“Ini loh, Gaes ... ini kripik tempenya. Ini yang belum dikemas, nah itu proses pembuatannya. Mohon maaf, semua pegawai sudah disegel. Maksudnya, sudah solidet alias sudah enggak singel. Yang pria gantengnya kaya Rahwana, yang perempuan, cantiknya kaya Srikandi. Tokoh kuat semua. Hah? Bukan Rahwana? Arjuna? Alaaah, ... Arjuna terlalu biasa. Arjuna itu ciwinya banyak. Buat apa ganteng kalau cintanya dibagi-bagi. Mending sama Rahwana meski enggak seganteng Arjuna, tapi sangat setia. Sampai dia nekat culik dewi Sinta. Kalian tahu kisahnya dan alasannya, kan? Yang enggak tahu, berarti pas pelajaran di sekolah, kalian transmigrasi atau malah ngerogo sukmo! Atau malah membelah diri? Omegat!”
Baru live pertama, Ojan tak hanya mendapat banyak penonton. Karena caranya yang memperlakukan penonton layaknya sahabat, dan boleh-boleh saja sekalian curhat, membuat sebagian besar penonton, memberinya hadiah.
“Eh subahanalloh, ini kalian kasih aku t-tiga juta? Ini kalian yakin, mau akhir bulan loh. Nanti dapur kalian enggak ngebul.” Ojan terbengong-bengong menyaksikan nominal hadiah yang terus bertambah dengan cepat. “Nanti kalau dapur sampai enggak ngebul, kalian wajib ngebon ke rumah makan Bu Arum, ya. Jam—Jam. Hallo, Jam. Hahaha, siap-siap diser*ang ngebon, Jam. Eh, yang jaga rumah makan si Akala sama Nina ya.”
“Oke ... oke. Aku jawab satu-satu, ya. Perempuan berhijab yang suka ngonten sama aku? Itu Maiwaifi alias istri! Bidadari surga dunia akheratku itu! Kalian para jomlo, wajib cari yang gitu!”
“Memangnya boleh, istrimu buat aku?” Ojan kembali membaca komentar penontonnya. “Ya enggak boleh lah. Itu kan istriku. Kamu cari yang lain, tapi maksudnya, cari yang beneran mau nerima kamu terus dukung kamu dari nol. Sama-sama berjuang gitu.”
Rere yang masih mengawasi dari balik kamera, tidak bisa untuk tidak meleleh. Iya, hatinya semakin dipenuhi rasa syukur karena ia memiliki suami seperti Ojan. Bukan hanya tanggung jawabnya, tapi juga lucu dan tingkah manisnya.
“Ini ada yang tanya, alamat pabrik sama toko tahu atau tempe produk sini. Ini sebenarnya kata maiwaifi, tahu dan tempenya sudah sampai ke seluruh Jatohbebek. Eh, jadahbebek.” Ojan kesulitan berbicara. “Sayang, kamu saja yang bilang, yang kenceng. Susah sumpah, lidahku keseleo terus!”
“Jabotabek, sama Bandung juga!” seru Rere benar-benar berteriak, tapi Ojan malah menertawakannya.
“Kalian kalau mau beli, nanti aku bikin video, di mana saja biasanya tahu tempe dikirim. Pokoknya kalau ada merek Tahu Tempe Super Kedelai, itu punya sini. Nah besok, ini kripik segala rupa, ada foto aku! Biar kalian terus ingat sama aku, tapi plis, jangan disante*t ya!” Ojan sudah kembali mengambil alih obrolan.
Rere yang kembali mesem-mesem, mengacungkan kedua jempol tangannya kepada Ojan.
“Gaes ... Gaes, aku dikasih dua jempol sama Maiwaifi. Lihat, tuh!” Ojan yang kegirangan sengaja mengarahkan kameranya kepada Rere.
Rere yang meski gugup sekaligus kebingungan, berangsur melambaikan kedua tangannya ke kamera. Tak lupa, ia juga menuntun hal yang sama, dilakukan oleh Adam sang putra yang kebetulan duduk di kursi sebelahnya.
“Itu anak aku. Namanya Adam. Hah? Terlalu ganteng? Hah? Kalian ngira aku ngaku-ngaku? Bercyandah kalian ya! Itu beneran anakku. Besok kalau punya anak cewek, berarti namanya wajib Hawa. Ya Allah Maiwaifi, masa suamimu yang gantengnya pas-pasan ini, dikira fitnah. Asli, Adam anakku. Bentar, Dam ... Adam sayang, ayo sapa Gaes ... Gaes yang lagi nemenin Daddy live!”
