Sampai rumah dan masuk ke dalam kamar, suasana yang mulanya sepi, menjadi dihiasi gelak tawa dari Adam.
“Ayo, keringin dulu badannya. Habis itu pakai bedak, baru pakai baju. Eh, perlu pakai minyak ini enggak sih?” ucap Ojan.
Rere yang penasaran sengaja melongok dari sebelah pintu.
“Itu minyak telon Daddy. Kalau ini, minyak rambut. Pakainya gini-gini!” ucap Adam yang Rere yakini baru dimandikan oleh Ojan.
Pria yang dianggap kurang waras itu sampai memandikan Adam, dan Rere ketahui lantaran Adam makan siang dengan belepotan. Sebagian sup tumpah mengenai tubuh lantaran bersama Ojan, Adam jadi kelewat ceria sekaligus sibuk bercanda. Yang membuat hati Rere makin terenyuh, Ojan dengan segala kekurangannya mau belajar. Pria itu mau-mau saja diarahkan oleh Adam cara bagaimana biasanya Rere mengurus Adam.
Rere mengapresiasi usaha Adam. Bahkan meski ketika ia masuk kamar mandi, di sana banjir parah karena mungkin selain Ojan yang belum terbiasa dengan fasilitas kamar mandi dan memang berbeda dengan fasilitas kamar mandi Ojan di kampung, baik Ojan maupun Adam memang sibuk bercanda
“Dek Rere, di situ banjir. Jangan ke situ, nanti kamu ke pleset. Apalagi kamu belum sembuh bener,” heboh Ojan yang sudah langsung menyusul Rere dengan setengah berlari. Namun malah dirinya yang terjatuh setelah sebelumnya terpeleset lebih dulu.
“Daddy Ojan, selalu lucu! Aku suka, aku suka!” heboh Adam yang kemudian loncat-loncat di tempat tidur.
Rere yang baru akan membantu Ojan, sudah langsung terbengong-bengong. Sejak kapan putranya loncat-loncat di kasus seperti itu? Namun hati kecilnya sudah langsung yakin, Adam yang menjadi sangat ceria semenjak pernikahan Rere dan Ojan, mendapatkannya dari Ojan.
Niat hati membantu Ojan, Rere justru dituntun oleh Ojan untuk kembali ke area kamar. Ojan sampai membantu Rere duduk di pinggir tempat tidur sampai detik ini, Adam masih loncat-loncat.
Jika dulu, kemewahan selalu menjadi alasan Rere bahagia. Kini, diperhatikan layaknya ratu oleh sang suami, juga Adam yang jadi ceria sekaligus ekspresif lah yang menjadi hal mewah sekaligus kebahagiaan mahal bagi seorang Rere.
Sementara jika dulu laki-laki tampan, keren, sekaligus menggo*da ialah mereka para laki-laki berdasi yang berpakaian mahal sekaligus mobil mewah dan bekerja di perusahaan besar, kini sudah bukan seperti itu. Karena kini, laki-laki keren sekaligus idaman bagi Rere ialah suaminya yang rela repot, lebih memilih dirinya lelah sendiri asal anak dan istrinya aman. Layaknya yang dilakukan Ojan, pria itu mengeringkan kamar mandi dan sekitarnya, termasuk sebagian lantai menuju tempat tidur dari kamar mandi yang sempat mereka lewati. Pakaian Ojan yang awalnya sudah agak basah, makin basah. Tak semata karena Ojan kerepotan, tapi karena Ojan belum tahu cara membersihkan semua itu. Tentu kenyataan itu terjadi lantaran selama ini, Ojan ibarat bayi tua yang selalu diurus Sepri sekeluarga—baca novel : Pernikahan Suamiku (Istri yang Dituntut Sempurna). Akan tetapi, Rere sangat menghargai usaha Ojan yang juga mau menerima arahannya dalam melakukan segala sesuatunya.
Rere memiliki masa lalu yang kela*m. Rele pernah menjalani proses menjadi manusia lebih baik, dengan sangat tidak mudah. Karena sampai sekarang Rere masih belajar, Rere pernah ada di posisi di mana tak ada satu pun yang percaya bahwa dirinya benar-benar belajar berubah menjadi orang lebih baik. Tentu kenyataan tersebut terjadi lantaran di masa lalu, kesalahan yang Rere lakukan sangat fatal. Hingga sekelas keluarganya saja sampai sempat tidak percaya. Jadi, setelah dihadapkan pada kenyataan sekarang, Rere paham apa yang harus ia lakukan. Ia harus membantu Ojan untuk menjadi lebih baik lagi. Baik dalam bersikap sekaligus berpikir, maupun juga penampilan.
