“Kisah kita memang sudah usai, tapi bukan berarti aku tidak mengizinkanmu bahagia bersama yang lain. Malahan aku merasa sangat bahagia karena pada akhirnya, kamu akan bersanding dengan wanita sangat cantik yang juga satu level denganmu. Kalian sama-sama good looking, kalian sama-sama kaya.” Dalam hatinya, Aini yang tengah menyusun aneka souvenir pernikahan Brandon dan Lentera, dengan berlapang dada mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan calon pengantin tersebut, meski kebahagiaan keduanya membuat hatinya rem*uk.
“Maaf karena di masa lalu, kelakuan bapakku sudah sangat melukaimu. Maaf karena saat itu, aku gagal membuatmu untuk tidak merasakan semua penghinaan itu. Doa terbaikku selalu menyertaimu, meski bahagia apalagi cintamu tak lagi membutuhkanku, Mas,” batin Aini lagi dan kali ini, air matanya benar-benar berjatuhan.
Beberapa butiran bening yang mengalir dari kedua sudut mata Aini, tak hanya mengenai sepasang angsa merah hati terbuat dari handuk, di kotak warna keemasan yang tengah Aini susun. Karena air mata Aini juga turut mengenai sepasang cangkir bercorak angsa merah yang ada di antara angsa. Itu merupakan salah satu souvenir yang sedang Aini dan rekannya susun. Beruntung, kenyataan Aini yang menunduk, juga mereka semua yang fokus pada susunan masing-masing, ditambah alunan musik kpop yang disetel nyaring, membuat yang lain tak menyadari kepedihan hati Malini.
Hati Aini hancur sehancur-hancurnya lantaran pemuda yang Aini perjuangkan selama delapan tahun terakhir dan mereka benar-benar belum ada kata putus, justru akan menikah dengan wanita lain. Apesnya, niat hati mengadu nasib di Jakarta guna melunasi hutang-hutangnya di kampung halaman akibat perjuangan cintanya kepada sang kekasih, kini Aini justru menjadi pembantu di rumah sang kekasih yang tengah menyiapkan persiapan pernikahan tahap akhir, bersama wanita lain. Lebih mengerikan lagi, Brandon sang kekasih memperlakukannya dengan penuh kebencian. Brandon yang dulu perhatian dan akan memperlakukannya dengan sangat manis, kini malah memperlakukannya dengan sangat bengis.
“Kamu bude*g apa bagaimana? Tahu bos pulang tetap saja diam mirip tugu pancoran!” lantang Brandon meledak-ledak kepada Aini yang tengah menyiram taman depan rumah dan posisinya ada di sudut nyaris samping rumah.
Aini yang sempat melongok, memastikan siapa yang pulang, tetap saja menyiram taman, meski tatapannya dan Brandon sudah bertemu untuk beberapa saat. Aini lah yang mengakhiri tatapannya dan memilih menunduk santun sekaligus kembali fokus menyiram.
“Maaf M—Mmm ... T-Tuan!” ucap Aini bingung, ragu, sekaligus merasa sangat takut hanya untuk memanggil Brandon.
Aini yang nyaris memanggil Brandon dengan sebutan mas, memutuskan untuk memanggil pemuda itu dengan sebutan Tuan. Sebab selain panggilan mas sudah terbiasa Aini lakukan ketika mereka masih pacaran, perlakuan bengis pemuda itu kepadanya dirasanya wajib diperlakukan lebih hormat.
Aini buru-buru mematikan keran selang tamannya. Segera ia lari menghampiri Brandon sambil mengeringkan asal kedua tangannya yang sedikit agak basah, ke lengan panjangnya. Sampai detik ini ia belum berani menatap Brandon maupun Lentera. Sementara alasan Aini tidak langsung menyambut kepulangan Brandon dan Lentera lantaran arahan yang Aini terima memang begitu.
Sore menjelang petang kali ini, Aini memang ditugasi menyiram halaman depan hingga samping, yang luasnya bisa untuk dibuat tujuh rumah di kampung Aini. Sementara yang bertugas membuka pintu, benar-benar sudah ada dan kini saja sedang lari menghampiri kebersamaan.
Makin dekat Aini dengan Brandon yang sudah kembali diceramahi oleh Lentera agar pemuda itu lebih lembut atau setidaknya manusiawi kepada Aini, jantung Aini kian berdegup kacau. Bukan karena rasa takutnya kepada Brandon, tetapi juga karena Aini terlalu cemburu kepada Lentera. Iya, rasa cinta itu tetap saja ada meski Aini sudah berusaha memadamkannya.
