“Ada yang aneh ...,” batin Lentera lantaran dadanya tak kunjung berdebar.
Walau tubuhnya terasa re*muk, Lentera berangsur menggunakan kedua tangannya untuk meraih wajah Boy. Detik itu juga Boy membuang wajah, menepis sentuhan Lentera. Namun justru karena kenyataan tersebut, Lentera jadi yakin, bahwa pemuda di hadapannya memang Brandon. Brandon yang akan selalu menolaknya, cuek, dingin, bahkan ketika ia sakit sekalipun. Alasan yang sebenarnya selalu membuat hati Lentera teriris pedih.
“Iya ini Brandon ... tidak ada tahi lalat di bibir atasnya. Dan dia pun juga masih cuek dingin. Namun, kenapa bayang-bayang dia tidur di pangkuan wanita berjilbab, begitu menyakitkan? Aku yakin kejadian itu ada di kamar Brandon, tapi wanita itu siapa? Apa mungkin mbak Calista?” pikir Lentera yang memberanikan diri untuk meraih tangan kiri Boy.
Lentera langsung terkejut karena jari manis tangan kiri Boy, sampai memakai cincin pertunangan Lentera dan Brandon. Karena biasanya, Brandon paling malas untuk memakai cincin tunangan mereka.
“Semanis ini?” lirih Lentera sambil tersenyum manis kepada Boy. Kendati demikian, ia yang sampai menggenggam tangan kiri Brandon meski itu hanya genggaman yang sangat lemah, tetap tidak bisa untuk menyudahi air mata apalagi kesedihannya.
“Jangan nangis ... cepat sembuh,” lirih Boy yang memang tidak tega. Jemari tangan kirinya refleks mengelus genggaman tangan Lentera.
“Mau peluk ...,” rengek Lentera tersedu-sedu.
“Aku cacar.” Alasan Boy menolak karena ia tak mau membuat Lentera kecewa. “Kamu nikah sama Boy saja, ya? Dia sayang ke kamu melebihi aku. Dia juga mencintaimu, melebihi aku,” lanjutnya, tapi justru membuat Lentera makin tersedu-sedu. Alasan yang membuatnya berangsur memeluk Lentera.
“Aku beneran enggak butuh yang lain. Yang aku butuhkan cuma kamu. Aku juga enggak akan menuntut apa pun. Asal kita selalu sama-sama. Maafkan semua keegoisanku. Aku benar-benar minta maaf. Maaf juga jika selama ini, aku belum bisa bikin kamu nyaman. Maaf jika selama ini, aku belum bisa bikin kamu bahagia.” Kali ini Lentera merengek, tersedu-sedu sekaligus membenamkan wajahnya di dada Boy.
Mendengar itu, hati Boy makin terasa pedih dan ia tidak bisa untuk tidak menangis apalagi bersedih. “Aku tahu Boy sangat mencintaimu. Dia bisa jauh lebih membahagiakan kamu ketimbang aku!” yakinnya, tapi Lentera buru-buru menggeleng.
“Enggak mau, aku maunya cuma kamu! Kamu ya, kamu boleh enggak cinta aku, tapi jangan lama-lama. Dan jangan jodohin aku sama yang lain juga bahkan itu Boy kembaran kamu!” lirih Lentera masih terisak-isak.
“Aku mau kita selalu sama-sama, biar kamu enggak sering menyendiri apalagi diam-diam bengong sendirian,” lanjut Lentera lagi.
“Ini enggak ada pedang atau setidaknya belati tajam, tapi dadaku seperti ditusuk-tusuk ...,” batin Brandon. Padahal, andai Lentera mau menikah dengan Boy, dengan sangat bahagia Boy mengubah semuanya.
“Kamu kalau mau aku bagaimana, kamu ingin aku seperti apa, bilang saja. Pasti aku akan melakukannya. Asal kamu bahagia, ” ucap Lentera.
“Kamu cukup jadi diri kamu saja. Itu sudah lebih dari bikin aku bahagia,” ucap Boy, berusaha tetap dingin tapi hasilnya masih ada manis-manisnya.
Mendengar itu, dan bagi Lentera yang telanjur bucin memang sangat manis, senyum indah refleks menghiasi wajahnya yang bagian pipi kanan dan punggung hidungnya sampai diplester. “Ini memang terbilang gil*a. Namun, andai sakitku bisa membuatmu peduli kepadaku—”
“Jika cara pikirmu begitu, justru aku yang bakalan benar-benar gil*a!” sergah Boy berusaha mematahkan anggapan Lentera.
“Lentera begitu mencintai Brandon. Ia sama sekali tidak menyisakan tempat di hatinya untuk pria lain, bahkan itu untukku,” batin Boy berangsur mengakhiri dekapannya. Namun, ia tak lantas melepas Lentera begitu saja. Ia sengaja mengungkung Lentera, memandangi wajah gadis itu dengan senyum tulus.
