IMTMKL – 3

“Tuan tua Liang, ini bingkasan oleh-oleh yang dibawakan oleh tuan muda, mohon diterima bungkusannya, tuan tua,” ucap Wan memberikan bungkusan kepada kakek Liang dengan sopan dan hormat. 

“Angkat kepalamu, Wan, aku udah kamu anggap sebagai adik dari Chen jadi jangan membungkuk karena kamu juga anggota keluarga Liang,” ucap kakek Liang yang menyuruh asisten cucunya untuk mengangkat kepalanya agar tidak muda menundukkan kepalanya kepada orang lain dan juga menerima bingkisan yang diberikan dari Wan. “Terima kasih ya Wan, tahu saja kamu sama kesukaan kakek.”

“Kakek, siapa sih cucumu ini? mengapakau berterima kasih kepadanya padahal aku yang menyuruhnya membeli untuk kakek,” ucap Chen yang tanpa dia sadari jika dirinya keceplosan mengenai pemberian yang diterima kakeknya. 

Mendengar perkataan dari cucunya yang memprotes keceplosan membuat kakeknya hanya tersenyum mendengarkan yang dikarenakan dirinya sudah mengetahui jika cucunya pasti akan membukakan rahasianya yang sudah ditutup rapat-rapat oleh cucunya dan akan mengancam asistennya untuk tidak membocorkannya.

”Apa kau ingin mengadu, Chen? Yang membeli dan memberikannya kepadaku Wan maka aku berterima kasih kepadanya,” ucap kakeknya yang menjawab pertanyaan dari cucunya.

Sementara Wan yang mendengar jika atasannya tidak ingin kalah dengan dirinya hanya bisa tersenyum samar tanpa mempertunjukkan keduanya karena atasannya pasti akan salah paham dengannya jika dirinya ketahuan tersenyum.

”Astaga Kakek, Kakek mengira jika aku anak kecil sampai tidak terima kakek pilih kasih?” tanya Chen kepada kakeknya yang masih mengelak jika dirinya tidak butuh pengaduan yang menurutnya tidak masuk akal.

”Kakek rasa kau seperti anak kecil,” ucap kakeknya yang tersenyum menghina cucunya yang masih tidak ingin menunjukkan jika dirinya anak kecil membuat cucunya ingin sekali memaki karena kakeknya suka sekali menggodanya.

”Sudahlah Kek, jangan dibahas lagi dan katakan untuk apa kau memanggilku? Aku juga tidak kebanyakan waktu untuk hal yang tidak berguna Kakek,” ucap Chen yang berusaha ke topik utama membuat kakeknya membulatkan mata mendengar jika mengunjunginya termasuk membuang waktu yang tidak berguna. 

”Hey, dasar cucu durhaka, kau bilang mengunjungiku itu sama saja menghabiskan waktu yang tidak berguna, aish…” ucap kakeknya yang marah mendengarkan ucapan cucunya yang sama sekali tidak menghargainya.

”Tenang, tenang dahulu Kek, aku belum selesai bicaranya,” ucap Chen yang berusaha meredakan amarah kakeknya agar dirinya tidak harus berlama-lama di tempat kakeknya.

”Tenang apaan, kamu sudah membuatku marah masih mau melanjutkan bicaramu,” ucap kakeknya yang sudah mengambek akibat ulah cucunya tersebut membuat Chen harus menyuruh asistennya untuk berbicara mewakilinya.

”Wan, kau kemari,” ucap Chen yang memanggil asistennya dengan nada pelan dan nyaris berbisik untuk mendekat kepadanya supaya dirinya bisa memberikan perintah kepada asistennya membuat Wan segera mendekat ke arah tuan mudanya supaya tuan muda bisa memberikan dirinya perintah untuk dia ucapkan.

”Kamu bilang ke kakek untuk tidak aneh-aneh sikapnya dan katakan tujuannya dan maunya memanggilku? Terserah kamu mau menggunakan kata apa pokoknya aku mau kamu membuat kakek berbicara mengenai alasannya,” ucap Chen yang membuat Wan harus berpikir keras untuk melunakkan tuan tuannya dikarenakan tuan tuanya pasti tidak akan berbicara kepadanya dikarenakan tuan mudanya. ”Sudah sana, cepat laksanakan perintahku!” ucap Chen dengan nada memerintah membuat Wan mau tidak mau melakukannya sembari mendengus kesal tanpa sepengetahuan tuan mudanya.

Tuan muda selalu saja melimpahkan kesalahannya kepadaku, bagaimana caranya aku bisa melunakkan hati tuan tua?

