“Wan, kau sedang jalan dengan siapa dan mengapa kau tidak melakukan titahku?!” tanya seseorang dengan suara berat membuat Wan yang mengenal suara tersebut langsung menoleh begitu juga dengan Guang yang membuat Wan terkejut jika tuan mudanya sudah di depan matanya.
Liang Chen mendekat ke arah Guang dan hendak ingin meninjunya namun dia tidak ingin jika istri kecilnya terluka jika dirinya melukai Guang. “Kamu siapanya istiku?” tanyanya dengan intimidasi kepada sang adik istrinya membuat Guang hanya mencibir sembari tangannya masih menggendong kakaknya.
“Dasar kakak ipar, begitu cepatkah melupakanku?” tanya Guang yang membuat Liang Chen membulatkan matanya mendengar jika pemuda yang menggendong di bahunya adalah adik iparnya.
“Kamu adiknya Shenzen? Dan mengapa kau menggendong Shenzen?” tanya Liang Chen yang penasaran mengapa istri kecilnya digendong oleh adik iparnya meski itu adalah adik kandung istrinya namun dirinya tidak terima jika istrinya disentuh oleh lelaki lain selain dirinya.
“Astaga Kak Chen, aku ini adiknya Kak Shenzen, namaku Xiao Guang dan aku menggendong Kakak karena Kakak kecapean jadinya dia memintaku untuk menggendongnya dan dia sangat suka sekali dengan gendongganku jadi Kakak cepat sekali tidurnya,” ucap Xiao Guang menyombongkan gendongannya yang sangat disukai oleh kakaknya membuat Liang Chen mengepalkan tangannya karena tidak suka jika istrinya menyukai gendongan pria lain termasuk adiknya sendiri.
“Kamu biar bersama dengan Wan dan aku yang akan menggendong kesayanganku ke kamarku,” ucap Liang Chen yang langsung membuat Wan dan Guang kaget karena mendengar jika Liang Chen menyebut Shenzen yaitu ‘kesayanganku’ membuat adik iparnya mencibirnya karena kelakuannya.
“Tidak akan kuberikan Kakakku kepada Kak Chen karena dengan mesumnya Kak Chen berani menyebut kakakku ‘kesayanganku’ dan mau membawa ke kamar biar aku dan Kakak sekamar saja,” ucap Guang yang menolak jika menyerahkan kakak kesayangannya ke tangan pemuda yang belum sah menjadi suaminya.
“Guang, serahkan saja kesayanganku jangan buat aku emosi nanti kesayanganku bangun dan tenang saja aku tidak akan macam-macam kepada kesayanganku karena belum sah jadi aku akan menahannya karena hanya malam ini saja,” jelas Liang Chen dengan nada tegas membuat Shenzen sedikit menggoyangkan tangannya karena tidurnya sedikit terganggu. Liang Chen yang melihat istri mungilnya yang tidurnya terganggu langsung saja mendekat dan menatap Guang dengan tatapan tajam dan tegas.
“Aku berjanji tidak akan menyentuh Kakakmu karena dia memang milikku,” ucap Liang Chen yang memang sudah bertekad tidak akan mencebol pertahanan dan kesucian Shenzen sebelum dirinya berhasil mengikat kakak Guang selamanya.
“Guang, mengapa berisik sekali sih?” gumam Shenzen dengan nada menggemaskan meski mata cantiknya terpejam sembari mencoba menggesekkan pipi tembemnya ke punggung bidang sang adik untuk mencari kenyamanan yang membuat Liang Chen makin terbakar cemburu dan membuatnya memerintahkan asistennya karena dirinya tidak terima jika tubuh istrinya menyentuh orang lain walau saat ini adalah badan adik kandung istrinya sendiri.
“Wan, kamu buka tangan Guang dengan pelan-pelan biar aku ambil kesayanganku dari gendongannya karena aku yakin gendonganku lebih baik ketimbang gendongannya adik ipar,” ucap Liang Chen ke arah Guang untuk menggantikan gendongan adik iparnya membuat Wan menuruti dan ingin melepaskan tangan Guang membuat Guang tidak punya pilihan lain selain menyerahkan sang kakak agar kakaknya tidak bahaya daripada dirinya mempertahankan kakaknya.
“Hey, baiklah Kak Chen, aku mengalah, jangan main rebut dong nanti Kakak jatuh kalau kalian berdua asal rebut,” ucap Guang dengan sedikit marah karena menilai kakak iparnya yang terlalu gegabah hingga bisa membayakan nyawa kakaknya jika tidak hati-hati.
