Setelah drama gaun malam pink yang dipakai oleh Ojan, sekitar sepuluh menit kemudian, Ojan keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu memakai piyama lengan panjang warna biru pilihan Rere layaknya piyama lengan panjang yang dipakai Adam. Ojan tak lagi memakai gaun malam pink, dan di mata Rere menjadi terlihat jauh lebih menenangkan. Apalagi berbeda dengan Cikho ketika hubungan terlarang mereka di masa lalu akhirnya terungkap dan Cikho jadi selalu menyikapinya dengan bengis, Ojan sudah langsung menyapanya dengan senyum bahagia.
“Nah, gitu dong. Kan jadi makin cakep!” ucap Rere sengaja memuji suaminya, tapi yang di puji.malah panik cenderung ketakutan. Ojan jadi kerap menengok ke belakang setelah sebelumnya, langsung lari menghampirinya.
“Dek Rere,” ucap Ojan sembari meraih sebelah tangan Rere. Ia masih aktif mengawasi sekitar di tengah jantungnya yang berdebar karena takut.
“Kenapa, Mas?” tanya Rere jadi khawatir. Di tengah suasana sana yang sudah ia buat remang dan hanya menjadikan satu lampu meja di nakas sebagai penerang, ia juga jadi turut mengawasi sekitar. Di matanya, tidak ada yang aneh apalagi perlu dikhawatirkan sekaligus takutkan.
“Tadi Dek Rere bilang apa?” tanya Ojan dengan suara lirih. Karena baginya, apa yang tengah mereka bahas memang sangat rahasia.
“Yang mana, Mas? Memangnya aku bilang apa? Ada, perkataanku yang telah melukai Mas? Jika memang benar-benar ada, saya sungguh minta maaf, yah, Mas!” Rere mulai merasa takut. Sebab bagaimanapun keadaan Ojan, ia menghormati pria itu selayaknya seorang istri kepada suaminya. Apalagi sejauh ini, ia tak memandang kekurangan Ojan. Yang ia lakukan ialah mengarahkan Ojan agar bersikap layaknya manusia normal sesuai harapannya, atau malah ia yang mengimbangi Ojan karena pada kenyataannya, sebelumnya dunia sekaligus cara pikir mereka berbeda.
Rere tidak mau egois karena di masa lalu, ia pernah merasakan hancur luar biasa akibat hidup dengan penuh keegoisan. Puncaknya, setelah sebelumnya sempat mendekam di penjara, kecelakaan mobil dan terlempar dari jalan layang padahal ia tengah bersama Adam, menjadi alasan Rere untuk menjadi orang lebih baik lagi. Orang lebih baik yang lebih memuliakan orang lain apalagi sang suami.
“Tadi Dek Rere bilang kalau aku jadi makin cakep, padahal sejauh ini, satu-satunya yang bilang begitu sekaligus mau memuji diriku, ya diriku sendiri Dek! Curiga ini, malaikat Izrail emang sudah deket, makanya aku dikasih pujian dari selain diriku sendiri!” ucap Ojan yang masib berbisik-bisik.
Rasa haru membuncah dari hati Rere yang juga sampai menitikkan air mata. Dikiranya apa, dikiranya, ia yang salah. Namun selain efek masa lalu kurang beruntung dan itu tetap membuatnya tertawa karena suaminya benar-benar lucu, memikirkan jika ia harus tanpa Ojan, rasanya sungguh berat. Ia benar-benar sedih, hingga air matanya tak kuasa berbohong.
“Dek Rere kok malah nangis?” lirih Ojan kali ini bingung.
Rere menggunakan jemari tangannya yang tidak digenggam Ojan untuk menghapus air matanya. “Ya sedih saja kalau harus tanpa Mas Ojan. Ini kan kita baru bahagia.”
“Enggak ... enggak akan. Aku bakalan terus sama Dek Rere. Andai pun usiaku makin membuatku renta, jiwaku akan tetap jiwa muda, Dek! Buktinya, Binar anaknya Sepri saja, seneng banget panggil aku ‘kak Ojan’, walau awal-awalnya memang agak aku paksa. Hahaha!” Setelah sempat haha hehe, Ojan sengaja menghapus sekitar mata Rere yang memang basah oleh air mata. Selanjutnya, yang ia lakukan ialah memeluk Rere, menyandarkan kepalanya itu ke bahunya yang kurus. Karena meski cara makannya bisa membuat raksasa minder saking rakusnya Ojan, pada kenyataannya, semua daging malah lari ke perut hingga perutnya mirip orang hamil 9 bulan.
Dipeluk Ojan layaknya sekarang, Rere merasa tenang luar biasa. Sekali lagi, Rere merasa memiliki sandaran sekaligus pelindung. Apa pun yang terjadi nanti, Rere merasa semuanya terasa jauh lebih mudah, asal mereka selalu bersama-sama. Meski jujur saja, Rere masih sangat takut kepada ancaman Cikho.
“Dek, ... Dek, Sepri bilang, aku enggak boleh bantin*g duren dulu, sebelum aku kerja dan bisa kasih kamu uang,” ucap Ojan.
“Bant*ing duren? Apalagi ini?” batin Rere yang merasa mendadak lemot, bahkan Rere merasa otaknya seperti jongkok, jika sedang membahas hal-hal baru dari Ojan.
