Setiap waktu yang mereka lalui tetap terasa sangat menyakitkan. Mereka tetap merasa tersiksa, meski kini mereka sudah bersama, selain mereka yang juga sudah mengetahui kebenaran mengenai kisah mereka.
Yang membuat Brandon semakin sakit, tak semata Aini yang tetap tidak mau memeluknya. Karena sepanjang kebersamaan mereka, Aini juga tak sedikit pun meliriknya. Wanita itu tak ubahnya patung yang dengan sengaja menyembunyikan setiap lukanya tanpa mau membaginya apalagi kepadanya.
Brandon berpikir, alasan Aini begitu dan sangat menjaga jarak darinya, semata-mata karena status mereka. Bukan semata pernikahan yang harus Brandon jalani. Karena perbedaan status sosial mereka dirasa Brandon telah melukai mental Aini.
“Maaf untuk semuanya ....”
“Namun mulai sekarang, kamu cukup percaya kepadaku. Beri aku kesempatan untuk menyelesaikan semua ini.” Brandon memohon, terus begitu, tapi Aini tak sedikit pun terusik.
Tak ada sedikit pun suara lain, selain deru napas maupun detak jantung mereka. Aini yang masih berlinang air mata, juga tak sedikit pun melirik Brandon. Termasuk ketika Brandon berusaha meraih jari kelingking Aini. Tak hanya jari kelingking tangan kanan Aini, tapi juga dengan jari kelingking tangan kiri wanita itu yang tak Aini izinkan diraih Brandon. Brandon tak memiliki cara untuk mengikat Aini. Namun, Brandon tak menyerah. Pemuda itu berangsur berlutut bahkan itu di lantai kamar mandi yang biasanya akan membuat Brandon jij*ik.
Sempat merasa sangat sakit atas kegigihan usaha Brandon, Aini yang tidak mau mengorbankan kebahagiaan yang sudah ada dan itu kebahagian Brandon maupun Lentera sekeluarga, memantapkan diri untuk pergi dari sana. Aini meninggalkan Brandon begitu saja.
Aini sadar, apa yang ia lakukan kepada Brandon sudah sangat keterlaluan. Aini merasa dirinya sangat jahat. Akan tetapi jika melihat situasi, Aini merasa, keputusannya menutup kisah mereka dan membiarkan Brandon melangkah bahagia bersama Lentera, akan jauh lebih membuat Brandon sekeluarga bahagia.
***
Keesokan harinya, semuanya jadi langsung tidak baik-baik saja karena kabar sakitnya Brandon. Pemuda itu jatuh sakit dan segala penyakit dirasakan jadi satu. Dari radang tenggorokan, demam tinggi, juga gejala tifus dan cacar.
“Kamu yang namanya Aini? Bawa ini ke kamar mas Brandon. Hari ini dia tidak kerja karena sakit. Jadi, hari ini tugasmu khusus urus dia. Kompres yang rutin. Cek suhu tubuh, pastikan dia istirahat sekaligus makan dan minum cukup. Nanti bikin sup pir atau yang dikukus pakai jahe. Resep bisa cek buku resep, semuanya ada,” ucap pak Helios sudah rapi dan memang akan langsung bekerja.
“Ini terus Mamah gimana, Pah?” sergah ibu Chole yang baru beres menyusun bekal untuk setiap anggota keluarganya.
Yang Aini tahu dari para rekan ART dan sudah lama bekerja di sana, sesibuk-sibuknya ibu Chole, wanita itu akan selalu menyiapkan bekal untuk anggota keluarganya, khususnya di hari kerja.
“Mamah gantiin kerjaan Brandon,” balas pak Helios masih lembut sekaligus tenang.
“Masalahnya Brandon tipikal yang jarang sakit, tapi sekali sakit, mirip langsung sakaratul maut, Pah.” Ibu Chole benar-benar khawatir.
“Ya makanya, tadi Papah sudah bilang ke Aini. Lagian kan, nantinya dia juga yang ikut ke Brandon. Biar mereka terbiasa,” yakin pak Helios lagi.
“Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu langsung telepon Ibu yah, Ni. Kalau mas Brandon enggak mau rutin minum dan sebagainya. Suhunya juga wajib dicek tiga puluh menit sekali ....” Ibu Chole berbicara panjang lebar. Seperti biasa, ibu Chole melakukannya sambil menggenggam kedua tangan Aini, apalagi kini wanita itu benar-benar memohon.
