”Tadi Ayah yang menyuruh Shenzen untuk menelepon kakek katanya untuk Shenzen mengenal kakek,” ucap Shenzen dengan jujur yang polos dikarenakan Shenzen merupakan gadis yang tidak pernah dan bisa berbohong sehingga Xiao yang mendengarkan putri polosnya berbicara seperti itu hanya bisa menepuk jidatnya membuat putranya menertawakan sikap ayahnya yang dinilai terlalu kekanakan-kanakan.
Sementara Chen dan Wan yang mendengar dapat menangkap jelas suara gadis yang imut dan menggemaskan membuat Chen sempat berpikir ketika mendengar gadis tersebut menyebutkan namanya sendiri.
”Shenzen? mengapa terdengar akrab di telingaku?” batin Chen yang berusaha mengingat-ingat nama dari gadis yang dirasa terdengar di akrab di telinganya sementara Wan tidak butuh waktu lama untuk berpikir segera memberi tahu tuannya dengan cara berbisik ke telinga tuannya supaya mereka berdua tidak sampai ketahuan oleh kakek Chen karena mengendap-endap dan mencuri dengar.
”Tuan…tuan…” bisik Wan kepada tuan mudanya membuat menoleh ke arahnya dan menjawab panggilannya dengan menaikan salah satu alisnya yang menandakan ada apa dari arti tatapan tersebut membuat Wan segera mengatakan apa tujuannya.”
”Gadis itu merupakan gadis yang tuan cari,” ucap Wan yang membisik ke telinga tuan mudanya sehingga membuat Chen terkejut mendengarkannya karena dirinya tidak sampai mengingat nama gadis yang akan dia incar dan dia ikat di rumah mewahnya.
”Apa kamu tidak salah membacanya, Wan?” tanya Chen memastikannya dan menanyakan lebih lanjut mengenai gadis yang akan dia incar karena berhasil menalukkan hatinya tersebut sehingga dirinya dengan berani menolak semua tawaran dari kakeknya.
”Tidak, saya tidak salah membacanya, tuan muda,” ucap Wan yang sudah memastikan berkas dari bawahannya yang melapor mengenai identitas gadis yang tuan mudanya menyuruh untuk dia selidiki karena tuan mudanya ada rasa ketertarikan terhadap gadis itu.
”Kalau begitu, aku mau besok pagi kau membawakan dia ke hadapanku dan pastikan dengan baik-baik tanpa perlu kasar kepadanya dan sampai aku tahu jika kalian membuatnya menangis atau kesakitan, kalian tahu akibatnya!” ucap Chen yang sudah mengeluarkan ultinatumnya dengan suara berbisik namun disertai dengan intimidasi dan tatapan yang tajam dan tegas membuat Wan menghubungi bawahannya disertai dengan ultinatum yang diberikan oleh tuan mudanya melalui pesan.
Tuan muda meminta kalian untuk membawa gadis itu ke kediamannya tanpa cacat sekalipun dan jangan sampai gadis itu menangis karena ketakutan atau tidak kalian akan kena akibatnya.
Isi pesan yang Wan sampaikan kepada bawahan bosnya supaya besok pagi tuannya bisa melihat gadis tersebut. Sementara Wan yang sudah mematikan ponselnya, tiba-tiba ada pesan masuk di teleponnya yang membuatnya celananya bergetar tanpa ada suara notif karena dia silent teleponnya membuatnya mengambil telepon tersebut dan membaca pesan yang dari bawahannya.
Baik, Tuan Wan, namun kediaman Jenderal Liang mau di mana? Apakah markas atau mansion?
Pesan yang dibaca oleh Wan menampilkan seperti demikian membuat Wan sempat bingung namun dia tepis dan segera bertanya kepada tuan mudanya yang sibuk mendengar suara manis dan menggemaskan dari gadis kecil tersebut.
“Tuan muda,” panggil Wan dengan berbisik-bisik membuat perhatian Chen teralihkan dengan asistennya yang memanggilnya membuatnya dengan kesal menjawab panggilan dari Wan. “Ada apa?” tanyanya dengan nada kesal namun tidak sampai meninggikan satu oktaf suaranya.
...----------------...
Keesokan harinya tepat di kediaman keluarga Xiao khususnya di kamar tidur yang desain dan perabotannya dikhususkan sesuai dengan anak gadis umumnya yang menyukai serba pink dan oranye serta pernak-pernik dari animasi Winnie The Pooh yang merupakan favorit gadis yang memiliki tubuh mungil, langsing, serta tidak lupa berwajah cantik, imut, polos dan menggemaskan yang masih rebah di kasurnya yang empuk.
