“Percayalah, sampai kapan pun, musuh terbesar kita bukan lah orang lain. Benar-benar bukan mereka yang kita anggap lebih atau malah tak ada apa-apanya dari kita. Karena musuh terbesar kita, adalah diri kita sendiri.”
“Seberapa berhasil kita menekan ego kita, itu akan menjadi penentu keberhasilan kita dalam menjalani setiap hal dalam hidup kita.”
“Jadi, jika kamu tetap melanjutkan rencanamu, bukan hanya kamu maupun hubungan kamu dan Brandon yang hancur, tapi juga dengan hubungan orang tua kalian.”
“Kamu tahu bagaimana sifat Brandon. Bahkan karena itu juga, dia lebih memilih masa lalunya yang baginya jauh akan lebih membuatnya bahagia. Meski dia sadar, masa depan yang sudah setia kepadanya, berkali-kali lipat lebih unggul dari masa lalu yang akan menimbulkan banyak luka, jika dia benar-benar memperjuangkannya.”
“Kamu cantik, kamu berpendidikan, kamu pintar, dan kamu punya segalanya. Namun jika kamu tidak bisa mengendalikan ego kamu, apa yang kamu miliki benar-benar tidak ada artinya.”
“Logikanya, meski aku tidak cerita, orang rumah bahkan mamahnya tahu, kamu yang membawaku. Hanya karena ini saja, Brandon sudah akan mengamuk.” Aini mengakhiri ucapannya dengan terus bersikap tenang.
Lain dengan Aini, di tengah suasana dalam mobil yang diselimuti kegelapan, Lentera yang duduk di tempat duduk penumpang bagian tengah, justru sangat tidak bisa tenang.
“Ya Allah ... aku sayang banget ke Brandon. Aku cinta banget ke dia. Aku beneran hanya butuh dia. Bahkan andai dia enggak cacar dan aku enggak dilarang dekatin dia, ... aku beneran pengin banget peluk sekaligus rawat dia!” batin Lentera.
Lentera menyadari, mengakui bahwa semua yang Aini katakan benar. Masalahnya, Lentera sengaja menahan Aini karena ia terlalu bingung bagaimana membuat Brandon agar calon suaminya itu tetap memilihnya.
Terlepas dari semuanya, sopir yang membawa mereka benar-benar bingung dengan maksud Aini berucap panjang lebar layaknya tadi, selain Aini yang tak sampai menyebut Lentera maupun Brandon dengan panggilan khusus. Seolah, Aini dan keduanya memiliki hubungan khusus. Yang mana Aini merupakan masa lalu Brandon.
“Masa sih? Kok bisa?” pikir sang sopir yang diam-diam jadi memerhatikan Aini maupun Lentera melalui kaca spion yang ada di atasnya.
Dirasa sang sopir memang ada yang tidak beres. Seolah, semua yang dikatakan Aini memang benar. Bahwa meski Aini merupakan masa lalu Brandon, meski Aini tidak jauh lebih baik dari Lentera, baik dari segi fisik, pendidikan dan juga status sosial, termasuk kekayaan, Brandon tetap akan memilih Aini karena Aini jauh lebih membuatnya nyaman.
Di tempat beda, di dalam kamarnya, Brandon yang merasa sangat tidak karuan akibat sakitnya, terbangun dan berangsur duduk.
“Duh ... ini enggak ada orang apalagi Aini, ya?” lirih Brandon yang kemudian menghela napas sekenanya.
Tubuh Brandon yang kembali terasa meriang sekaligus demam tinggi, sudah kuyup keringat. Brandon mulai merasa frustrasi. Karena di saat sakit layaknya kini, yang ingin ia lakukan justru bermanja-manja kepada Aini lagi. Masalahnya, situasinya sangat tidak mungkin. Tak sekadar karena situasi sudah malam. Sebab status mereka juga membuat mereka harus tetap menjaga jarak.
“Lagian, sepertinya Aini sudah tidur. Seharian ini saja, Aini sampai tidak makan hanya untuk menjaga sekaligus mengurusku.” Brandon makin merasa frustasi. “Sakit begini jadi enggak leluasa. Mau ngomong ke papah mamah pun lagi-lagi wajib ditunda. Bukan semata karena sakitku. Karena suaraku saja sampai habis beneran enggak tersisa,” batinnya lagi.
Tak mau merepotkan Aini lagi meski Brandon sangat merindukannya, pemuda itu memutuskan untuk meminum sisa obatnya yang menghiasi kotak khusus. Masih ada tiga jatah obat, dan ia meminumnya satu bagian.
“Sekangen ini ... semoga cepat pagi, biar aku bisa melihat bahkan bersamamu lagi, Ni. Tidur nyenyak, ya!” batin Brandon.
