Acara syuting yang hampir memakan waktu dua puluh hari akibat terhambat Ojan sakit, akhirnya usai. Semuanya tinggal proses pembuatan dan Ojan tak lagi dilibatkan.
Kini, aktivitas Ojan kembali layaknya biasa. Menemani Adam sekolah, kemudian membawanya ke pabrik tahu dan tempe milik Excel, selaku tempat Rere bekerja. Namun, Ojan berniat untuk kembali menjadi bagian dari sebuah syuting, jika di sekitar sana masih ada yang menyelenggarakan. Ojan masih berharap mendapatkan pekerjaan di depan layar.
“Maiwaifi, aku punya ide. Ini mengenai resepsi sama acara hajatan buat sunat Adam. Jadi, kita tunggu filmku tayang, dan semoga meledak. Biar ibaratnya, kita dapat kendors! Biar biayanya enggak banyak loh. Dimodalin sama mereka.” Ojan yang baru kembali dari luar setelah mengasuh Adam yang sampai detik ini masih ia gendong, mengabarkan ide berliannya.
Rere yang baru mencuci tangan di wastafel khusus tak jauh dari meja kerja sang suami, langsung merenung serius. “Kendors itu, maksud Daddy, ... endorse, ya?” tanyanya yang kemudian mengelap kedua tangannya menggunakan handuk kecil yang tersedia. Meski sampai detik ini, tatapannya masih fokus pada kedua mata Ojan. Kedua mata yang langsung berbinar-binar setelah ia mengoreksi maksud ucapan Ojan.
Seiring bergulirnya waktu dan terjadinya kebersamaan, Rere memang jadi lebih cepat memahami bahasa Ojan yang lebih sering jauh dari maksud bahasa seharusnya. Terlepas dari semuanya, Rere juga menyadari, makin ke sini, cara pikir Ojan jadi makin terarahkan. Ojan bahkan jadi bisa berbisnis waktu dan sebisa mungkin membuat segala sesuatu yang dikerjakan, menjadi uang. Termasuk itu mengenai pengeluaran resepsi, hajatan, maupun keperluan hidup mereka yang lain. Ojan sungguh akan memanfaatkan statusnya sebagai aktor, untuk membiayai semua itu.
“Maiwaifi. Itu kalau kita bikin video lucu-lucu, banyak yang nonton, kita juga bisa dapat duit, kan?” tanya Ojan lagi yang ingin memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mendapatkan pundi-pundi rezeki.
Meski tidak begitu paham, Rere yang tahu bahwa mengunggah video di sebuah aplikasi tonton, termasuk video lucu bisa menghasilkan uang, berangsur mengangguk-angguk. “Bisa, Dad. Setahuku bisa.”
“Ayo kita bikin. Sekalian bikin promo usahamu. Keripik tempe, tahu, sama olahan yang mau dipromosikan. Pakai gaya lucu pasti lebih seru dan lebih banyak peminat!” sergah Ojan, otak bisnisnya benar-benar sedang encer.
Rere yang akan selalu mendukung kerja keras sang suami, mau-mau saja diajak membuat video lucu seperti permintaan sang suami, di sela kesibukannya bekerja. Keduanya bertekad memiliki kehidupan lebih baik termasuk itu untuk urusan ekonomi. Akan tetapi, Rere yang harusnya lelah, malah merasa sangat terhibur dengan kekocakan suaminya. Wanita itu sama sekali tidak merasa lelah. Malahan menjadi awal mula mereka menjadi perhatian orang-orang di sekitar. Dari orang pabrik, orang rumah, juga orang-orang di tempat yang mereka kunjungi sekaligus mereka gunakan untuk ngonten.
“Lihat ... lihat. Lah baru dikit,” ucap Ojan kepo mengawasi setiap unggahan videonya.
“Sudah mau seribu like dan followernya juga ada seribuan loh, Dad. Ini satu bulan dapat segini sudah alhamdullilah banget!” yakin Rere yang sudah tak menutup kepalanya menggunakan kerudung karena mereka memang siap untuk tidur.
Ojan tak lagi berkomentar. Ekspresinya tampak kecewa dan baik Rere maupun Adam menyaksikan itu.
“Pelan-pelan, Dad. Jangan terlalu berharap, jadikan ini usaha sampingan saja. Kalau Daddy terlalu merodikan diri, yang ada Daddy tipes lagi. Ingat, infus rumah sakit belum ada yang bisa diisi ulang apalagi diisi ulang pa ke air keran,” lembut Rere sambil mengelus punggung suaminya.
Ojan yang sebenarnya merasa sangat sedih karena merasa belum jadi suami yang baik khususnya dalam segi materi, berangsur mengangguk-angguk. Ia mencoba tegar, kembali melapangkan kesabarannya, dan lagi-lagi menyembunyikan kesedihannya di balik keceriaannya.