Gadis cantik, imut dan menggemaskan yang bernama Xiao Shenzen tersebut masih tertidur pulas di kamarnya sembari memeluk gulingnya yang bersarung Winnie The Pooh membuat tidur si gadis makin terlelap dan tidak bangun walau alarm yang dia pasang sudah menyala lima menit yang lalu namun tidak berhasil membuat gadis itu terbangun.
Sementara keluarga Xiao lainnya yang hanya terdiri dari ayah Xiao Shenzen, ibu Xiao Shenzen dan adik laki-laki Xiao Shenzen sudah menunggu putri mereka untuk bergabung di ruang makan untuk menyantap makan pagi.
“Mana kakakmu, Guang, dari tadi udah ditunggu-tunggu kok belum keluar? Apa kalian tidak terlambat mengajar anak-anak TK?” tanya ibu Xiao Shenzen dan Xiao Guang yang mencemaskan jika kedua anaknya telat bekerja karena Xiao Guang juga bekerja di tempat yang sama dengan kakaknya karena alasannya adalah hanya demi melindungi kakaknya dari orang jahat yang ingin menipu kakaknya yang teramat polos dan lugu.
“Guang akan membangun kakak, Bu, tunggu sebentar ya,” ucap Xiao Guang yang sudah beranjak berdiri dari kursinya serta bergegas ke lantai tiga di mana tempat kamar kakak dan dirinya berada lalu menghampiri pintu kamar kakaknya yang bercat pink dengan pernak-pernik Hello Kitty, yang merupakan animasi favorit kedua kakaknya. Dengan sopan, Xiao Guang mengetuk pintu kamar kakaknya dengan pelan namun dengan tempo cepat agar sang kakak terbangun dari mimpinya.
...----------------...
Sementara di tempat lainnya tepatnya di markas pelatihan tentara Taiwan yang terlihat jika banyak pasukan tentara yang berlatih dengan pimpinan komando masing-masing.
Sementara di kantor kerja pribadi seorang jenderal yang berwajah dingin, tidak memiliki perasaan dan kejam sedang duduk di takhta kebesarannya dan fokus membaca berkas-berkas yang sempat dia tunda hanya dalam sehari saja.
Pada saat dirinya sedang mengecek dan menstempel berkas-berkas tersebut dengan cermat, tiba-tiba saja mendengar suara ketukan pintu membuatnya berteriak menyuruh orang tersebut untuk segera masuk ke dalam ruangannya agar tidak mengganggukonsentrasinya. ”Masuk saja,” ucapnya sembari matanya tidak lepas dengan pandangan berkas-berkasnya yang menggunung akibat dikarenakan dirinya curi sehari.
Setelah mendapatkan izin dari pemilik ruangan tersebut, orang yang mengetuk pintu ruangan segera masuk ke dalam dan menghadap jenderal dengan sikap penuh hormat dan tegas untuk melaporkan kondisi saat ini selama pelatihan maupun pengiriman tentara ke medan perang.
”Saya lapor kepada Jenderal Liang mengenai pelatihan dan pengiriman tentara, Jenderal,” ucap bawahannya yang melaporkan kepada atasannya yang merupakan Liang Chen.
”Lapor tentang pelatihan tentara minggu kemarin terlebih dahulu,” ucap Liang Chen yang matanya masih terlihat fokus menyusuri berkas-berkas dan membacanya dengan cermat agar tidak satu kelolosan maupun tidak terjadi kesalahan yang besar akibat kelalaiannya yang dapat menimbulkan kerugian negara.
”Siap Jenderal Liang!” ucap bawahannya yang melapor dengan nada tegas dan hormat kepada atasannya dan langsung saja dirinya membaca laporan yang sudah dirangkup oleh temannya yang bertugas untuk merangkum kegiatan pelatihan selama setiap minggu membuat Liang Chen menaruk segala aktivitasnya dan mendengarkan bawahannya berbicara dengan cermat agar dirinya bisa memahami kondisi dan situasi selama pelatihan.
......................
Wahh… penasaran sama visual para tokohnya ya? Ditunggu jika sudah mencapai dua puluh episode lebih ya.
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya dengan cara rate 5, like, vote, gift, dan comment. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments