“Sayang, tungguin. Ini tadi mamah kamu siapin bekal khusus buat kita makan siang,” ucap Lentera benar-benar manis.
Dari suaranya saja, wanita yang terus memanggil manja Brandon, terkesan sangat cantik. Keadaan tersebut sudah langsung membuat Aini merasa hin*a. Hati Aini makin teriris, terlebih jika Aini teringat keadaannya yang sekarang.
Aini yang sekarang bukanlah Aini yang dulu dan sempat digadang-gadang sebagai kembang desa. Aini yang sekarang tak lagi memiliki kulit bersih yang lembut. Kulit Aini sudah jadi hitam dan kusam akibat kesibukannya bekerja di sawah. Selain wajah Aini yang otomatis menjadi tampak jauh lebih tua karena perubahan drastis kulitnya.
“S-sayang, kamu kenapa sih?”
Suara lembut Lentera masih menjadi satu-satunya suara manusia di kebersamaan mereka. Melalui lirikannya, Aini mendapati sebelah lengan Brandon yang tampak jauh lebih kekar dari terakhir kali mereka bertemu. Terlepas dari kenyataan itu, Aini juga tidak beda dengan Lentera. Karena dalam diamnya, Aini juga bertanya-tanya, kenapa Brandon masih ada di sana? Kenapa Brandon terus saja menghadap pada Aini. Namun ketika Aini memberanikan diri untuk memastikan, ternyata Brandon tengah menatapnya dengan tatapan sangat tajam penuh kebencian. Rahang tegas pria itu jadi terlihat jauh lebih tegang.
Jika sudah seperti sekarang ini, tampang Brandon benar-benar menyeramkan. “Apa maksudmu hadir di saat aku sudah mulai bisa menata kehidupanku? Apa maksudmu, tiba-tiba datang, ketika aku sudah mulai terbiasa tanpa kamu?” batin Brandon yang tentu saja ia tujukan kepada Aini. Meski detik berikutnya, ia yang masih menatap sengit Aini justru berkata. “Sebentar, aku sedang melihat pembantu baru untuk kita. Dia yang nantinya akan membantu kita di rumah baru kita!” Tak lupa, ia juga sengaja balas mendekap tangan Lentera yang sudah mendekapnya. Ia sengaja melakukannya untuk balas dendam kepada Aini yang memilih mencampakkannya tanpa mau berjuang sebentar saja.
“Ya Allah, ... orang ini memang Mas Brandon. Orang yang benar-benar masih sama, tapi hati dan cara pikirnya berbeda,” batin Aini refleks makin menunduk sedih. Dadanya bergemuruh sekaligus pegal menahan kesedihan yang bertubi-tubi ia dapatkan, termasuk itu dari Brandon.
“Kamu becus kerja, enggak? Kalau memang enggak becus kerja, mending enggak usah kerja di sini!” tegas Brandon lagi.
“S-sayang, ih ... jangan kasar-kasar gitu. Baru juga datang, nanti yang ada Mbaknya takut. Sekarang, cari Mbak itu susah banget loh,” tegur Lentera dengan suara masih lembut. Terlebih, ia memergoki Aini sudah langsung berlinang air mata meski posisinya, wanita berkerudung kusam itu terus menunduk dalam.
“S—saya benar-benar niat bekerja, TUAN! SAYA AKAN BEKERJA SEBAIK MUNGKIN!” ucap Aini dengan suara lirih karena sebagian ucapannya tertahan di tenggorokan akibat kesedihan yang susah payah ia tahan. Selain itu, kenyataan Brandon yang tampak begitu dendam bahkan jij*ik kepadanya juga membuatnya memutuskan memanggil pria yang pernah menjadi pacarnya di masa lalu itu, “Tuan”.
“Pak Santoso, tolong catat. Jika dia sampai melakukan kesalahan apalagi malas-malasan, potong saja gajinya atua malah langsung antar saja ke yayasannya agar yayasannya bisa mendidik dia!” lanjut Brandon masih sangat kejam.
“S-siap, Mas!” sanggup pak Santoso yang juga sudah langsung ketakutan. “Aneh, enggak biasanya mas Brandon seganas ini. Tadi, tiba-tiba nangis, nah sekarang kayak enggak suka banget ke Aini. Ini memang ada sesuatu, atau memang Aini yang lagi apes saja?” batin pak Santoso sudah langsung menggandeng paksa Aini untuk pergi dari sana sebelum kembali mendapat siraman rohani dari Brandon. Siraman rohani yang bukannya menyejukkan hati, tapi malah menyakiti.
