Alasan Brandon sampai diinfus karena pemuda itu juga terkena tifus. Demam tinggi yang Brandon alami sampai membuatnya menggigil tak kunjung berhenti. Karenanya, Aini memutuskan agar calon suaminya menjalani rawat inap.
Akan tetapi malam ini, kamar di rumah sakit keberadaan mereka kebetulan sedang penuh. Karenanya, Brandon tetap bertahan di ruang IGD. Aini yang menjaganya dengan segenap jiwa. Wanita itu hanya akan absen jika ketiduran. Itu pun tidak berlangsung lama, selain Aini yang melakukannya dalam keadaan berdiri. Alasan tersebut terjadi karena keadaan setiap ruangan untuk pasien di dalam IGD, benar-benar sempit.
“Sayang ...?” lembut Brandon ketika akhirnya siuman. Demamnya sudah turun, dan ia memergoki Aini ketiduran dalam keadaan berdiri.
Jujur, sedari tadi Brandon sudah yakin, Aini yang menjaganya meski pandangannya tidak begitu jelas karena keadaannya. Wanita yang sangat ia cintai itu menjaganya layaknya seorang mamah yang sangat menyayangi anaknya. Alasan yang juga membuat hati Brandon teriris pedih sebab ia justru melihat sosok ibu Chole sang mamah dalam diri Aini.
“Jaga jarak takut ketularan,” lembut Brandon wanti-wanti kepada Aini, tapi Aini buru-buru menggeleng.
Aini meraih satu botol air mineral dari kantong putih lengkap dengan sedotan guna mempermudah dalam meminumnya. Ia sengaja menyiapkan itu untuk Brandon.
“Jangan takut aku kehausan apalagi dehidrasi, aku kan diinfus,” lanjut Brandon lagi sampai saat ini masih memperlakukan Aini dengan sangat lembut.
“Ini bahkan infus kedua. Nyaris ganti karena demam Mas, bikin Mas dehidrasi parah. Juga, Mas yang wajib banyak minum air putih biar tenggorokan Mas enggak kering, selain air putih yang memang baik buat kesehatan,” yakin Aini siap memasukan sedotan perantara Brandon minum ke mulut Brandon.
Bibir Brandon sampai kering, hingga Aini berinisiatif untuk membasahinya menggunakan sedikit air minum di botol. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, layaknya memperlakukan bayi.
Menghela napas pelan, Brandon yang masih menatap dalam kedua mata Aini berkata, “Anjar ke mana? Mending sekarang kamu bawa Anjar menginap di hotel. Biar kalian enggak tertular, dan kalian bisa istirahat dengan leluasa. Tanpa dijaga, suster dan dokter juga akan mengurus aku. Itu jauh lebih mengurangi risiko penularan ke kalian.”
Aini segera menggeleng. “Yang aku tahu, orang yang terinfeksi virus cacar air memang dapat menyebarkan virus ke orang lain hingga lima hari sebelum dan setelah ruam-ruam muncul di kulit. Masa yang paling menular itu hari-hari sebelum ruam muncul dan hari-hari pertama ruam muncul. Alasan tersebut juga yang membuat pender*ita sebaiknya tidak terkena angin saat cacar air. Namun intinya, asal jangan terkena cairan cacar airnya sama air li*ur pender*ita. Makanya habis ini kamu pakai masker ya. Ini sudah pagi, Mas mau berjemur di depan?” Tak beda dengan Brandon, Aini juga menjelaskan dengan sangat lembut.
Tak mau membuat hubungan mereka tidak nyaman, Brandon menurut. Sangat kontras ketika ia dengan Lentera meski Lentera juga tipikal manis yang juga sangat perhatian. Masalahnya, rasa nyaman sekaligus cinta hanya Brandon rasakan ketika dirinya dengan Aini, benar-benar bukan wanita lain termasuk itu Lentera. Karena seberapa pun istimewa seorang Lentera, yang Brandon mau sekaligus butuhkan tetap Aini, dan memang hanya Aini.
“Omong-omong Lentera, dia kecelakaan dan tampaknya lukanya parah. Semoga dia segera pulih, dan dia segera bahagia bersama Boy,” batin Brandon. Ia membiarkan Aini memakaikan masker kepadanya. Aini benar-benar bisa diandalkan mengurusnya. Dan ia juga membiarkan Aini memeluknya.
“Kamu belum jawab Anjar di mana? Karena mulai sekarang, dia bagian dari tanggung jawabku,” lembut Brandon sambil balas memeluk Aini. “Setelah kita sampai tujuan, aku mau Anjar sekolah lagi. Dia harus sekolah setinggi mungkin paling tidak sampai dia sarjana. Kamu pun, andai mau lanjut sekolah atau setidaknya kejar paket, aku bakalan sangat mendukung.”
