Malam makin larut, tapi Rere tetap tidak bisa tidur. Rere masih berpikir keras, memikirkan bagaimana caranya mengabarkan pernikahannya kepada Cikho, agar mantan suaminya itu berhenti mengincar nyawa Adam, sementara dirinya masih belum bisa beraktivitas secara normal. Namun karena apa yang terjadi di antara mereka rahasia, Rere merasa harus mengabarkannya langsung kepada Cikho, segera.
Kini, di ruang VIP keberadaannya, Rere ditemani ibu Septi, Ojan, dan juga Adam. Ketiganya sama-sama sudah tidur, tapi Adam tetap memilih tidur bersama Ojan karena memang Ojan juga yang telah menidurkan Adam, meski di sana ada ibu Septi maupun Rere.
“Ibaratnya, ini malam pertama kita, Dek. Aku berharap, pernikahan kita ini enggak seperti pernikahanku yang sebelumnya. Tolong jangan tinggalkan aku apa pun yang terjadi, Dek. Aku janji, apa pun akan aku jalani, asal kita tetap sama-sama. Sumpah, aku sayang banget tulus cinta sampai mampus enggak putus-putus ke Dek Rere dan juga Adam. Aku beneran bakal jadi daddy yang baik,” ucap Ojan lirih. Setelah mendadak datang menghampiri Rere, kali ini Ojan juga menjadi tersedu-sedu.
Di titik kini, Rere jadi bertanya-tanya. Kenapa Ojan selalu ditinggal setiap istrinya, tepat di malam pertama? Ada apa? Memangnya ada rahasia yang pria itu sembunyikan? Atau, Ojan memiliki kekurangan lebih fatal dari sekadar tingkah nyeleneh yang selama ini Ojan tunjukan?
Terlepas dari semua itu, hati Rere kembali dibuat terenyuh oleh tingkah Ojan, ketika pria itu menyerahkan dompet, juga sisa-sisa uang termasuk itu uang receh, dari setiap saku di pakaian Ojan.
Rere yang masih berbaring berangsur duduk. “Ini apa, Mas? Kenapa Mas kasih semua ini?”
“Aku enggak punya banyak uang, Dek. Uangku beneran tinggal segitu, tapi kata Sepri, aku punya tabungan dan harusnya masih cukup buat biaya pengobatan kamu.” Ojan menatap sendu kedua mata Rere. “Namun aku janji, nanti kalau kamu sudah sembuh, dan bisa jaga Adam, aku akan langsung kerja. Sekarang adanya gini, lagi disuruh sakit, ya yang sabar ya. Dijalani dulu. Habis ini kan, bisa sama-sama cari rezeki lagi. Syukurnya, Adam enggak kenapa-kenapa dan alhamdullilah, kamu pun mulai sehat.”
Setelah mendengarkan ucapan Ojan barusan, Rere merasa jika suaminya merupakan pria yang berbeda. Ia menemukan sisi lain yang selama ini belum pernah ia dengar tentang Ojan.
“Ya sudah, kamu tidur lagi. Ini disimpen dulu. Apa Dek Rere mau makan? Dek Rere mau minum? Atau mau saya antar ke kamar mandi?” Sambil merapikan dompet dan uangnya yang ia simpankan di tas Rere yang ada di laci nakas sebelah, Ojan sibuk memberikan perhatiannya.
Ibarat tanah gersang yang mendadak diguyur hujan, itulah gambaran perasaan, hati, bahkan kehidupan Rere sekarang. Terbiasa menghadapi mantan suami yang bengis dan tak segan kasar, kini Allah mengiriminya suami sangat perhatian dan itu Ojan.
***
Dua hari kemudian Rere yang sudah jauh lebih sehat memilih untuk menemui Cikho. Rere benar-benar akan mengakhiri semuanya, baik drama, maupun hubungan Cikho dengan Adam layaknya yang pria itu inginkan.
Sampai detik ini, Rere masih bisa mengelabuhi semuanya. Baik itu keluarganya, maupun Ojan suaminya, untuk pertemuannya dan Cikho. Pertemuan yang Rere pastikan menjadi akhir dari hubungan mereka.
Kehadiran Cikho sudah langsung membuat jantung Rere berdetak lebih cepat akibat ketakutannya kepada Cikho. Namun, Rere berusaha menguatkan diri agar semuanya bisa secepatnya berakhir.
Kini, meski belum berani sekadar mengangkat wajah bahkan melirik Cikho, Rere yakin pria itu sudah sibuk meliriknya penuh emosi. Karenanya, Rere yang juga tidak banyak memiliki waktu, sengaja menyerahkan sebuah amplop putih yang segera ia dorong ke tengah meja.
“Apa lagi? Memangnya yang kemarin kurang?!” hardik Cikho meski ia berucap lirih. Tentu yang ia maksud, kecelakaan Rere dan Adam. Ketika mobil yang Rere kemudikan, terlempar dari jalan layang.
Dihardik layaknya kini, benak Rere jadi dihiasi senyum bahagia antara Adam dengan Ojan. Kedua sosok yang jujur saja sudah menjadi sumber semangatnya. Bahkan karena bayang-bayang wajah keduanya juga, Rere jadi memiliki keberanian untuk menatap Cikho. “Aku sudah menikah, jadi jangan pernah mengusik apalagi melukai Adam lagi. Aku janji ini akan menjadi kedatanganku yang terakhir kalinya.”
Rere berusaha menyudahi urusannya dan Cikho secepatnya, agar Adam baik-baik saja. “Amplop itu berisi surat keterangan pernikahanku, sementara sisanya merupakan akta kelahiran Adam, selain kartu keluarga kami yang lama. Aku tetap menjadi orang tua tunggal untuk Adam. Sementara surat pernikahan kita, termasuk semua foto kita, sudah aku bakar tanpa sisa agar Adam tidak pernah mengetahuinya. Kamu tidak usah khawatir karena selama ini, sekadar nama apalagi foto kamu saja, Adam tidak pernah mengetahuinya. Dan Alhamdullilah, Adam sudah menemukan daddy yang tepat!”
“Selebihnya, andai kamu masih berani mengusik apalagi melukai Adam lagi, aku benar-benar tidak akan tinggal diam!” Kali ini Rere benar-benar marah. Terlebih jika ia ingat ketakutan Adam ketika mobil mereka terlempar dari jalan layang.
“Kamu sudah menikah?” Cikho mengernyit dan menatap ragu Rere yang kali ini memakai setelan biru muda. Di hadapannya, Rere yang menatapnya penuh dendam, langsung mengangguk. Membuatnya segera memastikan surat pernikahan yang wanita itu serahkan.
Cikho penasaran, dengan siapa Rere menikah, dan kenapa begitu cepat?
Setelah membuka isi amplopnya, yang langsung Cikho tatap dengan saksama ialah nama suami Rere. “Muhammad Faojan Abdul ...,” lirihnya sambil melirik penasaran Rere. “Namanya enggak asing,” batinnya yang kemudian bertanya, “Siapa? Orang mana?”
“Bukan urusan kamu karena apa pun yang ada dalam hidupku maupun Adam, memang tidak ada kaitannya dengan kamu!” tegas Rere.
“Aku hanya memastikan kamu beneran nikah sama orang, bukan orang-orangan hanya untuk mengelabuhi aku!” emosi Cikho meski ia masih berucap lirih.
Rere yang telanjur muak, sengaja mengeluarkan ponselnya dari dalam tas tentengnya. Ia menunjukkan video kedekatan Adam dan Ojan, yang ia rekam secara diam-diam.
“Kamu nikah sama Ojan?! Kamu nikah sama orang enggak waras dan ... kamu membiarkan orang enggak waras itu dekat dengan Adam?” marah Chiko dengan suara yang naik drastis.
“Otak kamu di mana? Kalaupun kamu memang enggak punya otak, harusnya sebagai ibu yang melahirkannya, kamu mikir! Mana yang baik dan mana yang enggak seharusnya enggak ada dalam hidup Adam!”
Dengan kasar, Rere berdiri meninggalkan bangku kayu tempatnya duduk. Ia menatap marah kedua mata Cikho di tengah dadanya yang bergemuruh menahan amarah, lebih dari sebelumnya. “Ojan boleh saja kurang waras, tapi dia berkali lipat jauh lebih tanggung jawab dari kamu yang mengaku waras! Dia lebih manusiawi dan tulus menyayangi kami! Dan jika kamu ingin tahu siapa yang tak sepantasnya ada dalam hidup Adam, jawabannya tentu kamu! Karena sejahat-jahatnya manusia, dialah yang dengan sengaja melukai bahkan berusaha memb*unuh anaknya!”
“Sekali lagi aku tegaskan, Ojan pria yang berbeda. Ojan tulus menyayangi kami, dan aku sangat bersyukur karena telah menikah dengannya!” tegas Rere untuk terakhir kalinya. Tanpa pamit bahkan sekadar basa basi, ia sengaja berlalu di sana.
Rere melangkah tegas sekaligus cepat. Dalam hatinya Rere yakin, bersama Ojan, ia dan Adam akan bahagia. Mereka akan mengarungi pernikahan sekaligus rumah tangga manis versi mereka, meski mereka dipersatukan dengan kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
bener itu re Ojan gak waras saja sayang sama lu dan anak Luh Luh yang waras Chiko pengen bunuh anak lu
2024-12-16
0
guntur 1609
itulah jangan sepele sm org. belum tentu cover jelek...dalamnya juga jelek
2024-01-08
1
Deliza Yuseva01
kamu chicko yg manusia edan manusia kejam tega membunuh anakny sendiri.😡
2023-12-14
1