“Mungkin mbak Arnita, yang istrinya mas Restu, ya? Kalau di kenalan keluarga kami, tukang jahit sama tukang bikin baju yang sudah punya batik, ya itu, Maiwaifi.” Ojan menyantap bekal makan siangnya dengan lahap.
“Desainer yang juga punya butik, bukan batik, Dad. Jangan sebut mbak Arnita ‘tukang jahit sama tukang bikin baju’. Jadi aneh dengarnya. Sebut dengan ‘desainer’,” jelas Rere yang juga tengah menyantap bekal makan siangnya.
Di ruang kerja Rere, mereka tengah makan siang bersama menggunakan bekal yang sudah Rere siapkan secara khusus pagi tadi.
Mendengar nasihat sang istri, Ojan langsung terbengong-bengong. Mulut Ojan sampai terbuka cukup lebar dan berlangsung agak lama, sebelum akhirnya Ojan mencoba praktik berkata, “dis—pen—ser!”
Detik itu juga, Rere keselek sebelum akhirnya tertawa. “Desainer, Dad!” ucap Rere di sela tawanya.
Ojan yang awalnya akan kembali mencoba, bahkan mulutnya yang kembali terbuka juga mulai komat-kamit, memilih menyerah karena yakin tidak bisa.
“Enggak apa-apa Daddy enggak bisa. Nanti biar aku saja yang belajar, dan aku bakalan serba bisa, biar aku selalu bisa bantu Daddy!” yakin Adam yang memang sudah sangat sayang Ojan.
Mendengar itu, Ojan langsung merasa sangat nelangsa sekaligus berkaca-kaca menatap putra sambungnya. Di sebelahnya, Adam yang mulai belajar makan sendiri, juga berangsur memeluknya. Bibir mungil Adam berangsur mengerucut kemudian menempel di bibirnya. Hingga sisa minyak dari salmon panggang beraroma salmon, turut menempel di pipi Ojan yang dikecu*p.
“Kalau gitu, Daddy bakalan makin semangat kerja. Daddy bakalan kumpulin uang sebanyak mungkin, biar Adam bisa sekolah setinggi-tingginya. Biar Adam beneran jadi serba bisa dan bisa selalu bantu Daddy!” balas Ojan yang sengaja memeluk erat Adam. Tak lupa, ia juga mengunci sebelah pipi putranya itu menggunakan bibirnya.
“Hihihi ... Daddy geli. Kumis Daddy bikin geli!” ucap Adam sembari terkikik geli. Ia juga sampai menjauhi bibir sang daddy.
“Lah ... ini Daddy sengaja bikin kumis Daddy jadi tegar gini. Menggambarkan betapa tegarnya Daddy menghadapi kehidupan!” balas Ojan meyakinkan.
Rere yang mendengar itu jadi sibuk menahan tawanya. Rere sengaja menghentikan makannya karena takut keselek. Kemudian, Rere iseng mengecek ponsel Ojan yang sedari tadi sibuk bergetar. Ponsel yang juga turut ia pegang karena Ojan bukan tipikal yang akan mengurus ponsel, terlebih jika suaminya itu sudah sibuk mengurus Adam.
“Hah? Apa ini?” lirih Rere. Layar ponsel Ojan yang baru ia nyalakan benar-benar pemberitahuan. Pemberitahuan yang terus berlanjut meski ia berusaha membukanya.
“Like, komentar, dibagikan, tips ...?!” lirih Rere lagi.
Akun—Retjeh : Memang boleh, yah, selucu ini? 🤣🤣🤣
“Bentar ... bentar, ini beneran video kami? Tembus satu juta penonton? Hah? Ini gimana ceritanya?” batin Rere yang buru-buru memastikan.
Setelah mencari tahu penyebabnya, ternyata semuanya bermula dari anak-anak pak Kalandra dan ibu Arum yang dengan sengaja membagikan sekaligus menyebarkan beberapa koleksi video Ojan dan Rere, ke media sosial. Terakhir, Chole pun ikut membagikan dan sampai membagikan sebuah video Ojan yang memparodikan salah satu MV member BTS yang pernah trending.
“Maiwaifi, kamu kenapa? Jangan main hape dulu, habisin dulu makannya. Tuh, Adam saja mau habis makannya,” ucap Ojan sambil mengunyah makanan yang baru ia lahap, di tengah keseriusannya menatap sang istri.
Mendengar itu, Rere yang refleks menatap wajah suaminya menjadi berlinang air mata. Hatinya terenyuh seiring ingatannya yang dihiasi kejadian di sepertiga malam hari ini. Ketika suaminya diam-diam tersedu-sedu memohon rezeki untuk keluarga kecil mereka.
