Hati Rere terlalu rapuh. Ia yang selama ini haus perhatian sekaligus kasih sayang, seolah mendapatkan pawang. Bersama Ojan, ia mendapatkan semuanya. Memang jumlah materi yang Ojan berikan kepadanya tidak banyak. Namun cara Ojan mendapatkannya, juga kenyataan pria itu yang selalu serba memberikan semuanya serba untuknya, memang menjadi keistimewaan tersendiri. Terlebih, tak semua orang termasuk itu seorang suami, akan melakukan seperti yang Ojan lakukan. Karena jangankan yang dianggap kurang waras, yang waras saja belum tentu akan melakukannya.
“Mom—my, kenapa malah ... nangis?” lirih Ojan jadi merasa bersalah. “Maaf banget ya, belum bisa kasih banyak apalagi yang merah-merah.” Yang Ojan pikir, alasan Rere sedih karena uang yang ia berikan terlalu sedikit. “Tadinya mau langsung aku kasih semuanya, tapi masa iya kalian enggak jajan? Aku saja senang jajan, apalagi kalian, kan?”
Rere menggeleng-geleng, menepis anggapan sekaligus kekhawatiran Ojan yang ia yakini lantaran bagi pria itu, alasannya menangis karena sedih, uang yang Ojan berikan hanya sedikit. “Enggak, Dad. Ini aku beneran bahagia!” yakinnya setelah ia juga sampai mendekap sang suami. Dekapan yang makin lama makin erat.
Beberapa saat kemudian, kenyataan Rere yang masih terisak, juga kedua matanya yang sembam, menjadi perhatian tersendiri untuk Excel. Di depan ruang kerjanya, Excel yang kebetulan akan keluar dari ruangannya dan masih berdiri di bibir pintu, menatap berat kesedihan sang adik.
“Kenapa? Kalian berantem? Tadi aku lihat, kamu sama Ojan di bawah sudah nangis-nangis.” Excel menatap Rere penuh ketenangan. Sang adik langsung sibuk menggeleng dan berakhir mendekapnya. Dekapan yang makin lama makin erat.
“Aku bahagia banget, Mas. Alasanku nangis karena—” Rere menceritakan semuanya. Ia diberi es krim dan juga pendapatan pertama suaminya, padahal biaya rumah sakit saja sudah Ojan yang membiayai menggunakan tabungan Ojan dan selama ini diurus Sepri.
Mendengar itu, Excel berangsur menghela napas lega seiring ia yang juga balas mendekap adiknya. “Sesuatu yang mengandalkan rupa, memang belum tentu bikin kamu bahagia. Apalagi kalau kamu sudah tahu wataknya kurang baik dan dia enggak bisa diajak berubah.”
“Jadi yang harus kamu lakukan sekarang, syukuri sekaligus jaga. Kamu sudah pernah terlunta-lunta karen cinta memandang fisik sekaligus tahta dan harta. Fisik dia terluka, harta dia diambil, beneran enggak ada yang tersisa. Bayangin kalau kamu sama yang tanggung jawab, mau kerja dan bahkan memuliakan kamu. Enggak apa-apa enggak bagus rupa, yang penting bisa bikin kamu nyaman. No KDRT apalagi jajan sembarangan.” Hanya itu yang bisa Excel katakan, meski ia yakin, sang adik akan jauh lebih bahagia jika bersama Ojan. “Kuncinya sabar, arahin, terus dukung setiap kerja kerasnya karena aku lihat, Ojan bakalan kerja apa pun asal dia dibayar dan bisa kasih kamu sama Adam kebahagiaan. Syukur-syukur, cita-citanya jadi artis besar terus kasih kalian kehidupan layak, terwujud dalam waktu dekat.”
“Amin, Mas. Amin ... sekarang doaku beneran itu!” balas Rere merasa sangat bersyukur sekaligus beruntung. Yang mana sampai detik ini, ia masih tidak menyangka. Dirinya akan menemukan kenyamanan dari seorang Ojan. Padahal dulu, awal mereka bertemu dan itu niatnya akan menjodohkan Alena adik mereka dengan Sepri, Rere takut setengah mati kepada Ojan. Lain dengan Adam yang saat itu sudah langsung yakin kalau Ojan justru daddy-nya.
Kisah hari ini benar-benar ditutup dengan kenangan Indah Rere atas perjuangan Ojan yang selalu ingin membahagiakan keluarga kecil mereka.
