“Dek Rere, ... aku enggak mau main sulap, ya.”
“Main sulap gimana, Mas Ojan?”
“Itu loh, ngelip. Masuk situ tiba-tiba sampai mana. Rasanya kalau naik itu, dada sama perutku nyesss banget, Dek. Terakhir itu kemarin di rumah sakit, aku sama Sepri yang sama-sama enggak ngeh, enggak bisa keluar-keluar dari lip. Untung ada yang masuk dari luar, ya sudah, kami buru-buru keluar, terus lewat tangga. Pokoknya kalau enggak ada mbak Suci yang bisa ngelip, kami enggak coba-coba lah!”
Bukannya merasa pengalaman yang baru diceritakan oleh sang suami merupakan hal nor*ak, Rere yang level humornya sangat receh, jadi sibuk menahan tawa. Rere yang sekadar berucap saja sengaja dijaga, berakhir menangis karena tawanya.
“Eh, Mas ...,” ucap Rere ketika akhirnya mereka yang sudah mulai keliling mal, nyaris melewatkan salon potong rambut khusus pria. Di sana melaya*ni potong rambut untuk bayi hingga lansia.
Melihat Ojan yang gondrong karena poni rambutnya saja bisa diselipkan ke belakang telinga, Rere berinisiatif merapikannya di barbershop. Sekalian dengan Adam yang memang sudah gondrong.
“Barbershop ...? Ini tempat apa, Dek. Namanya saja susah diucapin. Bikin beban hidup manusia makin nambah. Dosa ini yang punya ini!” komentar Ojan.
Seperti sebelumnya, baik Adam yang masih Ojan emban, maupun Rere yang jadinya menuntun Ojan, langsung cekikikan. Semua yang Ojan katakan bahkan ketika pria itu mengomentari setiap hal yang mereka jumpai, sudah langsung membuat Rere dan Adam lemas karena tawa.
“Oalah, tempat potong rambut cowok. Ya ampun, dingin banget. Ada kulkas yang dibuka kelamaan apa gimana, ini? Kalau ketahuan sama mbak Septi, pasti sudah ditab*ok pakai gagang sapu ijuk tuh pelakunya. Enggak tahu apa listrik bahkan tarifnya makin hari makin mahal!” Setelah berkomentar demikian, Ojan yang baru dibawa masuk ke barbershop dan mengawasi suasana sekitar yang masih serba canggih sekaligus serba bagus, akhirnya mengetahui bahwa alasan di sana sangat dingin bukan karena ada yang membuka kulkas dalam waktu lama. Melainkan karena di sana memakai beberapa AC.
“Ternyata gara-gara pakai Pace, Dek. Makanya sedingin ini. Tuh, tuh ... tuh lihat, tuh di atas sana ada, sebelah sana juga ada. Kalau gini caranya, kita nginep di sini sekalian bawa selimut sama bantal yah Dek. Di ruang berpace kan bisa bikin cepet putih katanya!” bisik Ojan pada Rere yang makin cekikikan. Malahan, Rere sama sekali tidak terlihat fokus kepada arahan sekaligus informasi yang ia berikan.
Setelah drama pace atau itu AC, Rere dengan senang hati sekaligus pikiran yang benar-benar samai, sengaja mendaftarkan Ojan maupun Adam.
“Eh, Dek ... Dek. Ini di sini mahal enggak? Bayarnya boleh ngebon dulu, enggak, soalnya kan enggak ada Sepri. Siapa yang bayarin kalau enggak ada Sepri?” bisik Ojan sudah duduk antre sambil memangku Adam.
Rere yang baru datang setelah mengurus pendaftaran, memilih duduk persis di sebelah Ojan. Ia belum sempat berkata, menjawab pertanyaan suaminya. Namun, suaminya itu malah berinisiatif bekerja di sana untuk membayar biaya potong rambutnya.
“Jadi tukang sapu-sapu juga enggak apa-apa, Dek Rere. Sapu-sapu aku sudah pinter kok. Ibarat sekolah, sudah sarjana soalnya setiap pagi sudah diworo-woro sama mbak Septi buat sapu halaman depan rumah!” yakin Ojan sengaja berbisik-bisik karena dirasanya, apa yang ia katakan itu sangat rahasia.
Namun, dengan tegas Rere menggeleng. “Enggak, Mas. Aku ada uang buat bayar, kok. Mas tenang aja. Intinya, aku enggak mungkin ajak Mas buat beli apa melakukan apa pun, jika pada kenyataannya, aku enggak ada. Intinya hari ini, kita potong rambut Mas sama Adam, terus beli beberapa pakaian sama sandal dan sepatu buat Mas soalnya Mas enggak punya banyak stok.”