Takut sang istri mengkhawatirkan keuangan mereka, Brandon menjelaskan, bahwa selama ini dirinya yang nyaris tidak pernah berfoya-foya meski terlahir dari keluarga kaya raya, sudah memiliki tabungan cukup.
“Anjar tidur di ruang tunggu depan. Enggak apa-apa, toh ini sudah pagi dan dia laki-laki yang wajib strong. Bismilah, bentar lagi Mas dapat kamar, dan Mas juga segera sembuh.” Aini merebahkan wajahnya di sedikit sisa tempat tidur Brandon. Ia tak berani lama-lama bersandar ke dada Brandon, takut cacar-cacar di sana pecah.
“Meski aku enggak mau kamu sakit, pahitnya andai kamu memang sampai sakit, aku pastikan, aku akan merawat kamu sampai sembuh. Namun tetap, aku enggak mau kamu sakit. Kamu harus selalu sehat. Kamu harus bahagia karena selama ini, apalagi sejak hubungan kita diketahui bapakmu, kamu sudah terlalu menderita,” lembut Brandon sambil mengusap kepala Aini penuh sayang. Ia melakukannya dengan hati-hati lantaran telapak tangannya juga tak luput dari cacar.
Mendengar itu, bersama hatinya yang sudah langsung terenyuh menahan rasa bahagia, sedih, bahkan nelangsa secara bersamaan, Aini berangsur menengadah hanya untuk menatap wajah Brandon yang berada tepat di atas wajahnya. Hanya begitu lantaran ia tak bisa berkata-kata. Andaipun ia meminta Brandon membatalkan rencananya, itu hanya akan membuat Brandon kecewa.
Di luar, dan baru memasuki rumah sakit, kehadiran ibu Elena dan pak Rayyan masih dikawal oleh seorang ajudan. Seperti biasa, meski sudah tidak muda, pak Rayyan sangat mengutamakan penampilannya. Pria itu tak hanya memakai setelan jas biru gelap dan sangat rapi. Karena pak Rayyan juga memakai kacamata hitam tebal. Sementara di sebelahnya, ibu Elena yang ia gandeng dan menenteng tas mahal, tak kalah necis mirip boneka hidup.
“Loh, itu yang tidur kok mirip Anjar adiknya Aini, ya? Tapi kok bisa di sini? Ah enggak mungkin, ... pasti hanya kebetulan mirip,” pikir ibu Elena yang memang pernah melihat foto Anjar ketika pemuda itu mengabarkan kematian ibu Aini kepada Aini.
Bertepatan dengan itu, Brandon sengaja meminta Aini untuk membawanya keluar dari ruangan yang ada di IGD. Terlebih, perawat yang menghampiri mereka, meminta Aini mengurus data pasien untuk mendapatkan kamar rawat. Jadi, Brandon sekalian akan berjemur di depan IGD.
Masalahnya, meski keduanya sempat berselisih dengan rombongan pak Rayyan, baru juga mulai berjemur di depan IGD, Brandon dan Aini justru mendapati sebuah mobil mewah turun di hadapan mereka dan itu orang tua Brandon!
Dunia Aini dan Brandon seolah berputar lebih lambat, detik itu juga. Dada mereka bergemuruh, dan Aini makin mantap untuk menghampiri orang tua Brandon. Akan tetapi, Brandon yang menyadarinya buru-buru menye*ap Aini. Brandon sengaja membuat mereka memunggungi kedatangan pak Helios dan ibu Chole yang dikawal oleh dua orang ajudan.
“Ada apa?” tanya pak Helios kepada sang istri yang mendadak berhenti kemudian memandangi punggung Aini maupun Brandon. Kenyataan tersebut juga yang membuat pak Helios turut mengawasi kedua punggung tersebut dan jaraknya hanya sekitar tiga meter dari kebersamaan mereka.
“Pasien atas nama Brandon ...,” seru dari dalam sana, dari bagian informasi dan sudah langsung membuat Brandon, Aini, pak Helios, apalagi ibu Chole, ketar-ketir.
“B-Brand ... don, Pah? Terus, ini kenapa kok Mamah sekangen ini ke dia?” lirih ibu Chole. Tangan kanannya yang tidak digandeng sang suami, refleks menahan dada karena selain bergemuruh, di sana juga terasa sangat pegal.
Baik Brandon maupun Aini sama-sama mendengar keluh kesah ibu Chole barusan. Keduanya sudah langsung menitikkan air mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hato seorang ibu, walau ank ada di sampingnya tp krn si anak punya niatan buat menjauh tapi perasaan seorang ibu bisa sesensitif itu merasakan rasa kehilangan
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
udh jujur aja poo se
2024-07-10
0
Flower
haha sedih tp aku ngakak
2024-01-29
2