Ibu Chole benar-benar menjalani peran seorang mamah dengan sangat baik. Meski dirinya tidak bisa mengurus sang putra yang sakit, secara langsung karena harus mengurus kesibukan di kantor menggantikan Brandon, ibu Chole menugaskan seseorang secara khusus. Tentunya, kenyataan ibu Chole yang akan selalu siaga memantau perkembangan Brandon, juga turut diapresiasi.
“Mas Brandon mendadak sakit gara-gara hubungan kami? Kenapa juga harus aku? Kenapa bukan calon istrinya saja agar mereka jauh lebih dekat?” pikir Aini. Ia memang sangat khawatir kepada keadaan Brandon. Hatinya langsung terluka hanya karena mendengar kabar sakitnya. Masalahnya, Aini jauh lebih takut keadaan kini menjadi awal mula mereka melukai Lentera sekeluarga.
Sekitar lima belas menit kemudian, Aini membawa nampan berisi sup, dan juga paket komplit sarapan. Pintu kamar Brandon dalam keadaan tidak dikunci, selain ketukan maupun salam Aini yang tak kunjung dijawab. Hingga Aini masuk ke kamar itu dengan sangat hati-hati.
Suasana rumah sudah mulai kembali sepi karena penghuni rumah sudah pergi ngantor sejak pagi, sebelum bekal makanan yang diurus ibu negara di sana, beres. Tinggal ibu Chole yang masih belum berangkat dan masih dalam tahap siap-siap. Yang mana, kabarnya, biasanya ibu Chole juga yang memboyong semua bekalnya.
“Aku cacar loh ... jangan dekat-dekat.”
“Siapa yang suruh kamu ke sini?”
“Ssttt! Enggak jelas banget!”
“Sudah, taruh situ saja, nanti aku ambil sendiri.” Brandon yang memaksa dirinya untuk duduk demi mengusir Aini, refleks memejamkan kedua matanya sembari menahan rasa dongkol atas kenyataan sekarang. Sebab Aini yang sempat berhenti akibat larangannya, nekat maju.
Suasana kamar Brandon sangatlah gelap. Tak ada cahaya dari sana hingga Brandon yang memang memiliki kulit putih bersih dan wajahnya pucat, jadi mirip vampir.
“Gordennya jangan dibuka, silau. Begini saja. Kalau kamu memang mau rawat aku, tolong jangan bikin aku makin setres.” Brandon kembali banyak bicara tapi tak ada satu pun yang Aini patuhi, meski semua ucapannya merupakan larangan.
Aini yang masih diam, tak hanya membuka gorden, melainkan juga semua jendela bahkan pintu menuju balkon.
Kemudian, remote AC yang ada di kasur Brandon juga menjadi tujuan Aini. Mesin pendingin ruangan itu sengaja Aini matikan. Membiarkan udara pagi yang sudah dihiasi hangatnya mentari, menghiasi di sana. Meski karena ulahnya itu, Brandon tampak makin jengkel kepadanya. Tentunya, jengkelnya Brandon kali ini, berbeda dari ketika awal mereka kembali bertemu.
Datangnya ibu Chole di sana, langsung mengapresiasi kinerja Aini. “Ibu baru mau bilang, buka semua jendela sama pintu. Ini seprai dan semuanya juga diganti.”
Ibu Chole benar-benar cerewet. Kebiasaan seorang ibu jika anak-anaknya sakit. “Kalau ada apa-apa, beneran langsung kabari, yah, Ni.” Ia meninggalkan Aini yang mengantarnya hingga depan pintu kamar Brandon.
“Kunci pintu kamarnya,” pinta Brandon ketika akhirnya Aini kembali dan suara sang mamah tak terdengar lagi.
Kali ini Aini menurut. Ia tak ingin Brandon terlalu pusing mengaturnya karena yang harus pemuda itu lakukan benar-benar istirahat total agar secepatnya sembuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Hijrah Viaa
ini cerita bagaimana org pesantren umi bercadar tapi melakukan kontak fisik yg bukan muhrim apa sy yg ngga mudeng ya sama ceritanya 🤨
2024-03-06
5
Firli Putrawan
fokus aja sm cerita g masalah nama apa sebutan kl orang lg nulis atau ngetik D HP kdg jg salah yg keluar bahasanya beda
2023-11-23
3
Fida
mulai
2023-11-22
0