”Sial sepertinya aku menggali kuburanku sendiri dan membuatnya mengeluarkan suara indah dan menggemaskannya,” batin Liang Chen sembari menutup mulut Xiao Shenzen dengan ciuman kecil supaya mulut kecil tersebut sebelum dia cicipi langsung menyadari.
Tingkah laku Liang Chen langsung disadari oleh istrinya membuat Shenzen membenamkan dirinya di dada bidangnya dan menahan suara laknatnya keluar meski benda yang dia tidak ketahui terus mengganggunya namun Shenzen berusaha menahannya sementara Liang Chen dengan nada tegasnya meminta diskusi terus dilanjutkan.
Namun setahan apa pun Liang Chen tidak kuat untuk menahannya sehingga dia kembali menggendong Shenzen dengan lembut dan membawanya pergi supaya tidak ada yang memangsanya dan Shenzen tidak menggodanya di saat genting ini.
”Suamiku, kemana lagi kita?” tanya Shenzen yang digendong dengan wajah menggemaskannya yang menatap kembali muka tampan suaminya sementara suaminya menyuruhnya untuk membenamkan kembali wajah menggemaskan itu ke dada bidang lagi. ”Kesayanganku, bisakah kesayanganku tidak menampakkan wajah menggemaskanmu itu karena aku bisa melakukan kesalahan yang terbesar,” ucap Liang Chen yang menyuruh untuk istri kesayangannya kembali membenamkan wajahnya ke dada bidangnya dan dirinya mempercepat langkah ke kembali ke kamar tidur utama mereka.
Sementara Shenzen yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya segera menganggukkan kepalanya dan membenamkan ke dada bidangnya yang keras bagaikan telenan. Hingga mereka tiba di ruang tidur utama mereka, Liang Chen menaruh istrinya dengan lembut di atas ranjang mereka sementara Liang Chen berganti baju dan masuk ke kamar mandi untuk menenangkan adiknya yang hampir saja mengeluarkan cairannya membuat Shenzen hampir saja mengejar suaminya dengan mimik muka bingung.
...----------------...
Xiao Guang yang menuju ruang tamu terkejut jika kakaknya dengan calon suaminya tidak berada di ruangan tersebut namun Guang melihat wajah pegawai biro pernikahan menunjukkan muka tidak wajar membuatnya mendekati kedua orang tuanya untuk bertanya apa yang sedang terjadi.
”Ayah, Ibu, kemana perginya kakak dengan kak Chen dan apa yang sedang terjadi dengan mereka?” tanya Xiao Guang penasaran yang tidak mengerti dengan dunia dewasa membuat ayah dan ibunya menjelaskan semua pertanyaan putra mereka.
”Kakak kamu digendong dibawa pergi entah ke mana mungkin ke kamar mereka,” ucap nyonya Xiao yang jelas mencemaskan putri kesayangan mereka yang terakhir dilihatnya sedang memerah menahan suara laknatnya keluar.
”Masa bisa-bisanya kakak kamu mengeluarkan suara indahnya ya jadinya senjata suaminya ya bergerak mana bisa tahan ada peri imut nan cantik mengeluarkan suara indahnya,” ucap tuan Xiao yang tidak habis berpikir kenapa putrinya mengeluarkan suara seperti itu membuat Guang tidak habis pikir apa yang dilakukan oleh kak Chen yang bisa membuat kakaknya mengeluarkan suara laknatnya.
”Lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Xiao Guang yang penasaran dengan keenam orang pejabat biro pernikahan yang mukanya seperti menahan sesuatu. ”Efek yang sangat luar biasa, kakak kamu tidak hanya membangunkan senjata calon suaminya namun juga senjata semua yang ada di sini,” ucap tuan Xiao membuat istrinya penasaran lalu bertanya. ”Apa senjatamu tidak terbangun?” tanyanya sang istri Xiao.
Mendengar pertanyaan istrinya tersebut membuat tuan Xiao tersenyum sembari berkata lembut kepada istri tercintanya. ”Tentu saja tidak, dia sudah punya pawang dan terbangun ketika pawangnya berkehendak,” ucapnya membuat nyonya Xiao jelas senang sekali.
”Kakak ipar tentu dan pasti tidak nyaman makanya dia segera mentuntaskannya,” ucap Guang yang tertawa terbahak-bahak karena mengetahui jika kakaknya sangat mahir menyiksa suaminya sendiri.
...----------------...
Sementara di kamar mandi, Liang Chen menuntaskan biologisnya membuat dia memandangi cairannya sendiri dengan sebal karena itu sangat sia-sia menurutnya. Sementara Xiao Shenzen menunggu di depan kamar mandi sembari bertanya kenapa suaminya sangat lama di kamar mandi.
