Memikirkan biaya rumah sakit benar-benar membuat Ojan tidak bisa tenang. Ojan bahkan jadi tidak bisa tidur dan malah membangunkan kedua pria mantan mafia yang masih menjaganya untuk kabur.
“Please, jangan bikin perut kaku apalagi bikin aku malu! Besok aku yang bayarin biaya berobat kamu!” semprot Helios yang awalnya sudah tidur di sofa lipat ruang VIP kebersamaan mereka.
Sementara Excel yang duduk di sofa kecil sebelah Ojan, hanya mesem memperhatikan kebersamaan di sana. Tak beda dengan Helios, ia juga baru saja terbangun dan itu gara-gara omelan Helios kepada Ojan.
Setelah terdiam sejenak, Ojan yang berangsur duduk di sebelah Helios sambil menenteng selang infusnya sengaja berkata, “Kalau gitu, uangnya masuk kantongku saja, Pih. Jadi, dikira-kira biayanya sampai aku sembuh, tapi besok aku pulang dan sisa biayanya tetap buat aku!”
“Kamu dikasih hati masih saja nekat minta empedu!” semprot Helios Helios lagi.
Ojan yang langsung takut, buru-buru minta maaf kemudian kembali ke ranjang rawatnya.
“Sudah jangan terlalu banyak pikiran karena banyak pikiran alias setr*es, juga menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami tipes.” Berbeda dengan Helios, Excel terbilang masih sangat lembut dalam menyikapi Ojan.
Ojan mengangguk-angguk paham kepada Excel. “Makasih banyak Broder!”
Excel yang awalnya juga sudah tidur, berangsur mengangguk-angguk santai. “Manfaatkan pengobatan sekarang buat istirahat total. Biar kamu cepat sembuh, dan pastinya bisa secepatnya kumpul dengan istri dan anak lagi.” Excel tahu, Ojan terlalu takut keluar banyak duit untuk biaya berobat di rumah sakit. Selain itu, Ojan juga Excel yakini terlalu bingung karena selama sakit, otomatis Ojan juga tidak bekerja dan lagi-lagi tidak bisa memberi anak maupun istrinya nafkah. Karena meski Ojan memang tukang rusuh, kepada Rere dan Adam, Ojan sangat tanggung jawab.
Hingga empat hari menjalani rawat inap di rumah sakit, akhirnya Ojan dibolehkan pulang. Helios sungguh membayarkan semua biaya pengobatan hingga Ojan memberinya hadiah kecu*pan.
“Enggak beres memang si Kojan!” sinis Helios sambi mengusap asal bekas kecup*an Ojan.
Rere yang masih mendekap lengan kiri Ojan hanya tersenyum geli. Tak lupa, wanita itu juga mengucapkan terima kasih kepada Helios yang begitu perhatian dan sampai di akhir pengobatan masih menemani Ojan. Terhitung, selama Ojan dirawat di rumah sakit, Helios hanya absen sehari. Itu saja, Helios meminta Syam untuk menggantikannya menjaga sekaligus menemani Ojan.
“Itu nanti kalau syuting lagi tapi sakit lagi, aku sudah enggak mau bayar, ya!” ucap Helios terdengar sangat sinis, bahkan oleh telinganya sendiri.
Kendati demikian, Rere hang paham watak Helios yang meski bengis tapi perhatian, hanya tersenyum geli. Karena layaknya Ojan suaminya, Helios juga memiliki hati lembut sekaligus jiwa tanggung jawab tinggi.
“Kalau gitu, habis ini aku langsung ke rumah Papi. Gendong beberapa guci pasti dijual mahal dan aku bisa kaya!” ucap Ojan dengan entengnya dan sudah langsung membuat Helios mendelik.
Dering WA masuk menghiasi ponsel Ojan yang ada di saku sisi celana bahan warna hitam panjangnya. “Ada WA. Biasa ... artis ya banyak yang WA!” ucap Ojan dengan bangganya. Kebetulan, mereka baru sampai di depan pintu masuk utama rumah sakit.
Helios sudah terlalu biasa menyaksikan kesombongan duniawi seorang Ojan. Andai tidak ingat bahwa pria di sebelahnya dan jadi makin kurus mirip bambu kering tidak sedang sakit, sudah ia tempe*leng sampai muter tujuh keliling.