Keadaan kini membuat Lentera tersipu. Hanya saja, dada wanita itu tetap tidak berdebar padahal harusnya, apa yang ia dapatkan sekarang, membuat hatinya berbunga-bunga.
“YAH! JANGAN DEKAT-DEKAT BEGITU KAMU LAGI CACAR!”
Kedatangan pak Rayyan membuat keadaan di sana jadi tidak nyaman. Pak Rayyan sibuk mengomel kepada Boy, agat Boy menjaga jarak.
Ibu Elena yang pusing harus bagaimana mengarahkan suaminya, memilih membawa suaminya kembali pergi.
“Kulit Lentera selembut itu, Beb! Apa jadinya kalau dia sampai cacar juga, sementara cacar rasanya enggak karuan!” protes pak Rayyan menolak diboyong paksa oleh sang istri.
“Tolong dong, Sayang ... urusan cinta enggak pandang cacar!” kesal ibu Elena yang kemudian berkata, “Lama-lama aku ngadu ke mas Excel biar tatar kamu!” Ia mengakhiri gandengannya, kemudian meninggalkan sang suami begitu saja.
Detik itu juga pak Rayyan ketar-ketir. Bersama dua pengawalnya, ia menyusul sang istri yang tampaknya akan pulang ke rumah mereka. Membiarkan agar Lentera bisa berdua, menjalani quality time bersama Boy yang mereka kira sebagai Brandon.
“Salah satu dari kalian tunggu di sini. Jaga nona Lentera dan pantau dia selama dua puluh empat jam!” titah pak Rayyan tak menerima penolakan, hingga hanya satu pengawal saja yang mengawal kebersamaannya dengan sang istri. Sebab satunya lagi langsung kembali terjaga di depan ruang rawat Lentera.
Di tempat berbeda, Brandon masih mengemudikan mobilnya. Aini duduk di sebelahnya, sementara Anjar yang turut mereka boyong, duduk di tempat duduk penumpang. Tak beda dengan Brandon, Aini dan sang adik juga sudah memakai pakaian berbeda. Pakaian yang tentu saja berkelas. Sebab Anjar yang kiranya berusia lima belas tahun, juga jadi jauh terlihat lebih terawat hanya karena pakaian baru yang pemuda itu pakai.
Sesekali, Aini yang terjaga akan meraih tangan kiri Brandon ketika tangan tersebut berusaha menggaruk beberapa bagian tubuh akibat cacarnya. Cacar Brandon makin parah akibat pemuda itu nekat hujan-hujanan. Karenanya, meski sempat nyaris memasuki pintu masuk pelabuhan Tanjung Priok, Aini memohon kepada pemuda yang akan menikahinya itu untuk menjalani pengobatan intensif di rumah sakit terdekat.
Padahal, rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit tempat Lentera dirawat. Anjar yang tak sengaja berpapasan dengan Boy sampai terbengong-bengong.
“Loh, mas Brandon kan lagi diinfus, di dalam. Kok ini ada di sini?” pikir Anjar yang memang belum tahu jika Brandon memiliki kembaran. Terlebih dari pakaian maupun rupa dan ekspresi, keduanya benar-benar mirip.
“M-mas Brandon!” seru Anjar nekat memanggil Brandon.
Di antara lalu lalang sekitar IGD yang terbilang ramai, Boy juga refleks menoleh ke sumber suara hanya karena nama kembarannya disebut.
Namun ketika itu juga, Anjar justru menoleh bahkan perlahan balik badan, hingga posisi pemuda itu justru memunggungi Brandon.
“Kamu mau ke mana? Sini, nanti kamu hilang. Tolong jagain mas Brandon, Mbak mau urus pendaftaran pengobatan buat mas Brandon,” sergah Aini lembut dan berdiri tepat di tengah lorong sebelah.
“Nah, Mas Brandon saja ...,” ujar Anjar berusaha menjelaskan, tapi ketika ia menoleh ke belakang tempat terakhir ia melihat Boy dan ia kira Brandon, di sana sudah tidak ada Boy. Hanya beberapa lalu lalang orang yang sama sekali tidak ia kenal. Karenanya, ia segera mengikuti arahan sekaligus titah Aini yang memintanya menjaga Brandon di IGD.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Ida Ulfiana
lentera ni persis bapaknya suka ngeyel klu sudh cinta
2024-07-10
0
azka myson28
kok sebel yaa sama lentera terlalu egois untuk memaksakan rasa cintanya ke brandon...perasaan cinta g bisa dipaksakan soal hati g bisa dipaksa...emang lentera turunan om bedak jadi ngeyel😀😀
2024-06-20
0
yonahaku
oh ini Elena adiknya Excel dan Rere yang paling kecil nikah sama Rayyan jadi muter aja sekitaran situ nggak dapat ibunya anak-anak nya malah yang jadi jodoh hebat mbak Rositi ini buat cerita
2024-01-25
0