Setelah beres dan sampai makan siang bersama karena nyatanya Ojan belum makan siang hanya agar bisa makan siang dengan Rere, Rere sengaja memboyong Ojan dan Adam ke mal. Rere berniat membeli pakaian untuk Ojan. Karena selain Ojan hanya membawa sedikit pakaian ganti mengingat alasan pria itu ke Jakarta awalnya bukan untuk urusan pernikahan, Rere juga ingin mengubah penampilan Ojan.
Ketiganya ke mal diantar oleh sopir keluarga Rere lantaran Rere belum diizinkan menyetir sendiri.
“Wuuuuuuuaaaaah! Ini Mal, apa hotel? Kok gede banget, Dek Rere?” heboh Ojan kegirangan sembari menatap takjub bangunan megah yang ada di kanan kiri keberadaannya. Bangunan megah saling terhubung dan suasananya sangat ramai. Antara pusat perbelanjaan, hiburan, sekaligus pusat keramaian—begitulah yang ia tangkap dari pengalaman.
“Ini mal, Mas. Di sini kita bisa beli apa saja. Beli pakaian, perabotan, elektronik, kebutuhan dapur. Pokoknya di sini bisa beli apa saja!” jelas Rere benar-benar lembut.
“Ah, masa, di sini bisa beli apa saja? Nyatanya Dek Rere enggak bisa beli jodoh atau daddy buat Adam. Nyatanya meski di sini beli apa saja, Dek Rere jodohnya sama aku! Hahahaha!” heboh Ojan masih sempat-sempatnya merayu sang istri, tapi kenyataan tersebut sudah langsung sukses membuat Rere tersipu, selain Adam yang juga langsung terbahak kegirangan.
Bergegas mereka masuk dengan Ojan yang tetap menggendong Adam.
“Masya Allah, mal di Jakarta segede ini yah, Dek. Ah, Sepri sama Jam-Jam kalah ini. Mereka kan belum pernah ke mal segede ini. Mal di kampung kan ya, kecil. Enggak ada serumah keluargaku. Lah ini, berasa satu rumah kampung dijadikan mal!” ucap Ojan merasa sangat bahagia.
Saking bahagianya karena sudah langsung diajak ke mal meski baru beberapa hari di Jakarta, hati Ojan sampai berbunga-bunga. Lebih membuat Ojan bahagia lagi, Rere mau-mau saja ia gandeng. Bahkan meski sampai detik ini mereka belum melangsungkan malam pertama, Ojan merasa santai-santai saja. Kenyataan tersebut bukan masalah berarti karena selain Rere selalu menyikapinya dengan hangat sekaligus manis, kesehatan Rere memang belum memungkinkan untuk melakukan itu.
“M-mas, sandalnya enggak usah dilepas. Tuh lihat, enggak ada yang lepas sandal atau alas kaki lainnya, kan,” tegur Rere yang segera jongkok kemudian memakaikan sandal milik sang suami yang berwarna pink.
“Oalah iya ... apa ya enggak kot*or, kan segede ini, kasihan yang bersihin. Iya kalau orang yang bersihin serajin Sepri, kalau kayak aku apa Jam-Jam?” ucap Ojan terheran-heran. Baru pertama kali mengunjungi mal di Jakarta dan itu sudah langsung mal besar, ia memang belum begitu paham. Jiwa nora*knya sudah langsung menonjol karena ia memang belum terbiasa.
“Weh ... weh, Dek Rere. Itu ada bule, Dek. Londo ... itu londo! Lah, ada orang India juga Dek! Widdiiih, negro pun ada, Dek! Keren ini. Ngemal di Jakarta berasa keliling dunia, bisa lihat orang-orang luar ada di sini. Ini jangan-jangan, di sini ada artis, Dek?” heboh Ojan benar-benar tidak bisa diam. Lain dengan Adam yang hanya cekikikan, atau Rere yang selalu tersenyum bersahaja menyikapi kehebohan sekaligus keingintahuan sang suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Dewisartika Hutabarat
mana sendal pink ya Ojan yg klu bunyi ngik2
2025-02-20
0
Nendah Wenda
gak di ganti itu sandal pink Ojan
2024-12-16
0
Rina Yuliana
emang dr kampung ya ojan
2025-03-01
0