“Yakin, ini Mas enggak mau?”
“Nanti dulu. Takut ditelu*h Sepri! Besok saja kalau aku sudah kerja.”
“Ya kenapa? Dosa, loh!”
Ojan mendadak takut dilema.
“Mas Ojan, juga sudah haji, kan?” ujar Rere.
“Iya, Haji mabur aku!” jawab Ojan dengan polosnya.
Detik itu juga Rere menahan senyumnya. “Bukan mabur, Mas. Namun haji mabrur.” Rere sengaja membenarkan.
Dengan segera, Ojan langsung berpikir keras. “Itu sejak kapan ganti begitu? Bukannya dari dulu memang mabur? Mabur itu kalau di kampungku artinya terbang, Dek Rere tersayang-sayang!”
Rere yang awalnya serius, malah menjadi kembali tertawa sampai lemas akibat panggilan baru yang ia dapatkan dari sang suami—Dek Rere Tersayang-sayang.
“Haji mabrur berarti maqbul, dan artinya ibadah hajinya diterima, Mas. Paham?” lembut Rere sembari menatap sopan Ojan.
Setelah obrolan yang cukup panjang dihiasi kekonyolan Ojan sekaligus rencana mereka ke depan, dan sukses membuat Rere lemas karena tertawa, selain Rere yang juga merasa sangat terharu sekaligus bahagia, pada akhirnya, Ojan menyerah. Ojan membiarkan pakaiannya dilepa*s oleh Rere karena Rere juga yang memulai berbekal dosa sekaligus menjalani sunnah untuk melengkapkan ibadah mereka.
“Ini berarti nanti aku yang hamil yah, Dek Rere? Ini aku yang dihamili? Ya sudah Dek, biar aku saja yang hamil soalnya mbak Suci bilang, hamil itu rasanya sarno-sarno!” ucap Ojan.
Rere yang sudah sangat tabah karena harus memulai, berakhir terduduk lemas di lantai akibat tawa yang sibuk wanita itu tahan.
“Mas ....”
“Iya, Dek. Kamu jangan ketawa terus yah, Dek. Aku bingung jadinya.”
“Makanya Mas jangan ngelawak terus. Tolong Mas diem dulu ya. Kita ibadah dulu, soalnya aku sudah agak ngantuk.” Rere benar-benar memohon dan masih terduduk lemas di lantai. Entah mengapa, mungkin karena kebersamaan mereka yang terlalu santai tapi hidup, akibat obrolan yang diwarnai gelak tawa sekaligus keseriusan, rasa nyaman yang ia dapatkan juga membuatnya seolah sudah mengenal Ojan sangat lama. Rere sama sekali tidak merasa asing pada Ojan.
Setelah langsung Diam, Ojan yang hanya tinggal memakai celana d*alam langsung menunduk tegang. Kenyataan tersebut pula yang membuat Rere jadi ikut tegang. Sembari membuka piyama lengan panjangnya, Rere menanyakan alasan Ojan jadi diam tegang layaknya sekarang.
“Sebenarnya ....” Terhitung sudah empat kali, Ojan mengatakannya, tapi hanya sebatas itu.
“Yang hamil itu aku, Mas. Bukan Mas. Namun kita tunda dulu, ya. Tunggu Adam sampai masuk SD dulu. Enggak apa-apa, kan?” yakin Rere yang beranjak duduk di hadapan Ojan. Mereka sama-sama duduk di pinggir tempat tidur.
Ojan yang refleks menatap Rere dan sebelumnya, belum tahu bahwa istrinya sudah melepas setiap kancing piyama, langsung melotot. Dalam hatinya ia berkata, “Ya Allah, rezeki nomplok!” Namun dengan segera, Ojan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah, meski ia tetap mengintip dari sela-sela jemari tangannya.
Meski ulah Ojan sukses membuatnya kikuk, Rere memberanikan diri untuk menatap sambil lanjut melepas bajunya. “Ini semua, ... semua yang ada pada tubuh sekaligus hidupku punya Mas. Begitupun dengan Mas ke aku. Semua yang Mas punya, juga otomatis menjadi milikku setelah kita menikah,” lembutnya yang memang sengaja berbicara dengan nada hati-hati.
“Tapi punyaku kecil, Dek. Gimana dong, aku malu bukanya!” ucap Ojam sembari menutupi pangkal perutnya menggunakan kedua tangannya, hingga ia tak lagi menutupi wajahnya. Ia bahkan telah kembali menatap Rere.
“Kecil bagaimana, Mas?” lirih Rere yang memnag sudah langsung bingung.
“Kecil pokoknya,” rengek Ojan nyaris menangis.
Kekhawatiran Ojan sekaligus tingkah pria itu yang terus menutupi pangkal perutnya membuat Rere mulai menerka-nerka.
