“Ada apa dengan dia?” Suara Boy nyaris tak terdengar karena sebagiannya tertahan di tenggorokan.
Dada Boy menjadi bergemuruh dan perlahan terasa pegal karena keadaan sang kembaran yang tampak sangat kacau. “Mbak Aini ... kudengar, kampungnya dekat dengan pesantren kita.”
“Masalahnya, hatiku terluka di setiap kamu melukainya sementara caramu menatapnya jelas karena cinta. Termasuk, caramu yang begitu keras kepadanya.”
“Juga, ... kenapa sekelas papah, sampai mempercayakanmu kepadanya. Padahal jika untuk urusan sakit, kita bisa memanggil dokter keluarga. Walau dia akan kerja di rumah bersamamu dan Tera setelah kalian menikah, ... dia baru satu hari kerja, dan mempercayai orang asing secepat itu untuk merawatmu ... ini aneh.” Boy dengan kelembutan hatinya yang ia warisi dari sang mama, tak hanya merasa terluka. Karena ia juga sampai menitikkan air mata.
Dirasa Boy, gelagat Brandon, juga cara kembarannya bersikap kepada Aini memang berbeda. Seolah ada dendam dari luka hati karena cinta. Kadang, tatapan Brandon kepada Aini akan dipenuhi cinta sekaligus luka. Tak jarang, kembarannya itu begitu bengis, berusaha melampiaskannya melalui keker*asan, tapi yang ada kenyataan tersebut malah membuat Brandon tak berdaya.
Meski memang baru satu hari ia menyaksikan semua itu. Namun seperti yang ia katakan, sekelas papahnya pun seolah sengaja membuat kembarannya itu dekat dengan Aini. Andaipun hanya sampai itu karena sang papah sudah kembali fokus membagikan undangan kepada relasi kerja dan memang kepada mereka yang bukan orang sembarangan, sering kali cara seperti itu—yaitu membiarkan anak-anaknya menyelesaikan masalahnya sendiri memang menjadi didikan khusus, agar mereka menjadi jauh berkualitas. Agar mereka jadi lebih dewasa melalui perkara sekaligus masalah yang ada.
Brandon tersedu-sedu sembari menggenggam tasbih pemberiannya. Aini meninggalkan tasbih itu, layaknya keinginan wanita itu yang ingin mengakhiri kisah mereka. Hingga yang ada, Aini dengan tega meninggalkannya. “Meski kamu ninggalin ini. Bahkan meski kamu ninggalin aku, menolakku berulang kali, aku enggak akan pernah menyerah. Apalagi demi aku, kamu kehilangan semuanya, Ni!” batin Brandon.
***
Di rumah Lentera, ibu Elena yang tak lain merupakan mamah Lentera, sudah langsung cocok dengan Aini. Aini tak hanya cekatan, tapi juga serba bisa dan sangat rajin. Terlebih, ART yang sudah lama di sana juga tampak nyaman sekaligus cocok dengan Aini.
“Itu mbak baru dari rumah mamah Chole, apa memang kamu ambil di yayasan buat di rumah kamu dan Brandon?” tanya ibu Elena sambil menikmati wedang herbalnya.
Kebersamaan di meja makan sebelah kolam ikan, mendadak terasa menjengkelkan bagi Lentera. Kenyataan tersebut terjadi lantaran selain sang mamah membahas Aini dengan sangat manis, wanita yang telah melahirkannya juga tak hentinya memperhatikan Aini.
“Aku rasa semua orang memang menyukainya. Beda denganku. Aku saja sampai dia kalahkan,” balas Lentera terdengar sinis bahkan di telinganya sendiri.
Detik itu juga ibu Elena terdiam. Ibu Elena yang refleks mengernyit seiring ia yang menatap penuh tanya sang putri, berangsur meletakan cangkir wedang herbalnya ke lambar di hadapannya. Kemudian, yang ia lakukan ialah mengelus pahu Lentera penuh sayang. “Kamu ada masalah?” Ia dapati, ekspresi Lentera yang jadi dikuasai kesedihan. “Oh ... gara-gara Brandon sakit cacar, dan itu bikin kalian harus mendadak LDR, kan?”
Bukannya menjawab pertanyaan sang mamah, Lentera malah tersedu-sedu. “Mah ... sesakit ini menjadi dewasa. Sepedih ini mencintai orang yang tidak pernah mencintai kita. Sesulit ini bertahan untuk mereka yang memilih pergi meninggalkan kita hanya untuk cinta yang lain. Ketulusan dan keseriusanku beneran enggak ada harganya. Masalahnya, kenapa ini hadir tepat ketika pernikahan kami sudah ada di depan mata?! Aku sefrustrasi ini, Mah. Apalagi aku tahu, dia akan mengorbankanku. Brandon akan membuangku, dia sama sekali tidak memberiku kesempatan.” Akan tetapi, Lentera hanya mampu berkeluh kesah dalam hati.
