IMTMKL – 4

“Ayah… Ayah… Shenzen kan tidak mengenal teman ayah,” ucap Shenzen dengan menolak yang menggunakan suara menggemaskan dan muka yang imut membuat kedua laki-laki yang berbeda usia hanya bisa melihat perempuan mungil yang merupakan anak dan kakak.

“Aduh… begini punya nasib kakak yang menggemaskan sekali,” batin adiknya yang hanya bisa menatap gemas kakaknya yang menolak kuat untuk menelepon teman ayahnya.

“Temanku pasti senang jika menantu cucunya seimut dan semenggemaskan seperti ini,” batin ayahnya dan pada akhirnya mengalah. ”Baiklah, Ayah akan menelepon dahulu lalu kamu yang bicara dahulu sekalian perkenalan,” ucapnya membuat kedua anaknya mau tidak mau mengiyakan permintaan ayah mereka.

Ayah mereka menuju ke ruang keluarga di mana telepon kabel yang pada saat itu masih banyak digunakan pada zaman itu sementara itu dua anaknya mengekor ayahnya dari belakang punggung ayahnya.

Sesampai di ruangan keluarga, ayah menuju meja kecil yang di atasnya terdapat telepon kabel dan mengambil ganggangnya serta memutarkan nomor telepon tersebut sesuai dengan nomor telepon temannya dan ketika tersambung maka ayahnya menyerahkan kepada putrinya sambil berkata, “Nah, kamu ngomong saja sama teman Ayah dan Ayah akan memantaumu di sini.”

Ayahnya meninggalkan putrinya yang sedikit memprotes kecil namun putrinya tetap menerima ganggangnya karena sudah ditinggal tanpa bisa diprotes oleh putrinya dan duduk di salah satu sofa memantau putrinya untuk memastikan apakah putrinya berbincang-bincang dengan temannya atau tidak. Sementara anak laki-lakinya ikut memilih duduk di samping ayahnya untuk mengawasi ayahnya yang sepertinya punya maksud yang tidak diketahui oleh dirinya dan kakaknya.

“Yah, mengapa kau menyuruh kakak untuk menelepon teman ayah?” tanya anak laki-lakinya yang tidak mengerti dengan sikap ayahnya yang terkesan ingin memperkenalkan baru sekarang dengan temannya yang katanya merupakan teman seperjuangan.

“Tidak apa-apa, kamu diam saja dan dengarkan kakak imutmu berbicara,” ucap ayahnya yang menyuruh putranya untuk tidak berkomentar apa-apa mengenai keputusannya terhadap putrinya.

Sementara Shenzen yang berniat untuk menutup panggilan jika tidak diangkat namun tiba-tiba saja panggilannya terhubung namun bukan teman yang dimaksud oleh ayahnya yang mengangkat panggilan tersebut namun terdengar suara pria yang kemungkinan besar usianya seumur dengan ayahnya membuat Shenzen bertanya kepada penerima telepon mengenai nama dari teman ayahnya yang sudah ayahnya beri tahu jika panggilannya diangkat oleh orang lain.

“Halo dengan kediaman Liang, ada yang saya bantu?” tanya penerima telepon yang mengatakan jika panggilan tersebut menghubungi kediaman Liang membuat Shenzen mengerutkan keningnya membuat wajah bingungnya terlihat menggemaskan karena mendengar perkataan pria tersebut.

“Kediaman Liang? Apakah kakek Liang ada? Shenzen disuruh oleh Ayah untuk mencarinya,” ucap Shenzen dengan nada imutnya namun masih menampilkan raut bingungnya karena dia tidak mengerti nama yang diberikan oleh ayahnya sehingga dirinya memanggil ‘kakek Liang’ membuat penerima telepon berpikir jika ini gadis yang dimaksud oleh tuannya dan menjawabnya.

“Ada, nona, sebentar biar saya panggilkan tuan besar, saya mohon nona bisa menunggu dan jangan menutup panggilannya,” ucap kepala pelayan yang takut jika nona tersebut menutup panggilannya sehingga dirinya kena amarah dari tuannya namun tidak bagi Shenzen yang kebingungan setelah mengetahui jika teman ayahnya adalah orang yang bukan biasa.

“Tuan besar?” beo Shenzen yang tentu tidak didengar oleh pemanggil telepon yang tidak lain dan tidak bukan adalah kepala pelayan di kediaman tua Liang dikarenakan kepala pelayan tersebut segera melaporkan jika tuannya menerima telepon dari seorang gadis kecil.

...----------------...

Kembali di ruang keluarga di kediaman tua Liang.

