Sementara di ruang tamu di kediaman Liang Chen, Liang Chen yang mengeluarkan dokumen penting yang sudah disiapkan dari jauh-jauh harinya memberikan kepada kedua orang tua Xiao Shenzen.
”Saya mohon untuk ayah dan ibu membuka dokumen tersebut setelah pesta pernikahan saya selesai dan saya akan berbicara empat mata dengan ayah mertua setelah pesta,” ucap Liang Chen sembari menyerahkan kepada ayah mertuanya dan ayah mertuanya langsung menerima tanpa membukanya karena sudah diberi tahu oleh menantunya.
”Untuk petinggi biro pernikahan saya minta kalian mengrahasiakan pernikahan saya dengan putri pertama Xiao sehingga pihak luar tidak mengetahui jika saya sudah menikah karena itu saya membuat pernikahan di kediaman saya dan hanya mengundang saksi dari pihak mempelai wanita, Anda sekalian dan sekretaris yang saya percayai. Meski pernikahan saya tersembunyi dan tidak saya sebarkan luas namun jangan salah saya sudah mempersiapkan semewah mungkin di taman belakang,” ucap Liang Chen yang membuat keluarga Xiao dan petinggi terkejut dikarenakan Liang Chen ingin pernikahan disembunyikan oleh publik yang membuat tuan dan nyonya Xiao ingin bertanya mengenai arti perkataan Liang Chen namun mereka pendam karena Liang Chen yang akan memberi tahu sesudah putrinya menikah dengan Liang Chen.
”Baiklah jika itu keinginan dari Jenderal Liang maka kami akan membuat pernikahan Jenderal Liang tidak publik dan menutup jika Jenderal sudah menikah dengan gadis pilihan Jenderal,” ucap pejabat biro pernikahan yang mengetahui jika kapten Liang pasti memiliki keputusan sendiri entah itu kabar baik atau kabar buruk.
”Bisa jadi saja Kapten Liang menikahinya karena tuntutan mempelai dari wanita atau dia membutuhkan perkuat posisi,” bisik pejabat dengan pejabat lainnya membuat diratapi dengan kejam oleh Liang Chen sendiri karena Liang Chen tidak menyangka jika perkataan dari pejabat tersebut menjatuhkan martabat istri mungilnya.
”Jaga bicara Anda karena Anda tidak segan saya habisi jika Anda mengeluarkan perkataan yang tidak pantas untuk menghina keluarga istri saya,” ucap Liang Chen dengan nada tegas dan dingin membuat para pejabat tersebut hanya bisa mengangguk sembari ketakutan.
...----------------...
Sementara itu Shenzen yang masih di kamarnya sibuk mengunyah-ngunyah dengan muka menggemaskannya sembari menikmati kue favoritnya hingga pipi tembemnya terkena noda saus rasberry karena Shenzen kurang berhati-hati membuat pipi ternodai oleh saus dari cake tersebut.
Pipi tembemnya terlihat gembung bagaikan bakpao membuat ahli rias dan Guang tidak tahan untuk menggigit pipi tersebut yang selayaknya pipi bayi mungil yang sibuk mengunyah-ngunyah kue dengan muka menggemaskan.
”Kakak, cepat habisin kuenya karena kemungkinan acaranya akan dimulai,” ucap Guang yang membuat Shenzen mengangguk kepalanya dengan gerakan yang sangat imut membuat semuanya hanya bisa merasa diabetes karena kelebihan gula akibat melihat keimutan seorang Xiao Shenzen.
Guang yang mengamati kakaknya yang sedang menikmati kue favorit kakaknya sembari mengecek pesan yang masuk dari suami kakaknya yang tadinya mengatakan jika dirinya yang akan mengantar kakaknya ke taman belakang yang sudah disulap oleh suami kakaknya.
...----------------...
Sementara di ruang tamu terlihat jika Liang Chen mengambil telepon genggamnya yang berada di dalam sakunya untuk mengecek apakah ponselnya bergerak karena ada notif pesan yang dia memang buat untuk bergetar agar tidak menganggu proses membuat akte pernikahan bersama pejabat biro pernikahan mengenai akte pernikahan yang akan dia simpan dengan sangat rahasia.
Namun nahasnya teleponnya bergetar membuatnya menghentikan sebentar dikarenakan Liang Chen ingin melihat siapa pengirimnya di waktu yang sangat dia nantikan.
”Tunggu sebentar akan saya cek dulu pesan saya, saya minta waktu sebentar dan maaf membuat Anda menunggu,” ucap Liang Chen dengan sopan dan hormat membuat pejabat mengangguk paham daripada nyawa mereka melayang karena tidak mengizinkan kapten satu ini yang dikenal berdarah dingin.