“Daddy, akhirnya doa Daddy terkabul!” ucap Rere tersedu-sedu sambil mendekap tengkuk Ojan menggunakan kedua tangannya. Selain itu, ia juga sengaja membenamkan wajahnya di sebelah bahu sang suami.
“Maiwaifi ini ada apa, sih?” Ojan kebingungan. Terlebih, bukan hanya dirinya yang jadi khawatir akibat tangis sang istri. Sebab Adam yang hampir menghabiskan makannya juga.
Namun jika mengingat ucapan Rere yang membahas bahwa doa Ojan terkabul, Ojan merasa harusnya ada kabar baik. Alasan Rere menangis tersedu-sedu sambil memeluknya karena Rere sangat bahagia.
“HUAHAHAHAHAHA ... HUAHAHAHAHAHA!” Ojan jadi tidak bisa menghentikan tawanya. Pria itu sudah langsung sujud syukur, berlinang air mata, dan juga terus tertawa ketika akhirnya, mengetahui alasan sang istri menangis tersedu-sedu.
“Kita live di tok-tok yuh, Maiwaifi. Sekalian kenalan, sekalian coba jualan kripik. Mana tahu, wajah melas nan lucuku yang juga agak serem, bikin keripik sama olahan tempe dan tahunya laris manis.” Ojan sangat bersemangat, dan Rere yang sudah kembali memeluknya dengan sangat manja, sudah langsung tersipu.
“Aku yang di depan layar, nanti kamu yang kasih arahan, ya.” Ojan makin bersemangat.
Beberapa saat kemudian, Ojan dan Rere sudah memulai persiapan. Acaranya sudah langsung ke dapur pembuatan keripik.
“Broder Excel mau temenin live?” tanya Ojan, tapi Excel yang kebetulan baru datang meski jam makan siang sudah lewat dari tadi, buru-buru menggeleng.
“Cukup istriku saja yang tahu kalau aku ganteng!” ucap Excel lembut dan benar-benar kalem.
“Cingire si Broder ... mentang-mentang ganteng. Aku sumpahi, anakku juga pada ikut ganteng kaya kamu!” ucap Ojan mengomel, selain ia yang memang iri pada ketampanan Excel.
Rere langsung terbahak menertawakan suaminya.
“Enggak apa-apa Maiwaifi, wajahku pas-pasan. Yang penting rezekiku rasa sultan!” ucap Ojan yang kemudian memeluk Rere dan tak segan pamer kemesraan kepada Excel dan beberapa karyawan yang ada di sana.
“Oh iya Broder. Itu, si kembar sudah mendingan? Kok Broder berangkat ke sini?” lanjut Ojan.
“Ini bentar lagi ada klien ke sini. Nanti semoga live kalian rame. Jadi bisa buat bonding dengan para klien!” jelas Excel.
“B-bonding? Bukannya bonding itu lurusin rambut ya? Ini kan pabrik makanan yang bahannya kedele, kok jadi rasa salon?” ujar Ojan terheran-heran.
Excel hanya mesem, lain dengan Rere yang dengan sangat sabar menjelaskan.
“Nanti kalau live bisa sambil tunjukin proses pengolahan ya. Buat yang pengin ke sini juga boleh. Mau pesen pun boleh tapi khusus yang area sekitar sini,” ucap Excel yang juga berangsur menyiapkan tempat untuk Ojan melakukan live.
Dukungan dari istri, anak, bahkan Excel menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Ojan. Semua dukungan yang ia dapatkan, membuatnya makin semangat untuk bekerja sekaligus membuktikan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, setelah persiapan usai dan Excel juga sudah menemui kliennya di kantor yang masih ada di pabrik, acara live dimulai. Rere ada di balik layar dan memberi Ojan arahan.
“Sapa, Dad!” bisik Rere sambil tersenyum kepada sang suami
Ojan yang langsung mengangguk-angguk paham segera berkata, “Sapa, Dad!” Ia benar-benar ceria, tapi ulahnya itu malah membuat sang istri panik. “Bukan ... maksudnya, sapa salam-salam. Hallo, apa kabar, gitu loh ....”
Mendengar itu, Ojan langsung terbahak. Tawa yang benar-benar sulit ia hentikan, meski beberapa pengguna ia live, mulai menonton. Beberapa dari mereka juga sampai ada yang memberinya tanda hadiah.
“Oh, oke ... oke. Mari kita mulai, ya.” Ojan benar-benar gugup. Mengandalkan arahan sang istri yang kadang ia tirukan mentah-mentah hingga lagi-lagi membuat Rere panik atau malah tertawa, Ojan benar-benar memulai debutnya sebagai influencer.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
bagus banget rezekimu Jan di permudah
2024-12-18
0
guntur 1609
anak dan ayahbsaling m3l3ngkapi
2024-01-09
2
Sani Srimulyani
semangat ojan.....
2024-01-07
1