”Permisi tuan besar, mohon maaf saya mengganggu kenyaman Anda untuk berbicara dengan tuan muda namun ada telepon untuk Anda dari seorang gadis.” ucap kepala pelayan yang memberi tahu dari luar ruangan tersebut membuat kakek Liang berdiri dengan wajah yang senang mendengar jika ada yang menelepon dirinya membuat Wan dan Chen bertanya-tanya siapa yang menghubunginya.

“Ya, ya, aku datang, kamu bisa menjawab dahulu,” ucap kakek Liang dengan girang dan segera berdiri keluar dari ruangan tersebut yang membuat Wan dan Chen memutuskan untuk mengikuti langkah kakeknya dikarenakan keinginan tahunya yang melihat jika kakek tersenyum senang karena pemanggil telepon tersebut.

Kakek Liang yang tidak menyadari jika cucunya dan sekretaris cucunya mengikuti dirinya dari belakang dengan suara langkah kaki aman karena sudah telanjur terlalu bersemangat dan senang karena tidak sabar berbicara dengan orang yang membuat panggilan kepada dirinya.

“Hey, kamu ikut aku secara diam-diam dan jangan bersuara,” ucap Chen yang mengendap-endap dari belakang dengan memberi jarak hanya beberapa meter sambil memerintahkan Wan untuk mengikutinya karena ingin membuntuti kakeknya tersebut.

“Baik tuan muda,” ucap Wan dengan patuh sembari mengikuti seperti atasannya lakukan dan mereka keluar dari ruangan tersebut dengan jarak waktu beberapa menit setelah kakek Liang keluar agar tidak membuat kakek Liang curiga dengan sikap mereka berdua yang terkesan sangat ingin mencampuri urusan tuan tua Liang.

Di ruangan tamu terlihat jika kepala pelayan mencoba untuk berbicara sementara sampai tuannya datang dan ketika kakek Liang datang maka dengan sopan dirinya menyerahkan ganggang tersebut agar tuannya ambil alih pembicaraan namun terdengar suara gadis yang terdengar imut dan menggemaskan.

“Halo… kepala pelayan? Mengapa kamu berhenti bercerita?” tanya Shenzen yang tidak mengetahui jika pembicaraan telah diahlikan sehingga kakek Liang yang menjawab jawaban dari putri imut teman lamanya dengan muka dan suara senang gembira karena bisa mendengarkan suara imut nan menggemaskan secara pertama kali.

”Halo, Shenzen, apa kabar? Kamu pasti heran mengapa kepala pelayan tidak menjawab karena kakek yang minta diahlikan,” ucap suara kakek Liang terdengar membuat Shenzen dengan muka menggemaskan di balik panggilan manggut-manggut sebagai tanda mengerti membuatnya kembali bersuara.

”Begitu ya rupanya, apakah kakek yang bernama kakek Liang, teman ayah?” tanya Shenzen yang memastikan apakah benar jika penerima panggilannya merupakan teman ayahnya.

”Ya, Shenzen benar sekali, ini kakek Liang, tumben sekali Shenzen menelepon kakek? Apa ingin bertemu dengan kakek?” tanya kakek Liang yang berharap jika Xiao, ayah dari Shenzen mengijinkan Shenzen untuk bertemu dengan dirinya.

Sementara Shenzen yang mendengar pertanyaan dari kakek Liang sedikit terkejut namun tetap menjawab dengan wajah penasarannya yang pastinya bisa dibayangkan oleh kakek Liang.

”Tadi Ayah yang menyuruh Shenzen untuk menelepon kakek katanya untuk Shenzen mengenal kakek,” ucap Shenzen dengan jujur yang polos dikarenakan Shenzen merupakan gadis yang tidak pernah dan bisa berbohong sehingga Xiao yang mendengarkan putri polosnya berbicara seperti itu hanya bisa menepuk jidatnya membuat putranya menertawakan sikap ayahnya yang dinilai terlalu kekanakan-kanakan.

Sementara Chen dan Wan yang mendengar dapat menangkap jelas suara gadis yang imut dan menggemaskan membuat Chen sempat berpikir ketika mendengar gadis tersebut menyebutkan namanya sendiri.

”Shenzen? Mengapa terdengar akrab di telingaku?” batin Chen yang berusaha mengingat-ingat nama dari gadis yang dirasa terdengar di akrab di telinganya sementara Wan tidak butuh waktu lama untuk berpikir segera memberi tahu tuannya dengan cara berbisik ke telinga tuannya supaya mereka berdua tidak sampai ketahuan oleh kakek Chen karena mengendap-endap dan mencuri dengar.

......................

Akhirnya terjawab sudah siapa yang menelepon kakek Liang dan siapa yang membuat kakek Liang senang. 

Note : Selama novel ini berlangsung Author tetap akan menggunaka bahasa Indonesia setiap percakapan walaupun latar negara sedang berada di negara Taiwan.

Dukung karya Auhtor selalu ya. Xie xie dan pay pay.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!