”Silahkan Kapten Liang mengurus kepentingan kapten lebih dahulu karena kami punya banyak waktu luang,” ucap mereka membuat posisi Liang Chen sedikit menjauh dari mereka yang seperti ingin tahu akan kepentingannya.
”Siapa yang berani mengirimkan dan menganggu hari pentingku? Sepertinya orang itu tidak ingin hidup lebih lama lagi,” batin Liang Chen sembari mengecek dan betapa terkejutnya jika yang mengirimkan pesan tersebut adalah adik iparnya membuatnya bertanya-tanya apa yang dikirimnya karena berupa foto sehingga mendownload dan itu berhasil membuatnya tersenyum bahagia sehingga membuat semua orang terkejut karena Liang Chen tersenyum namun bagi mereka merupakan kesialan jika melihat Liang Chen tersenyum karena sangat menakutkan karena Liang Chen sangat jarang menampilkan senyumnya.
”Siapa yang membuatnya tersenyum bisa-bisanya nyawaku makin pendek?” batin pejabat yang melihat Liang Chen tersenyum menatap telepon genggamnya.
Sementara Liang Chen menatap foto yang dikirimkan oleh Xiao Guang merupakan foto Shenzen yang mengunyah sehingga pipi tembem istri mungilnya terlihat mengembung penuh membuat Liang Chen mengketik dengan senyum bahagianya karena baru melihat perdana istri mungilnya makan meski itu lewat foto.
Beruntung kau mengirimkan upeti kepadaku. Ketiknya serta mengirimkannya kepada adik iparnya.
Liang Chen lalu tiba-tiba berdiri serta meninggalkan semua orang yang terkejut dengan sikap Liang Chen yang menurut mereka aneh.
...----------------...
Di ruang kamar utama Shenzen dan Liang Chen tiba-tiba langsung dibuka oleh badan kekar dan tegap serta kaki panjang yang siapa lagi pelakunya jika tidak bukan adalah Liang Chen yang berhasil membuat Shenzen dan Guang menoleh karena ingin tahu siapa yang datang.
Liang Chen dengan langkah cepat menghampiri istri mungilnya yang sibuk mengunyah potongan terakhir kue sehingga kedua pipi tersebut kembali terkena noda dikarena potongan tersebut besar namun Shenzen enggan sehingga membuat dan memaksa bibir mungil itu membuka lebar agar potongan tersebut masuk dan muat ke dalam bibir mungil yang berwarna ceri cerah yang terlihat menggoda dan kenyal tersebut membuat Liang Chen hanya bisa menahan salivanya begitu melihat istri mungilnya yang benar-benar terlihat peri.
”Kak Chen, mengapa kamu disini?” tanya Guang yang heran atas kemunculan tiba-tiba Liang Chen yang sudah mendekati kakaknya.
”Kesayangaku ini makannya seperti anak kecil, lihatlah bakpao ini ada noda saus,” ucap Liang Chen dengan lembut ketika sudah sampai di kursi tempat Shenzen duduk sembari menikmati kuenya dan mengelapnya dengan jempolnya serta menjilatnya membuat Shenzen yang sibuk mengunyah langsung terbatuk-batuk karena wajah suaminya sudah dekat seinci dengan wajahnya.
”Uhhukk…uhhukk…” batuk Shenzen hingga muka bundar imutnya itu memerah karena dia kesedak potongan kue yang sudah mengecil akibat dia kunyah namun masih sedikit kasar dan itu ketelan akibat kedekatan muka suaminya yang tiba-tiba membuat Liang Chen panik serta menyuruh ahli rias untuk mengambil gelas yang ada di meja rias.
”Maafkan aku, kesayanganku, kesayanganku kaget ya?” ucap Liang Chen sembari mengelus lembut pundak istri mungilnya untuk menenangkan sembari memberinya gelas yang berisi susu coklat yang belum disentuh karena Shenzen biasanya akan menikmati di akhir.
Setelah sedikit lega karena sudah menghabiskan hingga tandas, Shenzen memberikan gelasnya kepada Liang Chen dan Liang Chen menyerahkan kepada ahli rias serta mengangkat istri mungilnya dengan gaya bridal keluar menuju kamar mereka membuat Shenzen terkejut dan panik kenapa dirinya digendong tiba-tiba.
......................
Wahh mau dimana kemana tuh Shenzennya?
Sorry ya man-teman kalau digantung sama Author.
Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.
Dukung karya Auhtor selalu ya dengan cara rate 5, like, vote, gift, dan comment. Xie xie dan pay pay.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments