“Jangan dicari ... biarkan dia dengan keputusannya. Dia sudah terlalu tersiksa karena merasa menjadi penyebab dari kehilangan orang yang sangat dia cintai.” Berkaca-kaca Brandon mengatakannya.
“Orang tua kalian pasti paham. Mereka pasti akan memberikan restu andai mas Brandon jujur ....” Dari seberang, suara paman Syam terdengar jadi emosional.
“Jika dilihat dari mata kita, memang begini. Namun jika dilihat dari matanya yang paham kisah mereka, ... semuanya hanya perkara waktu. Mereka khususnya Aini sudah terlalu banyak berkorban. Aku janji, ... sampai di saat nanti akhirnya waktu membuatnya berdamai dengan kenyataan, bahwa bahagianya wanita yang dicintai tidak harus membuatnya kehilangan orang-orang yang dicintai juga seperti apa yang dialami Aini ... aku akan selalu menjadi dia sebaik mungkin!” Boy terpejam pasrah dan itu membuat air matanya berjatuhan secara bersamaan.
“Jangan pernah menyalahkan Brandon. Jangan juga menyalahkan Aini. Termasuk orang tuaku, jangan pernah menyalahkan orang tuaku untuk ini. Karena sebagai orang yang ibaratnya hanya menonton, benar-benar bukan yang menjalani, sering kali masih tetap banyak hal yang tidak kita mengerti. Karena yang menjalani saja masih sering merasa berat, apalagi kita yang tidak paham dan hanya bisa menilai? Karena sebagai kembarannya pun, aku tetap tidak bisa membuat dia nyaman. Dan ini beneran bukan perkara karena dia enggak bersyukur sudah punya aku dan keluarga kami. Mental dan hatinya enggak baik-baik saja. Dan hanya Aini sekaligus cara mereka mencintai yang mampu mengobatinya.”
“Ini memang sangat berat, tapi aku percaya, akan ada waktu untuk kami kembali bersama dalam bahagia. Aku yakin dia akan sukses, dia akan mampu membahagiakan keluarga kecilnya. Pada akhirnya dia akan menjadi orang paling bahagia. Dia sungguh akan menjadi pemenang untuk kehidupannya sendiri. Justru sekarang aku jadi iri, kenapa dia begitu keren dan bisa mengambil keputusan sebesar ini!” Boy yang meski periang tapi sangat cengeng, sampai ingusan lantaran keadaan sekarang.
“Keren apaan? Dia menumb*alkan kamu!” semprot paman Syam yang tampaknya tidak ikhlas membiarkan keluarga pak Helios bercerai berai bahkan meski untuk sementara.
“Yang berani bilang begitu hanya set*a*n, Uncleeee!” yakin Boy tersedu-sedu, tapi kali ini ia juga berangsur menyeka sekitar matanya yang basah menggunakan jemari tangannya.
“Dengan kata lain, Mas menyamakan Uncle dengan set—ah kamu!” balas paman Syam dari seberang dan dibalas tawa lepas oleh Boy.
“Hei ... kamu kenapa nangis sambil ngakak gitu?” tegur pak Rayyan yang hanya berani sedikit melongok dari balik pintu ruang VIP Lentera dirawat.
Detik itu juga Boy terdiam. Beruntung, posisinya tengah membelakangi keberadaan pintu dan Boy yakini menjadi tempat calon mertua Brandon yang otomatis menjadi calon mertuanya.
“Oke ... oke. Pokoknya seperti tadi, sesuai rencana.” Boy sengaja mengakhiri sambungan teleponnya dan tak lupa melayangkan salam kepada paman Syam.
“Ini makin aneh, sekelas Brandon menangis. Dia Brandon, bukan Boy ...,” batin pak Rayyan makin terheran-heran.
Ditatap curiga oleh pak Rayyan yang memang rese karena dendam masa lalunya kepada pak Helios yang belum juga kelar, Boy jadi tegang. Segera ia bersikap dingin dan hanya sedikit mengerakkan bibir sebagai senyum andalan dari seorang Brandon.
“Eh, berubah lagi. Ini Brandon ...,” pikir pak Rayyan yang buru-buru mundur. “Tera siuman, yang langsung dia cari kamu. Dia mengira kalian kecelakaan bersama karena dia sungguh melupakan kejadian satu bulan ke belakang.” Kali ini ia berusaha tenang karena tak mau dimarahi sang istri. Namun tentu saja, setelah mengatakan apa yang harus ia katakan dan itu menjadi alasannya mencari Brandon, ia buru-buru pergi masuk.
Pak Rayyan tetap menjaga jarak dari Boy, sambil wanti-wanti agar pemuda itu jauh-jauh dari anak dan istrinya.
“S-sayang, kamu sakit apa?” lembut Lentera yang sekadar bersuara saja masih sangat lemah.
“Tetap jaga jarak, Brandon sedang cacar. Enggak lucu kalau pas hari pernikahan kalian, kalian jadi pengantin cacar!” tegur pak Rayyan.
Karena suaminya terlalu berisik, ibu Elena memilih pamit, membawanya pergi keluar. Agar Lentera juga bisa hanya berdua dengan Brandon tanpa peduli apa yang akan keduanya lakukan, termasuk itu berdekatan bahkan ... berse*ntuhan.
Setelah sama-sama melepas kepergian orang tua Lentera yang diwarnai protes pak Rayyan, juga bujuk rayu dari ibu Elena yang begitu sabar, dunia Boy maupun dunia Lentera, seolah mendadak berputar lebih lambat. Apalagi ketika tatapan mereka akhirnya bertemu. Boy dengan rasa bersalahnya karena sandiwaranya yang juga membuat pemuda itu merasa sangat canggung kepada Lentera. Juga Lentera yang dibingungkan kenapa dadanya tidak berdebar-debar padahal di hadapannya sudah ada Brandon.
“Biasanya tidak begini, ... tapi mamah bilang, aku melupakan kejadian satu bulan ke belakang gara-gara kecelakaan yang aku alami. Namun, bisa jadi juga, sebelum kecelakaan, kami sempat bertengkar,” pikir Lentera yang baru juga menduga begitu, benaknya mendadak dihiasi kebersamaan Aini dan Brandon ketika Aini menjaga Brandon yang sedang sakit, tapi saat itu, Brandon begitu manja kepada Aini.
Bersama kejadian tersebut yang Lentera lihat dalam wujud hitam putih, dan sosok wanitanya juga wajahnya tidak jelas, telinga Lentera juga berdengung tidak jelas. Gadis itu meringis kesakitan, hingga Boy yang memang sangat peka refleks mempertanyakannya.
“Ra ...?”
“Aku enggak bisa menghentikan suara dengungannya. S-sakit ....”
“Suara dengungan bagaimana?” Boy refleks maju.
“Telingaku berdengung, sementara di ingatanku, aku lihat kamu sedang ... manja kepada wanita lain.” Mengatakan itu saja, kedua mata Lentera yang menatap Boy, sudah langsung basah.
Boy yang tidak tega refleks mendekat hingga mereka benar-benar tak berjarak. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membekap kedua telinga Lentera. Awalnya ia membungkuk tapi perlahan duduk tanpa berani menatap kedua mata Lentera lagi. Sebab cara Lentera menatapnya seolah wanita itu menemukan perbedaan antara Boy dan Brandon. Karena seperti yang Boy sadari sebelumnya, meski dirinya dan Brandon kembar, mereka tetap orang yang berbeda. Ditambah lagi, Lentera sudah bucin dari kecil kepada Brandon. Boy yakin, Lentera menjadi orang paling paham terhadap perubahan Brandon meski sedikit.
“Kenapa kamu lihat aku begitu banget?” lirih Boy sambil melirik Lentera yang kepalanya masih diperban.
“Enggak tahu ...,” jujur Lentera masih menatap saksama setiap inci wajah pemuda di hadapannya dan jadi tidak mau menatapnya dalam waktu lama. Boy hanya sesekali meliriknya.
“Karena aku sedang kena cacar?” lanjut Boy lirih, masih menebak-nebak. Melalui lirikannya, ia mendapati Lentera yang akhirnya menggeleng, meski tatapan tak yakin masih menjadi tatapan yang gadis itu berikan kepadanya.
“Boleh peluk, enggak?” lirih Lentera.
Boy yang tidak mungkin menolak apalagi Lentera masih terlihat sangat lemah penuh perban, refleks menatap Lentera dengan tatapan teduh. “Aku ... cacar ...?”
Lentera yang masih menatap dalam kedua mata Boy, berangsur menggeleng. “Enggak apa-apa.” Padahal dalam hatinya, Lentera makin sibuk bertanya-tanya, kenapa dadanya tak kunjung berdebar padahal laki-laki yang sangat ia cintai, sudah ada di depan mata?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
itu krn mereka satu visual tp beda jiwa raga, Tera....
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
semoga sebelun menikah boy sudh jujur
2024-07-10
0
Danny Muliawati
jujur aza boy biar aman walau kejujuran itu menyakitkan
2024-01-13
3