“Oh, ... si Mis*kin Brandon? Apa? Modal bawa santri sama polisi?Apa hebatnya?” ucap Jaka yang langsung menertawakan Brandon diikuti juga oleh orang-orangnya yang belum ditumb*angkan oleh Brandon.
Masih ada sekitar sepuluh orang pre*man yang belum Brandon bant*ing, itu pun karena kesepuluhnya belum mendekati Brandon. Namun, semuanya apalagi Jaka, kompak diam setelah boge*m mentah Brandon mengenai bibir Jaka yang detik itu juga langsung berdarah.
Jaka tak hanya kesakitan, tapi juga kesal. Detik itu juga kesepuluh prem*an yang tersisa, berbondong-bondong menyerb*u Brandon layaknya ketika mereka melakukannya kepada Aini maupun Anjar.
Brandon sempat sempoyongan akibat boge*m sekaligus tinj*u yang mengenai kepalanya. Namun seperti tujuannya, Jaka menjadi incarannya. Parahnya, beberapa dari prema*n di sana tak segan mengeluarkan belati bahkan.celurit dari balik pinggang masing-masing.
Perilaku premanis*me benar-benar ada di depan mata dari kesepuluh prema*n yang ada. Brandon menatapnya penuh dendam. Sementara di bawahnya, Jaka masih meringkuk kesakitan hanya karena terkena beberapa boge*m dan tinjunya.
Ketegangan tak terelakan. Aini yang awalnya sudah memapah sang adik keluar dari rumah mengikuti para santri yang memboyong jenazah mamak Aini, nyaris jantungan karena keadaan Brandon sekarang. Di dalam rumah, Brandon benar-benar sendiri. Karena keempat orang kiriman ibu Elena, juga polisi yang mengawal, beranjak mundur. Mereka hanya berusaha melerai melalui kata-kata.
Sembari menatap Aini, kedua tangan Brandon berangsur telungkup—kode agar Aini tenang sekaligus percaya bahwa Brandon akan baik-baik saja. Aini yang sadar Brandon bukan dewa bahkan kini sedang sakit, langsung tersedu-sedu. Aini mengul*um bibirnya. Namun lagi-lagi, mata tajam Brandon menatapnya penuh ketenangan.
Sebuah peluru sudah dilesatkan agar kejadian premani*sme tak dilanjutkan. Namun, kesepuluh preman di sana tampak tidak akan pernah melepaskan Brandon.
“Ayo, kita selesaikan semuanya!” tegas Brandon yang kemudian mene*ndang sekuat tenaga kepala Jaka, meski tatapannya fokus kepada kesepuluh prema*n yang ada.
Jaka sudah meraung-raung kesakitan, lain dengan para pre*man yang serempak menyera*ng.
“Dooooooooooooorrr!”
Peluru yang baru saja melesat membuat salah satu preman tumbang. Karena peluru tersebut mengenai punggung salah satu preman.
“Berani kalian melukai anakku, kalian semua mat*i!” ucap pria berpakaian panjang serba hitam tersebut yang juga menutupi kepalanya menggunakan topi hitam.
“Paman Syam ...,” batin Brandon yang langsung mengenali pria tersebut. Iya, pria tersebut sudah layaknya papahnya, dan memang merupakan orang kepercayaan papahnya. Jadi, paman Syam akan mengawal setiap keluarga Brandon, andai di sana tidak ada pak Helios selaku papah Brandon—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.
Pist*ol yang digunakan paman Syam memang pis*tol dari salah satu polisi di sana yang paman Syam reb*ut. Namun, cara paman Syam menggunakannya, seolah pria itu memang mahir.
“Ya Allah ... jangan sampai ada pertumpahan dar*ah lagi. Tolong lindungi mas Brandon untuk kali ini saja!” batin Aini di tengah dar der seruan melesatnya pistol yang paman Syam lakukan.
Setiap kaki prem*an di sana sengaja paman Syam tem*bak agar kejadian prema*nis*me tan sampai terjadi. Namun untuk khusus Jaka, Brandon sengaja kembali menendang kepala pria itu sekuat tenaga. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini Jaka tak lagi meraung-raung kesakitan. Karen pada kenyataannya, Jaka sudah sekarat.
Seiring tangisnya yang pecah, hati Aini sedikit mulai diselimuti kelegaan sebab nyawa Brandon tak lagi terancam. Prema*n-preman tadi segera diamankan. Setiap tangan mereka diborgol. Warga yang awalnya bersembunyi di rumah masing-masing, berangsur keluar. Awalnya hanya melongok, tapi menyaksikan keramaian yang ada apalagi tadi terdengar seruan peluru dan berlangsung berulang kali, mereka juga sampai mendekat.
