“Dasar bocah durhaka, mengapa kau menolakku meneleponmu? Aku sudah tahu jika kau akan datang ke tempatku,” ucap kakeknya yang tidak habis berpikir mengapa cucu durhakanya melarang dirinya untuk menelepon padahal hanya ingin mengingatkan saja untuk segera sampai ke kediamannya.
“Lalu mengapa kau masih meneleponku?” tanya Chen yang tidak habis pikir jika kakeknya akan berpikir jika dirinya akan kabur dan tidak mau datang ke kediamannya.
“Aish, kau ini, aku menyuruhmu cepat datang jangan membuatku menunggu, mengerti kau?” ucap kakeknya yang membuat Chen langsung saja menutup panggilannya secara sepihak dan menelepon asistennya agar cepat kembali ke mobil.
“Hey, halo…” ucap kakeknya yang menyadari jika panggilannya sudah diputus oleh cucunya sendiri. “Aish… dasar cucu durhaka, aku ini memberikanmu istri mungil kamu malah menutup teleponmu,” ucap kakeknya yang hendak bersiap-siap mengganti bajunya dengan baju yang lebih informal.
...----------------...
Sementara di lain tempat, di kediaman yang bertingkat dua dengan ukuran luas bangunan dengan ukuran 200 meter persegi dan luas tanah adalah 300 meter tersebut terlihat seorang gadis yang sedang berkebun di taman kecil yang disediakan oleh kedua orang tuanya karena hobinya yang suka berkebun.
Gadis tersebut memiliki badan mungil sedang berjongkok untuk mengaduk tanah karena dirinya akan berkebun dan menanam bibit yang baru saja dia beli di pasar bunga karena di komunitas yang dia ikuti mengatakan bunga tersebut sangat cocok ditanam di kebun bunga.
Gadis itu terlihat senang karena bersenandung kecil sambil mengaduk-aduk tanah supaya hasil bunga yang akan dirinya tanam bisa bertumbuh dengan baik dan menghasilkan bunga yang indah.
Sementara disaat dirinya berkebun, adik laki-lakinya keluar menuju halaman belakang dan mendapati kakak perempuannya yang manis sedang berkebun didekatinya sang kakak untuk menawarkan bantuannya.
“Kak, apakah kau memerlukan bantuan karena kulihat kau kesusahan mencangkul tanahnya?” tanya adik laki-lakinya yang hanya berpaut tiga tahun lebih muda dari kakak perempuannya.
“Hei, adikku yang baik hatinya, aku kesusahan, bantuin dong cangkul tanahnya,” ucap sang gadis tersebut yang meminta bantuan kepada adiknya yang selalu saja menawarkan bantuan kepada kakaknya.
“Baik, baik, kakakku yang manis dan menggemaskan, bagaimana dengan perjodohanmu?” ledek adiknya yang sembari membantu kakaknya mengcangkul tanah kosong yang sudah disiapkan oleh ayah mereka untuk kakaknya bisa menanam bunga yang indah.
“Hei, ayah tidak memberi tahuku dan jangan menjodohku, dasar adik bodoh,” ucap kakaknya yang cemberut menggemaskan karena adiknya membahas mengenai perjodohannya yang diatur oleh ayah mereka.
“Tunangan kakak setahuku sangat dingin dan tegas sekali, kak, jika ayah menjodohkan kakak dengannya membuatku khawatir,” ucap adiknya yang benar-benar mencemaskan kakaknya apakah bisa menyesuaikan dirinya di tempat tunangannya nanti karena kakaknya akan dipertemukan dan disuruh tinggal di rumah tunangannya.
Gadis tersebut langsung menjetikkan jarinya ke kening adiknya yang tampan dikarenakan adiknya banyak cerewetnya dan adiknya memprotes tindakan kakaknya yang membuat keningnya terasa sakit karena tangan mungil kakaknya yang melakukan selentik di keningnya.
“Aw… Kak, mengapa kau menselentik keningku? Ini sakit sekali,” ucap adiknya yang memegang keningnya yang tampak memerah akibat selentikan kakaknya dengan nada yang protes karena tidak terima kakaknya memberi selentikan di keningnya.
“Sudah kah kamu cerewetnya? Aku bilang hentikan jangan bahas itu lagi tahu, aku malu jadinya,” ucap kakaknya yang membuat adiknya tersenyum penuh makna namun tidak ditunjukan secara langsung ke kakaknya yang sangat menggemaskan.
...----------------...
Liang Chen akhirnya tiba di kediaman sang kakek yang juga sama-sama megahnya dengan mansion miliknya. Dibukanya pintu tempat dia duduk oleh asistennya dengan hormat sembari sudah membawakan oleh-oleh yang akan diberikan kepada kakek Liang Chen.
“Selamat datang, tuan muda Liang, tuan besar sudah menunggu Anda di ruang keluarga, akan saya tunjukkan jalannya,” ucap kepala pelayan yang melayani kakek Liang sejak pada masa muda kakek Liang.
“Hmm… tunjukan saja biar aku dan sekretarisku akan mengikuti Anda,” ucap Liang Chen dengan sopan santun dan mengikuti arah jalan kepala pelayan yang mengantar mereka hingga ke ruang keluarga.
Sementara di ruang keluarga terlihat jika pria tua sedang menunggu kedatangan cucu semata wayangnya sembari menonton TV dan terdengar suara ketukan dengan suara pria yang dia kenali.
“Tuan besar, tuan muda sudah tiba bersama dengan sekretarisnya, saya pamit dahulu karena tugas saya mengantar tuan muda sudah selesai,” ucap kepala pelayan yang mengentarkan tuan mudanya ke tempat tuan besarnya menunggu kedatangan tuan mudanya.
“Baiklah, terima kasih telah merepotkanmu,” ucap kakek Liang yang membuat kepala pelayan membungkuk dengan sopan dan menutup pintu ruang keluarga demi menjaga rahasia yang akan disampaikan oleh tuan besarnya.
Setelah sepeninggalan kepala pelayan yang sudah menutup pintu ruang keluarga, kakek membalikkan badannya untuk memastikan cucu durhakanya tiba di depan matanya.
“Halo kakek, sudah lamakah Kakek menungguku?” tanya Liang Chen tanpa bersalah sembari mendaratkan bokongnya dan duduk dengan gaya bosnya tersebut sembari menatap kakeknya.
“Kakek menunggumu sampai hampir tua rasanya,” ucap kakeknya yang mengomel karena menunggu kedatangan cucunya yang tergolong lama hingga dia hampir saja mati kebosanan.
“Bukannya kakek sudah tua ya, apa kakek masih merasa muda?” cibir sang cucu yang mengetahui jika kakeknya tidak ingin dibilang tua dan berusaha untuk tampil muda dan fresh.
“Kamu ini, malah menghina kakekmu nanti kalau dapat istri imut biarin kamu buda cinta dan rela dihina dia,” ucap kakeknya yang ingin melihat bagaimana jika cucunya takluk kepada seorang gadis yang merupakan idaman cucunya.
“Wan, kamu serahkan oleh-olehnya ke kakek supaya tidak lupa dan kakek, aku ada sedikit oleh-oleh jadi terimalah,” ucap Liang Chen menyuruh sekretarisnya yang bernama Wan untuk menyerahkan bungkusan oleh-oleh yang baru mereka beli pada saat perjalanan menuju ke kediaman kakeknya membuat Wan melakukan perintah dari atasannya dengan patuh.
Diberikannya bungkusan tersebut kepada tuan tua Liang yang merupakan oleh-oleh dari cucunya yang disesuaikan dengan keinginan kakek Liang.
“Tuan tua Liang, ini bingkasan oleh-oleh yang dibawakan oleh tuan muda, mohon diterima bungkusannya, tuan tua,” ucap Wan memberikan bungkusan kepada kakek Liang dengan sopan dan hormat.
“Angkat kepalamu, Wan, aku udah kamu anggap sebagai adik dari Chen jadi jangan membungkuk karena kamu juga anggota keluarga Liang,” ucap kakek Liang yang menyuruh asisten cucunya untuk mengangkat kepalanya agar tidak muda menundukkan kepalanya kepada orang lain dan juga menerima bingkisan yang diberikan dari Wan. “Terima kasih ya Wan, tahu saja kamu sama kesukaan kakek.”
“Kakek, siapa sih cucumu ini? mengapakau berterima kasih kepadanya padahal aku yang menyuruhnya membeli untuk kakek,” ucap Chen yang tanpa dia sadari jika dirinya keceplosan mengenai pemberian yang diterima kakeknya.
......................
Hayo keceplosan tuh tuan muda Chen dan siapa ya gadis tersebut? Apakah tunangan Liang Chen?
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments