Selama semalam Liang Chen benar-benar tidak tidur akibat dirinya menahan adiknya agar tidak bangun di saat yang tidak tepat akibat istrinya yang tidurnya benar-benar tidak bisa diatur membuatnya hanya bisa berjaga sembari menikmati wajahnya terbenam di dada sang istri yang sangat menggoda untuk dibelai.
Sementara Shenzen yang selalu menendanginya membuat benar-benar cobaan hingga akhirnya malam berlalu dan paginya seperti kebiasaan Shenzen jika jam menunjukkan pukul 5 pagi membuatnya melepaskan gulingnya dikarenakan pasti akan berubah gaya tidurnya membuatnya dia melepaskan tubuh bidang Liang Chen nembuat Liang Chen bertanya-tanya karena kehilangan kenikmatan yang tiada tara walau hanya wajahnya yang bisa menikmati surga dunia sehingga tidak ingin dihentikan namun karena melihat Shenzen yang kesusahan memindahkan posisi dirinya membuatnya dirinya mengalah dan sedikit menjauh dari istri kecilnya serta bernapas lega karena adiknya tidak akan ditendang oleh Shenzen.
“Pagi nanti aku harus bertanya dengan jelas tentang kebiasaan, posisi dan gaya tidur kesayanganku kepada Guang karena seharusnya Guang yang memahami kebiasaan, posisi dan gaya tidurnya kesayanganku,” batinnya sembari menatap gaya tidur Shenzen yang mengekspos bahu kecilnya yang memperlihatkan bahu kecil yang putih mulus dan sedikit merona ketika malam hari dikarenakan suhu udara yang dingin.
“Tidur saja tetap menggemaskan dan sangat cantik,” ucapnya menatap istri mungilnya yang memejamkan mata untuk tidur membuatnya bisa memandang wajah cantik dan menggemaskan yang terlihat damai dengan leluasa tanpa mengetahui jika celananya depannya sudah basah dengan cairan miliknya.
Pagi hari tepat matahari sudah terbit dan menimbulkan sinarnya yang masuk melalui cela-cela jendela yang saat ini posisi tidur Shenzen adalah menempelkan pipi tembemnya serta menggesekkannya dikarenakan dia mengira jika disampingnya adalah guling pemberian Guang membuat adik dari Lian Chen terbangun sehingga Liang Chen yang tadinya bisa mendapatkan ketenangan untuk tidur mau tidak mau membuka matanya dikarenakan bagian bawahnya terbangun kembali setelah semalam hampir saja tidak mau ditidurkan.
“Mengapa dia bangun lagi sih?” batinnya sembari membuka matanya dan bertapa terkejutnya ketika dia mengetahui penyebab adiknya kembali terbangun yang dikarenakan pipi tembam istrinya menggesek dada bidangnya sehingga membuat adiknya terbangun kembali sehingga dirinya hanya bisa membeku dikarenakan pipi tembem istrinya membuatnya ingin memangsannya.
Shenzen yang sudah puas berpindah posisi sehingga mempermudah Liang Chen untuk bangun berdiri dari ranjangnya dan bertapa terkejutnya ketika mengetahui celananya sudah basah di depannya sehingga.
“Astaga mengapa bisa keluar dengan sia-sia? Harusnya dia keluar di dalam rahim kesayangaku karena kesayanganku sangat suka sama anak kecil,” batinnya menatap celananya yang depannya sudah basah karena miliknya membuatnya dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya agar dirinya tidak disalahkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan sehingga bisa-bisanya membatalkan rencana pernikahan yang sudah dia impikan.
Sementara Shenzen dengan masih terlelap tidak mengetahui jika dirinya tidur di rumah orang bahkan ada pria yang mandi di kamar tersebut meski di dalam kamar mandi terdengar suara air dikarenakan pria tersebut mandi membersihkan tubuhnya namun kebisingan tersebut tidak membuat Shenzen masih tertidur pulas tanpa terganggu sedikit pun.
Liang Chen yang sudah selesai dengan aktivitas mandinya membuat Liang Chen keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandinya lalu keluar dari kamar mandinya di dalam kamarnya namun jaraknya sangat luas membuatnya melangkah lebih masuk agar mendekati kamar tidurnya. Dilihatnya jika istri kecilnya masih tertidur pulas tanpa sedikit terganggu dengan aktivitas mandinya sehingga Liang Chen mendekat ke arah kasur dan duduk di tepi ranjang agar dirinya bisa mengamati wajah cantik dan menggemaskan sang istri.
Ditatapnya dari ujung kepala hingga dari ujung kaki serta mengatakan dengan suara kecil. “Dari ujung rambut hingga ujung kakimu adalah milikku, wahai istriku yang manis, sekarang kau adalah milikku,” ucap Liang Chen sembari mengawangkan jari telunjuknya agar tidak menyentuh namun dengan posisi menunjuk dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Tidurlah yang nyenyak, my queen, kesayanganku,” ucap Liang Chen mengelus kening serta mencium lembut pipi tembem istrinya agar istrinya mimpi indah. Setelah memberikan kecupan selamat pagi kepada istrinya yang masih tertidur pulas, Liang Chen bangkit berdiri serta berjalan menuju walk in closet untuk mencari baju formalnya yang jika dirinya tidak menjalankan tugas tentaranya.
Setelah memakai jas yang sengaja dia beli jauh-jauh hari untuk pernikahannya yang sudah lama dia dambakan dan nantikan sejak dirinya berumur dua puluh lima tahun dan merapikan penampilan agar dirinya tampil lebih tampan di hari istemewanya, Liang Chen lalu berjalan mendekati pintu kamarnya dan membuka dengan perlahan membuatnya sedikit terkejut jika Xiao Guang, adik dari istrinya sudah menunggunya di depan kamarnya.
“Ngapain kamu disini, Guang?” tanya Liang Chen kepada adik sang istri yang juga sudah berpakain rapi seperti dirinya.
“Kakakku apakah masih tertidur?” tanya Xiao Guang memastikan kondisi kakaknya lalu memastikan kepada Liang Chen dengan pertanyaan yang berbeda. “Kau benar tidak menyentuh kakakku tadi malam kan?”
Mendengar dua pertanyaan yang berbeda membuat Liang Chen tersenyum dan menjawab sabar untuk pertanyaan pertama dari adik iparnya. “Ya, kakakmu masih tertidur pulas dan aku sangat suka dengan pesonanya pada saat kakakmu tidur, masih tetap cantik dan menggemaskan malah lebih bagaikan bidadari untukku,” ucap Liang Chen yang tidak sadar menampilkan senyum tipisnya di wajah tampan membuat Guang yang melihat wajah calon kakak iparnya pertama kali tersenyum.
“Kalau menyentuh kakakmu, aku tidak menyentuhnya sama sekali malah kakakmu yang menyentuhku dan membuat adikku bangun gara-gara dia kira aku guling sehinga menendanginya pada saat tubuhku diperluk bak guling sehingga adikku bangun,” ucap Liang Chen lalu pergi meninggalkan Guang yang mengetahui jika adik kakak iparnya bangun yang berarti kakak iparnya tersiksa sepanjang malam.
“Haha… aku tidak menyangka jika kakak iparku tersiksa karena dia menjaga ucapannya,” ucap Guang yang tertawa karena membayangkan penderitaannya namun benar-benar tidak menyentuh kakaknya demi menjaga janjinya dan percakapannya membuat Liang Chen menoleh dan kembali ke arah Guang.
“Hei, aku ini memang menjaga percakapanku karena aku tidak mau merusaknya sebelum dia aku ikat dengan tali pernikahan dan menjadikannya milikku seutuhnya karena dari awal kakakmu adalah milikku sehingga aku bisa menahannya hanya demi menghalalkan dia,” ucap Liang Chen tegas lalu kembali pergi meninggalkan Guang yang menatap kagum akan calon kakak iparnya yang begitu mencintai kakaknya.
Sepeninggal Liang Chen, Guang mencoba masuk ke dalam kakak iparnya dan mendapati jika kakaknya masih benar-benar berpakaian utuh dan terlihat jika kakaknya benar-benar tertidur pulas karena kakaknya memang paling susah dibangunkan terlebih kondisi untuk tidur lebih lama sangat mendukung bukan karena habis melakukan olahraga malam.
Dia memang orang yang memegang perkataannya. Batinnya sembari duduk di tepi ranjang dekat sang kakak berbaring sembari mengulurkan tangannya dan mengelus puncak rambut kakaknya yang masih tertidur lelap dengan gemasnya dan imutnya.
......................
Wahh sepertinya satu episode lagi adalah perkawinan Liang Chen dan Xiao Shenzen.
Sorry ya man-teman kalau digantung sama Author.
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya dengan cara rate 5, like, vote, gift, dan comment. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments