Pernikahan Alysa Lien dan Lin Feng telah terjadi lebih dari lima tahun. Saat itu umur Lin Feng masih begitu muda. Atas kehendak orang tua Lin Feng sendiri, Alysa menyetujui pernikahan tersebut. Lain halnya dengan Lin Feng yang tidak tidak peduli dengan apapun.
Sebenarnya mereka juga sudah dijodohkan oleh orang tua sejak kecil. Hanya saja kematian kedua orang tua Alysa yang meninggal terlebih dahulu, membuat orang tua Lin Feng khawatir.
Niat pernikahan pun bukan demi harta. Namun karena sebuah sumpah antara kedua keluarga. Jika ada keturunan dari mereka yang lawan jenis, maka harus dinikahkan. Selain itu, Alysa saat itu juga membutuhkan banyak uang untuk membuat perusahaan yang dipegangnya tetap berdiri. Itu demi semua karyawan perusahaan.
Sekarang perusahaan milik keluarga Lin telah berada di pihak lain. Orang yang datang menjadi asisten rumah tangga. Namun menanjak menjadi keluarga dan akhirnya menguasai seluruh harta kekayaan sang majikan.
Perusahaan yang dipimpin oleh Alysa saat ini sedang terancam bangkrut. Itu terjadi karena adanya orang-orang tamak. Terjadi penggelapan dana dan beberapa faktor. Selain itu, keluarga Alysa pun hidup dengan mewah. Hidup selalu bergelimang harta, tidak mau berusaha. Mereka tidak bekerja dan melimpahkan semuanya pada Alysa.
Saat keadaan terpuruk, bahkan mereka tidak peduli dengan perusahaan. Malah berusaha menjual Alysa pada pria kaya. Tidak peduli pria beristri atau pria tua bangka. Yang penting mereka dapat menikmati hidup mewah.
"Akhirnya selesai mandi. Ke mana Lin Feng pergi? Apa belum kembali?" Alysa keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk. Ia memeriksa lemari dan menemukan pakaian Lin Feng. Ia mengambil pakaian pemilik apartemen.
Ia mengenakan kaos dan celana training. Lalu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer yang masih berada di dus. Ia tidak tahu mengapa ada hal kebetulan seperti itu. Ia akan minta izin nanti setelah pemiliknya pulang.
"Ah, lapar. Ngantuk juga. Mau tidur atau makan dulu? Apa di kulkas ada bahan makanan?" Kalau tidur, hari belum terlalu malam. Langsung saja ia keluar dari kamar menuju ke dapur.
Di dapur pun sangat tapi dan bersih. Tidak ada sampah berserakan. Tidak seperti dahulu, ia sering melihat bungkus mie instan dan bungkus makanan. Karena saking malasnya, dulu tidak ada apapun.
Di dalam lemari es, ada sayuran, buah dan daging. Hal itu membuat Alysa merasa senang akan hal itu. Setidaknya suaminya telah berubah. Meski hanya suami dalam hukum negara dan agama.
Lima tahun mereka menjadi pasangan suami dan istri. Bertemu pun hanya seperti teman saja. Yang berbeda, Alysa yang menghidupi Lin Feng selama ini. Untungnya sifat Lin Feng tidak tamak seperti keluarganya. Sehingga tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Ia hanya memberi kebutuhan yang diperlukan.
Pakaian Lin Feng dan barang-barang di dalam apartemen hanyalah barang biasa. Bukan barang-barang yang dibeli dengan harga mahal. Dengan adanya bahan makanan, tidak perlu lagi pesan online.
"Alysa, aku sudah pulang. Apa kamu sedang memasak? Aku membawa pakaian dalam untukmu. Bukankah kau harus ganti?" Lin Feng meletakan pakaian yang dibelinya di sofa. Lalu berjalan menuju ke dapur.
"Heh, sudah pulang? Maafkan aku memakai dapurmu. Aku memakai pakaianmu dan pengering rambut yang belum dipakai." Alysa melanjutkan memasak. Memotong sayuran yang telah dicuci.
"Tidak apa-apa. Kamu pakai saja. Saya belikan pakaian untukmu. Kamu bisa memakainya besok. Sekarang pakai itu saja, hehe."
Lin Feng tahu, Alysa tidak mengenakan pakaian dalam. Sehingga hanya mengenakan kaos dan celana training. Sebuah kesempatan baginya untuk melihatnya langsung. Apalagi saat Alysa berbalik. Disitu ia melihat sesuatu yang menonjol di kaus yang dipakai Alysa.
