“Jan, kamu enggak bikin resepsi, kan? Soalnya meski kamu di kota, aku yakin hidupmu malah lebih susah karena kamu saja enggak kerja.”
Menyimak itu, Ojan langsung berpikir serius. Karena biar bagaimanpun, yang Azzam katakan tak sepenuhnya salah. “Tapi kan kemarin aku soting beneran, Jam. Gigiku bakalan masuk tipi!”
“Huahahaha ... hahahahah haaahhhhhhh! Paojan, Paojan, cuma gigi yang masuk tipi saja bangga. Kadal saja bisa, Jan!” Di seberang sana, Azzam dengan sangat puas menertawakan Ojan.
“Cingi*re ...,” lirih Ojan merasa sangat terzali*mi. “Ya sudah sekarang kamu ke sini. Kamu ke Jakarta dan praktik, gigimu disoting terus masuk tipi juga. Bisa enggak? Kalau kamu sampai enggak bisa, kamu wajib bayar denda ke aku, lumayan bisa buat beli beras. Buat makan istri dan anakku. Ya Jam yah. Wajib bisa pokoknya karena kamu bilang, soting gigi masuk tipi, kadal saja bisa!” Kal ini Azzam sengaja menantang Azzam. Tampak Azzam yang sudah langsung kebingungan.
“Eh, Jan. Kok sekarang kamu jadi agak pinter ya? Ah enggak seru ah!” protes Azzam.
“Ya iyalah ... kan belajar dari maiwaifi. Mai waipi kalau buat kamu yang enggak terbiasa ngomong Inggres, Jam! Ngerti enggak kamu? Jangan bingung-bingung gitu Jam, kelihatan orang susahnya. Kalau memang enggak tahu, tanya saja. Malu bertanya, jodoh lo aku sita. Hahahahaha.” Kali ini giliran Ojan yang tertawa puas.
“Cingr*mu, Jan! Sombong banget kalau ngomong giginya enggak pernah lewat jalan!” semprot Azzam.
“Ngapain gigi aku suruh lewat jalan, Jam. Kalau makanan saja banyak. Mohon maap, aku bukan orang susah. Apalagi efek gigiku yang agak maju, nasib gigiku pun lebih depan dari gigi kamu. Ih, sori ya, gigi kita beda kasta!” balas Ojan dengan gaya yang benar-benar julid.
Sekelas Azzam yang biasanya nyinyir, sampai menangis gara-gara menertawakan gaya Ojan.
“Gini yah, Jan. Kamu baru gigi yang masuk tipi saja sesombong itu. Nanti Alloh marah, terus kirim malaikat Izrail buat cabut semua gigi kamu!” ucap Azzam yang sampai detik ini masih saja tertawa.
“Ih jangan ih. Gigi ini aset. Ya Alloh, ampuni Ojan ya Alloh. Ojan anak baik,” yakin Ojan yang kemudian dialihkan oleh kemunculan Mas Aidan yang ada di sebelah Azzam.
“Mas Aidan kembaranku, how ayu?” sapanya sangat sopan, kemudian mengangsurkan tangan kanannya ke layar kaca.
Mas Aidan yang sudah langsung sibuk menahan tawa, menatap penuh tanya maksud Ojan.
“Ini maksudnya sungkem, Mas. Biasa, pengantin baru. Masih banyak rezeki, masih anget-angetnya!” ucap Ojan makin manis, beda ketika ia kepada Azzam.
“Pengantin baru apaan? Itu Rere besok kalau dibawa sini, aku bawa ke temat rukiah. Takutnya dia ditempel*in jin katarak atau malah penyuka laki-laki jel*ek sekasta kamu!” sergah Azzam.
Namun, Ojan dengan sabar menanggapi penuh senyum sambil mengangguk lembut. “Aku wajib lebih sabar dari biksu Tong kayaknya. Apalagi Azzam kan lebih enggak bisa diem dari Wokong!”
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Intinya, Azzam takut kalau Mas Ojan sampai gelar resepsi. Soalnya kan, Azzam pernah bilang—”
“Mas, ... Mas jangan bilang-bilang ih. Eh, Jan. Kamu enggak usah bikin resepsi, ya. Biar uang kamu bisa buat keperluan yang lain. Buat beli beras kek, atau malah sekolah anaknya Rere. Iya, kan, aku gini-gini perhatiannya iiihhh pokoknya Jan. Lopyupul pokoknya!” sergah Azzam.
“Tapi kalau kamu baik ke aku biasanya ada maksud jahid alias jah*at bin julid loh, Jam. Coba Mas Aidan saudara kembarku, tolong dijelaskan sejelas-jelasnya untuk maksud yang tadi, biar aku semaret!” yakin Ojan. Hingga akhirnya, ia ingat atas nazar Azzam yang akan kondangan sebesar lima puluh juta andai Rere sampai mau nikah dengan Ojan. Mas Aidan lah yang menceritakannya, sementara Azzam justru menjerit panik dan sampai mengakhiri sambungan mereka secara sepihak.
