“Brand ... Tera kecelakaan ....” Air mata ibu Elena jatuh setelah ia mengabarkan itu kepada Brandon.
Ibu Elena yang sempat berlari hanya untuk mengejar Brandon, berangsur terdiam dan perlahan sempoyongan, sebelum akhirnya wanita itu justru jongkok. Kabar kecelakaan yang menimpa Lentera dan membuat ibu Elena ditelepon polisi menggunakan ponsel Lentera, benar-benar membuat mama dari Lentera itu syok.
Jiwa ibu Elena terguncang, ibu Elena langsung tidak baik-baik saja. Bukan hanya air matanya yang jadi sibuk berjatuhan, tetapi juga jantungnya yang jadi berdetak sangat kencang, selain ia yang gemetaran tak karuan.
Brandon yang awalnya sudah sampai di tengah halaman rumah orang tua Lentera, Brandon siap pergi dari sana dan tentu saja untuk menyusul Aini, berangsur terdiam. Kini, Brandon membeku, merasa bersalah atas keadaan itu. Terlebih yang langsung Brandon ingat, ialah pesan manis dari Lentera ketika Brandon mencari Aini di rumah bersama mereka, setelah dirinya dan Lentera menikah. Pesan manis yang Lentera kirimkan lewat WA. Seolah, wanita itu sudah mengetahui rencana Brandon yang akan mengakhiri hubungan mereka. Yang mana Lentera tidak bisa menerima kenyataan, selain hubungan mereka yang bagi wanita itu akan tetap manis.
Tera : Sayang, i love you. Makasih banyak buat semuanya. Sampai kapan pun, kita akan selalu begini. Saling sayang, saling mengisi, dengan cara kita.
Brandon merengkuh tubuh ibu Elena. Wanita bertubuh mungil itu tersedu-sedu, dan tampak tidak bisa berkata-kata.
“Katakan kepadaku Tera dibawa ke rumah sakit mana? Aku akan ke sana,” serius Brandon menatap saksama kedua mata ibu Elena.
***
Waktu terasa berlalu dengan lebih cepat. Di tengah hujan yang mengguyur, Aini yang akhirnya sampai stasiun kota desa dirinya tinggal, menerobos hujan menggunakan ojek yang ia sewa.
Harap-harap cemas menyelimuti hati Aini. Jalanan yang sulit sekaligus licin dan beberapa kali membuat motor nyaris terba*nting, membuatnya memutuskan berhenti menggunakan jasa ojek, meski jaraknya dari rumah masih terbilang jauh. Aini melanjutkan perjalanannya dengan melangkah cepat. Sandal Aini putus satu, tapi wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.
Kenyataan jalan licin yang di beberapa bagian merupakan bongkahan batu cadas juga melukai kaki Aini. Darah segar keluar dari setiap luka, tapi lagi-lagi Aini tidak menyadarinya.
Sampai detik ini hujan masih mengguyur deras. Beberapa tetangga Aini dapati menetap di rumah masing-masing.Tak ada tanda-tanda di sana ada kematian termasuk itu sekadar bendera kuning. Justru, Sang Pemilik Kehidupan yang memberikan tanda melalui mendung sekaligus hujan yang tak kunjung usai.
Ada dua buah mobil dan belasan motor di depan rumah Aini. Namun satu di antara mobil yang di sana, Aini ketahui sebagai mobil Jaka. Kenyataan yang sudah langsung membuat dendam Aini membara. Terlebih di ingatan Aini juga sudah langsung dihiasi adegan semen*a-men*a dari Jaka. Terakhir ketika pria itu menguncinya di kamar, kemudian tak segan menghant*am tengkuk Aini, hanya karena Aini berhasil melepaskan diri dari Jaka, ketika pria itu berusaha melec*ehkannya.
Sebelum ke Jakarta, demi mengurangi hutang kepada Jaka, Aini memang terpak*a bekerja sebagai pembantu di rumah pria itu.
“Kalau kalian mau lapor polisi, lapor saja. Dikiranya saya takut. Kalian pikir, kalian siapa? Semua warga dan aparat sini tahu bahkan takut kepada saya. Jadi, jangan main-main dengan saya jika kalian masih ingin hidup dengan semestinya!”