Liang Chen kemudian mengambil posisi aman sementara Guang menurunkan tingginya agar Liang Chen dengan mudah mengambil Shenzen tanpa membahayakan Shenzen lalu mengganti posisi gendongannya dengan gaya bridal style lalu membawanya meninggalkan Wan dan Guang yang hanya bisa melihat tuan mudanya terlihat jelas jika tidak ingin membagikan kelucuan dan keimutan Xiao Shenzen.
“Aduk kakak iparku itu ya benar-benar deh, semoga saja perkataannya benar, dan semoga saja dia memperlakukan kakakku dengan baik,” ucap Guang yang nada kesal karena kakaknya direbut darinya membuat Wan hanya bisa tersenyum mengetahui jika pemuda di depannya sangat sayang kepada nyonya mudanya sehingga tidak rela memberikan ke tangan tuan mudanya.
“Tenang saja, Tuan muda Xiao, saya bisa menjamin jika tuan muda akan memperlakukan nyonya dengan lembut dan baik dan saya percaya jika tuan muda benar-benar melakukan perkataannya karena baru saya lihat jika tuan muda benar-benar mencintai nyonya,” ucap Wan yang membuat Guang terkejut karena kabar yang dia dengar ternyata benar.
“Jadi selama ini kak Chen rela mendapatkan kabar miring yang sering diberitakan oleh media itu apa karena kakakku?” tanya Guang yang ingin memastikan berita mengenai Liang Chen yang dikenal sebagai pria berhati dingin dan tidak bisa ditaklukan oleh wanita mana pun sehingga ada kabar yang mengabari jika Liang Chen adalah penyuka sesama jenis atau punya kelaianan.
“Iya, tuan muda sudah mengetahui jika nona muda Xiao adalah tunangan masa kecilnya sehingga dia rela menunggu nona muda hingga cukup umur itu yang membuatnya tidak mendekati wanita mana pun dan tidak mau didekati oleh wanita mana pun.
...----------------...
Sementara perjalanan menuju kamar tidur pribadi Liang Chen. Liang Chen dengan jubah mandinya sedikit terbuka dikarenakan dirinya menggendong kesayangannya dengan gaya bridal style membuat Shenzen mencari kenyamanannya karena merasa dirinya sudah tidak berada dalam gendongan nyaman sang adik.
Shenzen lantas membenamkan dan mendusel pipi tembemnya lalu menggesekkannya tanpa Shenzen sadari dan ketahui ke dada bidang Liang Chen yang sedikit terbuka membuat bagian bawah Liang Chen langsung bangkit ketika mengetahui penakluknya sudah tiba.
”Shitt.. sial malah dia berulah sehingga membuatnya bangun,” ucap Liang Chen yang menahan sesaknya di balik jubah mandinya tersebut dikarenakan ulah calon istri kecilnya. Untung saja jarak taman belakang dengan kamarnya tidak terlalu jauh membuatnya bisa menahannya dan segera membuka kamarnya lalu mendekatkan ke arah kasur.
Diletakkan istri kecilnya ke kasurnya yang berukuran sangat luas dan sangat empuk dengan perlahan-lahan namun karena Shenzen yang bisa merasakan jika dirinya kalau diletakan di kasur oleh adiknya maka adiknya akan memberikannya guling karena memang sudah kebiasaannya membuatnya dengan reflex mengulurkan tangan kecilnya sebagai tanda meminta gulingnya kepada Liang Chen yang saat itu masih belum memahami arti dari istri kecilnya.
Karena Shenzen belum mendapatkan gulingnya membuatnya menarik Liang Chen karena dikira guling karena tidak ingin istri kecilnya mengeluarkan tenaganya yang sangat kecil membuat Liang Chen mengalah dan menumbangkan dirinya. Sehingga betapa terkejutnya jika dirinya dipeluk oleh Shenzen sehingga mukanya terbenam ke benda yang sangat empuk dan kenyal membuatnya tergoda untuk menyentuhnya namun Shenzen malah sedikit menendang adiknya yang sudah bergerak dikarenakan Shenzen merasa tidak nyaman dengan bagian yang sudah menonjol membuatnya untuk menyingkirkannya yang di mana membuat Liang Chen harus menahan cobaan yang sangat berat akibat ulah istri mungilnya padahal malam belum benar-benar larut.
......................
Waduhh… pasti di sini mengharapkan adegan yang bisa membuat kebaperan yang hakiki ya? Yang ingin vote dahuluya…
Sorry ya man-teman kalau digantung sama Author.
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya dengan cara rate 5, like, vote, gift, dan comment. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments