Teringat tasbih pemberiannya yang ternyata masih Aini simpan, Brandon menjadi kacau. Dada pemuda itu bergemuruh memikirkan banyak hal, dan Brandon sangat sulit untuk berkosentrasi.
Mengenai kebenaran status Aini, juga kebenaran pernikahan wanita itu. Kedua kenyataan tersebut menjadi hal yang sangat mengganggu pikiran Brandon. Pemuda itu sampai tidak bisa fokus pada kebersamaannya dan Lentera dengan ibu Chole, di ruang keluarga lantai bawah. Mereka tengah membahas persiapan pernikahan Brandon dan Lentera yang nyaris rampung. Dua minggu lagi saja, pernikahan mereka digelar.
“M-mas, mau ke mana?” sergah ibu Chole, meski ia masih menggunakannya dengan suara lembut. Ia tatap sekaligus menyikapi penuh keseriusan sang putra yang mendadak berdiri meninggalkan kebersamaan mereka.
Bukannya menjawab, Brandon hanya melirik sang mamah dengan ekspresi tidak nyaman. Ia bahkan sampai tidak pamit, termasuk itu kepada Lentera yang sempat menegurnya penuh manja.
Ibu Chole tersenyum hangat kepada Lentera yang kebetulan duduk persis di hadapannya. “Khusus Brandon, dia memang sangat mirip dengan papahnya saat masih muda. Dulu, awal-awal hubungan kami ya kayak kalian. Yang penting kamu tetap usaha. Soalnya yang seperti Brandon memang cocoknya dengan yang lemah lembut ceria seperti kamu,” yakinnya sengaja menyemangati sekaligus merangkul hati Lentera.
Ibu Chole paham, berada di posisi Lentera yang harus menghadapi sikap bengis Brandon sangatlah tidak mudah. Karena di masa lalu, ia juga pernah merasakannya ketika awal menjalin hubungan dengan pak Helios sang suami—baca novel : Mempelai Pengganti Untuk Ketua Mafia Buta yang Kejam.
Kini, Brandon yang awalnya sudah sampai di tengah-tengah anak tangga menuju lantai atas lantaran langkahnya sangat cepat, mendadak berhenti melangkah. Lirikan bahkan tatapannya berangsur mengawasi rumah bagian belakang. Iya, ia ingin bertemu sekaligus memastikannya secara langsung kepada Aini—alasannya nyaris meledak sekaligus gil*a layaknya kini.
Brandon sudah sempat melangkah menurini anak tangga, bermaksud menghampiri Aini. Namun, tiba-tiba Brandon merasa, langsung menemui Aini terbilang bahaya.
Merasa lelah, Brandon menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia memutuskan untuk naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. “Sabar bentar lagi!” batinnya menguatkan diri. Walau pada akhirnya, ia kembali keluar dan melangkah dengan sangat buru-buru.
Bersamaan dengan itu, ibu Chole dan Lentera sudah tidak ada di ruang keluarga. Keduanya sudah nyaris sampai teras depan rumah. Lebih tepatnya, ibu Chole sengaja mengantar Lentera pulang hingga sana. Pak Santoso sudah siap mengantarkannya.
Yang langsung Brandon tuju ialah bangunan paling belakang kediaman orang tuanya. Kedua matanya terus menatap tajam keadaan di sana. Beberapa ART yang ia jumpai di perjalanannya kompak menunduk takut. Terlebih kabar Aini diperlakukan semena-mena oleh Brandon, telanjur menyebar akibat mulut ember Santy.
Setiap kamar di deretan kamar ART sudah Brandon periksa. Brandon bahkan sengaja terus melangkah hingga melewati ruang paling ujung dan tak lain kamar mandi. Pintu kamar mandi yang tertutup rapat di sana sampai Brandon gedor lantaran pemuda itu ingin memastikan siapa yang sedang di dalam, dan Brandon khawatirkan memang Aini.
“Siapaaaa? Kenceng banget gedornya. Kaget banget aku. Awas, pintunya rusak nanti dimarahi bapak!” seru seorang wanita dan itu dari dalam kamar mandi.
Suara yang juga bukan suara Aini hingga Brandon buru-buru pergi. Brandon segera melanjutkan pencariannya ke taman sebelah kamar mandi yang juga terhubung ke taman halaman. Tadi, Aini menyiram semua taman meski bagi Brandon, harusnya sudah selesai. Namun, di sana Brandon juga tak lagi menemukan Aini, selain suasana yang makin gelap karena kini memang sudah petang.