”Suamiku, mengapa kamu berada di kamar mandi sangat lama? Apa kamu menahan buang air besar?” tanyanya dengan nada polos dan menggemaskan membuatnya dia mengeluarkan suara ketika cairannya keluar membuat istrinya yang polos mengira jika itu suara angin yang besar dari suaminya.
”Suamiku, apakah kamu sakit perut hingga mengeluarkan suara sebesar itu? Mau aku buatkan teh herbal?” tanya Shenzen dengan nada menggemaskan yang sangat imut membuat Liang Chen kembali melakukan rutinitasnya.
“Shit… dia keluar terus dengan sia-sia dan mana ada suara kentut seperti itu. Ada-ada saja otak kecil kesayanganku itu ya,” batinnya ketika mendengar semua perkataan Shenzen yang sangat menggemaskan.
“Kesayanganku, sepertinya kamu benar, aku sakit perut, jadi kamu bisa menunggu di luar saja karena aku takutnya bau,” ucap Liang Chen membujuk istrinya agar keluar karena dia tidak ingi cairan s**ema nya keluar dengan sia-sia ketika mendengar suara menggemaskan, imut dan polos istrinya itu.
“Hmm… baiklah kalau begitu, jangan lama-lama ya, aku takut kamu pingsan,” ucap Shenzen dengan nada perhatian kepada suaminya dan pergi perlahan-lahan.
Mendengar jika kamarnya sudah kosong membuat Liang Chen bergembira karena cairannya tidak akan terbuang sia-sia meski dirinya sedikit bersalah karena membuat istri kesayangan mencemaskannya. Setelah selesai dengan urusan pribadinya di kamar mandi, dirinya segera keluar dan memakai kembali pakaiannya yang sudah dirapikan oleh istri mungilnya di atas ranjang membuat Liang Chen tersenyum melihat istri mungilnya.
Setelah selesai berpakaian dan rapi, Liang Chen keluar dan mencari istri kesayangannya yang sedang menunggunya di ruang keluarga membuat Liang Chen langsung menghampirinya dan kembali menggendong dan di bawah ke ruang tamu.
“Untuk rapatnya bisa ditunda dulu karena saya ingin meresmikan pernikahan saya,” ucap Liang Chen membuat semuanya mau tidak mau mengangguk setuju. Liang Chen menyuruh Wan untuk menuntun jalan sementara dirinya bermesraan dengan Shenzen dan mendahului rombongan Wan.
“Kesayanganku, bisakah kamu menutup sebentar mata cantikmu? Kalau aku tahu kamu membukanya walau sebentar akan ada hukumna dariku,” ucap Liang Chen dengan lembut membuat Shenzen dengan patuh menutup matanya sebentar dan juga kembali membenamkan wajah menggemaskannya ke dada bidang suaminya yang membuat suaminya tersenyum.
“Hmm… sepertinya itu sudah menjadi favoritnya,” batinnya yang sudah senang jika punggung Guang sudah teralihkan dengan dadanya karena istrinya sangat suka sekali membenamkan wajah menggemaskan ke dada bidangnya.
Setelah mengetahui jika istrinya benar-benar sudah menutup mata, Liang Chen dengan hati-hati menggendong istrinya dan membawanya ke tempat acara mereka akan diresmikan sebagai suami dan istri. Sementara para rombongan dituntun oleh Wan menuju tempat pernikahan yang sudah disiapkan oleh Liang Chen sendiri hanya untuk Shenzen, gadis yang sangat dia cintai dan sayangi.
...----------------...
Sementara ada orang yang ikut dalam rombongan tersebut mendengus kesal dan iri akan gadis tersebut yang mendapatkan kasih sayang melimpah dari seorang Liang Chen.
“Dasar sial, seharusnya gadis itu milikku, akan aku bikin dia ternodai sehingga kapten Liang akan menceraikannya dan dengan begitu dia akan milikku sehingga aku bebas menidurinya dan menyiksanya di atas ranjang pasti sangat nikmat,” batinya dengan sekumpulan ide licik yang akan dia jalankan untuk menjebak Xiao Shenzen agar Xiao Shenzen bisa diceraikan langsung oleh Liang Chen dalam beberapa jam setelah pernikahan keduanya berlangsung.
......................
Wahh… siapa itu yang berani jahat kepada Xiao Shenzen? Bisa-bisa pawangnya marah tuh…
Sorry ya man-teman kalau digantung sama Author.
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya dengan cara rate 5, like, vote, gift, dan comment. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments