Anjar : Assalamualaikum, Mbak. Mbak, ... Mamak sudah enggak ada.
Membaca pesan dari sang adik, kedua mata Aini langsung terasa panas. Tubuhnya pun serasa dipanggang dan perlahan gemetaran. Satu, dua, bahkan akhirnya tak terhitung, butiran bening berjatuhan dari kedua sudut matanya.
Anjar : Mbak, tolong usahakan pang, yah, Mbak. Mas Jaka ngamuk terus. Aku takut, Mbak. Aku takut khilaf terus bunu*h dia. Dia yang sudah bikin Mamak pergi untuk selama-lamanya! Aku dendam, Mbak!
Detik itu juga, dunia Aini seolah berputar lebih lambat. Kedua mata Aini refleks terpejam erat, meski detik itu juga ingatannya membuat wanita itu tertarik ke masa lalu. Awal mula pertemuannya dan Brandon.
Kala itu, Aini yang cerdas sekaligus berprestasi dan memiliki paras cantik hingga membuatnya mendapatkan sebutan kembang desa. Dengan cepat Aini dan Brandon dekat karena meski Brandon tipikal sangat cuek bahkan dingin, Aini yang terbilang pendiam memiliki sifat keibuan yang tampaknya sangat Brandon butuhkan. Singkat cerita, hubungan mereka diketahui Jaka, hingga setiap mata tetangga yang sudah dihasut Jaka, menjelma menjadi mata-mata. Sampailah kabar hubungan Aini dan Brandon ke pak Safar, bapak Aini.
“Kamu, mondok malah pacaran? Mau jadi pelac*ur kamu!” Itulah komentar pak Safar ketika dengan gagah, Jaka yang memboyong kedua orang tuanya, main ke rumah orang tua Aini.
Di rumah berdinding bilik rapuh dan atapnya saja berupa genteng tak kalah rapuh hingga ketika hujan rawan bocor bahkan banjir, Aini dipaksa meminta maaf oleh sang bapak kepada Jaka dan orang tuanya. Pak Safar melakukan itu karena dirinya telanjur menerim lamaran Jaka untuk Aini, dan itu memang tanpa sepengetahuan Aini.
Namun karena Aini yang merasa tak memiliki masalah apalagi salah kepada ketiganya menolak meminta maaf, tam*paran panas langsung Aini dapatkan. Tentu, mamak Aini langsung histeris, tak terima putrinya diperlakukan begitu, meski itu oleh sang bapak. Masalahnya, mamaknya Aini juga tipikal istri tak berdaya ala-ala di sinetron yang menggambarkan kebo*do*han seorang istri yang tertindas.
Kemudian, Aini yang memang keras kepala memilih mengantongi kata maaf yang sang bapak minta. Aini memilih membawa sang mamak masuk ke ruang rumah bagian lebih dalam. Aini meninggalkan sang bapak dan juga ketiga tamu yang penampilannya necis. Malahan saking necisnya, setiap jemari tangan, pergelangan tangan, dan juga leher ketiganya, dihiasi perhiasan emas berukuran besar. Benar-benar bukan hanya ibunya Jaka yang penampilannya layaknya toko perhiasan emas keliling. Karena Jaka dan bapaknya juga iya.
Kejadian tersebut pula yang menjadi awal mula pak Safar menantang Aini, untuk membawa Brandon ke rumah. Awalnya Aini ragu lantaran sebagai wanita dan mereka pun baru dekat sekitar setengah tahun, tiba-tiba minta dilamar. Padahal, status mereka saja masih terikat dengan kegiatan di pondok. Namun, Brandon yang mengaku serius menjalin hubungan dengan Aini, menyanggupi hingga terjadilah pertemuan itu tepat mereka sama-sama libur, satu minggu berikutnya. Meski karena pertemuan itu juga, hubungan mereka dipak*sa untuk berakhir.
Kini, Aini yakin, alasan sang mamak meninggal karena ulah Jaka yang memang keterlaluan. Jaka yang memang tak segan main tanga*an bahkan itu kepada mamak Aini yang sudah komplikasi dan bentar-bentar harus berobat semenjak bapak Aini meninggal. Pantas jika Anjar adik Aini berdalih ingin membun*uh Jaka.
Masalahnya, di kampung Aini tak ada satu pun yang berani kepada Jaka. Status sosial Jaka membuat semuanya takut kepada pria itu. Karenanya, Aini yang sudah berulang kali menolak Jaka, tak ubahnya musuh mereka. Terlebih, gara-gara bapaknya yang dulu sudah banyak memakan uang so*gokan Jaka agar Aini mau menikah dengan Jaka, Aini terikat banyak hutang kepada Jaka. Padahal gara-gara kenal dengan Jaka juga, bapak Aini jadi kecan*du*an jud*i sekaligus mab*uk-mabu*kan.