Batin Wan seketika mendekat ke arah tuan tuannya untuk berbicara sesuai dengan permintaan atasannya. Sementara kakek Liang mengetahui maksud Wan mendekat ke arahnya.

”Tuan tua, ada yang perlu saya bicarakan kepada tuan tua,” ucap Wan yang mendekati kakek Liang dengan sopan dan sabar meski dirinya tahu jika kakek tidak akan menanggapinya dikarenakan tuan mudanya yang sudah berbuat salah kepada tuan tuannya.

Sementara kakek Liang tidak memedulikan kedatangan Wan yang sudah dia ketahui apa yang akan dibicarakan oleh asisten cucu durhakanya dan tanpa sengaja kepala pelayannya mengetuk pintu ruang keluarga karena ada yang menelepon tuannya.

”Permisi tuan besar, mohon maaf saya mengganggu kenyaman Anda untuk berbicara dengan tuan muda namun ada telepon untuk Anda dari seorang gadis.” ucap kepala pelayan yang memberi tahu dari luar ruangan tersebut membuat kakek Liang berdiri dengan wajah yang senang mendengar jika ada yang menelepon dirinya membuat Wan dan Chen bertanya-tanya siapa yang menghubunginya.

...----------------...

Di tempat lain tempatnya kebun kecil yang terlihat sepasang muda-mudi yang sedang melakukan perkebunan.

”Bagaimana, kau capai tidak?” tanya gadis tersebut kepada adiknya yang membantu mencangkulkan tanahnya untuk dia tanamkan benih yang dia beli ketika melihat adik tampannya mengusap keringat di keningnya.

“Ah… rasanya badanku pegal semua, apakah masih belum selesai, kak?” tanya adiknya yang berharap jika tanah yang ingin dicangkul oleh kakaknya sudah selesai dicangkulnya membuat sang kakak menertawakannya yang sudah penuh dengan mandi keringat.

“Begitu saja kamu sudah tidak sanggup, bagaimana jika kamu menjagaku dari orang jahat?” tanya kakaknya yang membuat adiknya tidak jadi mengomel karena mendengar pertanyaan kakaknya.

“Aku sanggup menjaga kakak dari segala bahaya bahkan dari tunangan kakak,” ucap adiknya yang tidak mau kalah dari perkataan kakaknya mengenai dirinya yang bisa diandalkan dalam menjaga kakaknya dari orang jahat yang memiki niat buruk kepada kakaknya yang polos dan lugu.

Sementara dari dalam rumah mereka terdengar panggilan dari ayah mereka membuat dua anak menghentikan kegiatannya dan masuk ke dalam rumah untuk menghampiri ayah mereka yang sudah memanggil mereka.

“Ada apa Yah, memanggil aku dan Kakak?” tanya adik laki-lakinya yang bersuara terlebih dahulu setelah mereka menghadap ayah mereka yang memanggil mereka.

“Ayah mau memberi tahu kepada Shenzen jika Ayah suruh kamu menelepon teman ayah sekarang karena teman ayah ingin mendengarkan suaramu,” ucap ayahnya yang membuat gadis yang bernama Shenzen langsung membolakkan matanya sehingga menambahkan kegemasan di wajah imutnya.

Sementara adiknya tidak kalah terkejutnya ketika ayah mereka menyuruh kakaknya menelepon teman ayahn mereka yang tidak pernah dilihatkan bentuk dan model teman ayah mereka.

“Mengapa kakak yang harus menelepon teman Ayah?” tanya adiknya dan diangguk oleh sang kakak yang sepertinya ingin memprotes keinginan ayah mereka.

“Ayah… Ayah… Shenzen kan tidak mengenal teman ayah,” ucap Shenzen dengan menolak yang menggunakan suara menggemaskan dan muka yang imut membuat kedua laki-laki yang berbeda usia hanya bisa melihat perempuan mungil yang merupakan anak dan kakak.

“Aduh… begini punya nasib kakak yang menggemaskan sekali,” batin adiknya yang hanya bisa menatap gemas kakaknya yang menolak kuat untuk menelepon teman ayahnya.

“Temanku pasti senang jika menantu cucunya seimut dan semenggemaskan seperti ini,” batin ayahnya dan pada akhirnya mengalah. ”Baiklah, Ayah akan menelepon dahulu lalu kamu yang bicara dahulu sekalian perkenalan,” ucapnya membuat kedua anaknya mau tidak mau mengiyakan permintaan ayah mereka.

......................

Siapa yang menjadi teman ayah Shenzen? Penasaran siapa yang menelepon kakek Liang?

Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.

Dukung karya Auhtor selalu ya. Xie xie dan pay pay.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!