Sejauh ini bersama keluarga barunya di Jakarta, Ojan mendadak merasa ada yang kurang dalam diri bahkan hidupnya. Membuat rasa semangat sekaligus kebahagiaannya, menjadi berkurang.
“Aku kenapa, ya? Kok jadi linglung lemes gini,” pikir Ojan yang sudah langsung dikejutkan oleh seruan dari Adam.
“Daddy, sini ... Daddy sudah lihat pembuatan tahu belum?” seru Adam lagi dan kali ini sambil menghampiri Ojan. Adam sudah langsung menggandeng Ojan, menuntunnya ke ruangan sebelah hingga sang daddy juga menyaksikan pembuatan berbagai jenis tahu dan baginya sangat keren.
“Lihat itu, Daddy. Keren banget, kan? Dari semuanya, aku paling suka yang tofu!” ucap Adam yang kemudian bertanya, “Kalau Daddy, suka yang apa?”
Bertepatan dengan itu, Rere yang tampak mencari-cari, datang dan langsung tersenyum menyaksikan kebersamaan sekaligus interaksi antara Adam dan Ojan.
“Yang paling Daddy suka ya mommy Adam. Dan bahasa Inggrisnya itu, Maiwaifi!” yakin Ojan belum tahu jika sang istri sedang di sana.
“Itu, si Daddy lagi bahas apa? Kok kasih jawabannya gitu? Manis bener,” batin Rere yang kemudian memutuskan untuk menyapa. Ojan yang awalnya tersenyum yakin kepada Adam setelah memberikan jawabannya, langsung syok ketakutan.
“Daddy kenapa?” tanya Rere tetap tidak bisa membuat Ojan lebih baik. Namun, Adam yang mulai paham kondisi malah tertawa.
Adam sengaja meraih sebelah tangan Rere kemudian menggandengkannya dengan tangan Ojan yang sudah lebih dulu ia gandeng. Selanjutnya, yang bocah itu lakukan setelah sukses membuat kedua orang tuanya tersipu akibat ulahnya, ialah mendorong pelan punggung keduanya. Adam menjadi makcomblang kedua orang tuanya, agar keduanya makin saling sayang.
“Mommy sayang ke Daddy, kan? Terus, Daddy juga sayang ke Mommy kan?” ucap Adam yang begitu ceria.
Setelah keliling pabrik termasuk itu meninjau pembuatan keripik tempe dan keripik tahu, Rere membawa keluarga kecilnya ke kebun kedelai di belakang pabrik. Cuaca yang sedang agak mendung dengan semilir angin yang berembus agak kencang, membuat keadaan di sana benar-benar asri. Mirip suasana sawah jika Ojan sedang ikut Sepri dan tentu saja bukannya membantu, tapi justru rusuh.
“Jadi kangen suasana kampung. Kangen Sepri, Binar, Ojin, Hyojin ... Eyang Fatimah. Mbak Septi, Mas Andri. Jam-Jam yang sok ganteng meski memang ganteng, tapi juga berisik,” ucap Ojan lirih kelepasan kesedihannya.
Rere yang awalnya sedang mengelus kepala Adam penuh sayang, tak sengaja mendengarnya. Rere bisa merasakan kerinduan mendalam Ojan, kepada kampung halaman sekaligus orang terdekatnya. Terlebih sejauh ini, tampaknya Ojan belum pernah benar-benar jauh dari semua yang ditinggalkan dalam jangka waktu lama.
“Mas kangen kampung sama orang-orang di sana?” tanya Rere.
Ojan yang sangat sulit bohong sudah langsung mengangguk sambil mengelus tengkuknya. Keadaan tersebut merupakan tindakan refleksnya ketika ia sedang merasa berat karena kesedihan mendalamnya. Kesedihan mendalam yang ia rasa akibat kerinduannya kepada kampung halaman dan juga orang-orang terdekatnya yang ada di sana.
Rere berangsur menggunakan kedua tangannya untuk merangkul lengan suaminya, kemudian memijatnya. “Tunggu bentar lagi, yah, Mas. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku bereskan dulu. Namun nanti pasti ada waktu, buat kita berkunjung sekaligus tinggal cukup lama di kampung.” Rere meyakinkan dan detik itu juga, sang suami sudah kembali tersenyum girang.
“Tapi enggak usah buru-buru juga enggak apa-apa, Mommy. Apalagi kan, Mommy saja belum sehat banget!” yakin Ojan yang sudah langsung mengkhawatirkan Rere setelah ia kembali ingat bahwa keadaan sang istri belum baik-baik saja.
Selain masih meminum obat, Rere yang tangan dan kaki kirinya masih kerap kebas, juga masih harus kontrol rutin. Rere menjalani terapi khusus untuk mengobati tangan dan kaki kirinya. Hingga Ojan makin yakin, memang sedang banyak pekerjaan besar sekaligus penting yang harus istrinya selesaikan. Malahan kini, Ojan sudah kembali memasuki dapur produksi keripik dan letaknya ada di bagian ruang paling belakang di pabrik.
