Masih demi Adam yang juga telanjur sangat dekat dengan Ojan, terlebih keluarga Rere sudah sampai menjodohkan mereka, Rere setuju dinikahkan dengan Ojan, meski Ojan bukan pria idaman Rere. Karena jangankan mencintai, tertarik saja, Rere belum merasakannya. Atau mungkin, hati Rere telanjur terkunci oleh sosok Cikho yang selama ini wanita itu perjuangkan?
“SAH!”
Kata itu akhirnya mereka dapatkan setelah lafal ijab kabul ketiga yang Ojan lakukan, dan itu penuh ancaman. Karena seperti kabar yang beredar, Ojan memang berbeda dari pria maupun orang normal pada kebanyakan. Cara pikir bahkan otak Ojan seolah kurang sempurna.
Pernikahan benar-benar sudah langsung dilangsungkan hari itu juga. Rere dan Ojan sudah menikah secara siri, tapi mereka akan segera mengurus pernikahan mereka, agar pernikahan mereka juga resmi secara hukum.
Ketakutan Rere terhadap ancaman Cikho perlahan bisa teratasi karena akhirnya wanita itu benar-benar sudah menikah dengan laki-laki lain. Selain itu, perhatian Ojan kepada Adam, serta kenyataan Adam yang begitu yakin bahwa Ojan merupakan papahnya, juga menjadi angin segar tersendiri untuk Rere. Rere mulai bisa bernapas lega, selain wanita itu yang mulai merasakan sedikit kedamaian dalam hidupnya.
“Re, kamu tahu Ojan punya banyak kekurangan ... duh, gimana ya? Kalian yang nikah, malah aku yang jadi kepikiran,” ucap Sepri.
Sepri merupakan pria yang selama ini mengurus tak ubahnya pengasuh Ojan, meski Ojan belasan tahun lebih tua dari Sepri—baca novel : Pernikahan Suamiku (Istri yang Dituntut Sempurna).
Rere yang masih duduk selonjor di atas ranjang rawatnya, memberikan senyumnya. “Enggak apa-apa, Mas Sepri. Saya juga masih banyak kekurangannya. Saya bukan wanita sempurna. Yang terpenting sekarang, kami sama-sama belajar. Yang penting mas Ojan sayang Adam. Insya Allah, kami bisa jadi orang tua baik untuk Adam agar Adam juga seperti anak-anak lain.”
Karena kini, yang terpenting bagi Rere memang kebahagiaan Adam, serta bagaimana caranya agar ia bisa menciptakan keluarga bahagia dengan orang tua dalam formasi lengkap untuk Adam. Keluarga yang terdiri dari mamah, papah, juga Adam sebagai anaknya.
“Sudah Re ... sudah. Mbak tahu, semuanya pun tahu bahwa menikah dengan Ojan ibarat musibah!” ucap ibu Septi selaku mamah dari Sepri, dan selama ini turut mengurus Ojan.
Ibu Septi yang awalnya duduk di kursi sebelah ranjang rawat Rere berada, berangsur berdiri. Wanita berhijab kuning itu memeluk Rere dengan hangat. “Bismilah ya Re, semoga pelan-pelan Ojan jadi mikir. Kalau setua itu tetap enggak mikir, nanti Mbak martil kepalanya, biar otaknya bisa dicetak ulang, dibentuk sesuka kita!”
“Oh iya, Re. Ojan kan belum ada pekerjaan tetap, paling nanti kamu saja yang awasi sekaligus arahkan dia buat urus usaha kontrakan, sawah, dan beberapa usaha lainnya di kampung. Cukup diawasi, yang kerja orang lain saja, enggak usah kamu apalagi Ojan,” timpal Sepri.
Setelah menghela napas pelan, Rere berkata, “Urusan itu gampang, Mas. Andai memang mas Ojan belum punya pekerjaan, untuk sementara, saya yang bekerja dan Mas Ojan urus Adam juga enggak apa-apa. Toh memang sama saja, saling kerja sama.” Ia menatap kedua wajah di hadapannya, dengan senyum yang benar-benar tenang. Rasa tenang yang ia dapatkan dari pernikahannya dengan Ojan. Bahkan meski tidak ada emas kawin mewah apalagi pesta akbar, menyadari akhirnya ia telah memberikan papah impian untuk Adam, Rere merasa dirinya telah menepati nazarnya, selain ia yang tak lagi harus mengkhawatirkan ancaman dari sang mantan suami.
Seperti yang Rere sampaikan, ke depannya, Rere dan Ojan cukup bekerja sama. Terlebih hasilnya pun pasti sama saja. Karena andai Rere bekerja mengurus perusahaan tahu dan tempe milik kakaknya di Jakarta, tanpa ada yang mengawasi Adam, hasilnya pasti kacau. Namun jika Rere bekerja dan Ojan membantunya mengurus Adam, insya Allah hasilnya lebih nyata. Hasilnya berkali lipat jauh lebih baik.
