Syuting hari pertama, Ojan begitu sering melakukan kesalahan lantaran Ojan tak kunjung hapal dialognya.
“Cut, cut ... cut! Istirahat dulu ... istirahat dulu!” sergah sang sutradara yang jadi makin emosional. Ia langsung menghampiri Ojan. Beruntung, suasana sekitar puncak tempat mereka menggelar syuting, adem. Tak terbayang andai mereka menggelar syuting di gurun dan dari tadi—hampir satu jam lamanya, tak ada satu pun dialog yang Ojan hapal.
Dari semuanya, hanya dialog yang tidak bisa Ojan lakukan. Rere sampai tidak tega melihat suaminya dimarahi habis-habisan. Andai belum terikat kontrak, sudah Rere bawa pulang sang suami, kemudian ia beri pekerjaan yang mudah Ojan kerjakan layaknya biasa.
“Kalau sekali lagi kamu tetap tidak bisa, lebih baik kamu pulang!” omel pak Salim yang sampai berteriak-teriak tepat di depan wajah Ojan.
Ojan tak hanya menunduk sedih karena ia juga sampai menangis. Terlebih sejauh ini, tidak ada yang berani membentaknya bahkan itu ibu Septi yang memang bar-bar. Namun kini, di hadapan banyak orang bahkan anak dan istrinya, Ojan dibentak sekaligus dimak*i. Karena pekerjaan, demi sebuah bayaran sekaligus tanggung jawab, Ojan jadi belajar hal baru.
“Pantas Sepri selalu bilang agar aku lebih menghargai uang. Pantas Sepri selalu minta aku buat belajar. Pantas Sepri selalu perhitungan jika sudah berkaitan dengan uang. Ternyata memang enggak segampang yang aku pikirkan. Nyari uang memang sesulit ini. Apalagi disaksikan di depan anak dan istri. Maiwaifi sampai nangis, dan Adam pun jadi ikut sedih begitu,” batin Ojan sambil menghampiri anak dan istrinya yang memang masih sangat setia menemani sekaligus menyemangatinya. “Aku beneran harus bisa. Aku enggak boleh gagal biar anak dan istriku bisa makan. Biar aku bisa ajak mereka jalan-jalan. Apalagi kalau sudah jadi artis besar, pengin apa-apa pasti lebih mudah. Aku bahkan bisa hidup lebih enak melebihi Sepri dan yang lainnya,” batin Ojan menyemangati dirinya sendiri.
“Daddy minum air putih dulu. Daddy harus tetap semangat apalagi biar bagaimanapun, film ini akan jadi penentu kesuksesan Daddy! Ini kan, yang Daddy mau? Ya sudah sekarang Daddy minum, gini aku ajari dialognya ya. Santai saja yah, Dad. Kayak, ... kalau lagi ngobrol sama mas Azzam atau mas Sepri. Ini Daddy wajib ceria tapi bikin yang lihat, sedih banget!” Rere begitu sibuk menyiapkan apa yang harus suaminya jalani. Dari membuat Ojan memegang sebotol air minum bekal milik mereka kemudian meminumnya melalui sedotan stainles, selain ia yang mengarahkan cara sekaligus gaya yang harus Ojan lakukan.
“Ingat, dibawa santai saja. Soalnya konsep dialognya ini beneran mirip dialog sehari-hari Daddy!” yakin Rere lagi.
“Daddy, semangat Daddy. I love you. Saranghiyu!” ucap Adam tak mau ketinggalan kemudian memeluk Ojan. Ia yang awalnya mendekap tubuh Ojan, berangsur diemban oleh daddynya itu.
Pak Salim yang tak sengaja memergoki perhatian Rere dan Adam kepada Ojan, sampai jadi merasa bersalah sekaligus kasihan kepada Ojan. Pada kenyataannya, Ojan dan peran utama di film yang mereka garap memang sangat mirip.
Syuting hari pertama benar-benar penuh drama. Terlebih ketika Ojan sudah mulai hapal dialog, hujan deras beserta angin kencang mendadak mengacaukan jalannya syuting. Kendati demikian, pak Salim tetap meminta Ojan untuk bertahan, menjalani syuting layaknya ketika semuanya baik-baik saja.
“Biar lebih drama, Jan. Biar sedihnya lebih dapat!” teriak pak Salim sudah memakai payung. Ia memayungi dirinya sendiri meski sebelumnya, ia sempat dipayungi. Ia melakukannya agar bisa melangkah lebih leluasa, termasuk itu agar ia bisa berkomunikasi dengan Ojan lebih leluasa. Terlebih setelah ia amati, pada dasarnya Ojan memang berbeda dari orang normal pada kebanyakan. Kemampuan berpikir Ojan sangat pay*ah apalagi untuk urusan mengingat sekaligus berucap.
Di beberapa kesempatan, pak Salim sengaja membiarkan Ojan berdialog dengan versi Ojan, dan baginya emosinya jadi jauh lebih dapat.
“Ibu Paojan, tolong bisa perbaiki dialognya biar seperti dialog sehari-hari suami Ibu?” ucap pak Salim sampai meminta bantuan Rere.
Suasana sudah malam, tapi syuting terus lanjut. Ojan juga baru diperbolehkan ganti baju meski dari tadi pria itu sudah kuyup. Bukan pakaian bagus yang Ojan pakai karena sesuai perannya, Ojan tetap harus memakai pakaian kucel. Wajah Ojan yang sudah agak bersih terawat berkat rere saja sampai dirias menjadi makin buri*k.
Ojan mengawasi sekitar, mencari sang anak yang ternyata sudah tidur meringkuk di tempat duduk tengah mobil Rere. Rasa sayang sekaligus perhatiannya, membuatnya ingin memastikan keadaan sang putra secara langsung. Terlebih di sana terbilang banyak nyamuk sekaligus sangat dingin.
“Maiwaifi, besok kalian enggak usah ikut syuting ya. Dingin banyak nyamuk begini. Tuh lah, pipimu juga digig*it nyamuk!” Keluh Ojan yang baru saja menghampiri Rere.
“Enggak apa-apa, Pah. Enggak apa-apa. Yang penting Papah semangat syutingnya, hapalin dialog ini, terus ikuti arahan kru termasuk arahan aku, ya!” semangat Rere yang mencintai Ojan tanpa jeda. Demi masa depan keluarga kecil mereka, Rere sungguh akan menemani sang suami berjuang dari nol.
Setelah menyimak dan mengangguk-angguk sanggup, Ojan mendadak merasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman yang tidak bisa ia sembunyikan apalagi dari ekspresinya.
“Kenapa, Dad?” tanya Rere lantaran sang suami mendadak gelisah.
“Ini ada yang mau keluar, Maiwaifi. Tapi takut bikin yang lain pingsan. Mana tuh kru lagi pada makan. Eh—” Ojan yang kentut dan sampai dihiasi suara mirip gemuruh, yang di sebelah bahkan seberang, dan itu kru syuting, langsung kebingungan. Tak semata mereka yang mencari-cari sumber suara, tetapi juga aroma kentut Ojan yang luar biasa mirip wabah.
Rere yang juga ikut kebauan, sengaja pura-pura agar tidak membuat yang lain mencurigai suaminya, dan itu ia yakini bisa membuat sang suami kembali diomeli. Karenanya, ia malah sengaja tertawa hingga sang suami yang memasang wajah tak berdosa kebingungan harus bagaimana, ikut tertawa.
“Itu tadi apa, ya? Kok jadi mendadak bau ****** begini? Mau curiga itu kentut, tapi kayaknya bukan deh. Soalnya bau begini. Apa jangan-jangan, ada kucing koreng*en nyempil sambil ngeraung-raung mirip bunyi kentut?” ucap pak Saling sampai mencari-cari sumber suara maupun baunya. Terlebih, beberapa dari mereka yang awalnya tengah ngopi sekaligus menikmati mi seduh, jadi muntah-muntah.
“Maifaifi, kerokin punggung bentar yuk, kayaknya aku masuk angin.” Ojan sengaja membawa Rere masuk ke mobil untuk kerokan. Ia juga berbisik-bisik, jika masuk angin dan perut sampai kembung efek hujan-hujanan sekaligus kedinginan, kentutnya akan makin bersuara, sementara aromanya membahana.
“Ojan? Dia yang kentut?” pikir pak Salim curiga tapi tidak berani mengungkapkannya. Apalagi jika memang Ojan, harusnya Rere juga kebauan. Namun di dalam mobil sana, Rere malah ngakak bersama Ojan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
kentut mu ajaib Ojan 😁🤣🤣🤣
2024-12-18
0
Salwa Antya
ojan ojan bikin orang sekampung pingsan 🤣🤣🤣
2024-05-02
1
Firli Putrawan
🤣🤣🤣senjata ojan udah keluar bikin muntah muntah
2023-09-30
4