Alangkah bahagianya Lin Yu'er, bisa bermain sepuasnya. Setelah naik bianglala, ia mengajak Lin Feng ke tempat yang membuatnya tertarik. Kali ini gadis itu menunjuk ke sebuah permainan. Sebuah mesin capit yang di dalamnya terdapat banyak mainan dan boneka.
"Papa, mau itu. Mau boneka yang itu!" tunjuk Lin Yu'er. Pandangan matanya tertuju pada sebuah boneka berbentuk kucing. Terlihat sangat lucu dan imut.
"Kalau begitu, kita ke sana. Kamu mau boneka kucing itu? Atau boneka kelinci?" tanya Lin Feng, menunjuk boneka kelinci yang terlihat tidak kalah lucunya.
"Mau kelinci juga. Itu buat mama. Kelinci itu mirip sama mama, hahaha." Lin Yu'er terkekeh membayangkan Alysa memakai pakaian mirip kelinci.
Yang dibicarakan terlihat ngambek dan menoleh ke samping. Alysa melihat adanya keramaian. Seseorang berteriak minta pertolongan dengan suara parau.
"Siapapun. Tolong kakekku! Tolong!" teriak seorang wanita muda. Seorang yang sudah berteriak beberapa kali namun hanya dikerumuni orang tanpa ada yang membantu.
Orang-orang bahkan hanya merekamnya lewat ponsel. Tanpa tahu orang tua yang telah tak sadarkan diri dan nyawa berada di ujung tanduk. Namun lihatlah, tidak ada yang peduli atau mereka juga takut. Karena tidak tahu apa yang dialami pria tua yang tergeletak di jalanan.
"Tolooong ... siapapun tolong kakekku, huhuhu. Kenapa kalian hanya melihat saja? Tolong kakek saya, hiks." Tanpa terasa air mata sang wanita merembes. Ia merasa dunia telah mempermainkannya.
Memang dunia ini kejam dan egois. Melihat seseorang yang tak berdaya, tak ada satupun yang peduli. Hidup dalam masyarakat dengan jiwa sosial rendah, nyatanya semua orang seakan menutup mata.
Sementara di tempat lain, Lin Feng telah memenangkan dua boneka dari mesin capit. Karena pemilik tubuh di kehidupan kali ini, merupakan seorang gamer. Masalah ambil mengambil dengan mesin capit, bukanlah perkara sulit.
"Horee! Papa berhasil! Papa hebat!" sorak Lin Yu'er dengan ekspresi gembira. "Itu kucing milik Yu'er dan kelinci punya mama, hahaha."
"Hehehe, papa sangat hebat, bukan? Ayo, berikan boneka kelinci untuk mama." Lin Feng mengajak Lin Yu'er ke tempat di mana Alysa berada. "Eh, ke mana mamamu?"
"Tidak tahu." Lin Yu'er melihat ke kanan dan ke kiri. Lalu menunjuk ke sebuah kerumunan. "Itu mana sama bibi Hanna."
'Kenapa mereka ke sana? Tunggu dulu, ada orang sekarat di sana. Gawat! Dia memiliki penyakit jantung. Tidak bisa dibiarkan dikerumuni orang-orang.'
Lin Feng membawa putrinya menuju kerumunan. Orang-orang berdesakan untuk melihat orang sekarat, tanpa ada seorangpun membantu. Akibatnya malah membuat penyakit jantung pria tua semakin parah.
"Apa yang kalian lakukan? Orang tua itu mengalami sakit jantung. Bukannya dibawa ke rumah sakit, malah dikerumuni seperti itu. Apa kalian ingin membunuh orang tua itu?"
Lin Feng berdiri di belakang orang-orang yang berkerumun. Ia berkata dengan keras untuk membuat orang-orang menyingkir. Namun setelahnya, mereka malah melototi Lin Feng dan mengatai dengan kata-kata buruk.
"Hei bocah ingusan, apa yang kamu tahu? Kau bahkan tidak melihat langsung orangnya. Lebih baik kamu pergi saja daripada tidak mau menolong," ucap seorang pria paruh baya. Ia memaki Lin Feng dengan suara lantang.
"Benar! Kamu bocah kemarin sore, tahu apa? Lihatlah gadis yang kamu bawa. Pasti kamu hanya seorang pengurus anak saja, kan?" imbuh seorang wanita tua. Ia memakai tongkat dan menunjuk ke arah Lin Yu'er.
"Dasar pria dan nenek tua. Kalian hanya tahunya marah-marah tidak jelas. Lihatlah, dia hampir mati karena kalian!" Lin Feng sedikit emosi dan mengeraskan ucapannya. Ia ingin menolong tapi tidak leluasa karena sedang membawa putrinya.