“Daddy, boleh peluk?” rengek Rere ketika semuanya sudah tidur, tapi ia belum bisa.
Ojan yang sudah setengah sadar, langsung bersemangat. “Ya pasti, Maiwaifi. Aku ya mau banget!” girangnya sudah langsung membentangkan kedua tangannya, dan siap merengkuh tubuh Rere.
Mendapatkan sambutan tersebut, Rere juga jadi kegirangan. Hingga diam-diam wanita itu menyadari sekaligus mengakui, cintanya kepada Ojan membuatnya jadi mulai ala*y.
Keesokan harinya, Ojan yang sudah siap sarapan di meja makan, tak sengaja mendengar suara Azzam dari ponsel. Ojan mengetahui ponsel tersebut sebagai ponsel Azzura. Namun karena Ojan penasaran, ia sengaja mengintip layar ponsel itu dengan sangat hati-hati dari samping.
“Innalilahi dubilah set*an!” kaget Azzam dari seberang sana.
Padahal, Ojan hanya mengintip dari jarak sangat dekat.
“Kumis sama bibir apalagi gigimu loh. Aku tahu kamu Ojan, soalnya enggak ada yang lebih je*lek dari kamu!” lanjut Azzam yang kali ini mengomel.
“Hahahahahaha!” Ojan tertawa penuh kemenangan. “Jam-Jam, Jam! Ini aku Jam! Aku jadi orang kota, Jam! Kemarin aku soting, Jam. Meski cuma gigi aku yang diambil. Dibayar lima puluh ribu aku! Hahaha!”
“Jan, tolong dikondisikan, Jan. Jaga jarak dari lensa kamera biar yang kelihatan di sini, bukan hanya kumis sama bibir dan gigi kamu!” omel Azzam lagi.
Tak sedikit pun merasa tersinggung apalagi marah, Ojan segera melakukan saran Azzam. Ia segera mundur guna menatap Azzam secara saksama.
“Oh, sudah sama Uncle Ojan?” lembut Azzura sembari mengemban Sabiru. Ia baru kembali datang, dan langsung santai-santai saja ketika Ojan izin untuk mengobrol dengan Azzam.
“Mbak Azzura, tolong dikoreksi panggilannya buat Ojan. Enggak sudi aku, Sabiru sama Aurora manggil Ojan uncle juga!” protes Azzam dari sana, dan benar-benar sewot.
Sambil meraih ponsel Azzura yang disandarkan ke wadah sendok, Ojan berkata, “Apa salahnya kalau aku dipanggil angker juga lah Jam.”
“Nah, bener. Angker saja. Kamu memang angker dan cocok dipanggil angker!” balas Ojan yang seketika menjadi semangat.
“Heran yah, Jam. Bahasa inggrisnya paman kok angker. Angker kan maksudnya serem, horor kan lah intinya yah, Jam,” ucap Ojan sambil duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
“Ya intinya memang cocok buat kamu!” sergah Azzam.
“Tapi bojoku ayu, Jam!” balas Ojan dengan bangganya sambil tersenyum cerah kepada Azzam. Sementara maksud dari kata “Bojoku ayu”, ialah istri cantik.
“Aku sampai mau ke duk*un buat tanya, kok bisa-bisanya Rere mau sama kamu. Matanya kena gu*na-gun*a apa gimana? Atau, dia kesu*rupan, apa gimana?” balas Azzam dan sudah langsung membuat Ojan ngakak.
“Orang syirik tanda kurang menarik, makanya belum soledut!” balas Ojan merasa bangga pada nasibnya. Sebab baginya, mendadak diajak nikah oleh Rere memang ibarat rezeki nomplok.
“Sumpah lo Jan. Sini balik ke kampung, aku geprek kamu buat makan lele dumbo di belakang rumah mami Septi!” dari seberang, Azzam tampak begitu emosi, tapi itu justru menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Ojan.
“Sabar Jam, sabar. Orang sabar pant*at sama perutnya lebar. Gini-gini kan, kita besta*i. Iya, kan. Apa kamu cuma mau besta*i sama ibu Siti?” balas Ojan yang malah makin membuat lawan bicaranya bertanduk.
Lalu, akan ada keseruan apa lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
ceria banget Ojan bikin nular
2024-12-17
0
Ida Ulfiana
maknya sudh gak ada kabarnya ya
2024-05-21
0
👏vanzhoel🖤²²¹º
wkwkk apa kabra tuh c ibu siti mak nya c ilham🤣🤣🤣
2023-11-29
3