Membayangkan bayang-bayang Aini yang seharian menjaganya saja, Brandon merasa sangat bahagia. Senyum tulus terus menghiasi wajah tampannya yang kini sangat pucat penuh bulir keringat.
“Bismilah, besok dilancarkan. Biar aku juga bisa menebus semua kesalahanku. Biar aku bisa fokus membahagiakan kamu,” batin Brandon lagi.
Kini, tiba-tiba saja ingatan Brandon dihiasi pengakuan Aini, siang tadi.
“Saat itu, aku memang hampir dinikahkan secara paksa oleh bapak, dengan Jaka. Namun saat menjelang ijab kabul, aku berhasil kabur. Menggunakan kebaya pengantin, aku sudah berhasil kabur ke pesantren. Aku sengaja cari Mas, tapi katanya Mas enggak ada. Terus, aku cari Mas ke bengkel Mas kerja, ... di sana pun Mas enggak ada. Malahan ada yang bilang kalau Mas pergi ke Jakarta.”
“Masalahnya, belum sempat memastikan lagi, orang-orang Jaka yang datang menyusul dan akhirnya menemukanku, mengabarkan bahwa bapak pingsan ....”
“Bapak berakhir meninggal karena terkena serangan jantung. Efek aku kabur. Namun sebelum meninggal, bapak menjalani pengobatan intensif di rumah sakit dan menghabiskan biaya tidak sedikit.”
“Jaka dan keluarganya menawarkan pernikahan sebagai barter. Mereka berdalih akan melunasi semua biaya rumah sakit termasuk biaya pemakaman maupun semuanya, asal aku mau menikah dengan Jaka.”
“Namun karena aku menolak, mereka sengaja menjeratku dengan pinjaman berbunga besar. Aku yang tidak memiliki pilihan lain, terpaksa menerima pinjaman berbunga itu hingga aku terlilit banyak hutang.”
“Delapan tahun berlalu, Jaka sudah memiliki dua istri, tapi dia masih berusaha menikahiku mengandalkan pinjaman yang aku lakukan dan sampai sekarang masih aku cicil.”
“Terakhir, alasanku ke Jakarta juga masih karenanya.”
Cerita yang Aini kabarkan kepada Brandon, hanya sampai itu. Sebab meski Brandon menanyakan secara detail bahkan memaksa, Aini tidak mau cerita. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi suatu saat nanti, bahkan bila perlu secepatnya, Brandon akan membuat pembalasan secara khusus kepada Jaka.
“Ya sudah Ni ... sekarang aku sudah minum obat. Aku mau istirahat lagi, biar besok bisa urus hubungan kita. Bismillah, ke depannya, kita akan selalu bersama-sama, Ni. Amin,” batin Brandon yang berangsur meringkuk di tengah kedua matanya yang sudah sepenuhnya terpejam.
Di tempat beda, mobil yang membawa Aini maupun Lentera, akhirnya berhenti. Mobil mereka sudah ada di depan garasi sebuah rumah megah dan besarnya tidak lebih besar dari kediaman orang tua Brandon.
Yang Aini tahu, itu rumah orang tua Lentera. Lentera membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Aini tidak dibawa ke rumah yang nantinya akan ditempati Brandon dan Lentera setelah keduanya menikah, seperti izin yang Lentera minta kepada ibu Chole.
Seseorang ART sudah keluar sekaligus mengambil tas maupun tempat bekal Lentera.
“Mbak, bawa Mbak ini tidur sama kalian, ya.” Lentera langsung pergi begitu saja. Suasana hatinya yang telanjur babak belur membuatnya tidak bisa bersikap selayaknya.
Aini ditatap penuh tanya oleh ART bernama Marni itu. “Mbak baru, yah, Mbak? Apa dari kantor?”
Aini yang tak kalah bingung berkata, “Dari rumah mas Brandon.”
“Oh ... ya sudah, ayo ikut saya.” Marni berjalan lebih dulu dan Aini segera mengikuti.
“Entah apa yang akan terjadi. Dalam dua hari, aku sudah dipindah ke dua rumah berbeda. Bismillah,” batin Aini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Lentera salah mengambil langkah.. krn kalau sampai Brandon tau ulahnya ini maka akibatnya justru akan fatal buat hubunganya.. niatnya ingin menjauhkan Aini utk menyelamatkan hubunganya dgn Brandon tp justru ulahnya ini akan membuat hubungan mereka berada di ujung anduk
2024-07-31
0
Ida Ulfiana
lentera cari masalah
2024-07-10
0
Aielis Aielis
cukup menghibur.ceritanya tergolong ringan.
2024-01-30
2