“Berapa uang yang harus aku bayar?”
Suara lembut seorang wanita terdengar dari sebelah kamar Brandon, tak lama setelah Aini meninggalkan kamar itu. Namun, itu bukan suara anggota keluarga Brandon, melainkan suara Lentera.
Aini mengenalnya, dan langsung terkejut ketika akhirnya kedua matanya yang memastikan, mendapatkan kebenaran itu. Nampan yang Aini bawa nyaris Aini jatuhkan begitu saja, andai kedua tangan Lentera yang sudah ada di hadapannya, tidak mengambil alih.
Tubuh termasuk rambut Lentera masih basah. Firasat Aini makin tidak karuan karenanya. Aini berpikir, jangan-jangan, dari tadi Lentera tahu kebersamaannya dan Brandon? Jangan-jangan, Lentera telah menyaksikan secara diam-diam?
“Aku memaafkanmu, asal kamu tidak menganggu hubungan kami lagi. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja, asal kamu mengikuti saranku.” Kali ini, kedua mata Lentera yang menjadi sangat tajam, menatap Aini penuh rintangan.
“Aku bisa melakukan apa pun. Benar-benar apa pun. Menjebloskanmu ke penjara, bahkan membuat ragamu tak bernyawa. Termasuk keluargamu, ... aku juga akan membuat mereka merasakan dampaknya!” lanjut Lentera yang yakin, Aini sudah langsung ketakutan kepadanya. Terlebih, kedua mata wanita yang baginya tak sedikit pun lebih cantik darinya, sudah langsung basah, selain Aini yang tak lagi berani menatapnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dari sini. Apalagi aku tahu, kamu terikat dengan yayasan kamu. Andaipun aku membuatmu pindah dari sini, itu terlalu enak buat kamu yang sudah lancang menghanc*urkan hubunganku dan Brandon,” lirih Lentera tepat di hadapan wajah Aini yang ada persis di bawah wajahnya dan ia tatap dengan bengis.
“Jadi, hukuman paling tepat untuk orang sepertimu adalah menyaksikan keromantisan kami sekeluarga. Agar kamu sadar, kamu dan kami BERBEDA!” tegas Lentera lagi.
“Jangan pernah bermain api jika kamu tidak mau terbakar sendiri!” tegas Aini lirih sembari menatap Lentera di tengah air matanya yang berlinang. “Jika kamu sudah tahu segalanya, termasuk apa yang terjadi di kamar tadi, apa yang harus kamu takutkan dari orang sepertiku yang berbeda dengan kalian?”
“Permisi!” lanjut Aini sudah memegang nampannya dari tangan Lentera. Ia mengambil alih di tengah tatapan tegasnya yang masih tertuju kepada kedua mata Lentera.
“Ingat!” sergah Lentera yang sudah langsung membuat Aini menghentikan langkahnya.
“Masa lalu selalu kalah oleh masa depan terlebih kita tidak selevel!” tegas Lentera.
“Apa pun itu, aku memang tidak tertarik,” ucap Aini yang perlahan melangkah pergi.
“Kita lihat saja. Sampai kapan kamu bisa bertahan!” lanjut Lentera.
Mendengar itu, Aini berangsur menghentikan langkahnya kemudian menoleh bahkan menatap Lentera. “Jangan no*dai citra baik kamu hanya karena wanita tak selevel sepertiku. Terlebih aku bahkan mendoakan yang terbaik untuk hubunganmu dengan calon suamimu!”
Detik itu juga Lentera terdiam. Lentera terlalu bingung. Ia sangat mencintai Brandon bahkan meski Brandon tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Rasa cinta yang juga tetap sama bahkan bertambah, meski ia mengetahui apa yang calon suaminya itu lakukan dengan Aini, seharian ini. Bahwa Brandon, sudah berniat mengakhiri hubungan mereka, demi Aini. Iya, demi Aini yang ternyata merupakan cinta pertama bahkan satu-satunya cinta Brandon, Brandon rela mengorbankan semua kebahagiaan yang sudah ada.
“Kami benar-benar hampir menikah, kenapa malah jadi begini?” jerit Lentera dalam hatinya. Ia mengacak asal rambutnya yang masih setengah basah, hingga yang ada, rambutnya jadi acak-acakan.
Terlalu bingung harus bagaimana, Lentera memutuskan untuk masuk ke kamar Brandon.
Brandon yang sudah ganti pakaian dan sebelumnya sempat dikompres oleh Aini, sudah tidur sangat pulas. Hampir sekujur tubuh Brandon dihiasi bedak khusus untuk meredakan cacar pemuda itu.
Lentera masih sangat ingat, tadi Brandon dengan sangat mudah diurus oleh Aini. Lain jika ia yang melakukannya. Malahan ada satu kalimat Brandon kepada Aini yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang di ingatan Lentera.