Ojan yang menyimak dengan baik dan memang langsung paham, berkata, “Minta Sepri buat kirim baju sama pakaian, dan semuanya dari rumah saja. Dipaketin gitu biar enggak buang-buang duit! Kalau beli lagi kan sayang duit!”
Lagi-lagi Rere menggeleng. “Enggak usah repot-repot. Yang di kampung ya buat kalau kita ke kampung.”
Beberapa saat kemudian, tak sampai membuat mereka menunggu lebih dari lima belas menit, Ojan dan Adam sudah langsung menjalani potong rambut. Keduanya duduk bersebelahan, dan Ojan yang sebelumnya belum pernah potong rambut di barbershop mahal dan ruangannya sangat dingin efek banyak pacenya alias Ac, merasa deg-degan. Ojan bahkan dengan bangga sekaligus bersemangat meminta sang istri untuk mengabadikan momen mereka.
“Poto sama pidio, ya, Dek! Biar kayak orang-orang!” pinta Ojan sambil tersenyum ceria.
Baru Rere sadari, bersama Ojan dan itu kebersamaan ke mal kali ini, sudah berulang kali membuatnya tertawa sekaligus tersipu. Entah kenapa, bersama Ojan, ia begitu mudah merasa tenang. Bersama Ojan, ia selalu merasa bahagia seolah tidak memiliki beban.
Setelah rambut Ojan dipotong rapi, pria itu tampak lebih keren dan cukup ganteng. Rere jadi merasa tertarik, selain wanita itu yang mengakui, ingin suami ganteng juga wajib diarahkan, didandani, dimodali, dan tentu saja di dukung.
“Ya ampun ... itu siapa, Dek?!” Ojan yang sampai ketiduran setelah dicreambath, langsung pangling dengan penampilan terbarunya.
Dan lagi-lagi, Rere maupun Adam yang sudah tampak jauh lebih segar dengan gaya rambut barunya, langsung tertawa.
Ketika akhirnya mereka membeli pakaian, ada satu permintaan Ojan yang menggelitik Rere. Ojan memilih gaun malam sekaligus sandal bulu warna pink. Rere pikir, dari semua belanjaan mereka, itu sengaja Ojan siapkan untuk Rere. Namun ternyata, Ojan memakai itu untuk Ojan sendiri padahal itu jelas pakaian wanita!
“Enggak boleh. Ini buat wanita, Mas.” Rere yang sempat syok, malah berakhir dengan tertawa. Ia tertawa sampai terduduk lemas di sebelah tempat tidur Ojan berada. Suaminya itu dengan bangganya menggunakan gaun malam pink, setelah berhasil menidurkan Adam.
“Pantas, aku cari-cari, itu gaun malam di mana. Mau aku siapin buat sku pake. Eh, dipake sendiri!” batin Rere di tengah tawanya.
“Berarti ini aku ganti, yah, Dek? Tapi aku suka banget loh, Dek. Warnanya pink begini. Bahannya tipis, buat tidur adem. Nyaman banget!” ucap Ojan seiring ia yang jongkok di hadapan Rere.
Rere berusaha menyudahi tawanya. Tawa yang sampai membuatnya menangis sekaligus lemas, selain perutnya yang berakhir kaku.
“Memangnya Mas enggak tahu kalau itu pakaian wanita?” tanya Rere.
“Lah, wanita sana pria kan enggak boleh dibeda-bedakan, Dek. Memangnya Dek Rere lupa kalau di negara kita ada yang namanya eman spasi-spasi yang dicetuskan oleh R.A Surtini?!” yakin Ojan.
Rere yang belum bisa sepenuhnya menepi dari tawanya, kembali tertawa sampai lemas. Tubuhnya yang awalnya duduk, sampai nyaris meringkuk. “Emansipasi wanita dan dicetuskan oleh R.A Kartini, Mas. Bukan Surtini!” yakinnya lembut sekaligus sabar.
Namun, Ojan yang tipikal ngeyel langsung berkata, “Loh, Dek. Memangnya sejak kapan ganti nama jadi Kartini? Sudah dibikinin bubur sama among-among buat selametan belum itu?”
“Hahaha ... astaga ini aku nyaris ngompol!” batin Rere tak kuasa menjawab dan terseok-seok masuk ke kamar mandi. Sebab terlalu banyak tertawa gara-gara Ojan, juga nyaris membuatnya ngompol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
semoga bahagia re
2024-12-16
0
Sani Srimulyani
ojan emang sumber kebahagiaan kamu re. bersama ojan lah kamu bisa ketawa lepas dan tanpa beban.
2024-01-07
2
Maria Magdalena Indarti
kapan nih Ojan malam pertama. pasti rusuh
2024-01-06
1