Namun karena tak kunjung paham, Rere akhirnya menanyakannya kepada Ojan.
“Loh, Dek Rere enggak ngerti ‘banti*ng duren’? Banti*ng duren ya kikuk-kikuk, Dek!” bisik Ojan yang lagi-lagi cekikikan.
Lain dengan Ojan yang justru cekikikan, Rere justru tersipu. Namun, ada kekhawatiran yang mendadak muncul. Ini mengenai andai mereka memiliki anak, apakah Ojan akan tetap sayang kepada Adam layaknya sekarang? Bagaimana jika karena memiliki anak justru membuat Adam kembali kekurangan kasih sayang seorang papah.
“Tapi tahan deh, Dek. Takut ditel*uh Sepri Dek. Sepri bilang, wajib kerja dan dapat gaji dulu, baru boleh. Kalau enggak, aku bakalan ditel*uh sama Sepri. Tapi, andai aku kalungan tasbih, kira-kira bisa menolak telu*h enggak, ya?” ucap Ojan lagi dan sudah langsung membuat Rere menepi dari kekhawatirannya.
“Mas beneran mau kerja?” tanya Rere, meski yang ia mau, Ojan cukup menjaga Adam karena Rere sendiri memiliki pekerjaan mentereng di perusahaan Excel sang kakak.
Ojan langsung buru-buru mengangguk. “Meski Dek Rere juga sudah kerja, kan lebih baik lagi kalau aku juga kerja. Jadi, kita sama-sama kerja biar kita bisa punya banyak anak. Sepri bilang kalau mau punya banyak anak, wajib punya banyak uang buat biaya hidup. Itu uang ditabung buat biaya hidup. Jadi, sebagian dipake, sebagian ditabung. Biar yang pagi dijalani enggak kekurangan, dan buat nanti pun masih ada. Tapi bukan berarti kita berhenti kerja. Tuh kaya Sepri, duitnya bisa buat kasuran!”
“Ternyata Mas Ojan sudah punya pandangan masa depan. Mas Ojan pengin punya banyak anak?” lembut Rere yang mendadak jadi sedih.
Namun berbeda dengan Rere, Ojan yang tak lagi merangkul Rere dan kembali menatapnya dengan saksama, buru-buru mengangguk.
“Iya, Dek. Soalnya aku ngerasain sendiri, enggak punya saudara, ada pun jauh, rasanya sepi banget. Bayangkan andai aku enggak punya Sepri, atau keluarga dari temannya mbahku seperti keluarganya Jam-Jam, mas Aidan, Akala. Duh, enggak tahu sesepi apa. Jadi, andai nanti kita punya banyak anak, kita juga didik mereka buat tetap jaga silaturahmi. Kalau bisa ya, kita kumpulin banyak uang, terus pake buat beli tanah, nah kita bangun rumah sekalian buat setiap anak kita. Biar kita selalu kumpul!” yakin Ojan.
“Masya Alloh, Mas. Aku sampai terharu dengarnya. Iya, nanti sama-sama ikhtiar, ya.” Rere menghapus setiap air matanya yang mengalir. Sebab rencana masa depan dari Ojan, sangat menyejukkan hatinya. “Namun, andai kita punya anak lagi. Mas tetap sayang kan, ke Adam?”
“Lah, ya pasti! Aku sayang banget ke Adam apalagi ke mamahnya! Tetap sayang dan makin sayang. Biar nantinya Adam juga sayang ke adik-adiknya!” yakin Ojan yang buru-buru merangkul sekaligus mendekap tubuh sang istri penuh sayang.
Sebagai wanita yang sempat menjadi istri kekurangan perhatian, Rere yang sebenarnya masih sangat trauma suaminya kembali bengis layaknya Cikho, tak kuasa untuk tidak menangis apalagi sedih. Kesedihan yang bercampur dengan kekhawatiran bahkan takut.
“Ya Allah ... Ya Rabbb, ... semoga Mas Ojan beneran beda dari yang sudah-sudah. Dan semoga, kami bisa mewujudkan impian kami. Iya, kami akan bekerja lebih keras lagi agar kami memiliki banyak anak. Agar kami bisa memberi anak-anak kami kehidupan layak. Akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak kami karena punya daddy selucu ini!” batin Rere masih bertahan dalam dekapan Ojan.
“Ya Allah, makasih banyak. Makasih banyak-banyak pokoknya karena aku sudah dikasih istri cantik level bidadari, bersahaja, lemah lembut dan pastinya enggak takut ke aku. Apalagi sejauh ini jangankan bisa nyentuh, aku dekati saja sudah langsung kompak kabur. Lah ini, ini sekarang beneran aku lagi peluk istriku yang cantiknya miri bidadari!” batin Ojan meronta-ronta. Namun berbeda dari biasanya, alasan ia merasa tak percaya karena kini, ia merasa sangat bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Nendah Wenda
semoga langgeng ojan
2024-12-17
0
Salwa Antya
selamat ya ojan,semoga samawa sll
2024-05-01
0
guntur 1609
wlaupun ojan kurang se ons otaknya. tapi pandangam hidup nya patit di acungkan jempol....salut sama ojan
2024-01-08
4