"Kamu membelikan aku pakaian? Nanti aku ganti uangnya. Atau kamu bisa ambil sendiri di tas, di atas meja. Sisakan beberapa lembar untukku. Jangan diambil semuanya."
"Aku tidak mengambil uangmu. Em, tapi kalau kau memberikan aku modal, pasti akan ku kembalikan berkali lipat." Lin Feng berbicara sambil menatap bagian belakang Alysa.
Tubuh wanita berusia dua puluh lima tahun di depan mata Lin Feng memang bagus. Pria manapun pasti tertarik pada wanita seperti Alysa. Tak heran banyak pria yang menginginkan tubuhnya. Tak sedikit dari mereka yang membayangkan bisa tidur bersamanya.
"Bagus, bagus. Tapi kalau bisa diperbesar sedikit lagi, pasti lebih sempurna, hemm," gumam Lin Feng mengamati Alysa. Ia tak berhenti mengamati dan membayangkan sesuatu yang membuat bahagia.
"Apanya yang diperbesar? Apakah sayuran ini perlu besar-besar?" tanya Alysa yang memperlihatkan kol yang besar ke arah Lin Feng.
Lin Feng yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya, membuat Alysa tersadar. Yang dimaksud adalah sesuatu yang lain. Barulah saat Alysa melihat ke bawah, ia menyadari dia tidak memakai pakaian dalam dan di kaosnya tercetak sepasang tonjolan kecil.
"Aaahh, Lin Feng! Kamu mesum!" pekik Alysa. Ia tidak mengira, kaos yang diambil secara acak malah memperlihatkan sesuatu yang tidak semestinya. "Jangan lihat! Jangan lihat! Mesum!"
"Eh, eh. Jangan keras-keras teriaknya. Kita bisa mengganggu penghuni apartemen sebelah. Apartemen ini tidak ada peredan suaranya. Aku tidak lihat, aku tidak lihat." Lin Feng menutup mata dengan kedua tangannya.
Alysa merasa malu dan tak bisa berpikir jernih. Bagaimanapun juga, mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Meski hanya status dan wanitanya yang lebih tua dari prianya.
"Eh, sudah? Aku suamimu tapi nggak boleh lihat. Apa harus malu, meski hanya bentuknya saja? Ya sudahlah, aku pergi mandi dulu. Kamu pakai celemek biar gak kelihatan itunya."
Lin Feng terburu-buru menuju ke kamarnya. Mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Ada sesuatu yang mengeras di bawah sana hanya karena membayangkan sesuatu yang seharusnya.
"Apa aku salah? Dia memang suamiku. Tapi dia tidak pernah menuntut aku melayaninya. Mungkin aku tidak menarik baginya? Ah, apa yang kamu pikirkan, Alysa? Tidak-tidak!"
Alysa menggelengkan kepalanya. Menolak semua pikiran buruknya. Berada di apartemen hanya berdua saja, membuatnya berpikiran negatif. Namun perasaan yang awalnya kacau, kini telah terobati.
"Yu'er, bagaimana kabarmu malam ini? Maafkan mama yang tidak bisa terus bersamamu. Tapi besok kamu akan bertemu dengan papamu. Bukankah kamu ingin bertemu dengan paamu? Semoga ini keputusan yang tepat untuk mengenalkan kalian," gumam Alysa.
Alysa membayangkan dirinya jalan bertiga. Lin Yu'er yang berada di tengah-tengah, saling memegang tangan. Melihat senyuman sang buah hati yang bahagia, membuatnya merasa sempurna. Jika boleh, Alysa ingin hidup putrinya bahagia. Ia ingin menjadi wanita egois kali ini. Membiarkan putrinya hidup bahagia selamanya. Tidak seperti dirinya yang hidup dalam penderitaan sejak usia remaja. Sejak kehilangan kedua orang tuanya.
"Keinginan egoisku adalah membiarkan putriku bahagia. Dengan papa dan mamanya yang lengkap. Bisa melihatnya tumbuh dewasa, menikah. Dan aku bisa menggendong cucu. Ah, Tuhan ... meskipun hidupku dalam jurang penderitaan, jangan biarkan putriku mengalami nasib yang sama denganku."
Tak terasa linang air matanya jatuh. Membasahi sayuran yang ia potong. Langsung saja ia mencuci kembali sayurannya agar air matanya tidak mengotori makanan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Nogo Boy
MC yang membanggakan,saya suka ini...😹😹😹
2024-09-28
0
ciru
cakeep
2023-11-26
0
Hades Riyadi
Lanjutkan Thor 😛😀💪👍🙏
2023-11-16
1