Namun, pak Santoso juga tak bisa berbuat banyak karena statusnya di sana pun hanya pekerja. Jadi, andai Brandon memang tidak suka kepada Aini, mau tidak mau ia memang harus mengembalikannya kembali ke yayasan. Bahkan meski kini, mencari ART sangat susah layaknya yang Lentera katalan. Daripada Brandon terus marah-marah, dan yang merasakan dampaknya bukan hanya Aini, tapi juga pak Santoso bahkan lebih.
“S-sayang, tadi kamu sudah sangat keterlaluan. Si mbak barunya sampai nangis!” tegur Lentera masih dengan suara lembut. Namun selain tidak menggubrisnya, Brandon juga mendadak menyingkirkan dekapan tangannya dengan kasar.
“Baru juga jadi lembut, mau digandeng bahkan balas gandeng, ... eh cueknya kumat lagi!” batin Lentera yang buru-buru lari menyusul Brandon.
Brandon melangkah sangat cepat meninggalkan Lentera. Tetap begitu dan tak segan masuk mobil dulu meski Lentera sibuk merengek.
“Kenapa dia jadi kurus tak terawat seperti itu? Kenapa dia mendadak jadi pembantu? Suaminya yang anak juragan tanah, sudah enggak bisa kasih dia nafkah, apa bagaimana?” pikir Brandon yang dikejutkan oleh kehadiran Lentera. Calon istrinya yang cantik jelita buru-buru meringkuk di pangkuannya.
“Ya ampun Sayang, capek banget. Kamu jalannya lebih cepat dari kuda yang lari!” rengek Lentera sambil menyibak rambut panjangnya yang tergerai.
Di tempat berbeda, Aini yang akhirnya sampai teras depan pintu masuk, segera melepas sandalnya. Ia mengikuti semua arahan pak Santoso.
Rumah orang tua Brandon benar-benar besar sekaligus mewah. Nuansa dingin sudah langsung menyapa Aini akibat lantai dan sebagian dinding di sana yang berbahan marmer. Semuanya serba bersih termasuk lantai dan dindingnya yang tampak sangat mengkilap. Tak sengaja melihat pantulan dirinya di dinding, Aini jadi melihat penampilannya yang jauh dari cantik. Aini sampai tidak betah melihat penampilannya sendiri.
Kini, setelah mengetahui sebagian besar kehidupan asli seorang Brandon, Aini menjadi bertanya-tanya. Kenapa saat dulu bersamanya, Brandon mengaku berasal dari keluarga tidak mampu, dan sekadar untuk menyambung hidup di pesantren, saat itu Brandon bekerja di bengkel tak jauh dari pesantren?
“Bisa jadi karena memang mas Brandon enggak serius. Buktinya tadi, ... tadi dia begitu keji. Apalagi sekarang, aku memang pembantunya! Iya ... Kisah kami memang sudah usai. Hubungan kami tak lebih dari majikan dan pembantu! Jadi, mulai sekarang juga, sudah enggak usah berharap apalagi berjuang. Bersikaplah layaknya orang yang tidak saling kenal, Ni!” batin Aini lagi, yang lagi-lagi sibuk menyeka air matanya. Karena selain perlakuan Brandon juga kenyataan mereka yang sangat menyakitinya, di tempat kerja barunya, dan itu rumah orang tua Brandon, Aini mewajibkan dirinya untuk bekerja.
“Aku butuh banyak uang buat bayar hutang. Jangan sampai aku melakukan kesalahan dan bikin aku harus membayar ganti rugi seperti yang mas Brandon tegaskan!” batin Aini lagi yang sudah langsung sibuk mengawasi suasana sekitar. Bukan perkara keadaan rumah yang benar-benar mewah dan beberapa dinding dihiasi foto keluarga berukuran besar. Melainkan, Aini tengah mengingat setiap ruangan yang tengah pak Santoso jelaskan. Aini tidak mau hadirnya di sana malah sibuk membuatnya membayar ganti rugi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Lentera nama nya gak asing..? anak siapa sih??
2024-07-31
1
Sri Widjiastuti
baru jg calon, meringkuk di pangkuan??
2024-07-26
0
Ida Ulfiana
semangat ya aini
2024-07-10
0