“Awas kamu Jam. Tunggu pembala*sanku. Aku bakalan pulang, bikin resepsi sekaligus sunatan. Bukan sunatan buat aku karena punyaku saja mau habis mirip digerogotin rayap. Aku mau nyunat Adam biar sekalian. Sunat di kampung kan bisa sekalian liburan. Besok enggak usah ada hiburan, cukup nempelin mic saja ke mulutku biar rame. Yang penting semuanya termasuk pembaca wajib kondangan biar bisa buat modal usaha dan jadi bahan nafkah buat maiwaifi alias maiwaipi!” ucap Ojan yang sudah langsung buru-buru lari.
Belum sempat Ojan benar-benar keluar dari dapur, Rere dan Adam yang akan ia susul, sudah datang ramai-ramai bersama Azzura dan juga Excel. Ada juga mamahnya Rere yang masih di kursi roda dan didorong oleh Elena—bontot dari Excel bersaudara.
“Mbak Azzura, ini hapenya. Si Jamjam sutris alias setr*es karena teranc*am kondangan lima puluh juta ke aku!” ucap Ojan yang kemudian mengemban Adam.
“Dam, Adam mau sunat, kan? Besok kalau kita pulang kampung, rencananya kan Daddy mau gelar resepsi. Nah, Daddy mau sekalian sunat kamu. Nanti kamu naik jaran alias kuda, atau malah delman, ya. Mau yah? Sunatnya kan enggak sakit!” bujuk Ojan dan yang lain ia yakini langsung menyimak.
Sambil sarapan, rencana resepsi pernikahan Ojan dan Rere, serta sunatnya Adam pun dibahas. Semuanya setuju, dan siap mengadakan acara tersebut di kampung. Acaranya akan digelar jika urusan di Jakarta sudah selesai.
“Duh, butuh duit alias dana gede berarti ya. Gimana ya? Kita-kira, habis dana berapa? Coba nanti aku tanya Sepri. Apa bahas sama maiwaifi. Kayak yang di tipi-tipi kan, suami istri selalu bahas apa-apanya berdua,” pikir Ojan yang jadi mengakui, bahwa anggapan Azzam yang merasa Ojan makin pintar sejak tinggal di Jakarta, memang benar adanya.
“Enggak nyangka, urusan sunat sampai Mas Ojan pikirkan. Alhamdullilah, ibaratnya, ini buah dari kesabaranku. Selain akhirnya aku merasa jadi istri sekaligus wanita seutuhnya, bersama mas Ojan, Adam juga sudah langsung merasakan memori masa kecil indah,” batin Rere sembari menikmat*i nasi goreng di piringnya.
***
“Masalahnya, aku bingung sama biayanya, Pri.” Ojan yang belum berani membahas ke Rere sebelum ia mendapatkan dana untuk resepsi sekaligus hajatan sunatnya Adam, sengaja menghubungi Sepri.
Siang ini, Ojan kembali ikut ke pabrik. Layaknya sebelumnya, ia dijatah menjaga Adam. Mereka ada di depan pabrik, sementara Adam tengah main mobil-mobilan sekaligus robot-robotan. Ojan sengaja membawa mainan itu agar sembari menunggu Rere bekerja, putra sambungnya tidak bosan.
“Nah, itu kamu tahu masalahnya. Kamu enggak punya biaya, atau itu dana buat ngadain acara. Ngapain pengin ngadain?” balas Sepri dari seberang sana.
“Kamu ... ada tabungan, kan, Pri? Boleh pinjam dulu, enggak?” lirih Ojan sengaja agar tidak terdengar Adam.
“Aku ada tabungan, tapi beneran enggak boleh dipinjamkan. Soalnya ini memang tabungan yang enggak boleh diganggu gugat, dan kamu pun wajib punya juga. Jadi, ibaratnya kamu wajib punya yang buat sehari-hari, punya tabungan darurat, juga punya tabungan yang enggak bisa diganggu gugat buat masa depan anak. Sementara cara buat bisa adain semua itu, kamu wajib kerja!” jelas Sepri.
“Oh, gitu yah, Pri. Ya sudah deh. Ini aku berarti harus kerja dulu kumpulin dana. Wajib ba*nting batu ini sih soalnya kalau ban*ting tulang, encok jadi ancaman,” balas Ojan yang memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya dan Sepri.
Tatapan Ojan langsung berhenti pada Adam. Melihat bocah itu, ia merasakan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab yang begitu besar. Ia menyayangi Adam layaknya rasa sayang seorang ayah pada anak kandungnya. “Daddy pasti akan melakukan yang terbaik, Dam!” batinnya benar-benar bertekad.
Bersama semilir angin yang berembus menorehkan nuansa basah, di luar sana, di depan gerbang pabrik, ada seorang pria gundul kinclong.
“Eh, Bapak suradata. Eh, sutrarata. Eh, sutladara!” ucap Ojan buru-buru lari untuk menghampiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
beneran jadi artisojan
2024-12-17
0
Bulan Bintang
lucu
2023-12-25
1
Sarti Patimuan
Awal karir Ojan kah bertemu dengan sutradara
2023-09-27
1