Aini sudah langsung balas memeluk erat Brandon, ketika pemuda itu dengan segera menghampiri sekaligus memeluknya. Aini menumpahkan segala luka sekaligus laranya melalui tangisnya.
Brandon memang tak bersuara. Tak ada kata-kata penenang dari pemuda itu bahkan meski hanya berbisik-bisik, layaknya apa yang harusnya dilakukan manusia normal terlebih jika keadaannya layaknya sekarang. Namun, Aini paham, semua itu terjadi karena Brandon merasa sangat bersalah. Brandon merasa sangat sedih atas duka yang menimpanya. Terlebih sejauh ini, Brandon memang tipikal yang sangat irit bicara bahkan kepadanya.
“Penjarakan saja!” ucap Narendra, salah satu orang sekaligus pihak keluarga yang diutus oleh ibu Elena. Sebagai seorang pengacara, ia sendiri yang berangkat ke kantor polisi untuk mengadi*li Jaka dan anak buah pria itu.
Paman Syam sudah langsung mendukung keputusan Narendra yang juga merupakan anak dari sahabatnya. Karena keadaannya sudah seperti sekarang, tugas mereka dibagi-bagi. Termasuk paman Syam yang sudah langsung mengantar Anjar ke klinik terdekat lantaran pemuda itu jatuh sekarat.
Jenazah ibu Salmah—mamaknya Aini, dibawa ke pondok pesantren yang menjadi tempat pertemuan antara Brandon dan Aini. Pondok pesantren yang sebenarnya milik orang tua Brandon.
Jenazah ibu Salma disalatkan di masjid besar yang ada di sana, setelah sebelumnya kembali dimandikan oleh Aini maupun Anjar, yang juga dibantu secara langsung oleh Brandon. Selama itu juga, Aini tidak pernah luput dari pengawalan Brandon.
“Aku benar-benar minta maaf. Kamu kehilangan semua orang yang aku sayangi gara-gara aku,” lirih Brandon yang kembali menggenggam erat sebelah tangan Aini.
Lagi-lagi Aini menangis, tersedu-sedu, dan berakhir dalam dekapan Brandon.
“Ayo kita menikah!” bisik Brandon di tengah isaknya.
Bukannya bahagia, ajakan menikah dari Brandon malah membuat beban hidup Aini makin bertambah.
“Ayo kita menikah. Aku benar-benar harus melakukannya agar aku bisa tenang! Sampai kapan pun kamu akan menjadi tanggung jawabku!” lanjut Brandon lagi.
Di tengah suasana yang sudah makin gelap dan tak lagi disertai hujan, Aini menjadi gamang gara-gara ajakan nikah dari Brandon. Andai, tidak ada Lentera di antara mereka. Andai, Brandon dan Lentera tidak sedang menyiapkan rencana pernikahan tahap akhir. Tentu ajakan nikah dari Brandon akan membuatnya sangat bahagia karena itu juga alasan mereka menjalin hubungan.
***
“Pergi dan lanjutkan lah kisahmu dengan Aini. Kalian harus bahagia tanpa harus memikirkan yang di sini. Karena mulai sekarang juga, Lentera dan semua yang berkaitan dengan pernikahan kalian, akan menjadi tanggung jawabku. Aku tahu ini tidak adil untuk Lentera, tapi sebagai gantinya, aku akan mencintainya sekaligus mengabdikan hidupku hanya kepadanya. Bagaimanapun caranya, aku akan membuatnya menjadi wanita paling bahagia karena telah menjadi bagian dari hidupku.” Boy masih ingat dengan ucapannya kepada sang kembaran, ketika Brandon mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi. Sementara kini, ia benar-benar menjalankan perannya, mengambil alih tanggung jawab yang harusnya Brandon lakukan kepada Lentera.
Karena tanggung jawabnya juga, Boy yang baru saja bisa bernapas lega setelah Lentera akhirnya keluar dari ruang operasi, sengaja bergaya layaknya Brandon. Bagian tubuhnya sengaja ia buat merah-merah seolah dirinya juga mengalami cacar. Orang tua Lentera yang ada di sana, sampai tidak ada yang curiga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
pantas Brandon langsung bisa menyusul Aini, ternyata Boy ngajak tukar tempat atau jangan² selama ini Boy emang suka ke Lentera?? 🤔🤔cinta dlm diam tp berujung dapet kesempatan ini mah..
2024-07-31
0
Sri Widjiastuti
halah2 pak pol masak gitu???
2024-07-26
0
Ida Ulfiana
ya ampun boy baik banget sm kayak chole
2024-07-10
0