Tanpa mereka sadari, yang sedang mereka bicarakan yaitu Ojan, justru sudah ada bersama mereka. Ojan melongok setiap wajah di sana dengan tatapan yang benar-benar lugu, sambil sesekali mengawasi wajah Adam yang ada dalam dekapannya.
“Kalian kenapa? Padahal enggak lagi nonton sinetron kumenangis, tapi kok kalian malah menangis berjamaah?” lirih Ojan masih menatap wajah-wajah di sana dengan tatapan tak berdosa.
Hingga akhirnya Ojan pergi membaringkan Adam di sofa lipat yang ada di seberang, ketiga orang yang sempat dihampiri masih kompak diam. Begitulah Ojan yang kadang sering melakukan hal di luar nalar dan kadang tidak nyambung dengan hal yang jelas-jelas sudah sangat jelas tanpa perlu dijelaskan. Namun kini, Ojan yang kembali, dengan bangga duduk di sebelah Rere.
Ojan yang jadi sibuk senyum berkata, “Priiii, ini beneran istriku! Aku sudah punya suami! Eh, maksudnya, aku sudah jadi suami dan sekarang, aku dipanggil dasy, eh daddy! Daddy Kim Oh Jan! Cihuy ... akhirnya!” Sesekali, ia mendorong asal sekaligus gemas, sebelah lengan Sepri.
Memiliki istri secantik Rere dan penampilannya sangat bersahaja, Rere bahkan orang kota dan memiliki pekerjaan mentereng, memang menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri untuk seorang Ojan. Namun kini, dengan perasaan yang mendadak gugup, selain ia yang juga jadi deg-degan tak karuan, Ojan memberanikan diri untuk memegang kedua lengan Rere dari belakang.
Rasa gugup langsung Rere rasakan seiring dada wanita itu yang mendadak berdebar. Meski gara-gara ulah Ojan juga, ia sempat terkejut bukan main dan memang karena belum terbiasa.
“Pelan-pelan dong, Jan. Istrimu beneran takut ke kamu!” omel ibu Septi, tak lama setelah Sepri menjewer gemas telinga kanan Ojan dan sampai detik ini masih berlangsung.
“Enggak apa-apa, Mas Sepri. Enggak apa-apa Ibu Septi. Mas Ojan enggak salah. Memang saya saja yang belum terbiasa. Terlebih efek kecelakaan bikin saya terngiang-ngiang adegan ketika mobil saya ditabrak. Adegan itu benar-benar mengejutkan dan memang sangat menyeramkan!” Rere sengaja memberikan alasan agar Ojan tak sepenuhnya disalahkan.
Jujur, Rere memang sama sekali belum ada rasa kepada Ojan. Namun jika pria yang sangat disayangi Adam itu terluka apalagi jadi bahan marah-marah bahkan itu oleh Sepri dan ibu Septi, ia sungguh tidak tega. Terlebih dalam kasus mereka, Rere menyadari, dirinya yang bersalah. Dirinya yang telah memulai, menarik sekaligus membuat Ojan ada bersamanya dalam sebuah ikatan pernikahan sakral. Mereka sepakat menikah demi Adam.
“Dek Rere, mulai sekarang Dek Rere enggak boleh takut lagi. Karena apa pun yang terjadi, aku yang sudah menjadi suami Dek Rere pasti akan melindungi Dek Rere maupun Adam, sampai titik darah penghabisan!” ucap Ojan sambil menggenggam erat tangan kanan Rere yang tidak diinfus.
Detik itu juga hati Rere terenyuh. Rere merasa memiliki pelindung, terlebih sejauh ini, Cikho yang selalu ia harapkan hanya sibuk memberinya ancaman sekaligus siks*aan.
Tanpa terasa air mata Rere jatuh, tapi dengan sigap Ojan menghapusnya. Pria itu menggunakan ujung kemeja lengan panjangnya untuk menghapus setiap air mata Rere. Ibu Septi dan Sepri yang menyaksikan itu langsung memberi Ojan peringatan keras. Namun Rere yang diperlakukan spesial versi Ojan, justru menjadi menahan tawanya. Tawa pertama Rere setelah sekian lama, dan Rere baru menyadarinya.
Seorang Ojan mampu membuatnya tertawa dengan hal tak terduga. Pantas Adam bisa sangat nyaman dengan Ojan—pikir Rere.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
semoga Ojan jadi waras setelah nikah
2024-12-16
0
Rina Yuliana
penyayang banget
2025-03-01
0
Ida Ulfiana
akhirnya ojan nikah juga tp masih penasaran gmn critanya ojan jd pelawak terkenal
2024-05-21
0