“Mamak saya meninggal, Bu.” Tak mau membuat sang adik berjuang sendiri, Aini yang masih belum bisa menyudahi air mata apalagi kesedihannya, sudah langsung menghadap ibu Elena.
“Innalilahi ... meninggal gimana, Ni? Itu beneran?” ibu Elena benar-benat syok. Ia turut bersedih. Pelukan yang ia lakukan juga bagian dari kelembutan hatinya yang sudah ikut berduka atas duka yang Aini sampaikan.
“Apakah ini juga bagian dari jawaban untuk doaku? Doa agar aku diberi jalan keluar dari cinta beda kasta antara aku dan mas Brandon? Namun, kenapa harus lewat kepergian Mamak? Mamak bahkan belum sempat melihat kesuksesanku seperti yang terakhir kali aku janjikan sebelum perpisahan kami,” batin Aini makin tersedu-sedu hanya karena dipeluk hangat oleh ibu Elena layaknya sekarang. Malahan ibu Elena juga yang menjawab telepon dari Anjar. Anjar masih mengabarkan mengenai kematian sang mamak.
“Jaka melarang semua orang membantu mengurus Mamak, Mbak. Mamak dilarang dikubur di sini bahkan desa sebelah jika Mbak enggak nikah dan jadi istri ketiga Jaka!” Dari seberang, suara Anjar tersedu-sedu dan sangat emosional.
“Hah ...? Ini kenapa, Ni?” lirih ibu Elena terheran-heran.
“Jaka, aku benar-benar dendam ke kamu. Malahan aku bersumpah, dengan kedua tanganku, aku akan membu*n*uhmu!” batin Aini benar-benar dendam.
***
Kedatangan Brandon yang memakai pakaian serba panjang warna hitam, langsung mengejutkan ibu Elena yang pemuda itu temui di dapur.
“Brand ... gimana, kamu sudah mendingan? Apa mau rawat inap saja biar penyembuhannya lebih cepat? Oh iya, memangnya Tera belum sampai rumah? Pamitnya mau ke kamu, tahu kan, Tera enggak bisa jauh lama-lama dari kamu,” lembut ibu Elena kepada Brandon yang juga memakai topi hitam, selain masker yang masih berwarna senada hingga hanya mata dan sebagian dahi pemuda itu saja yang terlihat.
Namun, ibu Elena melihat banyak cacar yang sudah menghiasi dahi bahkan kelopak mata Brandon. Bisa wanita itu pastikan, cacar-cacar itu sudah sangat membuat calon menantunya sangat tidak nyaman.
Sementara alasan ibu Elena langsung bisa mengenali bahwa yang mendatanginya Brandon, bukan Boy, meski keduanya kembar, tak lain karena dari sikap saja sudah sangat berbeda. Sebab berbeda dengan Brandon yang memang dingin bahkan garang bahkan kepada orang yang lebih tua, Boy tipikal yang sangat hangat hangat bahkan humoris.
“Saya bukan cari Tera, Tan. Saya cari Aini karena setelah saya cari ke rumah yang nantinya akan saya dan Tera tempati setelah kami menikah, di sana tidak ada. Padahal saat membawa Aini, Tera izinnya akan membawanya ke sana!” lirih Brandon susah payah menahan emosinya. Terlebih gara-gara ia tidak menemukan di calon rumah bersamanya dengan Tera, baginya itu sudah sangat membuang-buang waktu.
Disinggung Aini, yang langsung memenuhi pikiran ibu Elena ialah kematian mamak Aini yang sampai ditolak dimakamkan di desanya sendiri gara-gara Jaka. Karenanya, ibu Elena sampai meminta pihak keluarganya yang kebetulan tinggal tak begitu jauh dari kampung Aini, untuk bantu mengurus.
“Tadi Tante sudah langsung pesan tiket kereta biar Aini lebih cepat sampai. Tante juga sampai ikut antar ke stasiun, soalnya Aini kelihatan ... ya gitu, sedih berat banget ....”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
lha.. Brandon telat.. Aini udah pulkam tuh
2024-07-31
0
Firli Putrawan
yah s tera kmn s aini udah plg makin kacau s brandon
2023-11-23
2
Ainisha_Shanti
semoga Tera tak jadi bunuh diri. kasihan buk Elena kalau Tera betul2 jadi bunuh diri.
2023-10-10
2