Di tengah kesibukan Ojan live, Excel dan sepuluh kliennya datang. Namun karena semuanya kompak meragukan kinerja Ojan sekaligus cara pabrik Excel melakukan promosi produk baru mereka, Excel sengaja menggunakan prestasi baru Ojan sebagai influencer.
“Baru satu bulan, Ojan sudah berhasil membuat beberapa videonya tembus satu juta. Lihat, live-nya saja banyak yang nonton. Yang kasih saweran juga banyan.” Excel sampai ikut live dengan Ojan.
“Wahhh ... Broder—” Ojan keceplosan nyaris menyebut Excel, tapi dengan cepat, Ezcel meletakan telunjuk tangan kirinya di tengah bibir.
Berbeda dengan Ojan yang sangat ingin terkenal karena melalui itu juga Ojan mendapatkan banyak rezeki, tidak dengan Excel yang tidak mau terkenal.
“Oke ... oke. Broderku langsung borong.” Ojan paham, Excel tak mau disebut bahkan sekadar disapa. “Yuk yuk, pada borong yuk. Dikripik-dikripik. Dioseng dibalado. Beli banyak makin berkah, aku doakan yang beli juga masuk surga!” Ucap Ojan yang juga menjanjikan, sebagian pesanan akan mulai dikemas dan dikirimkan secara bertahap.
Saking banyaknya pesanan, terlepas dari pesanan Excel, mereka langsung lembur sampai malam. Ojan turut andil membungkus-bungkus bersama Rere maupun Excel. Sementara Adam yang akhirnya kelelahan, berakhir tidur di sofa.
“Ini fotoku yang di sini, enggak ada ganteng-gantengnya. Tapi enggak apa-apa, yang begini yang biasanya bikin kangen. Oalah iya, Eyang Fatimah sama Sepri wajib coba ini!” ucap Ojan sangat bersemangat. Saking bersemangatnya karena akhirnya, usahanya menghasilkan rezeki untuk orang lain juga, ia sama sekali tidak merasa capek.
“Yang tadi aku pesan kan dikirim ke rumah mamah Arum, Mas,” ucap Excel.
“Ya tetap beda lah Broder. Itu kan ke keluarga Broder, dari Broder. Yang aku ke Eyang Fatimah sama Sepri, tetap wajib sendiri. Apalagi, gini-gini, aslinya aku kangeeeeen banget ke eyang maupun Sepri. Kangen Binar juga soalnya biasa main bareng. Antar dia sekolah dan aku jadi mamah Suci jadi-jadian!” ujar Ojan.
Menyimak itu, Rere dan Excel yang duduk mengapit Ojan, refleks bertatapan. Dalam hati mereka, baik Excel maupun Rere berdalih, Ojan sedang ada di fase merasa kehilangan masa-masa santainya. Hingga di tengah kesibukannya, sebagian hati Ojan terasa hampa lantaran pria itu jadi tidak bisa bercengkerama dengan beberapa orang yang disayang, secara leluasa.
“Dua apa tiga minggu lagi, kita pulang kampung yuk, Dad. Sepertinya, Mas Excel juga mau pulang kampung. Dua mingguan di kampung harusnya bisa,” ucap Rere yang sukses membuat Ojan terbengong-bengong menatapnya.
“S-serius, Maiwaifi?” ucap Ojan memastikan dengan suara bergetar saking bahagianya.
Rere yang tetap membungkus setiap masakan, mengangguk-angguk sambil terus memasang senyum tulus.
“Berarti langsung resepsi sama sunat Adam? Buat itu nunggu kendors saja lah ya. Soalnya aku yakin, kita bakalan dapat banyak kendors! Yang penting tetap narik kondangan biar bisa narik kondangannya Jam-jam yang lima puluh juta! Hahahaha!” ucap Azzam yang baru membayangkannya saja, sudah merasa sangat bahagia. Belum lagi jika ia membayangkan wajah tak rela Azzam ketika kondangan kepadanya. “Duh Gustiiiii, bahagia banget hamba!” batinnya.
“Jangan lupa bunganya loh, Mas Ojan. Karena saat Mas balikin kondangannya ke mas Azzam, Mas wajib balikin enam puluh juta!” ucap Excel yang sudah ikut menahan tawa layaknya sang adik hanya karena kebahagiaan Ojan.
“Loh, Broder. Dengar gitu kok ya aku langsung sedih gini toh. Lah, rugi bandar berarti aku ya?” ucap Ojan berkeluh kesah, tapi kakak adik di sebelahnya malah tertawa sampai lemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
Ojan bikin bahagia orang di sekitarnya
2024-12-18
0
Maulida Hayati
Aku suka ceritanya .
2024-10-06
0
azka myson28
jabotabek jadi jadahbebek jadi jatuhbebek😂😂😂😂😂ngakak q..authior kamu pinter ngelucu yaa
2024-05-31
0