“Dari pak ratadata. Jan, lo orang langsung syuting ya. Mumpung lo orang habis tipes dan wajah lo orang pasti lebih melas, biar feelnya makin dapat! Cepat ya ke lokasi. Kamu sudah keluar dari rumah sakit kan?” ucap Ojan membaca pesan WA masuk yang ternyata justru dari pak Salim sang sutradara.
“Lah ... tuh orang bosan hidup atau malah lagi punya banyak beban hidup?” kesal Helios sudah langsung berkomentar. “Pas kamu sakit saja dia enggak jenguk! Eh sekarang giliran suruh-suruh kerja, dia langsung mangap! Pengin dirujak apa gimana!”
“Tapi kalau aku enggak kerja, anak istriku makan apa, Pih?” lirih Ojan menunduk nelangsa.
“Ya nasi, masa iya makan orang mati!” kesal Helios lagi.
“Mungkin ini bagian dari wujud proporsiku, sih. Maksudnya, pak Ratadata pengin lihat tanggung jawabku. Ya proporsinyal gitu maksudnya. Walau sakit tetap kerja!” yakin Ojan.
“Profesional yah, Dad?” lembut Rere mencoba mengoreksi ucapan sang suami.
“Nah, itu maksudnya, Mih!” balas Ojan yang kemudian tersenyum semringah. Tak sampai di situ karena ia juga tak segan mendekap penuh cinta kepala sekaligus tubuh Rere. Tak lupa, beberapa kecu*pan manis juga ia layangkan di kepala Rere hingga Helios mendadak baper sekaligus mirip obat nyamuk untuk keduanya.
Sekitar dua jam kemudian, rasa tanggung jawab seorang Ojan kepada pekerjaan, pria itu buktikan melalui totalitas aktingnya. Chole bahkan Helios yang sengaja datang dan memang untuk pertama kalinya menyaksikan Ojan berakting secara langsung, sampai tidak bisa berkat-kata.
Adegan Ojan ditabra*k truk ketika mengayuh sepeda tua sambil membonceng putranya menjadi kejadian paling menguras air mata di sana. Sebab di bawah guyuran hujan palsu, Ojan yang kepala dan kedua tangannya berdarah-darah, menangisi sang putra yang tak kalah terluka parah darinya.
“Itu kol dia bisa sekeren itu ya, aktingnya. Keseringan halu, makanya jadi pintar akting apa gimana? Tuh lihat, tuh. Habis akting nangis kok bisa wuahahaha enggak mau diam mirip kuda lump*ing?” bisik Helios kepada sang istri yang malah jadi sibuk menertawakannya.
“Tapi andai aku ditawari syuting terus lawan mainnya,” ucap Chole yang sebenarnya belum beres berbicara.
“Lawan mainnya J*in penunggu rumah makan?” sela Helios benar-benar sinis sambil tetap mengemban di depan dada sang putra. Namun bukannya takut ia marah terlebih merayunya, sang istri malah makin tertawa bahagia.
“Keren banget, Dad. Ganti baju dulu, ya. Habis itu kita makan. Itu mbak Chole sama mas Helios sudah datang bareng Kim,” lembut Rere sambil menyelimuti tubuh bagian atas suaminya menggunakan handuk.
“Oh, maksud kamu, orang tua angkatku sama broder Kim, datang, Maiwaifi?” sergah Ojan sangat bersemangat.
Menyinggung status Helios dan Chole dalam hidup Ojan, dan Ojan sebut sebagai orang tua angkatnya, Rere tidak bisa untuk tidak tertawa.
“Mas Ojan selalu mendapatkan banyak perhatian bahkan cinta. Sebab, kebiasaannya rusuh sekaligus mengundang gelak tawa, membuat hidup orang-orang di sekitarnya jadi sangat berwarna. Enggak kebayang, saat peluncuran filmnya nanti, pasti akan heboh banget. Dan pastinya akan menjadi kebahagiaan tersendiri buat keluarga kami apalagi aku dan mas Ojan sendiri. Karena dengan kata lain, melalui itu juga, mas Ojan membuktikan bahwa dirinya berharga!” batin Rere yang jadi sibuk tertawa hanya karena melihat interaksi berisik antara Ojan dan Helios.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
gitu gitu Ojan tangjung jawab banget
2024-12-18
0
Lasiani
kkkkkk
2024-01-23
1
Sarti Patimuan
Gak sabar nunggu filmnya rilis dan bagaimana reaksi para penonton.melihat aktingnya Ojan
2023-09-30
2