Sudah kembali pagi, tapi Brandon belum juga didatangi Aini. Dengan keadaannya yang sudah makin penuh cacar, Brandon nekat keluar dari kamar.
Menahan rasa sakit akibat cacar dan bapil yang membuat tubuh tak hentinya demam tinggi saja sudah tak karuan. Apalagi jika sampai dibarengi dengan menahan rindu terlarang layaknya rindu Brandon kepada Aini? Karenanya, Brandon jadi tidak bisa menahan emosi. Membuka pintu saja, Brandon yang sekadar melangkah jadi sempoyongan, melakukannya dengan serba memak*sa sekaligus diban*ting.
Brandon sengaja menutupi kepala hingga tubuhnya menggunakan selimut. Namun, baru juga keluar dari kamar, saudaranya yang kebetulan baru keluar juga dari kamar dan bersiap kerja, langsung panik.
Hyera si paling bontot, refleks menjerit dan buru-buru kembali masuk kamar. Hyera yang memang panik, refleks membant*ing pintu kala menutupnya. Lain dengan Calista yang jadi sibuk istighfar sambil mengelus perutnya yang sudah sangat besar lantaran ia memang tengah hamil besar.
Boy yang ada di sana yang langsung memboyong Calista kembali masuk ke kamar.
“Kamu butuh apa, Mas?” lembut Boy dari dalam kamar Calista. Ia berangsur keluar dari kamar sang kakak.
“Rasanya beneran pengin makan orang. Beneran emosi tingkat dakjal!” kesal Brandon yang sekadar napas saja tidak bisa tenang.
“Ya sudah ditelepon saja mbak Teranya, Mas!” balas Boy enteng karena yang ia tahu, kembarannya kangen berat pada calon istri. Terlebih ia sendiri andai sedang sakit, pasti akan jauh lebih nyaman bermanja-manja kepada sang kekasih. Meski jika sakitnya seperti Brandon dan itu cacar yang rawan menular, ia juga akan dilema karena tak mungkin membiarkan dirinya menulari cacar juga ke sang kekasih.
“Enggak jelas!” kesal Brandon karena yang ia harapkan memang Aini. Karenanya, sebelum ia mencari Aini, yang ingin ia temui lebih dulu ialah kedua orang tuanya.
Brandon berniat jujur pagi ini juga. Mengenai hasil, Brandon tak peduli yang penting ia sudah jujur.
“Mau ke mana?” tanya Boy lagi. Karena selain ia yang memang tipikal perhatian, kembarannya langsung minggat begitu saja tanpa sedikit pun basa-basi. “Aku antar ke RS, ya?” Kali ini ia sengaja berseru lantaran Brandon juga pergi dengan sangat buru-buru.
“Enggak perlu. Aku mau cari mamah papah dulu!” balas Brandon masih sangat cuek sambil terus melangkah cepat menuruni anak tangga.
“Loh, memangnya kamu enggak tahu kalau papah mamah pergi ke Singapura? Mereka mau mampir ke Jepang juga?” lantang Boy sambil menyusul Brandon.
Detik itu juga, dunia Brandon seolah berhenti berputar. Brandon yang baru sampai di lantai bawah, berangsur menoleh ke belakang. Ia bahkan menghadap ke belakang, menatap saksama sang kembaran.
Sambil melangkah melewati anak tangga, Boy berkata, “Itulah gunanya komunikasi dengan keluarga apalagi orang tua. Papah mamah pergi pun buat kirim undangan nikah Mas!”
“Pinjam teleponnya aku harus bicara dengan mereka!” sergah Brandon tak sabar mengabarkan niatnya mengakhiri hubungannya dengan Lentera.
Boy menghela napas dalam kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana bahan panjang warna hitam sebelah kanannya. “Nih, tapi aku yakin, mereka masih menjalani penerbangan dan nomor mereka pasti enggak aktif.”
Mendengar itu, emosi Brandon sudah langsung tersulut. Ia bahkan nyaris membant*ing ponsel Boy, andai kembarannya itu tidak buru-buru merebutnya.
“Ya Allah ... aku beneran marah. Aku beneran kecewa ke Kamu kalau yang untuk sekarang pun, kembali KAMU halang-halangi!” batin Brandon benar-benar kesal sembari melangkah cepat menuju ruangan rumahnya lebih dalam. Langkahnya menuju dapur karena ia memang akan langsung mencari Aini.