“Kecil banget pokoknya. Makanya aku ditinggalin terus, setelah mereka lihat!” rengek Ojan lagi. “Entah gimana pas suna*t kok dibabat habis!”
Sempat agak canggung sekaligus kikuk, pada akhirnya lagi-lagi Rere tertawa. “Enggak apa-apa, Mas. Enggak apa-apa. Sudah jangan nangis, ya. Yang aku tahu, Allah enggak akan menciptakan satu hal pun tanpa manfaat.” Ia berusaha membuat sang suami untuk tidak berkecil hati.
Detik itu juga Ojan langsung ceria. “Iya juga sih, Dek. Harusnya masih berfungsi buat bikin a*nak!” Ia mendadak begitu yakin, tapi Rere malah tetap sibuk menahan tawa.
***
Subuh yang benar-benar segar. Tak kalah segar dari Ojan yang baru beres keramas. Ojan sampai bersiul-siul dan tampak sangat bahagia. Segera pria itu menghampiri putra sambungnya yang memang baru bangun.
“Daddy, Mommy mana?” tanya Adam masih sangat lesu sambil mendekap punggung Ojan yang sudah mengembannya.
“Mommy masih mandi. Kita bikin susu di dapur ya,” sergah Ojan sembari membawa baskom berisi beberapa botol dot, sekali wadah sufor Adam.
Baru keluar dari kamar, Ojan sudah berpapasan dengan Excel yang juga mengemban Sabiru. “Wahhhh ... keramas juga yah, Broder Ipar!” cerianya yang juga sudah langsung membuat sekelas Excel yang selalu kalem, sibuk menahan senyum.
“Pagi Mas Ojan. Bahagia banget?” ucap Excel sengaja menunggu Ojan mendekatinya.
Mendengar sapaan dari Excel, Ojan langsung mengernyit. “Kok masih manggil mas, sih Broder Ipar? Kan harusnya saya yang panggil gitu. Harusnya ... eh, harusnya aku dipanggil Dedek dong! Yihuuuuh, berasa abege kalau gini caranya.”
“Abegenya hanya sebutan, Pakde Ojan. Rupanya sudah beda cerita,” ucap Azzura yang juga baru keluar dari kamar sambil mengemban anak perempuannya.
Mendengar tanggapan sang istri, Excel makin sibuk menahan tawanya. Meski pada akhirnya, ia juga ngakak. Terlebih ketika Ojan juga turut menggo*da Azzura yang sudah bercadar dengan tudingan “baru saja keramas”.
“Ya iya, kan? Kalian habis keramas juga, kan? Ya iyalah ... sunah penuh kenik*matan, masa enggak dijalani,” ucap Ojan yang menuduh Azzura, tapi dijawab sendiri.
“Daddy, aku haus mau susu,” rengek Adam.
“Oh iya, iya. Sori menyori Adam anak Daddy yang paling ganteng mirip Daddy Kim Oh Jan. Yuk kita bikin susu yuk di dapur!” sergah Ojan sudah langsung sigap.
Awalnya, Excel dan Azzura kompak diam. Namun tak lama setelah kepergian Ojan, keduanya jadi cekikan. Azzura sampai menepuk-nepuk gemas punggung sang suami beberapa kali.
“Apa sih, ya. Pernikahan mereka mirip keajaiban dunia, ya. Namun jika diamati lebih jeli, memang orang seperti Ojan yang Adam dan Rere butuhkan loh, Yang!” ucap Excel di sela tawanya.
“Dari awal aku kasih kabar ke mas Azzam kalau akhirnya mereka menikah, ... ya ampun Yang ....” Azzura sampai tidak bisa berbicara karena tawanya yang sampai membuatnya menitikkan air mata.
“Kenapa?” balas Excel yang menyikapi sang istri dengan sangat manis, menatapnya penuh cinta dengan jarak yang sangat dekat.
“Kondangan! Lima puluh juta!” ucap Azzura yang akhirnya bisa mengatakannya.
Jika kalian sudah membaca novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan), Istri yang Haram Disentuh, juga novel Excel dan Azzura yaitu : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia. Pasti kalian tahu mengenai kondangan Lima puluh juta, antara Azzam dan Ojan. Alasan yang membuat pasangan manis Azzura dan Excel, jadi sibuk cekikikan di subuh yang harusnya membuat keduanya bersiap melangsungkan salat subuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Dewisartika Hutabarat
berarti cerita Ojan yang terakhir ya Thor,belum baca yang lain habis ini baru baca
2025-02-20
0
Nendah Wenda
akhirnya Ojan ngerasain juga nikmatnya nganu
2024-12-17
0
Lela
thor cerita ecxel sama ayura ga ada di sini thor
2024-11-09
1