“Apa pun itu terserah kamu, yang penting kamu enggak pernah ninggalin aku.” Mengingat kalimat tersebut, hati Lentera terasa sangat hancur.
Lentera tersedu-sedu, tapi ia tidak berani dekat-dekat Brandon. Ia memilih tetap berdiri di belakang pintu yang sudah ia tutup rapat. Tak semata karena ia takut tertular cacar Brandon. Melainkan karena ia juga telanjur marah kepada Brandon yang dengan sengaja mengorbankannya.
Hati Lentera remuk redam lantaran Brandon benar-benar memilih mengorbankan hubungan mereka yang sudah melibatkan keluarga besar hanya untuk wanita di masa lalunya!
***
Pak Yayasan : Memangnya di situ kenapa? Baru sehari loh, jangan bilang enggak betah dulu. Coba satu minggu dulu, terlebih sejauh ini, yang ke situ selalu betah.
Aini meminta pindah tempat kerja jika memang dibolehkan. Namun dibalas seperti itu, Aini tidak bisa untuk menuntut dan berakhir meminta maaf.
“Ya Allah, ... mudahkan lah semua urusanku. Aku beneran enggak akan minta macam-macam. Beneran hanya begitu karena sebaik-baiknya rencana, rencana-Mu akan selalu jadi yang terbaik untuk umat-umat–Mu, termasuk untukku,” batin Aini yang baru saja menerima balasan WA dari pihak yayasannya.
“Ini aku harus bagaimana?” Kebingungan yang Aini rasa akibat keadaannya sekarang, membuat Aini berlinang air mata. Aini terduduk lemas di lantai kamarnya yang masih ia biarkan gelap gulita.
Baru kembali dari kamar Brandon, Aini memang sudah langsung dijauhi oleh teman kerjanya. Semuanya kompak menjaga jarak karena takut tertular cacar melalui Aini yang merawat Brandon. Karenanya, di kamar pun kini Aini jadi sendiri. Lebih tepatnya, selama Aini masih bertugas mengurus Brandon, ibu Chole menyarankan para ART termasuk Aini sendiri, agar saling jaga jarak demi meminimkan penularan cacar.
“Ni ... Aini ...?”
Dari luar, suara ibu Chole terdengar sangat lembut. Aini yang baru bersandar ke pintu langsung terusik. Buru-buru Aini menyeka tuntas air matanya menggunakan ujung jilbabnya.
Tampak teman-teman Aini yang langsung masuk ruangan. Dari kamar, maupun dapur, ketika akhirnya Aini keluar menghadap ibu Chole yang menunggu di anak tangga depan dapur bersih. Aini sendiri sengaja menjaga jarak dari ibu Chole karena tak mau membuat wanita itu tertular cacar, meski Aini belum merasakan tanda-tanda dirinya akan terkena cacar.
“Kamu sudah makan?” tanya ibu Chole dan dibalas tanggapan bingung oleh Aini. “Kamu belum makan, ya? Ya sudah sekarang kamu makan dulu, habis itu salat, ya. Soalnya non Lentera mau ajak kamu beres-beres rumahnya dan mas Brandon. Jadi, mulai malam ini, kamu mulai jaga rumah dan beres-beres di sana, kamu enggak di sini lagi. Namun untuk sementara, kamu di sana sendiri. Berani, kan? Harusnya sih ditemenin biar seru, bentar Ibu tanya ke yang lain, ada yang mau ikut ke sana, enggak? Toh, di sini sama di sana sama saja.”
Yang membuat Aini terkejut bukan hanya Lentera yang sampai membuatnya dipindah dari sana. Melainkan, kenyataan ibu Chole yang tak segan merangkulnya layaknya awal kedatangannya ke sana. Padahal sebelumnya, para ART di saja kompak, alasan mereka menjaga jarak karena ibu Chole yang memberikan arahan.
“Ya sudah lah, terima saja. Memang aku yang salah. Meski andai tahu dari awal aku akan dikerjakan di rumah orang tuanya mas Brandon ... ya sudahlah, aku pasrah. Aku terima semua ini,” batin Aini yang sudah langsung masuk sekaligus duduk di sebelah sopir Lentera.
Aini sungguh langsung diboyong pergi dari sana oleh Lentera. Aini sendirian dan tak sampai ditemani ART dari kediaman orang tua Brandon, lantaran Lentera berdalih, akan membawa seorang ART juga dari kediaman orang tuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
sepicik itu Lentera.. padahal mama Chole bolang dia tipe ceqek lembut dan ceria, apa itu cuma modus aja buat menaklukan hati Brandon??, cima kamuflase si Tera buat ambil hati keluarga Brandon??
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
lentera ni anak siapa sih kok jd kejem gt
2024-07-10
0
Nengnong5 ²²¹º
sesuai nama nya, lentera.. ga hanya menyinari, tapi juga siap membakar
2024-03-20
2