Aini yang masih menunduk sambil membungkuk sopan, berangsur menggerakkan tangan kanannya untuk maju. Ia akan mengambil tas kerja Brandon.
“Bersihkan dulu tanganmu agar tas saya tidak ikut ko*tor!” tegas Brandon setelah melempar sebuah sapu tangan biru gelap yang ia ambil dari saku sisi kanan jas biru gelapnya, ke wajah Aini. Ia melakukannya tanpa menatap Aini.
Santy yang menyaksikan itu dan memang harusnya dirinya yang menyambut kepulangan Brandon, langsung gemetaran menahan ketakutan. Padahal, Aini yang diperlakukan semena-mena.
“S-sayang, kamu ya! Kalau mamah papah kamu tahu, mereka pasti—” Lentera tak kuasa melanjutkan ucapannya setelah tatapan tajam Brandon juga menghunjam kedua matanya.
“Maaf Tuan ...,” lirih Aini berat sekaligus bergetar. Ia memungut sapu tangan lemparan Brandon yang telanjur jatuh ke lantai, tapi tangannya kalah cepat dari kaki Brandon yang terlebih dulu menginjak sebagian sapu tangannya.
Bingung, Aini refleks terdiam membeku dengan apa yang harus ia lakukan. Ia berakhir jongkok, tapi sesuatu yang jatuh dari samping depan dan itu keberadaan Santy, lebih mengusiknya. Tasbih bahan kayu warna merah maroon, itu tasbih milik Ainy dan kebetulan merupakan pemberian Brandon. Namun karena Aini merasa hubungannya dan Brandon sudah berakhir, Aini meminjamkannya kepada siapa pun yang ingin memakai termasuk itu Santy.
“Maaf, Ni ...,” lirih Santy yang kemudian memungut tasbihnya.
Aini tersenyum lembut kemudian kembali fokus untuk mengambil sapu tangannya. Ternyata kaki Brandon sudah mundur. Kedua kaki pemuda itu terus mundur dengan hati-hati cenderung bergetar.
“Cari apa, Mbak?” ucap suara mirip Brandon, dan wajah pun sangat mirip.
Sosok tersebut tepat ada di sebelah Aini. Bahkan wajah mereka sangat dekat. Hingga Aini yang terlalu terkejut, refleks istighfar kemudian terduduk menghindar ke belakang.
“Mbak lagi siram taman, ya? Mbak, Mbak baru, ya? Aku baru lihat. Ya sudah, siramnya dilanjut, soalnya mamah papah sayang banget sama taman di rumah.” Boy yang memang kembaran Brandon, tersenyum ramah kepada Aini, meski Aini justru terlihat ketakutan kepadanya.
Satu hal yang langsung Aini temukan sebagai perbedaan dari Boy dan Brandon, selain sifat sekaligus sikap keduanya yang bertolak belakang. Di bibir atas Boy ada ta*hi lalat kecil.
Karena sampai disuruh lagi oleh Boy, juga Brandon yang tak lagi teriak-teriak apalagi memak*i, Aini pamit undur dengan sangat santun.
“Andai, pindah dari sini semudah membalikan telapak tangan, aku pasti sudah pindah, Tuan Brandon. Iya, aku sadar, adanya aku hanya melukaimu. Namun aku janji, aku bersumpah, tak sedikit pun aku akan membagi kisah kita kepada siapa pun, apalagi orang-orang di sini. Aku akan tetap diam, seolah kita memang tidak pernah kenal,” batin Aini.
Selain harus berurusan dengan yayasan yang menyalurkannya, dan mana ganti rugi menjadi hal utama yang harus Aini lakukan jika melanggar kontrak, Aini juga sedang sangat butuh banyak uang. Dan yang paling menyeramkan melebihi makia*n Brandon, di kampung ada Jaka yang sudah memiliki dua istri, tapi terus melakukan segala cara untuk mendapatkan Aini. Terakhir sebelum nekat minggat ke Jakarta, Aini nyaris diperko*sa oleh Jaka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
SAL💞🇲🇾
sedih/Sob/
2024-10-10
1
Sandisalbiah
simalakama ya Ai.. di Bismillah in aja... semoga kedepannya sikap Brandon lebih manusiawi.. dia hanya sedang kecewa, kehadiraanmu di saat dia sudah menerima keputusan buat di jodohkan membuat hatinya jd dilema.. mungkin Brandon juga lagi merasakan seperti apa yg sedang kau rasakan sekarang Ai.. kecewa, sakit, serbah salah
2024-07-31
0
Nurhartiningsih
huh nyesek bacanya
2024-07-15
0