Suara bernada sombong barusan, Aini kenali sebagai suara Jaka. Aini yang sudah ada di depan pintu makin geram karenanya. Segera Aini menerobos masuk di tengah dadanya yang terasa pegal menahan dendam dan sudah sangat ingin ia luapkan. Aini benar-benar ingin mengha*jar Jaka. Bagaimanapun caranya, Aini akan melakukannya, meski kemungkinan Jaka dikawal banyak prema*n berkali lipat lebih banyak dari sebelumnya, terbentang di depan mata.
Di antara beberapa orang asing yang ada di sana, yang Aini cari memang langsung Jaka. Suasana di sana diselimuti ketegangan dari Jaka yang dikawal banyak prem*an. Suasana yang lebih mirip tawur*an, padahal jelas-jelas di sana tengah ada kematian.
Hati Aini benar-benar remuk redam ketika pandangannya mendapati sosok terbujur kaku yang sudah dikafani, dibiarkan di tengah meja diselimuti jarit. Tentu itu mamaknya yang dilarang dikubur oleh Jaka, jika Aini tetap menolak dinikahi Jaka.
“Halo sayangku, bidadariku, akhirnya kamu pulang juga!” ucap Jaka kegirangan bukan main dan langsung menghampiri Aini.
Jaka meninggalkan rombongan prema*n yang mengawalnya. Pria yang penampilannya tetap penuh perhiasan layaknya delapan lalu itu nyaris menggunakan tangan kanannya untuk meraih dagu Aini. Namun, Aini yang telanjur dendam menggunakan ranselnya untuk mengh*antam wajah Jaka.
Detik itu juga Jaka langsung sempoyongan, tapi kedua pengawalnya yang mirip preman pasar, tanpa pikir panjang langsung menin*ju Aini tanpa henti dan itu dilakukan secara bergantian.
Anjar yang awalnya terduduk di depan meja jenazah sang mamak terbujur kaku, langsung terusik sekaligus emosi. Layaknya orang kesur*upan, Anjar memu*kuli Jaka tanpa henti hingga suasana di sana benar-benar tidak kondusif.
Empat orang yang ada di sana dan merupakan keluarga dari ibu Elena, sudah langsung berusaha mengamankan Aini. Namun jumlah mereka tak sebanding dengan prem*an yang mengawal Jaka.
“Assalamualaikum ....”
Suara salam serempak dari depan rumah, mengusik ketegangan di sana. Aini yang sudut bibir kanannya berda*rah karena tinju, berangsur berdiri mengikuti tuntunan seorang pria yang mengamankannya.
“Braaak!” Pintu kayu yang memang sudah rapuh itu sampai rontok karena diterobos dengan kas*ar dari luar.
Sesosok berpakaian serba hitam dan bertubuh tinggi pelakunya. Sosok tersebut memakai topi dan masker hitam. Hanya kedua matanya saja yang kelihatan, tapi Aini sudah bisa mengenalinya.
“Mas Brandon ...?” batin Aini mendadak menggantungkan harapannya kepada pria yang sempat ia jauhi itu. Air matanya makin berjatuhan, tapi hatinya lagi-lagi remuk redam karena sang adik nyaris sekarat setelah dikeroy*ok oleh prema*n-prema*n Jaka.
Sosok yang Aini yakini sebagai Brandon, memang Brandon. Layaknya Aini, yang langsung Brandon tuju adalah Jaka. Brandon menjadikan pria berperut buncit itu sebagai tujuannya. Tak peduli meski beberapa prema*n berusaha menahannya. Brandon tetap maju sambil balas tin*ju bahkan membanti*ng setiap prema*n yang menghalanginya. Brandon sendiri tidak tahu, kenapa dirinya pandai bela diri bahkan mirip pembun*uh bayaran jika sudah membalas setiap sera*ngan lawan.
Kini, Aini dan sang adik, maupun orang kiriman ibu Elena bisa bernapas lega. Sebab ternyata, Brandon membawa rombongan santri yang jumlahnya puluhan. Selain itu, beberapa polisi juga sudah menyertai.
Jenazah mamaknya Aini sudah langsung diamankan, dibawa keluar yang mana kini, akhirnya Brandon sudah ada di hadapan Jaka. Hidup dan mati Jaka benar-benar ditentukan oleh kedua tangan Brandon. Terlebih dari tatapan tajam sangat bengis Brandon saja, pria itu seolah menolak kata damai apalagi permohonan ampun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hah.. gila si Jaka..
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
bener2 titisan helious
2024-07-10
1
Khamim Fiatin
mirip bapaknya helios
2023-12-08
2