“Habis beres dimasukin dus, susun sebelah sini saja yah, Ni. Namun sebelumnya, lantainya dibersihkan dulu. Eh, bentar lagi magrib, aku siap-siap salat dulu. Kalau ada bos di rumah, kita salatnya gantian. Takut bos butuh bantuan kita,” ucap Santy yang buru-buru undur dari sana karena kedatangan Brandon yang membuatnya takut. Karena meski ia sudah bekerja tujuh tahun lamanya di sana, jika Brandon seperti ketika baru pulang tadi kepada Aini, ia sungguh takut. Kini saja, ia langsung panas dingin sekaligus deg-degan.
“Pasti mau cek souvenirnya. Atau mau marah-marah lagi ke Aini?” batin Santy, sengaja membungkuk sopan ketika lewat di hadapan Brandon.
Kini, di sana benar-benar hanya tinggal Aini. Namun, bukan hanya Aini yang merasa dunianya berputar lebih lambat. Karena Brandon juga begitu. Hanya saja, alasan keduanya begitu sangatlah berbeda. Sebab ketika Aini karena menahan takut, Brandon justru karena terlalu penasaran dengan kabar terbaru Aini juga pernikahannya.
Aini yang awalnya baru berdiri untuk menyusun setiap kotak berisi souvenir pernikahan milik Brandon, sengaja menunduk sekaligus membungkuk. “Mohon izin Tuan, saya akan melanjutkan pekerjaan saya dan tangan saya juga sudah saya seterilkan.” Selain itu, Aini juga sudah ganti pakaian, meski ia belum sempat mandi lagi. Sebagai orang baru, Aini tidak mau bekerja santai meski ia memang diberi waktu istirahat khusus karena kini saja, harusnya ia istirahat di kamar layaknya beberapa ART yang sempat kebingungan ketika Brandon menerobos masuk.
Meski belum direspons oleh Brandon yang mendadak diam layaknya tugu pahlawan, Aini berangsur menyusun setiap kotak berisi souvernir ke kardus besar yang sudah disiapkan. Jujur, kenyataan tersebut membuat Brandon merasa sangat bersalah. Apalagi jika Brandon mengingat sikapnya kepada Aini semenjak mereka dipertemukan kembali setelah delapan tahun berpisah.
“Kamu sudah menikah?” tanya Brandon demi mengakhiri rasa penasarannya.
Sempat sangat terusik dengan pertanyaan Brandon, Aini yang terus membuat kedua tangannya bekerja menyusun rapi setiap kotak berisi souvenirnya berkata, “Belum.” Ia mengatakannya tanpa sedikit pun melirik Brandon karena posisinya saja memang membelakangi Brandon.
“Hah ...?” batin Brandon benar-benar terkejut. Ia sudah maju satu langkah dan hendak bertanya, tapi bunyi berisik dari sepasang sandal, ia sadari sebagai langkah sang mamah.
Ibu Chole memang datang bersama saudara Brandon. Mereka hanya tidak disertai Kim dan keluarga kecilnya.
“Wah ... nyaris beres, ya? Tinggal dikit, besok pasti beres nih!” ucap ibu Chole yang menang selalu ceria sekaligus bisa membuat suasana di sana hangat.
“Coba kayak apa sih souvenirnya. Penasaran,” ucap Hyera dan merupakan anak paling muda dari orang tua Brandon. Gadis bergaya rambut ombre pink itu mengambil satu kotak yang baru ditaruh oleh Aini ke dus, tapi tangan Boy dengan cekatan mengambilnya.
“Lihat yang belum disusun. Nyusun begini juga butuh waktu sekaligus kesabaran,” ucap Boy penuh pengertian. Selain mengembalikannya dengan hati-hati, ia juga sampai membantu Aini. “Ambil lakbannya, Mbak. Langsung lakban saja biar rapi.”
“Iya, Mas.” Aini terus menunduk sekaligus berucap santun, meski Boy maupun anggota keluarga Brandon yang lain, memperlakukannya dengan sangat hangat.
“Ini mereka ngapain, sih? Ganggu banget!” batin Brandon berniat memastikan fotokopi KTP, juga KK Aini dan biasanya ada di berkas sebagai pekerja di sana. Karenanya, tanpa pamit ia langsung pergi dari sana. Menuju kantor dalam rumah orang tuanya yang biasanya menyimpan berkas yang ia maksud.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
yenny pendang
kangmas brandon keppoo
2024-02-10
2
Bulan Bintang
😭😭
2023-12-07
3
Firli Putrawan
salah kan blm tau kebenaran nya udah jahat skrg yg jahat siapa koreksi 🥺🥺
2023-11-23
1