“Semua orang hanya mengkhawatirkan Aini. Semua orang kasihan dengan Aini hanya karena keadaannya. Lalu bagaimana dengan aku? Hanya karena aku cantik? Hanya karena aku kaya? Hanya karena aku berpendidikan? Semua itu beneran enggak menjamin hatiku kuat. Semua itu enggak menjamin mentalku baik-baik saja jika berurusan dengan gagalnya pernikahan yang sudah ada di depan mata. Aku beneran tetap enggak baik-baik saja, jika laki-laki yang kucintai, jika tunangan sekaligus calon suamiku, memilih membuangku demi masalalunya. Sesakit ini, Mah. Aku beneran pengin mati saja. Buat apa aku hidup jika semuanya tidak sejalan dengan apa yang sudah kuperjuangkan? Membiarkan Brandon pergi dan aku membuka hatiku untuk yang baru? TAK SEGAMPANG ITU!” sampai detik ini, Lentera masih meledak-ledak dalam hati. Namun seperti apa yang ia rasa dan baru ia keluh kesahkan, ia sungguh memilih mati, sebelum Brandon mengabarkannya secara langsung kepadanya.
“Paling tidak, jika aku mati sebelum dia mengatakan semuanya, status kami masih sebagai calon suami istri. Status kami masih resmi sebagai tunangan!” batin Lentera lagi.
Sambil terus mendekap sang putri penuh sayang, ibu Elena yang sampai berdiri hanya untuk menenangkan putrinya berkata, “Temui dia. Enggak usah jaga jarak juga enggak apa-apa. Andaipun sampai tertular, kalian bisa isolasi mandiri sama-sama. Takutnya kalau kamu juga sampai jaga jarak, takutnya dia meragukan kamu. Yang namanya manusia, yang benar saja masih sering dianggap salah. Apalagi yang enggak benar?” lembut ibu Elena dan langsung membuat Lentera yang membungkuk loyo, mengangguk.
Ibu Elena paham perasaan putrinya. Terlebih sang putri memang sudah langsung menyukai Brandon sejak keduanya pertama kali bertemu. Boleh dibilang, Brandon ibarat cinta pertama Lentera. Jadi, seolah menjadi kebanggaan sekaligus keistimewaan sendiri ketika akhirnya hubungan keduanya akan berakhir di pelaminan.
“Perginya sama sopir saja. Toh, mamah perginya nanti dijemput papah,” ucap ibu Elena sambil membantu Lentera mengelap air matanya menggunakan tisu dan ia ambil dari kotak khusus yang ada di tengah meja.
“Aku nyetir sendiri saja,” sergah Lentera yang menjadi merasa bersalah ketika kedua matanya menatap mata lebar sang mamah. Mata lebar yang wanita cantik itu wariskan kepadanya. “Mah, ... maaf. Maaf banget karena mungkin ini akan menjadi akhir dari pertemuan kita,” batin Lentera yang kemudian memeluk sang mamah dengan sangat erat.
“Calon pengantin jangan kemana-kemana sendiri. Nanti diantar sopir saja,” lembut ibu Elena sembari membalas mendekap Lentera.
“Enggak, Mah. Aku mau nyetir sendiri saja. Juga, ... aku minta maaf karena selama ini, aku sudah sangat merepotkan Mamah. Aku juga berterima kasih banget ke Mamah karena selama ini, Mamah selalu ada. Mamah selalu kasih aku yang terbaik,” ucap Lentera.
“Kamu kenapa? Jangan ngomong gitu. Seolah mau ke mana saja,” tegur ibu Elena yang sengaja mengakhiri pelukannya. Ia memarahi Lentera, meminta putri pertamanya itu untuk tidak sembarangan berbicara. Karena baginya, apa yang Lentera katakan mirip kata-kata perpisahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hah.. se-cemen itu nyatanya si Lentera.. ngapain susah² bawa Aini menjauh dr Brandon kalau ujung² kamu nyerah sebelum bertempur dan malah nekat pengen bundir??
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
oalah lentera anak elena lak sepupunya sabiru dong
2024-07-10
0
Muhammad Fauzi
ne elena yg di jodohkan ma om rayyan ya si om bedak tu
2024-03-19
2