Alysa yang sedang merasa kasihan pada pria tua yang terbaring pun tidak bisa berbuat apapun. Ia lalu menghampiri Lin Feng sambil mengambil ponselnya. Guna menghubungi rumah sakit untuk membawa ambulan.
"Lin Feng, aku sudah menghubungi rumah sakit untuk membawa ambulan ke sini. Tapi aku tidak bisa menyingkirkan orang-orang itu. Semoga saja ambulan cepat datang sebelum terlambat," ucap Alysa.
"Mama. Mama sangat hebat dan baik hati. Papa jangan marah-marah lagi, yah. Mana kakek yang sedang pingsan itu? Yu'er tidak bisa melihatnya."
"Yu'er bersama mama, yah. Papa mau memeriksanya. Alysa, tolong kamu gendong Yu'er. Aku mau memeriksa orang tua itu." Lin Feng menyerahkan Lin Yu'er pada Alysa agar diurus.
"Mama, tadi papa keren banget, loh. Papa bawa capitan dan mengambil dua boneka. Boneka kucing untuk Yu'er karena aku suka kucing. Dan boneka kelinci buat mama karena manis kayak kelinci, hehehe."
Lin Yu'er menghambur ke pelukan Alysa. Meminta digendong sama seperti yang dilakukan oleh Lin Feng. Setelah menyerahkan putrinya pada sang istri, pria itu menerobos kerumunan.
"Apa yang mau kamu lakukan, Lin Feng?" tanya Alysa. Namun sudah terlambat. Dalam beberapa detik, suaminya sudah masuk ke dalam kerumunan.
Alysa melirik ke arah Hanna. Namun hanya mendapat balasan mengangkat bahu. Tanda tidak tahu apa yang terjadi. Apalagi saat pria itu telah memprofokasi orang sebelumnya.
Lin Feng menerobos dan sampai di depan pria yang sedang mengalami kejang. Langsung menghampiri dan menyuruh orang-orang itu mundur sejenak.
"Apa kalian tidak melihatnya? Kalian mundur ke belakang semuanya. Aku adalah dokter! Dia mengalami serangan jantung dan biarkan dia mendapatkan udara bersih untuk bernafas. Ambulan akan segera tiba. Tolong kalian memberi jalan!"
Tanpa adanya keraguan, Lin Feng harus bertindak cepat. Sebelum orang tua itu mati, ia harus menyelesaikan dengan cepat. Karena melihat ekspresi Lin Feng yang meyakinkan, orang-orang itu mundur beberapa langkah.
Sebenarnya Lin Feng merasa kesal dengan orang-orang yang hanya bisa berkerumun tanpa membantu itu. Meskipun tidak bisa membantu sepenuhnya, setidaknya orang itu bisa bertahan sampai datangnya ambulan.
'Ini tidak bisa ditunda. Racun di tubuhku belum sepenuhnya dihilangkan. Membuatku tidak bisa menyembuhkan orang ini sepenuhnya. Namun cukup untuk membuatnya bertahan lebih lama, sebelum ambulan datang.'
"Apa? Apa kamu seorang dokter? Aku mohon untuk menyembuhkan kakekku. Tidak peduli apa, aku akan berikan apapun asalkan kekek bisa selamat."
"Nona tidak perlu khawatir. Akan ku pastikan kakek ini mati sebelum ambulan datang. Kita mulai dengan menekan beberapa titik akupuntur."
"Bohong! Dia pasti sedang membohongimu, Nona. Kakekmu akan mati jika ditangani pemuda bodoh ini. Mana Mungkin anak muda ini seorang dokter," tunjuk seorang pria paruh baya. Orang yang sebelumnya memaki Lin Feng.
"Benar! Orang itu pasti membohongimu dan setelah kalekmu mati, pasti dia akan membuat banyak alasan. Banyak orang yang demi terlihat baik di mata gadis cantik. Demi itu, orang akan melakukan apapun."
"Heh, ku kira apaan. Hanya seorang pemuda yang membuat. Cepat tinggalkan orang itu! Kau malah akan membuat orang tua itu cepat mati."
Lin Feng tidak peduli dengan omongan orang-orang yang menghinanya. Ia menyalurkan energi qi ke telunjuknya. Lalu menekan beberapa titik di tubuh lansia tersebut. Ia bergerak dengan cepat demi menyelamatkan orang tua sekarat itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Itachi Uchia
typo yang sangat parah, eh typo =salah tulis;
kalau ini mah kurang kata...
2024-03-11
0
Izhar Assakar
apakah dia memastikan si kakek mati sblom ambulance dtang ato gmn nih,,,
2023-12-10
1
ciru
cuakep
2023-11-26
0