“Ya Allah hamba mohon, biarkan hamba bekerja. Enggak apa-apa capek, yang penting ada hasil. Lagian, enggak enak juga kalau hamba terus membiarkan keluarga hamba tinggal di sini. Dibawa ke kampung, juga enggak mungkin. Ke kampung ibarat liburan saja. Niatnya hamba ingin punya rumah meski kecil-kecilan, buat keluarga kecil hamba. Jadi tolong banget, biarkan hamba kerja dan dapat rezeki dari setiap rezeki hamba.”
Di tengah kesunyian sepertiga malam, Rere memergoki suaminya tersedu-sedu duduk dengan sangat tumaninah di atas sajadah. Ojan memang berucap lirih dan tampaknya sengaja menjaga suaranya agar tidak mengusik Rere maupun Adam.
“Amin ...,” batin Rere sambil kembali memunggungi Ojan yang salat di sebelah dinding agak jauh darinya. Padahal biasanya, mereka akan menunaikan salat di depan tempat tidur jika mereka tidak melakukannya di luar kamar. Namun kini, tampaknya Ojan memang sengaja menghindari sekaligus tak mau mengusik Rere maupun Adam.
“Semoga doa tulus Daddy segera terkabul yah, Dad. Doa mulia, Insya Allah hasilnya juga mulia!” batin Rere yang jadi berlinang air mata. Dalam hatinya, Rere juga jadi berujar, di balik banyak ya suami dakjal, ada suami tulus layaknya Ojan yang diam-diam menangis karena terlalu takut, anak dan istrinya tidak makan atau malah tidak punya tempat tinggal.
“Kalau tahu dicintai olehmu seindah ini, aku maunya dari dulu kita bersama-sama Dad. Enggak apa-apa, kamu bukan pria keren. Enggak apa-apa, kamu bukan pria berdasi yang kerjanya di meja megah dengan jabatan wah. Enggak apa-apa, kamu tidak bepergian menggunakan mobil mewah. Bagiku, tanggung jawab dan ketulusan sekaligus perhatianmu kepada aku dan Adam, lebih mewah, bahkan istimewa melebihi apa pun. Malahan kalau bisa, aku juga maunya, Adam benar-benar anakmu!” batin Rere lagi dan buru-buru menyeka air matanya yang sudah membuat sebagian bantal basah.
Keesokan harinya, Rere sengaja masak agak spesial. Untuk sarapan, maupun bekal. Kakak, adik, maupun mamahnya juga turut ia masakan.
“Re, Tante Arnita yang desainer itu nawarin kostum buat acara primer peluncuran film Mas Ojan. Kamu mau enggak? Saranku sih mau, toh ibu Arnita bukan desainer ecek-ecek. Keren-keren pokoknya,” ucap Azzura yang baru datang ke dapur meski Rere sudah beres memasak bahkan menyusun bekal.
Alasan Azzura baru datang karena si kembar sakit. Sementara ketika si kembar sakit, keduanya benar-benar sakit semuanya. Karena saking dekatnya hubungan anak kembar Azzura dan Excel, sakit satu sakit semuanya. Dan biasanya, jika sudah begitu, Excel akan otomatis libur ngantor. Excel akan mengerjakan pekerjaan kantor secara online, dan Rere lah yang akan mengurus segala sesuatunya di kantor.
Kini, kembali ke tawaran Azzura. Seolah mendapatkan rezeki nomplok di pagi-pagi, terlebih di sepertiga malam tadi Rere memergoki sang suami tersedu-sedu hanya karena terlalu bingung tak bisa memberikan kehidupan layak, Rere langsung menerima tawaran Azzura dengan senang hati.
“Kalau gitu aku kirim nomor WA tante Arnita ke kamu ya. Kebetulan, beliau juga minta aku kasih nomornya ke kamu. Biar kalian bisa ngobrol lebih leluasa,” ucap Azzura.
“Siap, Mbak. Sekali lagi, makasih banyak, ya!” balas Rere begitu bersemangat. Rere yakin, rezeki pagi ini juga bagian doa sekaligus kerja keras dari sang suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
Ojan di kira gak normal jauh lebih baik dari yang normal
2024-12-18
0
Endang Werdiningsih
dari sekian novel yg ada ojan'a,,disinilah bisa nangis bombay karena ojan,,yg biasa spt orang berkebutuhan khusus tiba" menjadi sgt bertanggung jwb kpd anak sambung dan istei'a,,😭😭😭😭😭
2024-07-30
0
guntur 1609
kalau kau gak merasakan masa sulit kau gak akan hijrah. rere. dan kau gak akan mau sm ojan. secara lie dulu masihh jahat..tapi terima saja kedrpanya takdirmu. yg akhirnya bahagia
2024-01-09
2