandon yang berdiri di tengah anak tangga sana. Pemuda itu menatapnya dengan putus asa.
“Istirahat lah ...,” ucap Brandon dengan suara sengau.
Seperti yang Aini takutkan, tampaknya Brandon benar-benar akan memperjuangkan hubungan mereka. Pria itu menuruni anak tangga dengan langkah yang benar-benar berat khas orang terluka.
Makin dekat jarak mereka, makin kacau pula detak jantung Aini. Aini memutuskan mundur, terus begitu hingga ia masuk area mandi di kamar mandi. Namun, selain Brandon tetap menyusul ke manapun ia mundur, pemuda itu juga sampai memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat. Tubuh kurus Aini terasa sangat sakit karenanya. Bersamaan dengan itu, Brandon juga kembali tersedu-sedu. Pemuda itu membenamkan wajahnya di kepala Aini yang memang tidak lebih tinggi darinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hahh.. nyesek banget..
2024-07-31
0
Sri Widjiastuti
nah kan??
2024-07-26
0
Nurhartiningsih
huh nyesek banget
2024-07-15
0