Dari lantai atas sana dan sambil berpegangan pada pegangan tangga, Hyera dan Calista menatap khawatir keadaan Brandon yang bagi mereka terlalu emosional.
“Mas Boy, coba kasih ponsel Mas ke mas Brandon. Mbak mau ngomong, tapi Mbak enggak berani tatap muka langsung soalnya fatal buat mbak maupun baby Mbak. Ini saja Mbak mau langsung ke rumah mertua gara-gara suami Mbak tahu, mas Brandon kena cacar,” seru Calista sambil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan.
“Tapi ini hape baru, Mbak. Edisi khusus dan aku jadi salah satu yang beruntung karena punya ini. Ngeri ih, tadi saja nyaris di bantin*g. Lewat telepon rumah saja. Interkom, itu kayaknya mas Brandon ke dapur. Aku sambungkan, ya, di dapur.” Boy sudah langsung lari setelah Calista sang kakak, mengangguk sanggup.
Karena Kim sekeluarga masih di kampung dan baru akan ke Jakarta satu minggu sebelum pernikahan Brandon, dengan kata lain, kini Calista menjadi yang paling tua di sana. Sebagai kakak Brandon, Calista merasa harus mengarahkan sang adik, untuk lebih bisa mengontrol emosi.
Tak ada Aini di sana meski Brandon sudah sampai keluar dari dapur bersih. “Mbak, Aini di mana?” sergah Brandon pada Santy yang kebetulan sedang mencuci gerabah di wastafel dapur bersih.
Santy yang mesk periang tapi juga sangat penakut, langsung gemetaran. Santy ketakutan dan malah membuat Brandon emosi hingga pemuda itu mendo*rong sekuat tenaga pintu dapur yang kembali dilewati.
Santy nyaris jantungan karenanya. Namun, keputusan Brandon ke belakang—area tempat tinggal para ART, diyakini Santy akan mencari Aini secara langsung. “Sebenarnya ada apa? Kenapa Mas Brandon gitu banget ke Aini. Galak, kejam, tapi cenderung sayang,” batin Santy kepo.
Santy yang tahu apa yang terjadi, sengaja menyusul. Buru-buru ia mematikan air kerannya, kemudian setengah berlari menyusul Brandon. Tentunya, Santy yang masih ingin hidup lebih lama sengaja menjaga jarak dari Brandon. Baik agar ia tak tertular cacar, maupun agar jantungnya aman dari bentakan pemuda itu yang akhir-akhir ini jadi sangat bengis.
“Mas, Aini kan dibawa sama mbak Lentera.” Santy sengaja berseru. Tak peduli meski ia dianggap kurang sopan karena ketakutannya kepada Brandon, suara yang bisa ia hasilkan memang seperti itu.
Detik itu juga dunia Brandon berhenti berputar. Brandon berangsur menoleh bahkan menghadap Santy yang ia tatap tajam. Brandon yang sadar dirinya telah melakukan kesalahan yaitu akan mengakhiri hubungannya dan Lentera, demi kembali dengan Aini, sudah langsung tidak bisa berpikir jernih.
Bertepatan dengan Boy yang akhirnya berdiri di bibir pintu dapur, Santy yang ditanya sejak kapan Lentera membawa Aini, berkata, “Malam setelah Aini keluar dari kamar Mas Brandon, Mas. Kan dari kemarin sebenarnya non Lentera datang. Dari pas mamah Mas pergi ke kantor gantiin Mas. Namun karena kamar Mas dikunci, seharian itu non Lentera nunggu! Jadi pas mamah Mas pulang, non Lentera izin buat bawa Aini katanya mau ditempatin di rumah yang nantinya buat rumah Mas dan non Tera!” jelas Santy sejelas-jelasnya.
Tubuh Brandon layaknya dipanggang. Kedua tangan pemuda itu mengepal, disusul Brandon yang menerobos masuk kamar yang sempat Aini tempati meski hanya satu hari.
Barang-barang Aini benar-benar tak tersisa kecuali tasbih pemberian Brandon yang tergeletak sendirian, di rak lemari kosong paling atas sebelah kanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
dan murkalah Brandon..
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
siap2 aja km lentera
2024-07-10
0
Firli Putrawan
wah ngamuk pasti Brandon khawatir tkutnya s aini D apaapin sm lentera
2023-11-23
6