“Ah ... seenak ini, serenyah ini, senagih ini. Kriuk-kriuk, laek it!” ucap Ojan sudah langsung bergaya mempraktikkan gaya promosi layaknya model andal.
Rere sudah langsung sibuk menahan tawanya. Apalagi ketika Ojan praktik foto untuk ditaruh di bungkus atau label bungkus kripiknya. Bukannya bergaya ganteng, Ojan malah sengaja memamerkan giginya yang agak tonggos.
“Itu iklan biar banyak yang beli, atau malah nakut-nakutin, Dad?” ucap Rere di sela tawanya sambil membekap mulutnya menggunakan kedua tangan guna meredam tawanya.
Omong-omong tentang syuting dan jadi artis, Ojan yang sengaja membawa Adam main ke depan pabrik yang lokasinya cukup dengan puncak, malah tak sengaja melihat kehebohan syuting di jalan depan pabrik.
“Dam, Dam, itu ada soting, Dam. Daddy ikut nyempil apa yah, Dam? Lumayan meski cuma divideo kaki, atau suaranya suruh ketawa mirip hantu yang sedang radang!” sergah Ojan berbisik-bisik kepada sang putra.
Namun, Adam yang tidak paham dengan maksud daddynya, hanya melongo sekaligus menatap Ojan penuh terka. Meski pada akhirnya, Adam mau-mau saja digendong Ojan untuk ikut nyempil ke acara syuting.
“Wah ... soting sampo ketombe, Dam!” lirih Ojan melongok persis di sebelah kamera. Padahal, syuting masih berlangsung yang mana ia sengaja nyengir, hingga giginya yang putih berkilau sukses membuat sutradara yang awalnya akan mengomel, jadi terpesona.
Gokilnya, sekitar dua puluh menit kemudian, Ojan disuruh kembali nyengir di depan kamera yang fokus mengarah kepadanya, dan posisi kembali menyamping.
“Wahhhh!” batin kameramen maupun sang sutradara langsung suka dengan gaya Ojan yang pinter gaya.
“Cut! Nanti tinggal diganti wajah sama tubuhnya pakai si Jefri!” ucap sang sutradara yang mengacungkan kedua jempol tangannya kepada Ojan.
Detik itu juga Ojan kegirangan, meski beberapa kemudian, setelah iklannya kembali disempurnakan oleh model utama, ia hanya bisa memasang wajah pasrah.
“Ini buat kamu. Bayaran syuting tadi. Sudah sana pergi,” ucap seorang kru yang memberikan selembar uang lima ribu lusuh kepada Ojan.
Uang lima puluh ribu juga yang membuat Ojan seolah mendapat rezeki nomplok. Ojan menerimanya dengan perasaan tak percaya. Kemudian, ia juga memamerkannya kepada Adam yang tetap ia pangku, meski kini ia tengah duduk sila di pinggir jalan aspal yang agak basah. Dan beberapa menit kemudian, kenyataan Ojan yang lari kegirangan sambil menggendong Adam, malah mengusik konsentrasi sang sutradara.
“Tuh orang ... kok jadi pengin bikin film tentang bapak berkeb*utuhan khusus yang ditinggal istrinya dan harus mengurus anaknya, persis gambaran dia dan anaknya, ya? Andai sudah ada ide, wajib dia juga sih yang jadi pemeran utamanya,” pikirnya mendadak menemukan inspirasi brilian.
Di lain sisi, Ojan yang memang sangat berisik dan sampai menularkannya kepada Adam, membawa sang putra ke alfa terdekat. Ojan yang tak memegang uang selain uang lima puluh ribu yang baru ia terima sebagai bayaran syutingnya, membeli dua es krim contong pilihan Adam. Adam memilihnya dengan sangat antusias di tengah kenyataan bocah itu yang terus saja kegirangan.
“Ini buat Adam, satu lagi buat Mommy! Ayo kita ke Mommy!”
“Makasih banyak Daddy!” girang Adam yang kembali bersemangat karena Ojan menggendongnya sampai berlari.
Berbeda dengan Adam yang kegirangan, apa yang Ojan dapatkan untuk hari ini justru membuat air mata Rere tak hentinya berlinang. Terlebih setelah Ojan menceritakan semuanya, juga nota maupun kembalian dari uang selaku penghasilan pertama Ojan, yang Ojan berikan semuanya kepadanya.
“Suamiku ... ya Allah ... Masya Allah, aku seberuntung ini punya suami yang beneran pengin kerja agar dia bisa kasih nafkah terbaik buat keluarga kecilnya!” batin Rere sampai tersedu-sedu hingga Ojan termasuk Adam yang awalnya asyik menikmati es krim contongnya, jadi bingung sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
Ojan waras juga dari sikap nyelenehnya
2024-12-17
0
Ida Ulfiana
ternyata d samping sifat ojan yg agak gesrek dia sangat bertanggung jawab salut bngt
2024-05-21
0
guntur 1609
salut aku sm ojan
2024-01-08
2